Hujan Teluh

Hujan Teluh
Ubah Aku


__ADS_3

Ubah Aku


Cambuk Kecrek Kecubung telah mengikat Adrian yang masih di dalam Tameng Sadewo miliknya. Tali ini berkekuatan petir yang amat dasyat, tali ini adalah milik Sarewa yang dipinjamkan Siluman Kera Putih berjenis kelamin wanita itu kepada Laksmana.


Sarewa tidak sempat menggunakan pusakanya karena Adrian telah melukai Siluman Kera putih itu dengan Cermin Yodra.


Sarewa adalah Siluman pendatang, jadi dia tidak mengerti dan juga tidak paham dengan kekuatan ajian Tameng Sadewo yang menjadi Ajian andalan Adrian. Ajian Dewa yang hanya bisa dikuasai oleh segelintir manusia di bumi.


Siluman kera itu dia dijatuhi hukuman karena, telah menghina suaminya yang adalah seorang Dewa dengan cara berselingkuh. Sarewa juga berselingkuh dengan Dewa lain, Dewa lain itu merupakan suami dari sahabatnya sendiri.


Karena hal keji itulah Sarewa sampai dihukum untuk turun ke Dunia Manusia, tanpa diberkahi oleh kekuatan apa pun. Tetapi Insagi membantunya membangkitkan sebagian kecil kekuatan yang dimiliki oleh Sarewa.


Cambuk Kecrek Kecubung yang dililitkan oleh Laksmana di Tameng Sadewo milik Adrian, memancarkan cahaya kilat yang cukup mengerikan.


Melin yang masih mempunyai wujud Jacson mencoba mendekati Adrian, dia ingin menolong kekasih hatinya itu dari tali yang terlihat sangat menyiksanya.


"Jangan mendekat, Cambuk ini akan membunuhmu!" ujar Adrian.


Kedes Desa Air keruh itu menghentikan langkahnya, namun kedua kakinya gemetar karena terlalu khawatir kepada Adrian.


"Aku tidak akan mati, hanya karena hal seperti ini!" ucap Adrian.


Padahal laki-laki itu sudah sulit bergerak, karena lilitan Cambuk Kecrek Kecubung yang dililitkan oleh Laksmana ke tubuh Tameng Sadewo--nya sangat kencang dan sulit untuk dilepaskan.


"Menjauhlah!" pinta Adrian.


Melin segera berlari ke arah lain, dia memilih tempat yang cukup jauh. Cara berlari Melin sangat lucu, karena dia berada di tubuh seorang pria dewasa namun dia masih menggunakan gaya berlari ABG wanita yang energik.


"Akkkkkhhhhhhhhh!" Adrian berteriak.


Siluman Harimau Putih itu mengerahkan semua tenaganya, untuk menghancurkan Cambuk Keceret Kecubung yang melilit tubuh Tameng Sadewo miliknya.


Duarrrrrrrrrr


Duarrrrrrrrrr


Duarrrrrrrrrr


Dretttttttttt


Dretttttttttt

__ADS_1


Suara petir menyambar dari arah tubuh Adrian Cambuk Kecrek Kecubung yang melilit tubuh Adrian, bereaksi saat orang yang dibelenggunya bergerak sedikit saja.


Yaaaa Adrian menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan Cambuk Kecrek Kecubung, jadi petir menyambar dengan kuat dari dalam Cambuk milik Dewa tersebut.


Cambuk itu memang berhasil dihancurkan oleh Adrian, namun sisa-sisa energi listrik yang dihasilkan oleh sambaran petir masih mengalir di tubuh Adrian. Meskipun dia bisa menahan aliran listrik tersebut, namun cahaya kilatan berwarna perak masih mengelilingi tubuhnya, yang sudah tidak dilindungi oleh Tameng Sadewo.


.


.


.


.


Jendral masih mengitari setiap sudut kamar yang ia tempati. Meski di kamar itu ada jendela dan pintu tetapi Jendral tidak bisa membukanya. Dampaknya pintu dan jendela di kamar kuno itu sengaja dikunci dari luar agar Melin tidak bisa kabur.


Ternyata Insagi menggunakan sedikit inisiatif juga.


Jendral kembali duduk di kasur, tiba-tiba telinganya yang sensitif mendengar suara derap kaki banyak orang. Secepat kilat Jendral segera mengambil posisi sebelumnya, yaitu tidur telentang di atas kasur dan pura-pura pingsan lagi.


Benar sekali tebakan Jendral, suara derap kaki banyak orang itu menuju ke arah kamarnya. Satu persatu perempuan muda masuk ke dalam kamar itu, para wanita muda itu hanya menutupi sekujur tubuhnya dengan sehelai kain batik yang terlihat cukup lusuh karena berwarna coklat.


