
Melin melepas pelukannya pada Adrian, karena dia juga merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Gadis SMU itu tak lagi merasakan, rasa sakit di bahunya sejak kemarin pagi.
"Kayaknya udah nggak papa Om!" ujar Melin.
Gadis itu melepas hodienya karena dia juga merasa sedikit gerah. Hanya sehelai tangtop berwarna hitam yang kini membalut tubuh belia Melin.
Adrian mendudukkan tubuh Melin ke atas kasur, alas tidurnya semalam yang cukup tebal. Lelaki itu melanjutkan langkahnya mencarai kotak medis di salah satu rak di dalam rumah kayu sederhana itu.
Adrian mencari kotak itu sambil menetralkan gejolak di hatinya. Lelaki itu harus tetap tenang, agar fokusnya pada ilmu kebatinannya tak teralihkan. Adrian tak akan membiarkan mahluk apa pun mendekati keponakannya, dan menyakiti gadis pujaan hatinya.
Makin dalam, rasa itu menusuknya makin ke dasar. Rasa cinta yang tak bisa dia tolak, apa lagi dia terima. Dadanya hanya bisa menampung semua perasan terlarangnya pada Melin keponakannya. Perasaan yang tumbuh dengan sangat cepat itu mungkin bisa menyakiti Adrian, tapi pria itu tak peduli.
Adrian sudah kembali bersila didepan Melin. Lelaki bertubuh kekar nan seksi itu dengan hati-hati melepas perban di bahu Melin, bekas jahitannya masih bisa terlihat.
"Sakit nggak?" tanya Adrian pada Melin.
"Udan nggak sih, Om!" jawab Melin.
Setelah membersihkan luka di bahu Melin dan mengoleskan salep, serta membalut kembali luka Melin yang memanjang dibahu gadis manis itu. Adrian meneliti ekspresi wajah polos Melin.
"Apa kau takut?" tanya Adrian.
Melin menggangguk pelan. "Awalnya gue takut mati Om. Tapi sekarang gue takut kehilangan kalian semua!" ujar Melin.
"Maksutmu?" tanya Adrian.
Perkataan keponakannya itu pasti membuatnya bingung.
"Baru kali ini gue bisa pergi tanpa Bunda. Dan bergaul dengan orang lain tanpa diawasi!
"Gue jadi ngerasa kalau gue juga seorang manusia!" ujar Melin.
Selama ini Melin memang selalu didekte oleh bundanya, didekte tentang siapa dirinya. Dirinya yang punya jiwa Monster didalam tubuhnya. Monster yang mengerikan, dan tak dapat dikendalikan. Monster yang akan melukai semua orang yang ada di dekatnya.
"Kamu nggak perlu takut lagi. Om akan berusaha, memberikan hidup yang normal untukmu!" ujar Adrian.
Entah terbawa perasaan atau, karena mengagumi ketampanan Adrian. Melin mengelus pipi Omnya itu, lalu mencium bibir Omnya sekilas.
Dada Adrian seakan mau meledak, gemuruh menyambar di dalamnya. Tapi Melin malah tersenyum ke arahnya seakan memberikan sebuah dorongan yang kuat. Sebuah sinyal yang salah tertangkap, karena gelombang perasaan mereka yang berbeda.
__ADS_1
"Trimakasih Om, tapi jangan paksakan diri Om!
"Karena gue juga nggak akan sanggup, kehilangan orang seperti Om nantinya!" ujar Melin, Gadis itu masih mengelus pipi Adrian.
"Om tidur yaaa, gue akan selalu di samping Om! Dan akan membangunkan Om. Jika ada sesuatu yang aneh!" ujar Melin.
Adrian yang biasa melakukan banyak ritual mistis, menahan kantuk dan lapar sampai 40 hari pun dia sanggup. Tapi kali ini, bujukan Melin membuatnya tak sanggup menolak perhatian gadis manis itu.
"Baiklah, Om akan tidur. Tapi jangan lepaskan gengaman tangan Om ya!" pinta Adrian.
Melin pun mengangguk dan bergeser, untuk memberikan ruang yang lebih luas pada Omnya untuk berbaring. Melin malah ikut berbaring di sisi Adrian, tanpa rasa cangung. Karena Melin bisa merasakan kasih sayang Adrian, Melin jadi merasa punya keluarga lain selain bundanya.
Jemari tangan kanan Adrian menggenggam jemari tangan kiri Melin. Mereka berbaring berhadapan, hati Adrian begitu bahagia. Saat ini dia tidur ditemani oleh wanita pujaan hatinya. Tak henti-hentinya lelaki itu melihat ke arah wajah cantik Melin.
"Pejamkan mata Om!" perintah Melin.
Adrian malah tersenyum meremehkan, tapi Melin malah menutup mata Omnya dengan salah satu telapak tangannya.
"Mau gue ceritain sebuah kisah yang manis, agar Om bisa tidur!" ujar Melin.
