Hujan Teluh

Hujan Teluh
Ajian Geni Ireng


__ADS_3

Tangan satunya mengepal dan melayang ke arah pinggang petarung pertama.


"Akkkkkkkkkk!" jeritan kedua menggema di udara malam jam dua dini hari itu.


Karena serangan dengan tenaga dalam mahluk mistis, petarung pertama roboh. Meski masih bernafas, namun dia akan cacat jika masih bisa bertahan hidup.


Tak gentar, petarung ke dua dan ketiga maju bersamaan. Terlihat jelas kedua petarung itu mengunakan tenknik kelincahan untuk menipu lawan. Meski berhasil melayangkan pukulan di keras di area-area telak tubuh Adrian. Namun Adrian masih berdiri tegak, dia seperti tak merasakan rasa sakit apa pun saat ini.


Kedua petarung itu mundur karena ketakutan, dan petarung ke empat akan maju. Namun sebuah lengan menghentikannya.


"Pak Yai!" ujar Petarung ke empat itu.


"Biar saya yang menghadapi orang ini, dia bukan tandingan kalian!" ujar Kiyayi itu.


Pria dengan wajah teduh dan mata sendu, serta wajah yang melankolis. Lebih pantas menjadi bintang film bolywood dari pada jadi ustad di Pesantren. Namun panggilan Ilahi, siapa yang tau.


Pak Ustad tampan itu memasang kuda-kudanya, Adrian yang mengamati kepatriotan seorang guru itu. Hanya tersenyum menyeringai, lebih ke mengejek. Namun tak ada kata-kata yang di ucap oleh Adrian.


Pak Uastad tampan itu mulai melayangkan jurus silat Sumatranya. Dengan sigap juga Adrian menangkis setiap serangan penuh tenaga dalam itu. Karena cukup gesit, Pak Ustat Tampan itu berhasil memukul perut datar Adrian dengan tenaga dalam terkuatnya.


Terlihat jelas, Adrian mengeluarkan cairan merah kental dari mulutnya. Wajah tampan Adrian sedikit mengeryit, karena rasa sakit yang ia rasakan. Namun Adrian langsung maju, dia mengeluarkan kemampuannya yang sebenarnya.


Gubrakkkkk


Dengan sekali serangan cepat Adrian sudah memanting Ustad Tampan itu ke tanah. Jemarinya mencekik leher jenjang Sang Ustad, tak habis ide. Pak Ustad tampan mengayunkan kakinya untuk menendang kepala Adrian. Kena, sekarang Adrian berganti yang tersungkur ke tanah.


Ustad itu dengan cepat menindih tubuh Adrian, mulut Ustad tampan itu merapalkan doa-doa. Lalu sebuah tinju dia layangkan ke arah dada Adrian.


Namun tinju itu ditangkap oleh Adrian, kedua tangan itu saling beradu kekuatan gaib. Kalau di tipi udah keluar sinar putih dan hitam dari masing-masing kubu.


[Oy...Novel misteri horor...kagak boleh ngelawak!!!


Maap yaaa bang Adrian...maap!]

__ADS_1


Adrian terus menahan hantaman tinju Pak Ustad, terlihat jelas Adrian tak ingin pukulan itu memukul area dadanya. Mungkinkah akan terjadi efek yang tak kita ketahui, jika pukulan Pak Ustad tampan itu menghantam dada Adrian.


Jedarrrrrrrrrrr


Sebuah ledakan terdengar keras, Adrian berhasil membalik keadaan. Ajian (Geni Ireng) membakar tangan Pak Ustad tampan. Memang api itu tak terlihat oleh mata manusia biasa, namun dalam sekejab. Api itu bisa membakar orang yang terkena serangan itu hingga menjadi debu.


"Kau bukan Adrian kan!!!" tanya Ustad Tampan yang kini terduduk sambil mengamati tangannya.


Rasa sakit mungkin sudah menjalar di sekujur tubuhnya, namun Ustad itu masih bisa berkata-kata dengan baik dan benar.


"Serahkan gadis itu padaku, atau aku akan membunuh semua orang yang ada di sini!" ujar Adrian.


"Gue di sini!" suara lantang Melin membuat Adrian melihat ke arah gadis itu.


"Gadis pintar! Kau pasti sudah melihat apa yang terjadi jika kau tak menurut padaku!" ujar Adrian.


Melin menggangguk mengerti, meski manik matanya memerah dan hampir menangis namun dia memutuskan untuk berkorban. Gadis itu tau benar, lelaki yang ada di depannya bukan--lah Om Adrian yang begitu mencintainya.


Namun Melin tak sanggup jika dia harus melihat banyak mayat seperti dalam mimpinya. Apa lagi mayat-mayat yang akan dia lihat nanti, adalah mayat orang-orang berkorban nyawa hanya demi dirinya.


"Jangan berani kabur dariku lagi, atau aku akan membunuhmu!" ujar Adrian.


Adrian lalu mengenggam jemari Melin, gadis itu dibawa Adrian ke dalam mobilnya yang dia parkir serampangan di depan Pesantren.


Di dalam mobil hitam itu, Adrian dengan kilatan mata tajammnya. Menelisik memandangi paras ayu Melin keponakannya. Melin dapat melihat telapak tangan Adrian yang di balut oleh kain. Karena dengan telapak tangan itu, Adrian mengelus wajah Melin dengan lembut.


Namun pandangan Adrian pada Melin saat ini sangat berbeda. Biasanya Adrian memandang Melin dengan lembut yang penuh cinta, tapi kali ini pandangan penuh n.afsu yang dipancarkan oleh Adrian membuat Melin sadar.


Pria di depannya benar-benar sedang dikuasai oleh mahluk yang berbeda.


.


.

__ADS_1


.


.


Adrian membawa Melin kembali ke Desa Air keruh, tapi mereka tak ke rumah Adrian. Mobil Adrian melaju masuk ke dalam perkebunan kelapa sawit yang terletak di dalam Desa Air Keruh itu.


Setelah dua jam berkendara dari Desa Air Keruh mobil itu berhenti di suatu rumah di dekat tebing bebatuan yang aneh. Hari sudah mulai terang, karena matahari sudah menaiki poros edarnya.


Adrian memaksa Melin masuk ke dalam rumah, yang lagi-lagi terbuat dari kayu. Mereka masuk berdua, dan Melin hanya fokus pada Adrian yang berjalan maju ke arahnya.


"Om mau ngapain?" tanya Melin.


Hanya rasa takut yang dirasakan oleh Melin saat melihat Adrian saat ini. Mata yang berbinar namun penuh dengan n.afsu, serta senyum menyeringai yang amat penuh arti yang kotor. Serta gerakan badannya yang tak seperti biasanya. Melin sama sekali tak mengenal lelaki yang berada di depannya ini.


"Stopppp, Om! Sadarlah! Om!!!" teriak Melin.


Adrian tak menjawab, seakan pria yang sedang dikuasai n.afsu birahi itu tak dapat mendengar perkataan Melin keponakannya, yang dari tadi berteriak padanya.


Tubuh Melin sudah mepet di dinding lusuh gubuk itu, Melin tak dapat bergerak lagi. Karena kedua bahunya sudah di cengkeram oleh kedua tangan kekar Adrian. