
Teleportasi
Memang kulit mereka tak bersentuhan secara langsung, tapi Melin bisa merasakan. Kelembutan sentuhan Adrian di wajahnya.
Keningnya, pipinya, matanya, hidungnya, dan saat handuk basah yang dingin itu menyentuh bibir Melin. Jantungnya seolah telah melompat keluar dan menari dance Balckpink yang Dru-du-du di atas lantai kayu pondok itu.
"Lanjutkan makanmu!" perintah Adrian pada Melin.
Lelaki itu sudah selesai menyeka wajah Melin.
"Aku bisa sendiri!" Melin malah merebut handuk basah itu dari tangan Adrian.
Gadis manis itu kembali menyeka wajahnya, dengan kasar. Agar dia tersadar bahwa apa pun yang dilakukan oleh Adrian, hanyalah sebuah kepura-puraan.
Lelaki itu baik kepada Melin karena telah menjadikannya Siluman seutuhnya. Adrian hanya ingin balas budi terhadapnya, itu saja, tidak lebih. Jadi Melin merasa bahwa dia tidak boleh salah paham lagi.
Setelah merasa dirinya telah berada di akal sehatnya. Melin meneruskan sarapannya.
Pagi ini Adrian memasak bubur ayam. Menu yang membuat Melin sedikit kurang percaya, jika Adrian yang memasaknya.
"Kamu beli di mana?" tanya Melin.
"Aku memasakannya untukmu!" ujar Adrian.
"Sebenarnya jika kau jujur, apa kau akan berubah menjadi seekor kucing imut?!
"Kenapa kau selalu berbohong?" ujar Melin kesel.
"Aku jujur!" kata Adrian.
Pandangan mata Adrian begitu sangat tegas, ke arah mata Melin. Sehingga Gadis itu membuang mukanya, untuk menghindari tatapan Adrian yang amat sangat dalam itu.
Melin melanjutkan makannya, tanpa banyak bicara. Karena semakin dia banyak bicara, maka interaksinya dengan Adrian semakin intens.
Hal itu membuat Melin menjadi goyah dan merasa bahwa Adrian adalah makhluk yang baik.
"Apa kau siap? Untuk pergi ke Desa Air Keruh sekarang?!" tanya Adrian.
Padahal Melin baru saja meletakkan sendoknya di atas mangkuknya yang baru saja kosong. Namun Adrian sudah bersemangat untuk mengajaknya kembali ke Desa yang menjadi sarang Siluman itu.
Lelaki itu memberinya makanan yang enak agar dia bertenaga atau supaya dia gemuk. Lalu bisa dimakan oleh para Siluman yang tinggal di Desa Air Keruh secara beramai-ramai.
Itukah tujuan Adrian sebenarnya, membawanya ke sini untuk beristirahat dan hidup selayaknya manusia normal pada umumnya.
Melin menghembuskan nafasnya panjang, dia benar-benar kesal dengan tingkah laku Adrian.
"Aku akan ikut denganmu kembali ke Desa Air Keruh! Tapi kau harus menjawab pertanyaanku!" kata Melin.
__ADS_1
Gadis itu tidak mencoba untuk mengulur waktu, tapi Melin hanya ingin memastikan satu hal. Bahwa Siluman-Siluman yang akan dihadapi nanti, bukankah mahluk yang mempunyai perasaan seperti dirinya.
"Katakan! Apa yang ingin kau tanyakan?!" ujar Adrian.
"Apa siluman bisa jatuh cinta?" tanya Melin.
Gadis itu mengarahkan manik matanya ke wajah tampan Adrian, namun Adrian tidak berani melihat mata indah gadis di depannya.
"Tidak bisa!
"Mana mungkin iblis mempunyai hati dan perasaan seperti manusia!" kata Adrian.
Lelaki itu berusaha, agar suaranya tidak bergetar saat mengatakan kebohongannya itu. Adrian tidak ingin nantinya Melin ragu, untuk membunuh para Siluman dan malah membahayakan diri gadis itu sendiri.
"Jadi kalian tidak bisa jatuh cinta?
"Kalian tidak bisa merasakan perasaan sedih? Begitu?!" ucap Melin bingung.
"Bukankah kau tadi bilang, hanya satu pertanyaan! Kenapa menanyakan hal lain lagi?!" Adrian mengalihkan pembicaraan, karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Melin selanjutnya.
Apakah Siluman Murni bisa jatuh cinta jawabannya adalah 'iya'. Karena dirinya sendiri adalah Siluman Murni yang tengah jatuh cinta kepada Melin.
"Kau perhitungan sekali!" keluh Melin.
"Kita berangkat sekarang!" Kata Adrian yang sudah siap.
