Hujan Teluh

Hujan Teluh
Rahasia Hujan Teluh


__ADS_3

Jasat mendiang Ayah Melin disemayamkan di pemakaman yang pernah dilihat oleh Melin. Pemakaman di jalan raya menuju Desa Air Keruh, pemakaman itu adalah tempat bersemayamnya para korban Hujan Teluh.


Atau semua jasat yang bersemayam di bawah setiap pusaran, di pemakaman itu. Mempunyai riwayat kematian yang tak wajar dan sangat brutal.


Melin dan Adrian sudah berdiri di depan sebuah pusar yang belum di kijing. Semua kuburan di sini tidak boleh dirubah sama sekali, meski gundukan tanah mulai menipis dan hampir rata.


Batu nisan yang ditutupi dengan kain putih yang diikat dengan tali merah, bertengger di atas dan bawah pusaran tanah merah itu. Melin tak bisa memastikan apa ini benar makam ayahnya atau bukan, karena hal itu.


"Om apa ini benar makam ayahku?" tanya Melin.


Adrian hanya menunduk pelan, wajah tegasnya menjadi sedih dan tampak tersiksa.


Adrian merasa kematian kakaknya kini adalah salah Melin, dia benci keponakannya itu. Sampai siang tadi, sebuah pelukan erat yang penuh ketakutan dari Melin. Membuat Adrian bisa merasakan betapa sakitnya tubuh Melin yang tak bisa dia kendalikan sepenuhnya. Karena iblis yang bersemayam di tubuh Melin makin kuat saja.


"Apa gue nggak punya pilihan lain, Om?" tanya Melin.


Pandangan matanya kosong, meski manik sembab itu memandang ke arah batu nisan ayahnya.


"Apa gue harus menjalani ritual itu?" Melin kini kembali bertanya.


Gadis kecil itu kini menatap mata Adrian dengan penuh perasaan sakit.


Siapa yang mau diperkosa, siapa yang mau disiksa dengan hal menjijikan itu.


Adrian tak dapat mengeluarkan suara maskulinnya, bukan karena sakit atau kelainan. Tapi Adrian tak sanggup mengatakan apa pun saat ini, pada gadis manis di depannya itu.


Tapi dia harus mengatakan sesuatu pada Melin.


"Jika kau tak melakukan ritual itu, maka perlahan-lahan jiwa mu akan mati!


"Dan iblis itu akan mengambil alih ragamu!" jelas Adrian.


"Apa aku harus melakukan hubungan badan dengan tiga pria?" tanya Melin


Gadis itu kembali menatap pusar ayahnya.


"Iya!" kata Adrian, dia tampaknya sudah bisa menebak jika Melin tau tentang syarat ritual itu.


"Siapa lelaki yang harus kulayani dalam ritual itu?" Melin memberanikan diri mengatakan itu.


"Pertama Pak Jacson, dia Kades di Desa ini. Yang kedua. Pria tadi, yang memboncengmu. Lalu...," Adrian menghela nafas dalam-dalam. "Aku!" lanjutnya.


"Ini gila, nggak sih?" tanya Melin dengan nada kesal bercampur jenaka.


Bagaimana gadis berusia 17 tahun bisa menerima hal semacam itu.


"Apa para pria akan setuju?" tanya Melin.


"Eyang sudah menyiapkan segalanya!


"Ritual ini, bukan masalah setuju atau tidak. Tapi harus dijalankan agar Desa aman dan terbebas dari Hujan Teluh!" kata Adrian.


"Ok, aku akan melakukannya!"kata Melin.


Gadis itu tak punya pilihan lain. Dia bahkan tak bisa kabur atau menyingkir dari Adrian. Dan gadis belia itu tampaknya sudah percaya dengan mahluk di dalam mimpinya.

__ADS_1


"Aku akan menjagamu, kau akan baik-baik saja. Sampai ritual itu selesai!" kata Adrian.


Melin hanya bisa mengangguk pelan.


.


.


.


.


"Mang Kodel, dimana cewek tadi?" tanya Jendral pada pemilik kantin di dekat sekolahannya.


"Nape nga bawa kabur anak gadis uwong? Cewek tadi itu, ponakannya Adrian--kan?" pria pemilik kantin itu tampaknya sangat marah pada Jendral.


"Jadi dia keponakannya Mas Adrian," gumam Jendral.


"Untung mamangnya nyari, jadi diunde dio sama mamamgnyo!" kata Mang Kodel.


"Baguslah kalau begitu!" ujar Jendral.


"Cewek tadi, belagak nian yo Jend?" Mang Kodel meneruskan pembicaraannya dengan Jendral.


"Biasa aja!" ujar Jendral.


Padahal Jendral juga sempat terpesona dengan paras cantik dan manis Melin. Tapi bocah lelaki itu nggak mau mengakuinya secara terang-terangan.


