Hujan Teluh

Hujan Teluh
Tertangkap Basah


__ADS_3

Tertangkap Basah


Adrian sudah berganti dengan baju yang lebih layak. Sementara Melin sudah sibuk dengan kotak P3K di dapur rumah Adrian.


Gadis manis itu mendapatkan luka di salah satu telapak tangannya, saat menolong Nenek Yah. Luka bakar itu terletak di tangan kanannya. Melin tentu saja sulit untuk memasang perban. Sekedar membersihkan atau mengoleskan salep, dia masih bisa melakukannya.


Tapi jika luka itu tidak diperban, maka ia takut akan terjadi infeksi dan membuat luka di tangan Melin semakin melebar.


Adrian yang melihat Melin sedang kesusahan. Segera mendekati Gadis itu dan meraih tangan kanan Melin yang terluka.


Padahal di tubuhnya sendiri juga banyak luka, namun saat melihat luka bakar kecil di telapak tangan Melin. Adrian  merasakan rasa sakit yang lebih sakit, daripada luka-luka yang dia derita.


"Aku--kan sudah bilang, jangan pernah keluar dari rumah!" ujar Adrian dengan nada marah.


"Tidak perlu! Ini hanya luka kecil!" kata Melin kesal karena ia dibentak oleh Adrian.


Gadis itu mencoba menarik tangannya kembali, namun kekuatan Adrian bukanlah tandingan lengan kecil Melin.


"Jangan keluar dari rumah lagi, sampai besok!" kata Adrian, nada bicaranya kembali melembut. Meskipun tidak selembut rayuan para pujangga.


Dengan hati-hati sekali Adrian membungkus telapak tangan Melin yang terluka dengan perban. Lelaki yang selalu kasar itu, selalu saja melemah di depan Melin.


Jika ada cara untuk berhenti jatuh cinta, maka Adrian dengan senang hati akan mengikuti tutorialnya.


Dia lelah, amat lelah. Merasakan sakit yang mendalam, hanya karena luka kecil di tangan Melin.


Lelaki itu merasa dadanya di tusuk ribuan tombak, saat melihat Melin mendapat luka bakar yang seupil.


Dia juga harus berlari kencang ke arah Melin, meski tak dipanggil.


Dia harus memastikan Melin dalam kondisi baik-baik saja, padahal gadis manis itu sedang diincar oleh para Siluman.


"Bagaimana jika manusia di Desa ini mati semua?" tanya Melin pada Adrian.


Adrian yang sudah terlalu lelah dengan semua mekanisme di Desa ini hanya bisa berkata. "Biarkan saja, mereka pantas mendapatkannya!".


Melin memicingkan pandangannya kearah Adrian yang duduk di sampingnya.


Melin yang tidak bisa mengatakan apa pun karena, beberapa saat yang lalu Adrian mengakui bahwa. Makhluk yang bernama Siluman itu tidak mempunyai hati.


Jadi percuma saja, Melin bicara panjang lebar tentang hati nurani kepada Siluman Murni seperti Adrian. Lelaki itu pasti tidak akan merasakan apa pun. Dengan gambaran menyeramkan, yang dia lihat di takdir Nenek Yah.


Seberapapun pintarnya Melin menceritakan hal itu kepada Adrian. Adrian pasti tidak akan bergeming untuk berubah pikiran, membiarkannya menyerahkan diri kepada para Siluman.


Sebab Adrian mempunyai tujuannya sendiri, yaitu menumbalkan Melin kepada junjungannya yang entah siapa. Melin juga tidak tahu.


"Bukankah kau dulu, juga manusia?" tanya Melin.


Adrian sudah selesai membungkus luka di telapak tangan Melin. Lelaki itu ingin bangkit dari duduknya untuk segera pergi dari sisi Melin.

__ADS_1


Adrian tidak ingin berdebat lebih lama dengan Melin, karena dia tidak mempunyai banyak waktu. Dia harus membunuh setiap Siluman yang masih saja mengejar Melin.


Namun pergerakan Adrian terhenti karena Melin menarik salah satu lengan kekarnya. Lelaki dengan mata tajam itu segera memandang ke arah Melin.


"Kau terluka, jadi aku juga akan mengobatimu!" kata Melin lirih.


Melin memang tidak bisa melihat luka yang ada di balik baju yang dikenakan Adrian. Namun Melin bisa melihat luka di kening Adrian, yang masih mengeluarkan darah segar meskipun sedikit.


Dengan teliti Melin merawat luka kecil di dahi Adrian.