Selain itu dililitkan di tubuh mereka hanya sebatas dada sampai lutut. Rambut mereka dicepol kecil ke arah bawah. Wajah-wajah mereka pucat, tubuh mereka kurus-kurus seperti orang yang kelelahan karena selalu bekerja tanpa diberi makan, pandangan mereka juga tampak kosong.


Tak ada satupun orang yang menjawab perintah dari Lek Wardi tersebut. Tetapi Jendral merasakan tubuhnya mulai diraba-raba oleh beberapa wanita yang baru saja datang tadi.


Para dayang-dayang di istana Insagi itu diperintahkan untuk mengganti pakaian Melin menjadi pakaian putri kerajaan. Tidak mungkin para dayang-dayang itu tidak menyentuh tubuh Melin.


Jentral berusaha untuk tidak meronta dan pura-pura tertidur pulas. Tapi sentuhan-sentuhan tangan para dayang yang menggantikan baju di tubuhnya, membuatnya tidak bisa diam.


"Apa yang kalian lakukan padaku!" teriak Jendral dengan suara Melin.


Padahal dia sudah tahu bahwa saat ini dia sedang yang menyamar menjadi Melin, tetapi Jendral masih saja terkejut dengan suara yang dihasilkan sendiri.


Jendral segera menutupi keterkejutannya lalu berusaha menjauh dari dayang-dayang yang terus mengejarnya, karena pikiran mereka hanya tertuju pada pakaian yang dikenakan olehnya.


Mereka telah ditugaskan untuk mengganti pakaian Melin, tentu saja mereka tidak akan menyerah sampai Melin berganti baju.


Jendral melompat ke atas lantai, namun para dayang-dayang yang bertubuh kurus itu dengan cepat juga mengejarnya.


Dua orang ada yang memegangi kedua tangan Jendral yang memiliki wujud Melin, dua lagi memegangi kaki Melin.

__ADS_1


Jendral tidak mungkin menggunakan ajian yang dia miliki, karena jika dia menggunakan ajian yang dia punya di tempat itu. Insagi pasti akan langsung tahu bahwa yang berada di dalam kamar ini bukanlah sosok Jiwa Suci yang diinginkan oleh Siluman Burung Garuda tersebut.


Ternyata para dayang-dayang itu mempunyai kekuatan fisik yang cukup kuat untuk melawan kekuatan fisik Jendral yang adalah seorang laki-laki.


Para Dayang-Dayang itu secara brutal menyobek baju-baju yang melekat di tubuhnya. Jendral hanya bisa memejamkan matanya karena bagian tubuh vital Melin, menampakan wujudnya di depan matanya.


Jendral tidak bisa meronta lagi sampai para dayang-dayang itu berhasil mengenakan pakaian yang membuatnya ingin berteriak kencang.


Ternyata tak cukup sampai disitu Jendral yang masih berwujud Melin, dipaksa duduk di depan cermin. Para dayang-dayang itu merias wajah manisnya, bahkan menata rambutnya memakaikannya mahkota dan hiasan-hiasan kepala yang membuatnya tertusuk-tusuk.


Setelah semuanya selesai akhirnya para dayang-dayang  melepaskannya.


Jendral melihat wajah Melin yang terpantul di dalam cermin. Lelaki muda itu terpaku, wajah itu terlukis banyak penyesalan.


"Maafkan aku!" kata Jendral, seketika matanya memerah dan sembab. Hampir saja air matanya jatuh ke pipi mulus Melin.


"Cantik sekali!!!" suara Insagi sudah memenuhi ruangan kamar itu.


Plok Plok Plok Plok Plok


Perkataannya diiringi suara tepuk tangan, yang penuh dengan kebanggaan.


"Kau menangis?" tanya Insagi pada orang yang dia sangka Melin.


Siluman Burung Garuda itu sudah berdiri di belakang Melin, karena melihat raut kesedihan di wajah Melin lelaki gagah itu menundukkan kepalanya agar sejajar dengan kepala Melin.


"Apa yang membuatmu menangis cantik?" tanya Insagi.


Jendral yang melihat wajah Insagi di sebelah wajah Melin, langsung membuang muka ke arah lain. Ia lalu berdiri dari tempat duduknya untuk menjauhi Insagi.


Namun gerakan Jendral kalah cepat dengan gerakan Insagi, Siluman Burung Garuda itu langsung muncul di hadapan Melin yang baru saja bangkit dari duduknya. Lalu memeluk gadis belia itu di pinggang rampingnya.


"Berikan aku sedikit darahmu!" kata Insagi.


"Untuk apa?" tanya Jendral, dengan suara yang lembut khas wanita muda.


"Ubah aku, seperti kau merubah Adrian!" Insagi kembali berkata.


Jendral yang tidak tahu apa-apa tentang hal itu hanya memasang raut wajah bingung.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2