
Melin masih menahan napasnya, gadis itu memandang lurus ke arah pungung lelaki itu, dengan penuh rasa takut. Wajah manisnya membeku dan detak jantungnya berpacu tak terkendali.
Melin tak bisa menebak apa pun saat ini, otak tokcernya tak bisa dia paksa untuk berpikir.
Apa yang dia alami saat ini???
Kenapa begitu ambigu dan aneh.
Meski dengan bantuan sinar seadanya, Melin bisa melihat dengan jelas lelaki di depannya. Pria misterius itu melepas kaus hitamnya, dia melempar kausnya ke pojokan ruangan itu.
Pandangan Melin sempat mengikuti arah kaus itu melayang, tapi segera dia fokuskan lagi netranya ke arah pria di depannya.
Tak ada yang tau siapa sebenarnya pria itu, Melin berharap pria itu Adrian. Pria yang dia cintai, pria yang berjanji akan menolongnya dengan mempertaruhkan jiwa dan raganya.
Pria itu berbalik, dan wajah itu membuat senyum kecil di wajah Melin.
"Om, tolong lepaskan aku!" kata Melin.
Lelaki itu segera menghampiri Melin, telapak tangannya yang lebar dan hangat mengelus lembut wajah Melin. Mata keduanya saling beradu, disana Melin melihat sesuatu yang aneh di manik hitam pekat milik Adrian.
Pandangan itu, pandangan yang tak pernah dia berikan untuk Melin. Melin tak mengenali pandangan penuh n.afsu itu.
"Malam ini kau harus melayaniku dengan benar! Jika ingin makan!" ujar Adrian.
Suara serak seksi yang berat itu, seperti sebuah dentuman genderang kematian bagi Melin. Bagaimana Adrian bisa mengatakan kalimat biadap itu kepada Melin.
"Om gue Melin!" Melin memakai bahasa gaulnya lagi, berharap Omnya mengingat kenangan mereka sebelumnya.
"Emang kenapa jika kau Melin keponakanku. Kau harus melayaniku dengan baik!
"Jika aku tak puas malam ini, kau tak akan punya kesempatan untuk hidup!" ujar Adrian dengan nada ketusnya.
'Apa yang terjadi?' tanya Melin didalam hatinya.
Kenapa pria ini langsung berubah dalam waktu semalam.
"Kau pasti berpikir, kalau waktu itu aku benar-benar mencintaimu.
"Kenapa aku mencintai wanita iblis sepertimu?
"Kamu hanya wanita *.***** yang harus digilir banyak pria, untuk bisa bertahan hidup!
"Menjijikan sekali dirimu!" kata Adrian.
__ADS_1
Wajah Melin yang sudah melunak kembali menegeras.
"Aku lebih baik mati, dari pada melayanimu! Bangsat!" ujar Melin dengan nada tegas.
"Kau baru saja mengumpatku?" tanya Adrian.
"Keparat! biadap!" umpat Melin.
Sekarang gadis itu sadar, ini adalah masa depannya. Dia baru terpernangkap tipu daya Omnya sendiri.
Plakkkkkkkkkkkk
Perih, panas dan ngilu. Seakan separuh wajah Melin terbakar, tapi rasa sakit karena tamparan itu membuat Melin yakin. Dia memang lebih baik mati saja, dari pada harus menjalani ritual konyol itu.
"Kau sebut dirimu lelaki?
"Kau berhasil menipu gadis kecil!
"Dan kau bangga! "Pengecut!!!" bentak Melin.
Puakkkkkkkkkkk
Telapak tangan yang kekar dan kuat itu kembali melayang ke pipi Melin yang belum terkena tamparna.
Rasa manis memenuhi ronga mulutnya, itu pasti darah. Melin membuangnya ke arah wajah Adrian. Sayup-sayup Melin dapat melihat wajah tampan Omnya terpercik oleh salivanya yang bercampur darah segar.
"Bajingan sepertimu, tak pantas hidup didunia ini!" ujar Melin dengan senyuman mengejek.
Cengkeraman kedua lengan kekar Adrian segera menjurus ke arah leher Melin. Tengorokan gadis belia itu mulai tersumbat, rasa sesak di dadanya mulai menyakitkan dan oksigen di aliran pernapasan Melin mulai habis. Melin bisa merasakan ajalnya telah tiba.