Dari membersihkan luka itu dengan cairan antiseptik. Dilanjutkan mengoleskan salep yang sebenarnya tidak penting untuk kulit Adrian, yang akan sembuh dengan sendirinya. Meski mendapatkan luka yang lebih parah sekalipun. Lalu menempelkan plester diatas luka tersebut.


"Sudah selesai!" ujar Melin.


Adrian masih saja memandangi wajah Melin, sehingga gadis manis itu sedikit salah tingkah.


"Kenapa, kau memandangiku seperti itu?" tanya Melin.


Gadis itu ingin bangkit dari hadapan Adrian, karena pandangan Adrian yang cukup membuatnya bingung. Pandangan Adrian kepada Melin, memicu detak jantung Melin menjadi berdetak semakin cepat.


Kecepatan jantung Melin dalam memompa darah, terasa sangat berlebihan seolah jantung itu ingin melompat keluar dari dalam tubuh Malin.


Reaksi yang benar-benar sangat tidak disukai oleh Melin. Dia hanya dipandang seperti itu oleh Adrian, tapi jiwanya sudah goyah tak karuan.


Kini Adrian yang menghentikan pergerakan Melin, dengan menarik salah satu lengan gadis manis itu.


Entah kenapa hanya beberapa kecupan yang dilayangkan oleh bibir Adrian dibibir Melin. Lelaki itu segera melepaskan Melin dan meminta maaf, karena sudah melakukan aksi tak senonoh kepada gadis belia itu.


"Maaf, aku tak sengaja!" ujar Adrian.


"Apa?! Kau bilang enggak sengaja?" Melin tampak sangat marah.


Entah apa yang mendorong Melin. Gadis manis itu malah menarik wajah Adrian kearahnya. Dia  mulai melayangkan kecupan-kecupan buas ke arah bibir seksi Adrian.


Adrian tentu saja tidak kuasa menolakan gejolak yang amat sangat besar di hatinya. Dia tidak bisa diam saja, dia membalas ciuman-ciuman buas Melin dengan ciuman yang lebih buas.


Melin yang sudah hanyut akan, rasa cintanya terhadap Adrian. Segera naik ke atas pangkuan lelaki yang duduk di sebuah kursi makan, tanpa melepaskan ciuman mereka.


Tanpa mereka sadari, ciuman yang mereka lakukan dilihat oleh Jendral yang sedang mengendap-endap di luar rumah Adrian.


Cowok SMA itu masih tidak menyerah tentang Melin. Bahkan setelah melihat ciuman panas, yang dilakukan oleh Melin dan juga Adrian.


Meski hati kecilnya seperti dihantam oleh truk bermuatan, namun Jendral tidak bisa melupakan tentang keselamatan Melin.


Tok...Tok...Tokkkk


Tanpa peduli tentang perasaan terganggu Adrian dan Malin. Jendral mengatuk salah satu daun pintu di dapur milik Adrian. Kebetulan daun pintu itu terbuka, Jendral melihat atraksi mesum sepasang musuh itu dari sana.


Setahu Jendral, Adrian adalah Siluman yang ingin membunuh Melin. Jadi Adrian adalah musuh Melin.

__ADS_1


Melin dan Adrian yang tahu tentang keberadaan Jendral di sekitar mereka, segera melepas ciuman mereka.


Melin bahkan masih sempat berpura-pura merapikan kotak P3K yang berada di meja makan. Sambil membasuh bibirnya yang pasti basah, karena ciuman yang dia lakukan dengan Adrian cukup membuat bibir Melin berlumuran saliva keduanya yang bercampur.


"Ken na apa kau kesiniiii?" tanya Adrian pada Jendral. Ternyata Siluman bisa gugup juga.


Kedatangan Jendral ke rumah Adrian  juga tidak diketahui oleh Siluman Harimau Putih itu.


"Pak Kades menyuruhku memberikan ini kepada anda, Mas Adrian!" ujar Jendral.


Cowok SMA itu memberikan sepucuk surat yang ditulis oleh Jacson kepada Adrian.


Adrian membuka surat yang di tulis oleh Jacson untuknya, dia melihat sekilas. Karena huruf yang digunakan oleh Jackson untuk menulis surat kepada Adrian adalah huruf sansekerta yang tidak mungkin bisa dibaca oleh orang lain.


Pasti isi surat dari Jacson cukup penting bagi Kades Desa Air Keruh itu.


Tanpa berpamitan kepada Melin dan Jendral, Adrian segera masuk ke dalam kamarnya lagi. Untuk membaca surat yang dikirimkan oleh Jacson kepadanya.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


Melinda





Jendral





Adrian




Jacson



__ADS_1


__ADS_2