Hujan Teluh

Hujan Teluh
Liontin Mata Kanan


__ADS_3

"Dia bukan Jiwa Suci sepertimu, tapi dia harus mati secara mengenaskan!" Jacson terus bicara.


Kades Desa Air Keruh itu tau, bahwa Melin pasti tengah mendengarkan apa yang ia katakan.


"Jika kau bisa menyebutkan tanggal kami pacaran. Aku akan melindungimu dari siluman-siluman di sini!" lanjut Jacson.


Melin tau benar. Kapan, dimana, bahkan bagaimana Jacson melamar Arinda. Melin mendapatkan semua ingatan wanita itu dari mimpinya.


"Bagaimana caranya?" tanya Melin.


Tawaran Jacson sangatlah mengiurkan. Meski lelaki paruh baya itu pembohong, namun Melin tak bisa tak menghiraukan tawaran Jacson.


Dia sudah buntu akal, untuk mencari cara. Agar dia bisa keluar dari tempat terkutuk ini.


"Dengan ini!" kata Jacson.


Lelaki itu mengayunkan sebuah kalung, kalung yang mempunyai liontin berbentuk seperti mata seseorang.


Setelah mempertimbangkan banyak hal, Melin akhirnya keluar dari persembunyiannya. Ia melihat lelaki paruh baya yang masih gagah itu, menawarkan bantuan padanya. Yang entah berguna baginya atau tidak nantinha.


"Kalung ini akan menghalangi siluman melihat aura Jiwa Sucimu!" ujar Jacson.


Tak serta merta langsung percaya, Melin masih mengawasi bagaimana Jacson berekspresi. Dia memang, sengaja agar ditipu oleh lelaki itu sebelumnya. Namun kali ini, Melin tak ingin jatuh ke dalam perangkap yang sama untuk kedua kalinya.


"Tanggal satu di bulan febuari, 1998. Hari itu hujan, sore yang menyenangkan.


"Kalian berdua berteduh di sebuah gubuk tua di pinggir jalan!" ujar Melin.


Kades Desa Air Keruh itu, sontak tersentak. Kejadian hari itu, harusnya hanya dia dan juga Arinda saja yang tahu.


Hari dimana pertama kalinya, Jacson mengatakan rasa terpesonanya pada Arinda secara terang-terangan.


Perasaan sukanya yang ia pendam selama bertahun-tahun, akhirnya biasa diungkapkan pada Arinda di hari itu.


"Kau ingat hari itu?" tanya Jacson.


"Hari itu, tampaknya sangat penting bagi Arinda. Karena aku mendapatkan ingatannya secara detail tentang sore itu!" kata Melin.


Meski Melin bisa mengingat ingatan Arinda, namun gadis belia itu bukanlah Arinda. Jiwa yang mereka punya berbeda, mereka tak punya perasaan yang sama.


"Dia sangat mencintaimu! Tapi aku bukan dia!" ujar Melin. "Aku mendapatkan ingatannya, saat dia menyentuhku ketika memyerangku di pasar!"


"Aku bisa membaca, ingatan orang-orang yang kusentuh semenjak itu!" lanjut Melin.


"Kalau begitu, kau tau aku telah bekerja sama dengan Yanuar dan Adrian untuk menumbalkanmu?" manik mata Kades Desa Air Keruh itu masih berkaca-kaca.


Melin hanya mengangguk pelan, ia sadar betul dia tak bisa berbohong. Apa lagi berpura-pura menjadi Arinda, untuk memanfaatkan Jacson.

__ADS_1


Namun Jacson tetap melempar kalung itu kearah Melin. Dengan sigap, Melin menangkap kalung berliontin mirip mata kanan seseorang itu.


"Kau harus membunuh Yanuar di malam bulan Merah! Itu tugasmu!" ujar Jacson.


"Tugasku?" tanya Melin bingung.


"Jika kau tak membunuhnya, kau akan diburu olehnya sampai kapanpun.


"Dia akan membunuhmu, meski kau reinkarnasi dan lahir kembali!" ujar Jacson.


Melin masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jacson.


"Karma yang ia tanggung tidak--lah sederhana! Ia telah hidup ratusan tahun!


"Berkali-kali ia membunuh jiwamu, bahkan sebelum kau sempat dilahirkan.


"Jadi kau harus membunuhnya sekarang. Agar kami juga bebas!" ujar Jacson.


"Siapa yang harus kubunuh?" tanya Melin.


"Yanuar, si siluman macan kumbang.


"Siluman yang sudah jatuh cinta pada Kinan. Namun Kinan menghianatinya lalu menikah dengan manusia!" jelas Jacson.


Melin terdiam, ia mengerti sekarang. Legenda Hujan Teluh ini adalah sebuah dendam karena cinta.


