
Hanya ada malam dan siang, tak ada hujan. Tak ada kehidupan yang normal. Jiwa-jiwa yang menghuni alam ini, tidak pernah memakan. Makanan seperti manusia pada umumnya.
Meskipun begitu para jiwa manusia yang terjebak di alam Buana tidak akan bisa mati, selama tubuh mereka di dunia belum mati.
Angin gersang dengan bau pengap, menyeruak di hidung Ellen. Polisi wanita itu masih terkurung di sebuah ruangan, dengan seorang pria yang keadaannya lebih mirip korban perang dari pada tahanan.
Ellen duduk ditengah ruangan, dia bersila sambil menunduk. Otaknya dia putar untuk mencari cara, supaya dia bisa keluar dari tempat ini. Namun tampaknya, Ellen tidak berhasil menemukan cara apa pun.
"Apa anda tahu, cara bagaimana keluar dari tempat ini?" tanya Ellen pada pria yang berada satu kurungan dengannya.
"Tentu saja saya tahu! Keluar dari tempat ini, bukanlah perkara yang susah!" ujar Sarul.
"Lalu, kenapa anda tidak keluar dan masih berada di sini sampai sekarang?" polisi wanita itu meninggikan suaranya.
Ellen benar-benar tidak habis pikir. Jika memang benar pria itu tahu jalan keluarnya. Kenapa dia tidak kabur dan malah menderita seperti itu di tempat ini selama 10 tahun.
"Dunia di luar tempat ini sangat berbahaya!" kata Sarul.
Ellen tertawa terkekeh, dia menyepelekan perkataan Sarul.
"Benarkah?" polisi wanita itu menoleh ke arah Sarul yang berada di belakangnya. Masih dengan senyum menyepelekan yang menghina.
"Kita berada di Alam Buana. Dunia yang terletak di antara Alam Gaib dan juga Alam Manusia!" jelas Sarul.
"Apa Alam Buana jauh dari Bumi?" Ellen masih menyepelekan perkataan Sarul.
Sarul tak bicara lagi, sepertinya lelaki itu sudah memahami keadaannya. Siapapun wanita yang berada di depannya itu, bukanlah seseorang yang pernah bersentuhan dengan dunia mistis sebelumnya.
Jadi meskipun Sarul menjelaskannya secara detail, Ellen tidak akan pernah percaya dengan omongannya. Sebaiknya Sarul diam saja, menyimpan tenaganya yang mungkin tidak banyak lagi.
"Apa tempat ini dekat dengan Pluto atau Jupiter?!" Ellen masih bicara dengan tawa kecil di sela-selanya.
Entah karena frustasi atau memang karena Ellen tidak ingin percaya dengan omongan Sarul. Dunia mistis bagi Ellen adalah hal yang amat rumit.
"Aku tidak peduli, tempat ini ada di mana?! Tapi kita harus keluar dari sini secepatnya, untuk menyelamatkan Melin!" ujar Ellen.
Kini nada bicara polisi wanita itu cukup tegas, membuat Sarul mendongak sejenak. Meskipun wajah laki-laki itu tertutup rambut panjangnya, yang lebih mirip hantu sodako.
"Saya sudah mencoba kabur dari tempat ini, lebih dari 100 kali. Tapi saya tidak pernah berhasil!" ujar Sarul.
"Anda tau Thomas Alva Edison?" Ellen menunggu reaksi dari Sarul."Tentu tidak!"
Kebodohan Ellen, dia menanyakan nama tokoh penting dunia. Kepada lelaki kampung yang dikurung di raungan gelap ini selama 10 tahun.
"Thomas Alva Edison itu penemu lampu pijar. Dia selalu gagal, sampai dia mencoba 1000 kali.
__ADS_1
"Tapi dia berhasil dipercobaannya ke 1001.
"Jangan menyerah, kegagalan yang kau alami selama ini, bukanlah hal yang besar!" ujar Ellen.
"Yang terkurung di sini, bukan hanya kita saja. Tetapi hampir sebagian besar warga Desa Air Keruh!" ujar Sarul.
Ellen tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia tertegun, sambil memikirkan beberapa apa masa lalunya di Desa Air Keruh.
Desa itu memang tidak seramai desa-desa yang lain, disekitar tempat itu. Memang tidak ada hal yang terlihat aneh, saat Ellen dan Melin baru saja sampai ke tempat itu. Selain kabut tebal yang mengelilingi desa tersebut.
Penduduknya juga terlihat bukanlah makhluk halus. Mereka beraktivitas seperti manusia biasa, bergaul dengan dunia luar.
