
"Mel, buang pisau itu!" perintah Adrian.
Tubuh gagahnya bergetar, matanya hanya berpusat pada benda kecil yang tajam di genggaman tangan kiri Melin. Bagi Adrian ini sangat menyakitkan, gadisnya ingin melukai dirinya sendiri. Dan mungkin hal itu didorong karena kesalahan yang tak sengaja dia perbuat.
"Bukankah ini yang anda inginkan, tak perlu berakting lagi!" ujar Melin.
Gadis itu menahan isakan tangisnya, menatap tajam ke arah manik mata Adrian yang hanya terlukis keputusasaan.
"Apa pun itu, Om minta maaf! Buang pisaunya dan jangan menangis lagi!" ujar Adrian.
Tak ada gerakan bela diri yang bisa dipikirkan, oleh pemuda yang menguasai ilmu kanuragan leluhur manusia harimau itu. Adrian tak mau mengambil langkah yang salah, karena ancaman Melin terlihat sangat nyata. Terlihat jelas jika gadis belia di depannya sedang marah besar ke padanya.
Melin tersenyum tak percaya, gadis itu mengejek Adrian dengan pandangan jijik ke arah Omnya.
"Katakan! Kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri--kan?" tanya Melin.
Gadis belia itu makin tak sopan pada Omnya. Mana mungkin Melin bisa sopan terhadap Adrian, yang dia anggap sebagai bajingan tengik yang hanya mengincar nyawanya. Untuk lelaki itu tumbalkan pada sesembahannya Nyai Blorong.
Adrian masih bingung dengan perkataan Melin, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Melin bisa mengatakan hal itu padanya, apa seseorang datang semalam. Dan orang itu menghasut Melin dengan perkataan.
"Nggak, Mel. Apa pun perkataan orang itu! Itu sama sekali nggak benar!" kata Adrian.
"Gue ngelihat sendiri. Gue ngelihat bagaimana, gue mati nanti!
"Gue akan mati di tangan kotor elu itu!!!" teriak Melin.
Manik mata Adrian membesar, seketika dia ingin punya masalah di pendengarannya. Dia ingin apa yang dia dengar dari Melin saat ini, adalah sebuah karangan. Saat ini hati, pikiran dan segala-gala kepunyaanya adalah milik Melin. Bagaimana mungkin Adrian bisa membunuh gadis yang dia cintai ini.
"Kau mimpi apa semalam?" tanya Adrian.
"Gue tau tujuan Om! Gue jadi ngerasa suka punya kemampuan gaib.
"Gue mimpinin masa depan gue sendiri.
"Om akan maksa gue nelakuin ritual konyol itu, karena gue ngelawan. Jadi Om ngebunuh gue," jelas Melin.
Pegangan Adrian pada pergelangan tangan Melin, yang tadinya amat sangat kuat itu seketika melemah. Manik mata Adrian hanya berputar, putar kosong. Lelaki itu menahan air matanya yang sudah ingin keluar.
Karena tak sanggup menahannya Adrian tertunduk, tubuh kekarnya sampai tersungkur ke tanah. Kini lelaki gagah itu bersimpuh di depan Melin keponakanya.
Melin adalah Jiwa Suci yang dipilih oleh Nyai Blorong, jiwa yang bisa melihat masa lalu atau pun masa depan. Namun segel yang dipasang di tubuh Melin oleh Mbah Sodik saat Melin masih bayi, membuat gadis itu tak bisa menikmati kelebihannya itu. Karena luka yang dibuat Arinda di bahu Melin, luka itu memusnahkan segel yang sudah 17 tahun dimiliki oleh gadis manis itu.
Jadi apa yang dikatakan Melin saat ini adalah sebuah kenyataan yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
"Bagaimana caraku membunuhmu?" tanya Adrian.
Wajah tegas Adrian, terlihat kacau sekali. Melin juga tampak iba, gadis itu tak ingin percaya dengan mimpinya. Tapi mimpi itu terasa sangat nyata, hingga Melin tak bisa mengabaikannya. Lalu menganggapnya sebagai mimpi belaka.
"Katakan, bagaimana aku akan membunuhmu?" tanya Adrian.
.
Seeeeettttttttttttt
Suara mobil berhenti mendadak di jalur sebelah mereka.
"Melinnnn!" teriak suara perempun dari dalam mobil sedan putih yang berhenti serampangan di tengah jalan.