"Oyyyyyyy ngaaaa tu, mano pacak mbedoken. Cewek belagak atau idak!" ujar Mang Kodel kesal.


Padahal Jendral tau betul jika Melin itu cantik, manis dan pintar. Meski hanya sekilas pertemuan mereka, tapi tampaknya hati Jendral sudah terpaku pada Melin.


Memang Jendral nggak pernah memperhatikan pelajaran di sekolahnya, tapi hari ini Jendral makin nggak merhatiin apa kata guru-guru yang mengajar di kelasnya.


"Napa, ngelamun bae!" ujar Sandi.


Jendral hanya bisa memandang kesal ke arah sobat karibnya itu.


Kelas baru saja selesai, dan mereka bersiap untuk pulang. Dan Jendral sudah faham jika sobatnya itu mendekatinya saat waktu pulang sekolah begini. Sandi pasti butuh tebengan pulang.


"Kamu nggak bawa motor?" tanya Jendral pada Sandi.


"Kagak, nebeng yaaa!" ujar Sandi.


Jendral hanya berdiri dan melempar tasnya pada Sandi. Paling tidak Sandi harus membawakan tas kosong milik Jendral, jika mau mendapat tebengan gratis.


Jendral bukan bocah begajulan yang suka tawuran, tapi dia jarang bawa buku ke sekolah. Karena cowok tampan tapi pendiam itu sama sekali tak tertarik dengan pelajaran.


Alasan dia mau pergi ke sekolah, hanyalah untuk menghindari ocehan emaknya.


"Mang Kodel tadi bilang, kalau kamu bawa cewek cantik ke kantinnya?!" Sandi membicarakan tentang Melin.


"Keponakannya Mas Adrian!" jawab Jendral sedikit dingin.


"Secantik apa dia?" tanya Sandi.

__ADS_1


Pria berkulit putih bersih dan berwajah oriental bukan karena keturunan Cina tapi karena keturunan Curup itu. Tampak sangat antusias karena baru saja mendengar tentang gadis cantik.


Jendral tampak berpikir sejenak, dia mencari perumpamaan. Tapi cowok itu tak menemukan perumpamaan yang cocok untuk kecantikan Melin.


"Kamu bisa main ke rumah Mas Adrian dan lihat sendiri!" kata Jendral.


"Serem tau!" ujar Sandi.


"Serem?" Jendral bingung.


Kedua cowok berseragam SMU itu berhenti di lorong koridor sekolah.


"Kamu nggak dengar rumor aneh di Desa?" tanya Sandi ke Jendral yang berdiri di dekatnya.


"Rumor apa lagi?" Jendral mulai jengah.


Dia cukup kesal dengan banyaknya isu tentang Desanya yang sedang dirundung kemalangan.


"Hujan Teluh!" bisik Sandi.


"Kamu percaya?" tanya Jendral.


"Percaya enggak percaya, tapi isunya eyangnya Mas Adrian yang memulai kutukan itu!" kata Sandi masih dengan suara berbisik.


"Kamu tau dari mana?" tanya Jendral pada Sandi yang masih berdiri di dekatnya, sangat dekat.


"Mbah Jumiem, sebelum kejadian malam jumat berdarah itu dia pergi ke tempat embahku.


"Mereka bicara serius, tapi aku hanya berhasil menangkap. Perkataan bahwa eyangnya Mas Adrian yang telah membuat perjanjian Hujan Teluh!" jelas Sandi.


"Kamu yakin, salah denger kali!" Jendral masih enggak percaya.


"Mbah Jumiem bilang juga. Bahwa mereka harus mencari gadis dengan tanda lahir di pergelangan tangannya!" ujar Sandi.


Jendral jadi ingat saat turun dari motornya, gadis keponakan Mas Adrian itu menaikkan lengan hoodynya. Manik mata Jendral menangkap sebuah tanda lahir atau tato di pergelangan tangan Melin.


"Lalu jika ketemu, mau diapain?" tanya Jendral pada Sandi.


Kini raut cemas dan takut mulai terlukis di wajah Jendral.


"Ditumbalkan!" kata Sandi.


Jendral seketika menarik tangan Sandi dengan paksa.


"Oyyy pelan-pelan, sakit tau!" Sandi hanya bisa ngoceh.


Otak Jendral kembali terngiang-ngiang dengan pembicaraan Pak Kades dan Polisi saat mengintrogasinya pagi kemarin.


Bagaimana hal semacam tumbal dan demit masih ada di jaman yang sudah maju ini.


"Kita harus cepat San, kita harus nemuin mbahmu!" ujar Jendral.


"Buat apa?" tanya Sandi bingung.


Mereka sudah di area parkir motor Jendral yang bertepatan dengan halaman kantin Mang Kodel. Kantin sederhana itu terletak di area luar sekolah, tapi parkir di sini lebih aman dari pada parkir di dalam sekolah.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2