"Tidak mungkin, lalu siapa yang menghuni Desa itu?" tanya Ellen.
"Siluman yang mengambil alih tubuh manusia kami!" ujar Sarul.
"Apa semua warga desa adalah siluman?" tanya Ellen.
"Jika mereka bercinta dan melahirkan bayi, maka bayi mereka adalah manusia setengah siluman!" ujar Sarul.
"Jadi saat ini, Melin...
"Berada di sarang siluman!"
.
.
.
.
Hujan sudah mulai reda, hari mulai menjelang petang. Melin dan Jendral berjalan beriringan. Mereka berdua melangkahkan kaki mereka menuju medan pertempuran yang pernah mereka tinggalkan.
"Mel! Harusnya kita tetap dirumah!" ujar Jendral.
"Ngapain, nunggu ada siluman yang kumat?" tanya Melin. "Kita harus mikirin cara, supaya bisa keluar dari Desa ini secepatnya!"
"Gimana caranya?" tanya Jendral.
"Ada dehhh!" gadis belia itu masih bisa bercanda di suasana genting seperti ini.
Tampaknya Melin memang punya rencana, yang cukup bisa dia andalkan. Gadis manis itu menyungingkan senyum liciknya, saat sampai di area pertempuran yang masih basah karena air hujan.
"Kita mau apa?" tanya Jendral.
__ADS_1
"Pertama kita harus, mencari Handy Talky milik para polisi ini! Kita harus memberi kabar pihak berwajib!" kata Melin.
Dengan mimik wajah jijik dan takut, Melin mulai menghampiri beberapa mayat pasukan berseragam yang sudah tak berbentuk.
Gadis itu terus mengeryit ngeri, namun ia tetap berjongkok di depan mayat salah satu pasukan yang sudah hilang kepalanya.
Melin mencoba tak memperhatikan ke arah luka memgerikan mayat tersebut. Ia terus fokus ke rompi mayat pria itu, yang pastinya menyimpan beberapa senjata api dan pernak-perniknya.
Di salah satu kantungnya, Melin menemukan sebuah foto yang telah basah. Ternyata mayat lelaki yang tergeletak di bawah kakinya, adalah seorang ayah dengan dua orang putri yang amat manis-manis. Istrinya juga tengah hamil besar.
Melin menemukan foto keluarga mayat pria itu. Hatinya langsung terguncang, air matanya mulai meleleh membasahi pipinya. Melin tak sanggup membayangkan betapa sedihnya, keluarga pria ini.
Saat tau, salah satu angota keluarga mereka telah meinggal, dengan cara yang amat mengerikan.
Melin sadar saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk meratapi kesedihan. Ia harus berpacu dengan waktu, dia hanya punya sedikit waktu untuk keluar dari tempat ini.
Akhirnya Melin memasukkan lagi foto itu ke saku, dimana ia menemukannya. Ia kembali fokus mencari, beberapa senjata di rompi yang dikenakan mayat itu. Dia mendapatkan satu pistol kaliber 32 yang masih penuh dengan peluru dan dua peluru cadangan.
Harapannya ia bisa mengunakan bekas senjata para pasukan khusus itu, untuk melindungi dirinya nanti.
Tak lupa Melin juga memungut senjata laras panjang, yang terlempar cukup jauh dari sang empunya.
Dengan sangat lihai Melin memeriksa senjata yang telah dia pegang. Dia harus memastikan, bahwa senjata yang berada di tangannya kini, masih berfungsi dengan baik.
"Apa kau bisa menggunakan itu?" tanya Jendral.
"Tentu saja bisa!" ujar Melin.
Gadis manis itu masih fokus pada kegiatannya, mengotak-atik pistol di tangannya.
"Kamu nggak nemuin Handy Talky?" tanya Melin.
"Enggak ada benda semacam itu di sini!" kata Jendral.
"Nggak mungkin, mereka nggak bawa alat komunikasi saat menjalankan misi!" ujar Melin.
Gadis itu mulai melangkahkan kakinya menuju mayat selanjutnya. Keadaan mayat itu lebih mengerikan daripada, mayat yang pertama diperiksa oleh Melin. Sehingga membuat Melin mengurungkan niatnya, untuk memeriksa tubuh mayat tersebut.
"Setidaknya, carilah senjata. Untuk melindungi dirimu sendiri!" kata Melin kepada Jendral.
"Aku nggak bisa menembak. Takutnya, aku malah mencelakai orang lain. Jika aku menggunakan senjata itu!" ujar Jendral.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1