Hujan Teluh

Hujan Teluh
Padang Tugu Mulia


__ADS_3

Padang Tugu Mulia


"Apa yang kau tunggu? Kau mau menghisap darahku atau darah Jendral dan mati karena hal itu?!" ujar Jacson.


Jendral dan Jacson memilki aliran Chakra merah berbeda dengan Adrian yang memiliki Chakra biru. Jika sampai Chakra dengan aliran berbeda bercampur  maka pemilik dari Chakra tersebut akan mati secara perlahan-lahan.


Oleh sebab itu para Siluman sangat hati-hati ketika mengambil Chakra dari lawannya.


Melin membalikkan tubuhnya dan menjauh dari mereka. Melin yakin alasan Adrian tidak mau menyerap Chakra dari tubuh Aya pasti karena dirinya.


"Kau tahu aku belum lama menjadi Siluman! Jadi aku tidak bisa mengendalikan diriku.


"Bagaimana jika aku menyerap seluruh darahmu!" tanya Adrian pada Aya.


Tampaknya Aya tak keberatan jika harus mati di tangan Adrian, karena Aya tidak menarik uluran tangannya yang dari tadi dia arahkan ke arah wajah tampan Adrian.


Melin yang mendengar ucapan Adrian kembali berbalik ke arah lelaki itu. Dia tidak menyangka bahwa Adrian memang benar-benar tidak peduli tentang apa yang dia pikirkan tentang lelaki itu saat ini.


Adrian juga melihat tatapan Melin yang begitu nanar kearahnya. Lelaki itu sudah sadar dan dia ingat akan tujuannya kembali.


Adrian meraih tangan Aya, namun matanya tak bisa dia alihkan dari Melin yang sedang memandangnya. Lelaki itu langsung menggigit pergelangan tangan Aya tepat di saluran vena.


Glek...Glek...Glek...


Terdengar jelas suara Adrian menelan beberapa teguk darah segar dari pergelangan tangan Aya.


Melin melihat dengan jelas ke arah Adrian yang sedang begitu menikmati setiap tetes darah Aya. Lelaki yang ia sangat cintai itu, tanpa jijik terus menenggak darah segar Aya. Hingga tanpa terasa Melin menitikkan airmata dari kedua pelupuk matanya.


Karena tak tahan melihat ekspresi puas Adrian, yang sedang menenggak darah dari pergelangan Aya. Melin berbalik ke arah lain lagi dia menahan perasaan kecewanya terhadap Adrian.


Berkali-kali Melin berharap dan berkali-kali juga Melin merasa kecewa. Tetapi kenapa dia tidak bisa berhenti berharap, kenapa dia masih menginginkan Adrian. Padahal dia tahu sendiri bahwa Adrian bukanlah seseorang yang mempunyai sifat tulus.


Melin tahu rasa cinta memang tidak bisa memilih, tetapi kenapa dia bisa jatuh cinta kepada Adrian.


Apa karena laki-laki itu tampan? Tapi masih banyak lelaki yang lebih tampan di luar sana.


Apa karena laki-laki itu gagah! Pasti ada makhluk yang lebih gagah dari Adrian di luar sana.


Melin benar-benar tidak bisa mendapatkan alasan kenapa dia mencintai Adrian, dengan sangat dalam dan tampaknya juga tidak menghilang.


Haruskah dia menelan kekecewaan sepanjang hidupnya, karena lelaki yang dia cintai tidak mencintainya.


"Mereka menyiapkan ritual di Padang Tugu Mulia!" kata Aya.

__ADS_1


Adrian tidak menghabiskan darah Aya, setidaknya Siluman Harimau Putih itu masih mempunyai tenggang rasa dengan makhluk sesamanya.


"Padang Tugu Mulia?" tanya Melin. Pandangannya kosong, karena Melin sedang membayangkan tentang ingatan Nenek Yah yang pernah dia baca.


Bagaimana dia bisa berdiri di sebuah padang rumput dengan gaun putih yang berlumuran darah, serta di tangannya dia menggenggam sebilah pedang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


Apa yang sebenarnya akan terjadi nanti malam.


"Mereka mengincarmu!" kata Aya pada Melin.


"Aku tau!" ujar Melin.


"Tidak ada orang yang bisa keluar masuk Desa ini, sampai besok pagi!


"Karena Insagi telah memasang pagar goib yang tidak bisa ditembus oleh kekuatan apa pun di bumi ini!


"Jadi kalian tidak bisa pergi dari Desa ini, sampai Bulan Merah berhenti bersinar!" jelas Aya.


"Bulan Merah akan bersinar dari jam 11 malam, sampai jam 4 subuh.