"Kisah yang manis?" Adrian tambah tertawa mengejek ke arah Melin, lalu menangkis tangan Melin yang menutup matanya secara sangat halus.
Melin mulai bercerita tentang kisah Mas Wakil dan Dokter Nesa. Kisah cinta sederhana yang manis dan membahagiakan. Kalau ada yang penasaran silahkan baca sendiri Novelnya yaaa.
.
.
Cerita dengan seting di desa pesisir yang indah itu mampu membius Adrian. Lelaki itu bahkan memimpikan hidup bahagia dengan Melin di desa dengan pantai yang sangat indah. Ketika mereka bisa bercengkerama sepuas hati mereka.
Hingga lelaki itu memimpikan hal itu di dalam tidur nyenyaknya.
Di sebuah kamar Melin dan Adrian saling berpelukan, hanya senyuman yang menghiasi wajah mereka berdua. Bukannya berusaha melepas pelukan erat itu, Melin malah semakin meringkuk kedalam kehangatan Omnya itu.
Gadis belia itu mendongak ke arah Adrian, kini wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja. Dengan lembut Adrian membelai tepian wajah ponakannya. Kasih sayang pria pada wanita itu, dirasakan oleh Melin.
Meski ini mimpi, tapi Adrian tampaknya sangat menghayati perannya menjadi kekasih hati keponakannya.
Melin mengecup lembut bibir Adrian. Tentu saja hal tak senonoh itu, membuat Adrian tercengang. Entah kenapa mimpi ini begitu nayata bagi Adrian.
__ADS_1
Melin melihat raut kaget di wajah Omnya, gadis itu tau tindakannya sangat tak pantas. Jadi Melin segera mengerakkan tubuhnya, karena rasa malunya Melin berusaha lepas dari pelukan Adrian.
"Maaf Om, aku nggak sengaja!" ujar Melin.
Melin segera bangun dari kasur empuk yang mereka tiduri , dia langsung berdiri dan mencoba keluar dari pondokkan sederhana itu.
Ini mimpi dan Adrian bisa melakukan hal-hal intim pada ponakannya itu.
Tapi cengkeraman lembut tangan Adrian, menghentikan langkah Melin. Telapak tangan yang besar dan bertenaga itu meremas lembut salah satu bahu Melin.
Adrian menggiring tubuh Melin untuk menghadap ke arahnya. Wajah tegas nan seksinya berubah sayu dan lembut, pandangan matanya yang masih tajam itu mengarah intens ke manik mata Melin.
"Bolehkah, aku mencintaimu!" ujar Adrian.
Ini mimpi jadi Adrian ingin mengekspresikan apa yang dia pendam selama ini.
Melin hanya bisa diam, dia tak tau harus mengatakan kalimat apa. Untuk menjawab pernyataan cinta Omnya itu.
"Maafkan, aku. Karena aku jatuh cinta padamu!" ujar Adrian.
Gejolak yang membara itu tak sanggup ditampung lagi di dada Adrian. Di dalam mimpinya lelaki itu pun menyalurkan hasrat cintanya melalui ciuman panasnya ke bibir Melin.
Tubuh kecilnya di kuasai oleh belengu kedua tangan berotot Omnya. Kecupan-kecupan hangat dan buas terus melayang ke setiap area tubuh Melin, menggugah n.afsu birahi gadis belia itu.
Baru beberapa detik tubuh keduanya sudah berada atas kasur lantai yang tadinya ditinggalkan oleh Melin dan Adrian. Tak ubahnya seperti macan yang sedang kelaparan, Adrian tak bisa mengendalikan n.afsu birahinya sama sekali.
Apa dia lupa. Gadis yang tengah dia kungkung dalam mimpinya, dengan kenikmatan yang tiada tara adalah anak gadis kakaknya sendiri. Wajah polos Melin mulai dapat menikmati setiap goresan kejantanan Omnya itu.
Permainan cinta yang berlangsung di tepian pantai, dengan deru ombak sebagai backsound kehausan mereka berdua. Keduanya seolah lupa, bahwa darah yang mengalir ditubuh mereka berdua adalah darah yang sama.
Erangan, lenguhan kenikmatann dan jeritan tak tertahan, memenuhi ruangan pondok itu.
Hari makin siang, keduanya hanya bisa saling mendekap erat. Menikmati titik terakhir yang terasa sangat luar biasa. Tubuh keduanya melayang ke surga secara bersamaan.
Kamar itu sangat berantakan, tata letak kasur dan seprai sudah bertebaran tak karuan. Ini adalah pertama kalinya bagi Malin, tapi dia harus mengimbangi jiwa macan putih di diri Adrian.
Wajah polos yang merona Melin masih dikuasai kenikmatan yang tiada tara. Dia merasa tubuhnya amat lemas karena baru saja diserang oleh binatang buas, dalam bentuk pria tampan yang sangat seksi. Omnya sendiri.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