
"Om yakin akan ngajak gue tinggal di rumah hantu ini?" ujar Malin.
Gadis itu masih di dalam mobil Adrian, dia baru saja bangun. Karena jalanan yang harus mereka tempuh untuk masuk ke area rumah itu berbatu. Guncangan keras membangunkan Melin yang tengah tertidur lelap sejak tadi.
Meski tengah malam gelap tapi sorot lampu mobil Adrian, mampu membantu kedua pasang netra di dalam mobil itu untuk melihat ke luar.
"Kita hanya akan disini selama tiga hari!" ujar Adrian.
"Tiga hari???" Melin mulai mengerutu kesal.
"Hanya itu satu-satunya cara, Om nggak tau cara yang lain lagi!" ujar Adrian.
Melin pun terpaksa ikut turun, karena dia tak punya pilihan sekarang. Dari cerita Omnya di perjalanan tadi, Melin mungkin tumbal tapi juga induknya. Intinya di sini mereka akan mencari kebenaran dan juga perlindungan pada mahluk gaib lainnya.
Namun Melin mulai tak yakin, apa benar mereka akan mendapat jawaban dan perlindungan di tempat seram ini.
Pintu depan pondok kayu itu dibuka oleh Adrian, dan bau pengap langsung menyeruak ke luar.
"Om akan membersihkan pondok ini dulu, tidurlah di mobil jika kau ngantuk!" ujar Adrian.
Melin yang tak suka bersih-bersih apa lagi di tengah malam begini, hanya mengangguk dan segera pergi ke arah mobil.
Melin melihat ke arah dalam hutan, rumah pondok itu terletak di antara hutan dan pantai yang aneh. Pandangan Melin masih memandang lurus ke tempat itu, dia tampak memandang sesuatu lalu tersenyum.
.
.
Adrian di dalam pondok sedang membersihkan debu-debu dengan sapu lidi yang usang. Namun aktifitasnya terhenti, Adrian langsung keluar dan melihat ke arah mobilnya.
Dia melihat Melin di sana, duduk di kursi penumpang depan. Tampak dengan jelas Melin sedang makan cemilan di sana.
Adrian masuk ke dalam gubuk itu lagi, dan dia mengunakan penglihatan batinnya untuk memeriksa area sekitar. Tak ada hal aneh apa pun yang dia temukan.
"Apa aku hanya berhalusinasi? Kenapa aura mahluk itu aneh sekali?" tanya Adrian pada dirinya sendiri.
Baru saja Adrian menangkap aura aneh yang mendekati tempat itu. Aura manusia tapi juga ada aura iblis, jadi Adrian tak yakin mahluk apa itu.
Setelah dirasa bersih Adrian menyalakan lilin lebih banyak, Adrian tau Melin tak suka gelap.
Saat Adrian keluar lagi, keponakannya itu ternyata sudah telelap di dalam mobilnya yang masih menyala. Mereka butuh penerangan sementara.
Adrian membuka pintu mobil di sebelah Melin, dia mengamati dengan cermat wajah Melin yang begitu manis saat tidur. Bibir lelaki gagah itu tersenyum tapi raut sedih segera memudarkan senyum di bibir seksinya.
Lelaki itu tampak tak tau apa yang sedang dia lalukan, hal yang akan mereka lakukan juga sebuah kesalahan. Tapi Adrian tak bisa memilih pilihan lain, dia harus menyelamatkan hidup gadis di depannya itu. Apa pun yang terjadi.
__ADS_1
Melin yang selalu tidur seperti batang kayu, segera diangkat oleh Adrian. Lelaki itu membawa Melin ke dalam pondokan itu, sebuah kasur sederhana menjadi alas tidur untuk Melin.
Adrian segera keluar lagi, dia mengeluarkan semua tas belanjaan mereka dan mematikan mobilnya. Adrian masuk ke dalam pondok lagi, setelah meletakkan semua tas belanjaan di atas meja. Lelaki itu segera duduk di dekat Melin yang sudah tertidur lelap.
Melepas sepatu ponakannya itu, dan menyeka jemari Melin yang berminyak karena gadis itu tadi habis memakan sisa cemilannya.
Adrian jadi ingat tentang perkataan Melin di perjalanan mereka tadi.
"Gue nggak pernah lihat pantai secara langsung! Apa pantainya indah, Om?!" itu pertanyaan Melin tadi.
"Maaf jika pantai ini nggak indah, tapi kau bisa pergi ke pantai yang lebih indah nanti.
"Setelah semua ini selesai!" ujar Adrian.
