
*
*
Sesampainya di rumah, kebetulan Ayah dan kakak pertama Siska juga sama-sama sudah kembali. Keduanya begitu melihat keempat orang yang baru datang, langsung menyapa seadanya. Kemudian ketika melihat Ergan dan Geri menenteng kresek yang terlihat menggembung, Ayah Siska buru-buru bertanya.
"Apa yang dibawa dua bocah itu?" Tanya Ayahnya penasaran.
"Oh, ini lauk untuk makan siang. Bapak bersihkan diri dulu. Setelah ini kita makan bersama. Kau juga, kak bersihkanlah dirimu." Ucap Siska mengusir kakak pertamanya dengan gampang, tapi berbeda dengan Ayahnya, ia mendekat dan menggiringnya, berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
"Siska sudah pulang?" Sapa ibunya seraya tersenyum.
Siska menganggukkan kepalanya, balas tersenyum. "Bagaimana Uqi dan Uni? Rewel tidak, Ma?" Tanya Siska kemudian. Ayahnya langsung masuk ke kamar mandi, tanpa menghiraukan dua wanita di depannya.
"Anak baik, tidak rewel. Hanya saja, Uni seepertinya rindu pada ibunya. Nanti luangkanlah waktu dengannya, ya? Uqi juga, meski sudah lebih besar, tetap saja anak kecil." Jawab ibunya.
"Baik, Ma. Nanti Siska ajak juga, sekalian ada urusan di luar. Oh ya, Siska beli lauk untuk makan siang ini. Ada di Ergan dan Geri, mama siapkan boleh? Siska mau menghampiri Uqi dan Uni dulu, nanti Siska menyusul." Ucap Siska.
Ibunya tentu saja setuju, Uqi dan Uni, kedua cucunya ini patuh sejak awal di asuh olehnya, hanya saja, akhir-akhir ini keduanya sering terlihat diam. Ibunya kemudian menyimpulkan, mungkin keduanya rindu pada ibunya.
Yah, Siska sibuk dalam beberapa hari ini, sampai waktu bersama kedua anaknya sudah sangat jarang Siska luangkan. Ibunya juga maklum, Siska mencari uang. Juga tidak berdaya melarang sebab kini dirinya seorang ibu tunggal dan Uqi serta Uni harus bisa membiarkan ibunya mencari uang, untuk masa depannya. Ini bentuk tanggung jawab Siska.
Meski begitu, ia selalu menyempatkan tidur bersama keduanya, juga membelikan camilan, dan baju-baju, serta mainan untuk keduanya. Jadi keduanya tidak terlalu kesepian ketika ditinggal Siska berjualan.
"Uqi, Uni, Ibu sudah pulang. Rindu tidak?" Tanya Siska seraya berjalan menghampiri keduanya yang kini sedang menonton televisi dengan anteng. Kakak kedua seperti biasa ada disana, hanya saja dirinya kini terduduk di sofa dengan tampilan rapi.
Siska mengabaikannya dalam beberapa waktu, setelah menyapa Uqi dan Uni, serta keduanya yang langsung memeluk dirinya, akhirnya Siska beralih pada kakak keduanya.
"Kakak kedua? Tumben sekali rapi begini, mau kemana?" Tanya Siska.
"Aku disini dari awal, tapi kau baru bertanya?!" Tanya kakaknya jengkel sendiri dengan adik perempuan satu-satunya yang berani sekali mengabaikan dirinya.
__ADS_1
"Haha, aku kan tadi hanya melihat Uqi dan Uni, tidak denganmu." Ucap Siska beralasan, juga tertawa dengan sengaja. Menambah kejengkelan yang ada dalam diri Sapta.
"Yasudahlah," Balas Sapta seraya memalingkan wajahnya malas, ia fokus pada ponselnya kini. Tanpa menjawab pertanyaan Siska, membuat Siska mendengus sebal.
"Ada apa ini? Kenapa suasananya tidak enak sekali?" Ucap Putri tiba-tiba datang dengan senyum, sengaja mengucapkannya, sebab ia mendengar keduanya berdebat sebelum kesini.
"Kakak ipar, kakak kedua menindasku." Adu Siska seraya menunjuk Sapta yang saat ini menatap Siska dengan tatapan tidak percayanya.
Sejak kapan dirinya menindas adik menyebabkannya itu? "Ka-kapan aku menindasmu?!" Ucapnya tidak terpacaya. Mengadukan hal yang bahkan tidak dilakukan oleh dirinya. Benar-benar adiknya ini pintar bersandiwara.
"Kakak ipar, lihat kan? Dia juga berani meninggikan suaranya." Adu Siska lagi dengan wajah sedih.
Putri yang melihat hal tersebut, dengan cepat menghampiri Sapta dan memukul bahunya. "Mengalahlah! Kau sudah tua begini, masih saja menindas adikmu?!" Omel Putri dengan tangan yang berkacak, sesaat setelah memukul bahu suaminya.
"Istriku! Aku benaran tidak menindasnya, astaga, apa-apaan? Aku tidak bersalah." Ucap Sapta memerotes tidak terima.
Siska tertawa senang, "Bagus, kakak ipar! Ayo pukul lagi, hahaha." Ucap Siska.
"E-eh, aku tidak. Kakak kedua benar-benar menindasku, maksudku dia tidak mau menjawab pertanyaanku, dia begitu sombong dengan adiknya sendiri, jadi aku ingin melihat kakak ipar memberi pelajaran pada kakak kedua agar dia tidak begitu lagi, benar kan?" Ucap Siska beralasan, ia tersenyum hingga giginya terlihat.
Putri menggelengkan kepalanya, sudah cukup bermain-main. "Baiklah, aku juga dengar perdebatan kalian tadi." Jawab Putri enteng.
"Kau mendengarnya tapi tetap memukulku?!" Seru Sapta tidak terima.
"Benar! Kenapa? Aku hanya membela adikku, ini. Kau keberatan?" Tanya Putri dengan wajah galak. Membuat Sapta menghela nafas kasar, sebal sendiri.
Siska tertawa lagi, ia berseru, menyerukan kehebatan kakak iparnya. Kemudian mengajak tos kakak iparnya yang tersenyum dengan alis terangkat.
"Oh ya, kamu harus pulang siang ini. Lusa Desi harus masuk sekolah, kami harus menyiapkan semuanya terlebih dulu." Ucap Putri, menjawab pertanyaan Siska.
"Ah lusa sudah masuk semester baru, ya? Astaga, aku terlalu bersantai. Aku juga harus mendaftarkan Uqi ke sekolah dasar. Ergan juga, aku harus menyiapkan keperluannya sekalian." Ucap Siska teringat.
__ADS_1
"Kau benar, Uqi sudah masuk usia masuk ke sekolah dasar." Ucap Putri menganggukkan kepalanya.
"Ya, tapi sebelum pergi, ayo makan siang bersama dulu. Aku habis membeli banyak lauk tadi." Ajak Siska.
"Tidak, kami harus cepat menjemput Desi. Ayah dan Ibuku ada urusan siang ini, tidak bisa membawa Desi bersama." Ucap Putri menggelengkan kepalanya.
"Ah, kalau begitu tunggu sebentar. Uqi, Uni, tunggu disini dulu bersama Paman dan Bibi kedua ya." Ucap Siska, kemudian dengan cepat pergi meninggalkan keempatnya di ruang tengah.
Siska sampai di dapur, kemudian mendekati ibunya yang sedang menuangkan macam-macam lauk yang dibelinya.
"Ma, pisahkan untuk kakak kedua dan kakak ipar kedua. Keduanya akan pulang sekarang, tidak sempat makan siang bersama. Biarkan mereka membawa dan memakannya di rumahnya nanti." Ucap Siska seraya mengambil kotak makan agak besar, beserta tutupnya. Kemudian memberikannya pada Ibunya.
"Oh benar, aku lupa. Untung kau ingatkan." Ucap ibunya kemudian menerima kotak makan tersebut, dan memasukkan Iga kecap, 3 telur balado, 3 potong sedang ayam bakar. Nasi dipisahkan di kotak makan lain, dan Soto ditambahkan juga, tapi dengan plastik, sebab tidak ada kotak makan yang biasa dipakai yang berair. "Nah, sudah, cepatlah berikan ini. Tidak perlu pamit pada Mama lagi, tadi sudah." Ucap ibunya seraya menyodorkan 2 kotak makan dan satu bungkus soto yang dimasukkan ke dalam kresek hitam.
"Baik, Siska pergi Ma." Ucap Siska mengangguk, dan kembali ke ruang tengah.
"Kami harus pergi, Siska." Ucap Putri begitu melihat Siska datang, keduanya kini sudah membawa tas kecil yang dulu memang dipakai sebagai tempat menyimpan uang.
"Aiyoo, sudah selesai, sudah selesai. Ini, bawa ini dan makan di rumah nanti. Semua kebagian, jadi kalian juga harus terbagi. Juga, kakak ini untuk Desi, selama ini aku tidak bisa memberinya sepeserpun. Sekarang aku sudah ada uang, jadi bisa memberinya uang saku." Ucap Siska seraya menyodorkan kresek hitam dan uang 500ribu.
"Aiya, tidak apa-apa, aku terima kreseknya tapi uang ini tidak usah. Kau tabunglah, dan simpan untuk sekolah Uqi." Ucap Putri menolak.
"Kakak ipar, kau tahu juga, penghasilanku sekarang banyak. Jangan sungkan, ambillah, untuk Desi." Ucap Siska lagi.
"Oke, aku terima. Terimakasih, ya, adikku yang manis." Ucap Sapta merebut uang yang dioper sana sini. Membuat Siska terperangah, pun dengan Putri yang memelototkan matanya pada Sapta. Kakak Siska satu ini, tidak tahu malu ya?
"Sudahlah, kak, ingat berikan pada Desi. Jangan biarkan uangnya dipakai oleh kakak yang menyebalkan itu, oke kakak ipar?" Ucap Siska seraya mendelik sinis pada Sapta dan berubah sekejap kemudian menjadi senyum manis begitu wajahnya menghadap pada Putri lagi.
*
*
__ADS_1