
Chakra Emas
Hidup tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Terkadang jauh berbeda dari apa yang pernah kita pikirkan, tetapi kita tidak bisa memungkiri bahwa hal itu adalah kenyataan yang harus kita hadapi.
Sebagai seseorang yang hidup di tengah masyarakat kita hanya bisa mengikuti alur yang paling deras, kita mungkin bisa menjadi pelopor atau seseorang yang kuat.
Tetapi jalan menuju tempat tertinggi itu cukup terjal dan butuh pengorbanan. Apa aku sekuat itu? Apa aku bisa berada di ujung dan menjadi pemenang?
~◇~◇~◇~
Angin masih berhembus dengan arah yang sangat aneh di padang rumput Tugu Mulia. Angin yang seolah hanya berputar di tempat itu mengibarkan helaian rambut Adrian yang mulai panjang, Karena dia tidak sempat pergi ke tempat pangkas rambut akhir-akhir ini.
Dia menjadi buronan polisi dan juga buronan Siluman, nasibnya begitu naas tapi dia masih bisa tersenyum. Hanya karena lelaki itu masih dapat melihat, wanita yang dia cintai bernapas dengan bebas di bumi yang amat luas ini.
Kebahagiaan Adrian itu memang sederhana, tapi kenapa jalan menuju kebahagiaan yang diimpikan oleh Adrian begitu amat mengerikan.
"Apa Om menyembunyikan sebuah rahasia dariku?" tanya Melin dengan wajah yang serius.
Meskipun wajah yang memandang Adrian bukanlah wajah Melin tetapi wajah Jacson, namun lelaki bertubuh kekar itu merasakan bagaimana dadanya langsung terasa sesak.
Memang ada satu hal yang disembunyikan dari Melin, yaitu tentang takdir Melin sebagai Jiwa Suci. Hal yang Yanuar ceritakan kepadanya, hal yang membuat Adrian merubah keinginannya di saat-saat terakhir saat dia bisa mendapatkan darah Melin.
Rahasia tentang Jiwa Suci yang bersemayam di diri Melin, takdir yang harus ditanggung oleh Jiwa Suci tersebut.
Adrian menggeleng pelan, "Tidak ada!" katanya.
Tetapi wajah tegas Adrian seolah tidak bisa menyembunyikan perasaan cinta dan kasihnya kepada Melin lagi.
"Sebenarnya, apa yang Om mencanangkan untukku?" tanya Melin dengan nada tegas.
Gadis yang masih memiliki visual Jacson itu, mulai terbawa perasaan di hatinya. Ia menitikkan air matanya di depan Adrian, dan memukul pelan dada bidang pria yang amat ia cintai itu.
"Tidak Bisakah kita berdua tetap hidup?!" tanya Melin, tangisnya makin menjadi. "Aku hanya ingin menjalani sisa hidup kita dengan bahagia, bersamamu!!!
__ADS_1
"Apa itu permintaan yang sulit?!".
Tanpa sadar gadis itu telah meluapkan apa yang dia inginkan selama ini. Adrian tidak menyangka jika Melin mempunyai keinginan semacam itu, setelah apa yang dia lakukan kepada gadis manis tersebut.
Harusnya Melin membencinya, harusnya Melin ingin membunuhnya, bukan malah ingin hidup bahagia bersama dirinya.
Tapi perasaannya yang terharu, membuatnya tidak bisa menghentikan perasaan cintanya terhadap Melin. Dia memeluk Melin meskipun tubuh gadis yang dia cintai ini, mempunyai visual seorang lelaki yang bahkan lebih tua darinya.
Adrian mengelus punggung Melin dan mengusap kepala gadis yang bervisual Jacson itu dengan lembut.
"Harusnya kita tadi membawa popcorn!" kata suara yang begitu amat maskulin. Suara itu muncul dari sisi lain di Padang Rumput Tugu Mulia.
Ternyata kemesraan dua lelaki itu, tengah disaksikan oleh dua manusia lain, yang tak lain adalah siluman-siluman yang berada di bawah pimpinan Insagi.
"Bukankah novel ini bergenre misteri urban trailer? Kok jadi komedi romantis begini sih?!" sahut suara wanita yang tampak kesal.
Suara maskulin Siluman dan suara wanita yang mendapat perintah untuk menyerang Adrian dan Jacson yang berada di Padang Rumput Tugu Mulia itu, menyadarkan kedua kekasih yang sedang mencurahkan isi hati mereka.
Adrian melepas pelukannya pada Melin, mata tajamnya yang sudah memerah menatap tajam ke arah dua Siluman di hadapannya.