Lelaki itu masih duduk di sana, dia tak ikut berbaring. Adrian harus selalu terjaga, untuk menjaga ponakannya itu.
.
.
Pagi harinya Melin membuka Matanya, dan dia terkejut dengan kondisi Adrian. Omnya itu ternyata tertidur sambil duduk bersila di sampin Melin.
"Om!" Melin segera bangun dan menyentuh tangan Omnya itu.
Gubrakkkkkkkkk
Mata Adrian menatap tajam manik mata Melin yang masih dalam keheranan.
"Om, sakit!" ujar Melin.
Kedua tangannya dicengkeram oleh lengan kekar Adrian, pasti sakit. Adrian segera bangun dari posisi aneh itu, meksi jantungnya berdetak cepat sekali sekarang.
Terlihat pergelangan tangan Melin memerah, hal itu membuat Adrian langsung terguncang.
"Maafkan Om, Mel!" kata Adrian. Dia elus pergelangan tangan Melin yang memerah itu.
"Reaksi Om, berlebihan banget. Mending Om berbaring dan tidur di kasur aja," kata Melin.
"Om nggak ngantuk lagi! Ayo cari sarapan!" kata Adrian.
Jemari lentik Melin malah meraih wajah Omnya, bisa di tebak bagaimana reaksi Adrian pada sentuhan itu.
"Om tidur saja, aku masih kenyang kok!" ujar Melin.
Mata Adrian yang merah, menandakan bahwa Omnya itu butuh tidur lagi. Jadi Melin harus memaksa Adrian untuk tidur, tubuh manusia pasti tak setabil saat mengantuk. Jika Adrian memaksakan diri, takutnya mereka akan celaka nantinya.
__ADS_1
"Om harus tetap terjaga, selama kita di sini!" ujar Adrian.
Bukannya tidur, lelaki gagah perkasa itu malah bangun dari posisi duduknya. Adrian keluar dan memanasi mobilnya, Melin pun mengikutinya. Gadis belia itu masih berusaha menyuruh Adrian untuk tidur.
"Kalau ngantuk tidur aja Om, nggak usah dipaksa begitu!" Melin mengomeli Omnya.
"Aku baik-baik saja, Mel!" jawab Adrian.
"Kenapa malah menyalakan Mobil?" tanya Melin.
"Kita harus keluar untuk cari sarapan!" ujar Adrian.
"Om akan nyetih saat ngantuk begitu?" tanya Melin kesal.
"Om nggak ngantuk!" ujar Adrian.
Gadis belia itu meraih jemari tangan Adrian, dan gadis itu menarik tubuh kekar Omnya masuk ke dalam pondok lagi.
"Aku masih ingin hidup Om. Jadi sebaiknya Om tidur!" paksa Melin.
"Jika Om tertidur, Om nggak bisa melindungi mu.
"Bagaimana jika nanti mahluk yang berurusan denganmu datang kesini tanpa sepengetahuanku?
"Mereka bisa menyakitimu!" jelas Adrian.
"Tapi Om juga butuh istirahat! Om ini manusia lho!" Melin tampaknya sangat khawatir pada kondisi Omnya itu juga.
"Om nggak papa Mel! Om udah biasa terjaga berhari-hari. Ini nggak akan sulit!" ujar Melin.
Adrian akan keluar dari pondok itu, tapi sebuah pelukan erat dilayangkan Melin ke arah Adrian. Melin memeluk Omnya itu dari belakang, kedua lengannya merekat erat di pinggang Dukun muda yang sakti itu.
"Om! Gue mohon... Gue nggak mau Om sakit!" ujar Melin.
Adrian hanya bisa memandangi dua tangan Melin yang merapat erat di pinggangnya. Rasanya tak ingin terlepas dari dekapan hangat ponakannya itu. Namun Adrian harus menjalankan tugasnya sebagai pelantara permintaan perlindungan.
Segel gaib yang dipasang Mbah Sodik di tubuh Melin ketika bayi telah musnah, karena ulah Arinda kemarin. Alhasil gadis belia itu akan mudah dilacak oleh Nyai Blorong yang menjadi pelindung Desa Air Keruh.
Sewaktu-waktu, Arinda bisa terkena sihir Nyai Blorong yang kuat. Tanpa sadar gadis itu akan menuruti semua kemauan siluman ular itu.
"Apa bahumu baik-baik saja!" Adrian mencoba mengalihkan perhatian Melin.
Mata Adrian memang sudah sangat berat, pria gagah itu juga merasa kantuk. Tapi dia tak boleh tidur nyenyak selama tiga hari ke depan.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