Karena siluman macan kumbang itu marah, siluman itu membunuh semua warga Desa Pilip termasuk suami Kinan. Lalu meminta warga Desa Air Keruh menumbalkan Yosi. Anak dari Kinan dan Manusia itu.


Namun si siluman macan kumbang masih dendam sampai sekarang. Hingga ia ingin membunuh setiap reingkarnasi Yosi. Dengan cara ritual Hujan Teluh 


Wanita yang bersetubuh dengan tiga mahluk yang berbeda. Siluman, manusia setengah siluman dan manusia biasa. Maka anak yang akan lahir dari hubungan hina itu adalah. Jiwa Suci, jiwa yang membawa kutukan untuk alam semesta.


Yang tak lain adalah Jiwa yang dimiliki oleh Yosi. Karena Kinan pertama kali berhubungan badan dengan si siluman macan kumbang, kedua dengan Mbah Sodik yang saat itu adalah manusia setengah siluman.


Meski dukun itu mengunakan tipu daya, untuk menikmati tubuh Kinan. Lalu suami sah Kinan.


Setelah Melin dapat menyusun puzzle rumit tentang kejadian Hujan Teluh itu. Ia sadar bahwa pria di depannya bukanlah manusia biasa.


"Apa anda adalah siluman?" tanya Melin.


"Kau benar, aku siluman!" ujar Jacson dengan nada santainya.


"Lalu kenapa anda ingin menolongku?" tanya Melin.


"Entahlah, saat melihatmu. Aku seperti melihat Arinda. Itu saja!" ujar Jacson. "Jangan mati kali ini, kau juga putriku yang tak sempat dilahirkan!" kata Jacson.


Lelaki itu menghilang begitu saja dari hadapan Melin. Sementara Jendral yang sadar bahwa Jacson telah pergi. Segera menghampiri Melin, yang masih berdiri di tengah jalan berkerikil dengan ekspresi kebingungan.

__ADS_1


"Kau tidak papa?" tanya Jendral.


Melin masih tertegun memandang ke arah kalung di genggaman tangannya.


Kepalanya sedang banjir oleh perasaan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Dalam tiga kali berreingkarnasi, baru kali ini seorang lelaki bilang bahwa dia adalah putrinya.


Entah itu bercanda atau hanya pura-pura. Namun hati Melin merasa tersentuh, ia memang putri yang disayang oleh keluarga angkatnya. Namun Melin masih saja terus merasa hampa, di tengah-tengah keluarga itu.


Mungkin alasannya adalah, di sini--lah tempatnya. Dia harusnya hidup di sini, di tempat aneh ini.


"Kamu yakin nggak papa, Mel?" Jendral kembali menanyai Melin.


Gadis itu masih membeku, di tempat ia berdiri. Hal itu tentu saja membuat Jendral merasa khawatir. Hingga kedua tangannya menggenggam erat bahu Melin, lalu menggoyang-goyang katanya pelan.


"Aku nggak papa kok!" ujar Melin.


Meski Gadis itu berkata demikian, namun Jendral bisa melihat kegamangan di pandangan mata Melin.


"Apa kamu mau menuruti perintah Pak Jacson?" tanya Jendral.


Nada bicara Jacson tadi cukup keras, sehingga Jendral bisa mendengar seluruh pembicaraan keduanya, dari tempat persembunyiannya.


"Entahlah, aku masih bingung!" ucap Melin.


Gelombang berbagai emosi sedang menghantam diri Melin. Gadis itu tidak bisa memutuskan hal-hal yang rumit, di kala perasaannya sedang kalang kabut.


"Bagaimana menurutmu? Apa aku harus kabur, atau tetap disini dan berusaha membunuh siluman macan kumbang itu?" tanya Melin pada Jendral.


Jendral menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Jika Melin bingung memutuskan tentang hal itu, maka dia lebih bingung daripada Melin.


Selain karena dia tidak punya pengalaman apa pun, tentang hal semacam ini. Dia juga tidak mau salah memberi pendapat pada Melin.


"Ini adalah hidupmu! Kau yang harusnya menentukan jalan hidupmu sendiri!" ujar Jendral.


"Lalu kau?" Melin malah balik bertanya.


"Aku sudah memutuskan untuk berada disampingmu, selamanya--kan!" kata Jendral.


Entah kenapa pipi Jendral masih bisa memerah, padahal mereka berdua sedang membicarakan tentang hidup dan mati.


"Apa tidak papa, jika nantinya kau mati?" tanya Melin pada Jendral yang masih tersipu malu.


"Tidak papa! Semua manusia pasti akan mati--kan nantinya?


"Aku tidak keberatan, jika aku harus mati karena melindungi dirimu!" ujar Jendral.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2