Hujan Teluh

Hujan Teluh
Inti Jiwa Dursawatu


__ADS_3

Inti jiwa Dursawatu


Jleppppppp


Pedang Melin menancap tepat di jantung buaya itu, tubuh besarnya seketika mengelepar. Makin lama makin melemah, lalu dia mati dibawah kaki Melin.


Di atas tubuh buaya yang sekarat itu, Melin termenung cukup lama. Matanya terbelalak lebar, dan ekspresi di wajahnya tampak sangat kaget.


Seolah-olah dia baru saja mendapatkan kabar buruk yang tidak ingin dia dengar seumur hidupnya.


Tentu saja dia sangat terkejut, karena Melin baru saja mengingat bagaimana dia mati. Dia mengingat tujuh kali kematiannya di kehidupan yang lampau, termasuk kematiannya yang pertama.


Dari ke-tujuh kematiannya, empat kali kematian yang dialami pembunuhnya adalah satu orang yaitu Adrian.


Tubuh Melin sampai terduduk lemah, di atas buaya yang berhasil dia bunuh. Karena ia tak sanggup melihat ingatan di otaknya sendiri, bagaimana ekspresi Adrian setiap berhasil membunuhnya.


Ekspresi lelaki itu sangat bangga dan bahagia setelah berhasil membunuhnya. Seolah lelaki itu hidup di Dunia ini, hanya untuk membunuh dirinya.


.


.


.


.


Karena Melin harus melawan Siluman Buaya di Istana Insagi. Jenderal harus bisa mengalahkan Dursowatu sendirian. Namun tidak ada raut ketakutan yang terlihat diwajah belianya. Ia begitu yakin dan sangat percaya diri, bahwa dia bisa mengalahkan Dursowatu sendirian.


Jendral melemparkan tongkat emasnya ke arah kepala Dursowatu.


Wushhhhhhhhhh


Gubrakkkkkkkk


Dursowatu sedikit oleng, karena terkena pukulan tongkat emas Jendral yang mempunyai kekuatan sangat luar biasa.


Jendral tidak menggunakan kekuatan yang cukup besar, saat melemparkan tongkatnya ke arah kepala Dursawatu. Karena tujuan Jendral menyerang kepala Dursawatu hanyalah agar Siluman Besar itu, sedikit teralihkan perhatiannya.


Agar Jendral bisa mengambil bunga merah muda yang berada di punggung Dursawatu karena hanya itu, satu-satunya cara agar Dursawatu bisa kembali tidur.


Jendral berhasil menjalankan rencananya dengan mulus, ia sekarang sudah berdiri di dekat bunga merah muda yang tertanam di punggung Dursawatu.


Jendral segera mencabutnya, agar Siluman besar itu tidak menghancurkan Alam Buana, yang saat ini sudah hampir hancur karena ulah Dursowatu dan Insagi.


Jendral mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya, untuk mencabut bunga merah muda dari akarnya yang terhubung langsung ke jantung Dursawatu.


"Iyakkkkkkkkkkk!" teriak Jendral.

__ADS_1


Akar-akar panjang yang melilit organ-organ di dalam tubuh raksasa Dursawatu mulai bereaksi karena tarikan dari Jendral.


"Wuarrrrrrrrrrr!"


Tentu saja Dursawatu mengalami rasa sakit yang amat sangat, sampai tubuh raksasanya mengelepar dan berjingkrak tak karuan.


Jendral sama sekali tidak peduli dengan gerakan Dursawatu yang seperti kesetanan. Dia harus tetap berada di sana, sampai ia dia dapat mencabut bunga merah muda yang menjadi inti nyawa dari Siluman Dursawatu.


Ekor Dursawatu yang panjang tidak diam saja, karena merasakan rasa sakit di inti jiwanya. Monster besar berusaha menyebetkan ekornya ke arah rasa sakit yang dideritanya. Guna mengusir Jendral, agar tidak meneruskan melakukan aktivitasnya yang membuat Dursawatu amat kesakitan.


Duakkkkkkkkkkkkk


Blammmmmmmmmmmmm


Ternyata tongkat milik Jendral sangat sakti, dia menyerang ekor yang dikibaskan oleh Dursawatu tanpa perintah dari Jendral.


Jenderal yang melihat tongkatnya sudah menyatu dengan jiwanya, tersenyum senang. Dia jadi tenang untuk fokus mencabut bunga merah muda yang menjadi inti jiwa dari Dursawatu.


"Akkkkkkkkkkk!"


Jendral mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya, untuk mencabut bunga beserta akar yang menjadi inti jiwa Dursawatu.


Raksasa berkulit batu itu terkelepar-klepar karena akar-akar yang mengunci jiwa dan mendetakkan jantungnya mulai tercabut.


"Wuarrrrrrrrrrr!!!"


Teriakannya menggema ke seluruh penjuru, bebarengan dengan jiwanya yang sudah dapat di dicabut oleh Jendral.


