Hujan Teluh

Hujan Teluh
Takdir Melin Dan Adrian


__ADS_3

Takdir Melin Dan Adrian


~◇~◇~◇~


Mungkin aku telah hidup ratusan tahun didunia ini, tetapi sebagian diriku masih manusia. Aku masih punya rasa yang dalam pada sebuah hal, apa lagi tentang kamu.


Tapi takdir berkata lain, kenapa kita harus lahir dari dua hal yang berbeda. Kenapa kita di takdirkan harus saling membunuh pada akhirnya.


Kenapa kita harus bertemu???


Meski begitu aku tak bisa menyesal.


Aku pernah menangis karena aku sedang sedih, aku pernah tertawa karena aku sedang bahagia, aku pernah sengsara karena aku sedang menderita.


Setelah bertemu denganmu...


Aku hanya menangis ketika kau sedih dan aku hanya tertawa ketika kau bahagia, dan aku hanya sengsara ketika kau menderita.


Aku tak bisa merasakan rasa sedih, bahagia atau sengsara dari dalam diriku sendiri.


Sekarang...


Langkahku, naluriku, tujuanku, dan semua tentang diriku hanyalah dirimu.


Tetapi aku tak ingin kau mengalami hal yang sama denganku, karena semua ini sangat tidak nyaman bagiku.


Jangan mencintaiku, aku mohon!!!


Jangan terbelenggu oleh perasaan menakitkan ini.


Adrian


~◇~◇~◇~


Kedua tangannya menopang tubuhnya sendiri dengan kuat, dia berusaha untuk tak menindih Melin yang lagi-lagi berada di bawah tubuh kekarnya yang normal.


Adrian masih memandangi wajah Melin secara seksama, dia begitu teliti. Manik matanya yang tadinya sayu sudah berbinar indah. Karena netranya menemukan wajah orang yang amat ia cintai.


"Apa tujuan Om sebenarnya!" tanya Melin.


Gadis itu juga tengah memperhatikan ekspresi Adrian yang terus memandangnya dengan tatapan kagum yang penuh cinta.


"Apa Om akan menjadikanku budak S.E.Xmu?" tanya Melin jijik.

__ADS_1


Otak gadis belia itu pasti sudah sableng, karena terlalu banyak membaca novel CEO dan Mafia di Noveltoon.


Adrian segera mengangkat tubuhnya, kata-kata fulgar Melin barusan membuatnya tak bisa berpikir jernih.


Manusia mana yang menjadikan wanita sebagai budak kepuasan semata. Jika ada, sebaiknya orang itu ditumbalkan saja pada salah satu Siluman di Desa Air Keruh.


Melin juga ikut bangun dari kasur, lalu memeluk tubuh Adrian dari belakang. Gadis belia itu memeluk Omnya begitu erat, sampai Adrian hampir sesak nafas.


"Lepaskan!" ujar Adrian ketus.


"Sebentar saja! Biarlah begini, sebentar saja!" ujar Melin.


Adrian yang sebenarnya juga ingin dipeluk oleh Melin pun, hanya bisa membiarkan. Pelukan Melin adalah obat yang paling manjur, yang tidak bisa dibeli di manapun oleh Adrian.


Tetapi lelaki tampan itu tidak bisa dengan bebas memeluk pujaan hatinya, karena mereka yang ditakdirkan sebagai musuh sampai mati.


Adrian tidak bisa membunuh Melin, maka dari itu Adrian harus bisa membuat Melin tega untuk membunuhnya. Dia harus menjadi penjahat di depan Melin, agar jika waktunya tiba. Melin tak akan merasa bersalah karena telah membunuhnya.


"Om...Jawab pertanyaanku dengan jujur!


"Jika kita semua selamat, apa yang akan kamu lakukan kepadaku?" tanya Melin.


Adrian tidak pernah memikirkan hal itu, dia tidak pernah berpikir dirinya akan masih hidup sampai besok pagi. Karena jika dirinya tetap bertahan hidup sampai waktu yang lama. Dia takut hati manusia yang dia miliki, akan melemah dan jiwa Silumannya akan membuatnya menjadi Siluman yang kejam.


Adrian hanya berharap dia mati setelah menghabisi seluruh pasukan yang dimiliki oleh Insagi. Agar dia tidak menanggung beban yang lebih berat daripada hari ini.


"Kita harus cepat bergerak! Sebelum Insagi sadar, kita akan menyerang mereka secara diam-diam!" ujar Adrian, lelaki itu melepas paksa pelukan Melin terhadapnya.


