
*
*
Keesokan harinya, Siska bangun pukul 4, Kemudian membersihkan diri. Setelahnya Membangunkan semua orang termasuk kedua anaknya. Semuanya harus pulang subuh ini. Karena selain Siska harus berbelanja, setiap orang punya kegiatan masing-masing. Seperti Uqi, Ergan, Geri, serta teman-teman Ergan, masih harus pergi ke sekolah pukul setengah 7 pagi nanti.
Jadi semuanya bangun, dan kembali ke rumah masing-masing. Termasuk Ayahnya dan Uni. Begitu orang lain pulang, Siska berbelok ke pasar, dengan Santi dan Rendra sebagai pengawal.
Ketiganya berbelanja semua bahan yang dibutuhkan untuk kedai hari ini. Dimulai bahan dasar minuman, sampai ke bahan dasar seblak, yang memang sudah habis terjual kemarin. Bahan dasar Rosella saja yang tersisa, beserta minyak dan gula yang memang masih lumayan banyak, cukup untuk satu hari pemakaian hari ini.
Semua bahan dibeli sama dengan jumlah ketika Siska belanja dua hari yang lalu. Hanya saja, untuk bagian Seblak ditambah modal 500 ribu, dan untuk bagian Sosis serta Bakso, masing-masing, Siska juga menambahkan modal 500 ribu. Lalu Siska menambah air putih dalam botol sebanyak 5 dus, dengan harga per dus pada tahun 2010 ini adalah 39 ribu. Tahun 2020an keatas air mineral per dus dijual seharga 49 ribu lebih, hampir 50 ribu.
Setelah berkeliling selama dua jam an, ketiga orang yang berbelanja pun akhirnya pulang, bukan pulang ke rumah, tapi pulang ke kedai untuk mengantarkan belanjaan bersama mobil pick up yang di sewa. Hanya dua orang yang tinggal di kedai, dan langsung membereskan belanjaan. Siska langsung pulang ke rumah, karena masih harus mengurus Uqi yang akan ke sekolah. Juga ada Uni yang selama seharian kemarin tidak bermain dengannya.
Ia merasa bersalah mengingatnya, apalagi kemarin dirinya sampai lupa pada Uqi. Tapi bagaimana lagi, belum ada pengganti yang bisa Siska percayai untuk memasak semua bahan yang akan disajikan.
Begitu sampai, terlihat jika Ergan dan Geri sudah nongkrong di ruang keluarga, memakan sarapan masing-masing.
"Uqi mana? Sudah mandi belum?" Tanya Siska pada Ergan.
"Sudah mandi, masih disiapkan oleh Mama." Ucap Ergan, kemudian memakan sarapannya kembali.
__ADS_1
Geri menyapa Siska, kemudian makan kembali, tidak bertanya soal Ayah dan Ibunya, sebab tahu jika keduanya pasti pergi ke kedai. Lagipula, dirinya merasa sudah besar, jadi sekadar bersiap ke sekolah, selagi ada neneknya, ia masih bisa mandiri tanpa adanya sang ibu.
Sedangkan Sapta pergi bersama Putri, pulang ke rumahnya pukul 4 tadi. Jadi begitu semua orang pulang ke rumah kedua orang tuanya, Putri dan Sapta langsung pulang ke rumahnya. Karena Desi masih harus bersiap di rumahnya, ia tidak akan mau sarapan jika tidak ada ibunya. Sedangkan untuk makan siang dan malam, masih bisa dilakukan karena biasanya ia akan membeli lauk pauk kesukaannya bersama sang nenek.
Siska kembali ke kamarnya, dan melihat Uqi sudah sangat siap untuk berangkat ke sekolah. Ibunya, Estika sedang memasangkan tas gandong di punggung Uqi.
Melihat ibunya yang sudah pulang, Uqi dengan cepat memeluknya. Siska yang mendapat pelukan langsung menyamakan posisinya dengan Uqi. Kemudian membalas pelukannya seraya mengusap punggungnya.
"Mama, terimakasih sudah membantu Uqi bersiap." Ucap Siska, setelah Uqi melepaskan pelukannya, berganti dengan memegangi tangan ibunya.
Estika mengibaskan tangannya, menyuruh Siska agar tidak bersikap canggung dengannya. Karena bagaimanapun, Estika ini ibunya, nenek Uqi. Wajar saja jika dirinya ingin membantu cucunya bersiap. Lagipula, sudah lama sejak dirinya membantu anak-anaknya bersiap untuk sekolah. Jadi ia ingin mengulangnya, seperti dulu. Saat Rendra, Sapta, Siska dan Ergan masih harus dibantu memakai baju. Tidak terasa, ketiga dari keempat anaknya bahkan sudah punya anak. Waktu sungguh cepat berlalu.
"Oh ya, Bapak dan Uni ada dimana?" Tanya Siska kemudian.
Siska menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengajak Ibu dan Uqi ke ruang keluarga, makan bersama Ergan dan Geri yang begitu ketiganya ke ruang keluarga, ternyata keduanya malah sudah selesai makan.
"Cepat sekali kalian makan? Lapar, apa doyan?" Tanya Siska bercanda.
"Lapar kak, kemarin aku tidak sempat makan malam, haha. Ketiduran." Ucap Ergan, diangguki Geri yang memang kemarin tidak ada yang sempat makan malam, kecuali dua anak kecil dan Ayahnya yang memang santai di lantai atas.
Sisanya karena kelelahan, langsung tertidur dengan nyenyak. Pun dengan Siska yang bahkan lupa tidak menyediakan makan malam. Ah, Siska harus mengganti makan malam kemarin hari ini. Untuk pegawai, mungkin ia akan menggantinya dengan uang saja. Sedangkan yang lain, bisa sama, bisa berupa tambahan makanan. Yah, pikirkan nanti saja.
__ADS_1
Siska menyuapi Uqi makan, supaya lebih cepat habis. Jam telah menunjukkan pukul 6 lebih 15 menit. Jadi ia harus cepat. Karena Uqi akan kembali berangkat bersama Ergan dan Geri. Jadi pertama-tama ke sekolah Uqi, lalu ke sekolah Geri dan terakhir baru ke sekolah Ergan. Sekolah Uqi agak jauh, meski searah. Sedangkan Ergan dan Geri beda sekolah tapi bersebelahan. Jadi, pulang pun bersamaan.
"Nah, selesai. Ayo, ayo, cepat pakai sepatu." Titah Siska seraya mengambilkan sepatu milik Uqi di rak sepatu. Uqi mengambilnya kemudian memakainya di teras rumah.
Setelahnya, Siska memberikan uang jajan pada ketiganya. Uqi 10ribu. Ergan dan Geri masing-masing 30ribu dan 25ribu. Keduanya masih dapat uang jajan dari ibu masing-masing, jadi yang Siska beri, membuat uang jajan keduanya bertambah. Membuat uang jajannya termasuk besar.
"Ergan, pulang nanti, kau cek saldo di akun tutubmu. Bukankah persyaratannya sudah mencukupi? Aku rasa kau sudah bisa mendapat gaji. Nanti cek saja, oke? Jika mau, sekalian buat rekening, minta antar Geri dan Deri nanti. Jangan lupa bawa kartu tanda pendudukmu." Ucap Siska sebelum Ergan benar-benar pergi.
Setelah mengangguk, Ergan, Geri, dan Uqi pun pergi meninggalkan rumah dengan motor yang dikendarai Ergan. Menyisakan Siska, ibunya, ayahnya, dan Uni.
"Ma, Siska harus pergi ke kedai, masih harus menyiapkan adonan untuk pembuatan cireng, cirambay dan cilok. Mama nanti menyusul saja, oke? Istirahatlah dulu saja disini dengan Bapak, Uni akan Siska bawa sekalian." Ucap Siska begitu masuk dan bertemu ibunya.
"Eum, pergilah, Mama masih harus membereskan rumah. Pergilah sendiri, Uni biar Mama dan Bapak yang asuh dulu. Agar pekerjaanmu cepat selesai. Jangan khawatir, Uni baik-baik saja dengan kami. Dan bawa ini, sarapan sebelum bekerja. Makanlah dengan kakak dan kakak iparmu." Balas ibunya, menenangkan, seraya memberikan tempat makan yang sudah diisi nasi, juga lauk dan pauk dari rumah, yang telah disiapkannya.
Siska menatap ibunya dengan tatapan berkaca, betapa baik ibunya ini? Padahal dulu Siska sangat kurang ajar padanya. Tapi, "Terimakasih banyak, Ma." Ucap Siska kemudian memeluk ibunya.
"Sudah sana, pergilah." Titah ibunya seraya tersenyum. "Eh benar, sidang perceraianmu 2 hari lagi, jangan lupa." Ingat ibunya tiba-tiba membuat Siska yang memang lupa, langsung menganggukkan kepalanya.
"Tenang saja, Ma, aku akan memasang alarm di ponsel, untuk mengingatkan jadwalnya." Ucap Siska tersenyum. Kemudian pergi setelah berpamitan pada sang ibu.
*
__ADS_1
*