"Ngrokkkkkkkk,"


Dursawatu menghembuskan nafas terakhirnya dengan sangat berat.


Tongkat sakti milik Jendral yang melayang-layang di udara, segera menghampiri Tuannya dan Jendral menangkap tongkat itu dengan tepat.


"Trimakasih!" ucap Jendral kepada tongkat saktinya.


Setelah melihat Dursawatu benar-benar mati, Jendral segala terbang ke arah Istana Insagi untuk mencari Melin.


Dia melihat pemandangan yang cukup aneh, setelah sampai di Istana Insagi yang kini sudah hancur berantakan.


Keadaan Adrian yang mengenaskan dan Melin yang terlihat tertegun di atas tubuh buaya besar sambil menancapkan pedang putihnya.


Jendral mendekati tubuh Adrian dan mengambil sisa tangan bercakar milik Laksmana, yang menancap di tubuh pria gagah itu.


Jendral tidak mengatakan apa pun kepada Adrian. Tetapi terlihat jelas di raut wajah Jendral bawah Malaikat Merah itu, sangat membenci sosok Adrian yang hidup ribuan tahun lalu ataupun yang hidup sekarang.


Untung saja cakar tajam Siluman Rubah Jantan yang melukai punggung Adrian, tidak sampai melukai jantung lelaki gagah itu.

__ADS_1


Perlahan-lahan luka yang diderita oleh Adrian sembuh, karena tubuh Adrian yang mempunyai chakra biru. Tubuh makhluk apa pun yang mempunyai jenis chakra ini, memang mempunyai kekuatan beregenerasi secara lebih cepat, daripada chakra-chakra yang lain.


Jendral kembali melihat kearah saudara kembarnya, yang berada di atas tubuh buaya yang sudah mati. Dari tadi posisi gadis manis itu tidak berubah sama sekali, membuat Jendral sangat khawatir terhadap Melin.


Alhasil Jendral segera menggerakkan kakinya untuk mendekati saudara kembarnya tersebut.


"Mel!" panggil Jendral.


Melin sama sekali tidak bergeming, karena dia masih sibuk dengan ingatan-ingatan yang baru saja dia dapatkan.


"Melin!" Jendral meninggikan suaranya dan menepuk salah satu bahu gadis belia itu.


Tentu saja Melin terkesiap dan hampir menyerang Jendral yang berada di sebelahnya. Namun dengan cepat Jendral menangkis serangan Melin dan mengunci tubuh gadis itu di pelukannya.


"Apa kau sudah ingat semua?" tanya Jendral dengan nada yang sangat lembut.


"Aku harus membunuhnya kali ini! Aku tidak akan membiarkan dia hidup!" ujar Melin.


Wajah Gadis itu dipenuhi dengan emosi yang sangat luar biasa. Melin memang emosian, tapi dia tidak pernah mengeluarkan ekspresi semarah ini.


"Tenangkan dirimu dulu, jangan menuruti emosi yang berada di hatimu!" nasehat Jendral yang masih setia memeluk saudara kembarnya.


Akhirnya tangis Melin pecah, dia kembali menjadi gadis ABG yang labil dan belum dewasa. Ia menangis sesegukan di dada Jendral tanpa rasa canggung seperti sebelumnya.


Melin hanya bisa menangis di dada kakak kembarnya, dia tidak dapat mengeluh ataupun bertanya kepada Jendral. Jendral mungkin tahu semua kebenaran yang disembunyikan oleh langit untuknya, tetapi Melin hanya memikirkan tentang satu hal.


Kenapa waktu itu di kehidupan pertama, ke-dua, ke-tiga dan ke-empatnya, Adrian membunuhnya dengan sangat kejam.


Kesalahan apa yang dia perbuat, sampai orang yang yang bilang mencintainya dan juga sangat ia cintai itu, membunuhnya berkali-kali.


"Semuanya akan berakhir di sini!


"Hanya sekali lagi, kau harus menahan rasa sakit yang tidak dapat terobati.


"Setelah ini, semuanya akan selesai dan kembali ke tempatnya masing-masing!" jelas Jendral.


"Dia harus membunuhku lagi?" tanya Melin dengan wajah sembab, wajahnya mendongak ke arah Jendral. Matanya yang indah, memandang fokus ke arah mata kakaknya yang juga hampir menangis.


Dia tak percaya, dia harus mengulangi satu kali lagi. Kejadian yang mengerikan yang ingin dilupakan.


Dibunuh oleh orang yang yang sangat kau cintai dan mencintaimu, itu adalah sebuah hal yang lebih mengerikan daripada kiamat.


"Mau gimana lagi kau harus membayar semua dosa yang pernah kulakukan.


"Jika kau bisa melewati ini tanpa ada masalah, kau akan kembali ke surga dan menjadi Malaikat Penjaga kembali!" kata Jendral.


"Bagaimana jika aku tak mau?" tanya Melin.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2