Lastri keluar dari mobil sedan putih itu. Kebahagian dan rasa khawatirnya terpancar jelas diwajah Lastri. Melin yang melihat ibunya di sebrang jalan, tampak seperti mendapat hembusan angin segar.
Namun jemari tangan kiri Melin yang sedang mengenggam pisau. Merasakan sebuah hentakan pelan, ternyata Adrian yang sedang bersimpuh di depannya meremas mata pisau yang tajam di tangan Melin.
Darah segar sudah mengucur dari genggam kuat Adrian di mata pisau itu. Melin segera melepas pisau itu, dia mundur. Melin takut, dengan sifat Adrian yang sesungguhnya. Sifat blak-blakan Adrian yang diperlihatkan di mimpi Melin.
"Katakan bagaimana aku membunuhmu," pinta Adrian lemah.
Lelaki itu melepas pisau yang sudah penuh dengan darahnya ke tanah, dan memangku telapak tangannnya yang terluka di pahanya. Dia masih bersimpuh di depan Melin, wajah tampannya makin terlihat berantakan.
"Om nyekik leher gue sampai mati, di gubuk reot yang ada di tengah kebun kelapa sawit!" ujar Melin.
Bertepatan dengan itu Lastri sudah menarik pergelangan tangan putrinya itu. Wanita paruh baya itu tak mau melihat ke arah Adrian. Sepertinya Lastri sudah tak menaruh minat pada adik kandung suaminya itu.
.
.
Melin sudah masuk ke dalam mobil sedan putih yang membawa Lastri. Melin dan Lastri duduk di jok belakang, karena di jok depan di isi dua pria yang tak asing bagi Melin. Jendral dan Pak Kades Jacson.
Namun Melin sama sekali tak berbicara apa pun, dia hanya mengingat wajah berantakan Adrian. Apa lelaki itu akan baik-baik saja, telapak tangan dan telapak kakinya terluka.
Persetan, lelaki itu memang pantas mati. Namun pertanyaan terakhir Adrian masih terngiang-ngiang di benak Melin. Jika lelaki itu memang berpura-pura mencintainya, dan hanya ingin membunuhnya. Kenapa dia diam saja saat bundanya membawanya pergi. Bukankah harusnya Adrian mencegah dirinya dibawa orang lain.
"Kamu nggak papa, Nak?" tanya Lastri.
Sejak naik ke dalam mobil, wanita paruh baya itu selalu memeluk putrinya dan mengelus kepala, punggung dan bahu Melin. Untuk membuat putrinya itu tenang.
"Mellll, maaf in bunda ya anakkkk! Harusnya bunda nggak pernah percaya pada Adrian!" ujar Lastri.
__ADS_1
Melin mendongak di dalam pelukan bundanya, gadis itu ingin bertanya. Namun Lastri sudah menjawab pertanyaan yang akan diajukan oleh Melin.
"Harusnya bunda tak percaya pada siluman itu!!!" kata Lastri dengan nada yang amat kesal.
"Siluman, maksut Bunda. Om Adrian adalah siluman?" tanya Melin.
Lastri mengangguk pelan, dia kembali membenamkan wajah putrinya ke dadanya yang hangat. Namun di dalam pelukan bundanya yang hangat itu Melin merasa tak nyaman. Melin jadi ingat tentang kejadian pintu pondok dan pergumulan dengan Adrian.
Manik mata Melin melotot, dia baru ingat tentang kejadian itu. Jika Adrian siluman, maka jika dia hamil. Anak yang dia kandung, bukan anak manusia tapi anak siluman.
.
.
.
.
Adrian masih bersimpun di tepi jalan, posisinya sama sekali tak berubah. Padahal sudah hampir setengah jam Melin pergi dari tempat itu. Pandangannya kosong, tubuhnya lunglai dan wajah tampannya hanya terlukis keputusasaan.
<~○~>
Apa yang harus kulakukan???
Apa aku harus mati, agar aku tak melukai Melin???
Apa dengan kematianku, gadis itu bisa baik-baik saja???
Kenapa harus aku yang membunuhnya, kenapa harus aku???
Aku tak sanggup hidup tanpa dia, kenapa aku membunuhnya. Memasukkan dia ke gubuk sialan itu, apa aku juga akan melecehkannya tanpa persetujuan Melin.
Aku memang pantas mati, aku memang lelaki bodoh yang tak punya adab.
Aku biadap!
Aku bajingan!
Aku pengecut!
<~○~>
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