"Apa aku tidak perlu mandi?" tanya Melin.
"Kalau tidak punya baju ganti lagi di sini. Sebaiknya kau mandi saja di rumahku!" kata Adrian.
"Tetap saja! Kita--kan harus menaiki mobil cukup lama, gerah tahu!" keluh Melin.
"Kita tidak akan pulang menggunakan mobil!" kata Adrian.
"Lalu dengan apa?" tanya Melin.
Adrian mendekati tubuh Melin, Melin yang melihat itu malah sama sekali tak bisa bergerak. Padahal dia mau menghindari bersentuhan langsung dengan Siluman Harimau Putih itu.
Melin khawatir, jika mereka melakukan kontak fisik. Melin tidak bisa mengendalikan dirinya dan malah dia yang memaksa Adrian untuk melayani gairah mudanya.
Apa pun rencana Melin, gadis itu sudah terlambat. Karena lelaki itu telah meraih pinggang Melin. Lengan kekarnya mendekap erat pinggang Melin dan mendekatkan tubuh gadis itu ke arah tubuhnya.
"Pejamkan matamu! Karena ini akan membuatmu sedikit pusing!" ujar Adrian.
Mata Melin masih terbuka lebar, dia hanya memandang bingung ke arah Adrian yang menyuruhnya memejamkan mata. Apa yang ingin pria itu lakukan, kepada Melin. Ciuman, ataukah hal-hal yang tidak senonoh di pagi yang indah seperti ini.
"Baiklah jika kau tidak mau memejamkan matamu!
__ADS_1
"Jika kau pusing jangan salahkan aku!" gumam Adrian lirih.
Melin masih belum menutup matanya, dia benar-benar tidak percaya dengan lelaki yang tengah memeluknya ini. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang fatal dua kali berturut-turut.
Bersetubuh dengan pria yang tidak Mencintainya. Menurut Melin itu adalah hal yang paling bodoh, yang pernah dia lakukan selama ini.
Kenapa waktu itu dia tidak menolak saja, Kenapa waktu itu dia tidak memberontak dan kenapa waktu itu dia malam menikmati semuanya. Kesalahan itu membuat Melin benar-benar merasa gila.
Dia seperti seorang wanita yang tidak mempunyai harga diri lagi. Karena begitu murahnya dia, hanya karena mencintai pria itu, Melin dengan mudahnya. Jatuh tersungkur dalam kungkungan kenikmatan yang ditorehkan oleh Adrian.
"Bersiaplah!" ujar Adrian.
Tubuh Melin terasa melayang di udara dan pandangan matanya hanya bisa memandang kilatan cahaya yang amat cepat.
Akhirnya Melin memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya di dada Adrian. Seperti perkataan Adrian, kepalanya mulai pusing.
Bruakkkkkkkk
Seketika Melin merasakan dirinya mendarat di atas kasur yang empuk. Kepalanya masih pusing namun matanya harus terbuka.
Dia ingin tahu apa yang baru saja Adrian lakukan terhadapnya.
Saat membuka matanya Melin langsung melihat wajah tampan Adrian, yang sedang memandangnya. Melin baru sadar bahwa posisi mereka tidak seperti tadi.
Melin terbaring di atas kasur dan Adrian berada di atas tubuh Melin.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Melin kepada Adrian.
Adrian segera bangkit dari posisi absrudnya, dia tidak menyangka akan mendarat dalam kondisi semacam itu. Pikiran Adrian pasti mengarah ke atas kasur tadi, jadi mereka mendarat di atas kasur dengan posisi seperti itu.
Karena Adrian sudah turun dari atas tubuh Melin Melin bisa duduk. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang masih kliyengan. Namun pandangan matanya Masih jelas.
"Dimana kita?" tanya Melin pada Adrian.
"Kita sudah berada di Desa Air Keruh. Ini kamarku!" kata Adrian.
"Desa Air Keruh?! Apa kau mengarang lagi.
"Emangnya kau bisa teleportasi?" tanya Melin dengan nada yang mengejek ke arah Adrian.
Melin sama sekali tidak familiar dengan kamar yang sekarang menjadi tempat keberadaannya. Dia memang belum pernah masuk ke dalam kamar Adrian. Tetapi Melin tidak mungkin akan mempercayai, bahwa sekarang ini dia berada di Desa Air Keruh yang jaraknya sangat jauh dari Pondok tepi danau milik Adrian.
Karena suasananya cukup canggung, Melin segera mencari pintu untuk keluar dari tempat itu. Saat membuka pintu kamar Adrian, Melin baru sadar.
Bahwa dirinya sekarang berada di rumah Adrian yang terletak di Desa Air Keruh.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