Kembar beda gender itu tampak sangat siap untuk mendapatkan serangan dari Adrian. Mereka adalah salah satu petarung andalan Insagi. Adrian akan cukup kewalahan untuk melumpuhkan mereka pastinya.
Tetapi Siluman Macan Putih itu sama sekali tidak gentar ataupun merasa takut. Seperti biasanya Adrian tidak akan pernah mundur dari pertarungan apa pun selama dia membela Melin.
Kedua Manusia Setengah Siluman Rubah ini memiliki keistimewaan, mereka mempunyai chakra berwarna emas yang bisa berubah bentuk kapan saja. Mahluk hidup yang memiliki chakra ini terkenal lincah dan punya ituisi yang tepat.
Mereka juga mempunyai keistimewaan yang tak dimiliki oleh petarung dengan aura chakra lain. Chakra yang mereka miliki tak terbatas jumlahnya, karena mereka bisa dengan mudah mengolah chakra dari luar.
Karena aliran energi yang mereka miliki, sama dengan aliran energi bumi.
Aseta dan Laksmana, kedua kembar beda jenis kelamin itu belum melakukan serangan. Mereka hanya memperhatikan Adrian dan juga Jacson.
"Kenapa...Aku merasa ada yang aneh, ya Kak?!" ujar Aseta.
__ADS_1
"Aku juga merasakan sedikit kejanggalan di sini! Tapi aku tidak tahu, kejangalan apa itu!" sahut Laksmana.
Adrian tidak boleh membiarkan mereka menelisik tentang chakra yang dimiliki oleh Melin, karena jika sampai mereka dapat membaca aliran chakra yang dimiliki oleh Melin. Maka kedua Siluman di depannya pasti bisa menebak bahwa yang berada di sini bukanlah Jacson tapi Melin.
Adrian yang tidak pernah menyerang duluan dalam pertempuran manapun, segera melancarkan serangan kepada ada Manusia Setengah Siluman Rubah tersebut.
Cakar beraliran chakra biru sudah dipersiapkan oleh Adrian, lelaki itu berlari dengan cepat ke arah Aseta dan juga Laksmana yang belum sempat mempersiapkan chakra mereka.
Namun Laksmana yang mempunyai kecepatan yang di atas rata-rata, dapat menghentikan laju serangan Adrian.
"Ternyata semakin tua, kau semakin tidak sabaran Maung Bodas!" ujar Laksmana yang sudah menangkis serangan Tapak Langit Adrian, dengan Ajian Angin Sewu milik lelaki gagah yang mengenakan kostum Jaka Tingkir dalam kesehariannya.
Karena Ajian Angin Sewu yang dilancarkan oleh Laksmana untuk menangkis Tapak Langit Adrian, memiliki level yang lebih kuat. Alhasil Adrian terpental cukup jauh, sampai dia bersimpuh di tanah, sebab Ajian Angin Sewu Laksmana melukai dirinya.
Tak mau kalah Aseta sudah mengumpulkan chakra emas di tangannya, dia merubah chakranya menjadi sebelah pedang yang dapat menebas apa pun.
"Mati kau, Maung Bodas!!!" teriak Aseta, dia menyerang Adrian sebelum lelaki itu pulih dari serangan Laksmana.
Untung Adrian cukup sigap, Pedang Subrono sudah menangkis tebasan Pedang Emas Aseta.
Adrian perlahan-lahan berdiri dan perlahan-lahan juga Tameng Sadewo membungkus tubuh kekarnya, agar kedua Manusia Setengah Siluman Rubah Kembar itu tidak mudah melukai dirinya.
Aseta dan Laksmana tampak tercengang ketika melihat Ajian Tameng Sadewo yang membungkus tubuh Adrian.
"Bukankah itu adalah Ajian Tameng Sadewo, yang sangat melegenda itu--kan, Kak?!" tanya Aseta kepada Laksmana.
"Kau benar adikku, itu adalah Ajian Tameng Sadewo! Ajian yang hanya dimiliki oleh, keturunan Patih Gajah Mada!" ujar Laksmana yang tampak begitu tercengang. "Bagaimana kau bisa menguasai Ajian Tameng Sadewo? Ajian yang bahkan tidak bisa dikuasaikan oleh Siluman paling sakti sekalipun?!".
Adrian yang sudah berdiri tegak dengan asap putih berbentuk harimau putih yang mengelilinginya, tampaknya tak ingin menjawab pertanyaan dua Siluman Rubah itu.
Sebab Adrian langsung maju lagi ke depan untuk menyerang dua Siluman yang mengganggu ketenangannya dengan Melin, saat menikmati padang rumput Tugu Mulia.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