"Sampai saat itu, Insagi pasti akan menyerang kita dengan mengerahkan seluruh pasukan yang dia punya!


"Apa kalian sudah siap?" kata Jacson.


Karena ini bukan sinetron, jadi para tokoh di sini tidak memikirkan tentang fashion apalagi harus Good looking karena tidak ada kamera yang menyoroti mereka.


Ekspresi mereka sama-sama sangat serius, karena mereka harus memikirkan strategi untuk melawan Insagi tanpa melibatkan warga desa yang tidak bersalah.


"Di mana letak Padang Tugu Mulia itu?" tanya Melin.


"Itu terletak di sebelah timur Desa Air Keruh!" ujar Jendral.


"Dulu padang itu adalah Desa Pilip yang dihancurkan oleh Yanuar!" tambah Jacson.


"Apa Yanuar tidak membantu kalian?" tanya Aya.


"Dia tidak akan ikut campur kali ini!" kata Adrian.


Tampaknya Adrian sama sekali tidak keberatan dengan keberadaan Aya di kelompok mereka. Hal itu membuat Melin sedikit gusar, Benarkah Adrian hanya ingin menang dari Insagi. Agar Adrian bisa menumbalkannya di lain waktu, atau memanfaatkannya untuk tujuan lain.


"Bagaimana jika kita pergi ke lembah Tugu Mulia? Kita harus menghadapi semuanya juga nanti!


"Kita tidak bisa terus menunggu dalam bimbang seperti ini!" kata Jendral.

__ADS_1


Seketika semuanya hening, karena semua kepala di tempat itu sedang memikirkan usul Jendral.


"Jendral benar! Semakin cepat kita mengalahkan mereka, maka semakin cepat juga kita bisa istirahat!" ujar Jacson.


Jacson berkata demikian bukan karena tidak ingin mati, tapi Kades Desa Air Keruh itu hanya ingin memberi semangat kepada orang-orang di dekatnya. Supaya mereka mempunyai keyakinan untuk menang dan hidup lebih lama.


"Apa luka bapak sudah pulih?" tanya Jendral pada Jacson.


Jacson melihat ke arah dadanya, kemeja yang dia kenakan sudah koyak-koyak tak jelas karena serangan Aya yang hobi mencakar.


"Maaf!" gumam Aya lirih.


Memang sudah seharusnya Siluman Kucing Hitam itu merasa bersalah kepada Jacson, yang telah menolongnya dari serangan sarewa teman sekubunya sendiri. Karena jika tidak, mungkin Aya sudah menghembuskan nafas terakhirnya sejak tadi.


"Pulihkan dirimu dulu,  sebelum kita berangkat menyerang Insagi!" ujar Adrian.


Lelaki gagah itu berdiri tanpa aba-aba dan ijin dari orang lain. Tampaknya Adrian ingin pergi ke sesuatu tempat sebelum penyerangan yang telah direncanakan.


Tetapi Adrian berhenti dari langkahnya, lalu menghadap ke arah kelompok yang berada di belakangnya.


"Melin, kau ikut aku!" katanya tanpa persetujuan.


"Kemana?" tanya Melin, yang langsung berdiri ketika mendengar ajakan dari Adrian.


Tubuhnya bergerak sebelum otaknya, Melin tampak menyesal karena dia terlihat begitu antusias dengan ajakan Adrian. Seharusnya dia jual mahal, tidak. Seharusnya dia tidak pernah menuruti perkataan Adrian dengan mudah.


"Ikut saja jangan banyak tanya!" ujar Adrian.


Lagi-lagi Melin bergerak sebelum otaknya berpikir, Karena dia sudah berlari kecil ke arah Adrian. Dia benar-benar terlihat seperti wanita murahan, yang sedang mengejar pria tampan.


"Kemana?" Melin kembali bertanya saat sudah bisa mengimbangi langkah Adrian.


Adrian langsung menggenggam tangan Melin, hal itu membuat Melin sedikit kaget. Meski Melin sering mendapatkan perlakuan semacam itu dari Adrian, tetapi Melin masih saja kaget ketika mendapatkan sentuhan mengejutkan dari Adrian.


Melin benar-benar tidak bisa terbiasa dengan kekasaran Adrian, yang timbul tenggelam tak jelas.


Ternyata Adrian mengajak Melin berteleportasi ke rumah Adrian. Lagi-lagi mereka mendarat di atas kasur di dalam kamar lelaki gagah itu.


Adrian sendiri sempat kaget, kenapa hanya tempat itu yang dia pikirkan ketika membawa Melin berteleportasi. Padahal dia bisa mendarat di ruangan lain yang lebih umum.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2