Gadis itu hanya bisa pasrah, dia ingin mati. Dia lebih baik mati jika harus mengalami hal sepeti Arinda. Menjalani ritual konyol yang lebih bisa dinamai pesta S.E.X. Kenapa mereka tak mencari bintang porno Jepang saja, kenapa harus menodai gadis manis seperti Melin.
.
.
Akkkkkkkkkkkkkk
Melin menghirup udara di sekitarnya dengan rakus, dia terengah dadanya masih sesak dan kepalanya juga terasa pusing.
"Kau tak papa?" tanya sebuah suara yang amat sangat femilier.
Rambut panjang Melin masih berantakan. Dari sela-sela helain rambut hitamnya, Melin dapat melihat wajah pria yang entah kenapa menjadi sangat ia benci. Karena melihat sosok Adrian di depannya, tubuh Melin secara refleks langsung menjauh dari pria berbadan kekar itu.
__ADS_1
"Apa kau mimpi buruk?" tanya Adrian pada ponakannya itu.
Melin mengeleng pelan, dia merapikan rambutnya yang berantakan. Adrian mengulurkan kedua tangannya, pria itu ingin membantu merapikan rambut Melin. Lagi-lagi tanpa diminta, otak Melin secara refleks menangkis kedua tangan yang diulurkan oleh Adrian dengan kedua tangannya.
Melin bisa melihat netra Adrian terpaku pada manik matanya, Melin segera mengalihkan pandangannya ke sekitarnya. Gadis itu melihat ke arah jendela, meski belum terlalu terang tapi Melin bisa melihat cahaya matahari dari luar sana.
"Gue mau mandi!" ujar Melin.
Gadis itu berdiri dari tempat tidurnya, tanpa permisi pada Omnya yang memandanginya penuh arti. Padahal Melin paling anti mandi di pagi hari, tapi dia harus mencari alasan untuk menjernihkan pikirannya.
Melin berjalan kekamar mandi, tanpa handuk atau pun baju ganti. Gadis itu masuk kekamar mandi dan mulai memikirkan tentang mimpinya semalam.
Kenapa Melin bisa mendapatkan mimpi seperti itu. Yang dia alami di mimpi itu bukan masa lalu, apa mungkin itu masa depan Melin. Gadis SMU itu ingat, jika dia mimpi setelah mendapat panggilan dari bundanya.
Jadi tanpa banyak berpikir Melin keluar dari kamar mandi, dia mencari ponselnya yang seingatnya dia letakkan kasur. Setelah menemukannya Melin segera keluar dari pondok itu, Melin mencoba menelfon bundanya.
Adrian sedang sibuk didapur, pria itu sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Namun pria gagah itu tak henti-hentinya mengamati semua tingkah Melin, yang menurutnya mencurigakan.
Melin mengangkat ponselnya ke udara setelah berada di luar pondok, dia terus mencari sinyal. Tapi tak ada satu butir sinyal pun yang berhasil ditangkap oleh perangkat pintarnya.
"Ini aneh," gumam Melin.
Gadis itu lalu memeriksa panggilan keluar dan masuk. Panggilan ibunya semalam adalah nyata, karena ada notifikasi. Semalam ponselnya berguna dengan sangat baik, tapi kenapa jadi aneh lagi.
Melin jadi ingat, di setiap tempat yang dia datangi dengan Adrian kemarin. Semua tempat itu tak ada sinyalnya, namun Melin bisa melihat warga di Desa yang mereka kunjungi kemarin. Hampir semua warga membawa ponsel, jika memang Desa itu tak ada sinyal. Orang-orang tak akan membawa ponsel mereka kemana-mana begitu.
"Mel! Ayo sarapan!" teriak Adrian.
Pria itu memanggil Melin dari pintu pondok kayu. Melin segera mengarahkan pandangannya ke arah Omnya yang memanggilnya.
Gadis itu bisa melihat senyum Adrian, senyuman yang tulus dan penuh kasih sayang. Kenapa senyuman itu bisa berubah di masa depan, apa benar senyuman itu hanya akting. Lalu Melin harus bagaimana, apa gadis itu juga harus pura-pura mengikuti sandiwara yang dibuat oleh Adrian.
Melin melihat ke arah danau air payau di sampingnya, dia menyapukan pandangannnya ke arah mentari yang mulai meninggi.
"Gue nggak akan kalah darimu Adrian, bangsat!" ujar Melin.
Gadis itu menghela napasnya panjang, dia sudah siap bertempur dengan Omnya.
"Mari kita lihat, akting siapa yang paling bagus diantara kita?!" lagi-lagi Melin bicara pada dirinya sendiri.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1