Ternyata tujuan Adrian kembali ke rumah hanya untuk mengambil baju ganti. Karena lelaki gagah yang bajunya sudah compang-camping dengan segala macam noda di seluruh area tubuhnya itu, malah membuka almari pakaiannya.


"Buka bajumu!" ujar Adrian.


Seketika Melin mundur menjauh dari Adrian, sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Otak Melin sudah melalang buana tak jelas, sebab perintah yang diajukan oleh Adrian.


"Apa yang mau Om lakukan?" tanya Melin.


Wajah manisnya berekspresi antara takut atau mupeng. Karena Melin tak bisa memungkiri, jika dia juga rindu dibelai mesra oleh Adrian.


Lelaki itu berbalik ke arah Melin, di kedua tangannya sudah siap perban dan juga obat merah serta cairan antiseptik. Karena melihat apa yang dibawa di kedua tangan Adrian, Melin pun menurunkan kedua tangannya. Sebelum Adrian mengomentari reaksinya dan membuat dia malu.


"Punggung dan perutmu berdarah, kau pasti terluka!" ujar Adrian.


Melin segera memeriksa perutnya, memang benar apa yang dikatakan oleh Adrian. Ada beberapa bercak darah di baju Melin dan Melin juga merasakan rasa perih di beberapa area tubuhnya.

__ADS_1


"Cepat buka bajumu!" kata Adrian.


Dengan gampangnya Melin benar-benar melepas kaus oblong yang ia kenakan di depan Adrian. Tetapi Adrian langsung mendekati Melin, lalu memutar tubuh gadis itu agar Adrian tak memandang pemandanga gunung kembar Melin yang hanya ditutupi oleh pakaian penyangganya.


Melin cukup tersentak, hampir terjatuh ke lantai. Untung Adrian menopang bahu gadis manis yang polos tanpa ditutupi oleh sehelai benang pun.


Mereka berdua diam, menahan hasrat terlarang yang bergejolak di diri mereka masing-masing. Mereka tak menyangka ditengah-tengah pertempuran seperti ini, masih ada hasrat untuk bercinta yang bisa mereka rasakan.


Pikiran lelaki dewasa yang haus akan kepuasan duniawi Adrian melonjak tajam, namun Adrian harus menepis semua sinyal normal itu. Dia ke sini untuk mengobati luka Melin, bukan bertujuan bercinta sampai puas.


Adrian mencoba tetap fokus pada luka di punggung Melin yang tak seberapa memang, tapi cukup membuat Adrian khawatir setengah mati.


"Kenapa kau bisa terluka?" tanya Adrian.


"Jendral menyelamatkanku dengan cara berteleportasi, namun karena ini adalah pertama kali baginya.


"Maka dia malah mendarat di atas tumpukan pelepah sawit!" ujar Melin.


Saat Melin mengatakan hal itu terlihat jelas Adrian sangat marah, karena raut wajahnya menegang sampai memerah.


"Untung Jendral mendarat di bawah tubuhku, jadi aku tidak terlalu mempunyai banyak luka!" sambung Melin.


Adrian tak berkomentar, karena hasrat bercinta di dirinya telah berubah menjadi hasrat kemarahan.


Namun Adrian tidak bisa memarahi Jendral, karena jika Jendral tidak melakukan teleportasi. Mungkin Melin sudah mati terbakar oleh bola petir Sarewa.


Tetapi Adrian juga tidak ingin berterima kasih kepada Jendral, meskipun Jendral telah menyelamatkan nyawa Melin. Adrian tau jika Jendral juga menyukai Melin, wajar jika seorang lelaki melindungi wanita yang dicintainya.


Bahkan Adrian juga pernah berpikir jika dirinya mati nanti, dia akan tenang jika Melin bersama Jendral yang merupakan Siluman Setengah Manusia dengan darah Syurga.


Karena tidak ada lelaki yang lebih pantas untuk Melin daripada Jendral. Mereka mungkin dilahirkan untuk menjadi jodoh, dan dirinya adalah penghalang bagi kebersamaan mereka.


Dan penghalang harus selalu musnah. Entah dengan cara apa pun dia pasti akan binasa, Adrian tau Melin bukan untuknya.


Saat pertama kali manik matanya memandang ke dalam netra Melin. Adrian tau, bahwa Melin bukan takdirnya. Tetapi dia juga tidak tau, kenapa dia malah secinta ini pada Melin.


Kenapa dia begitu dalam mencintai wanita, yang dia tau adalah milik orang lain.


Kenapa dia seolah-oleh mempunyai hutang yang besar kepada Melin, dan dia merasa wajib membayar hal itu dengan nyawanya sekalipun.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2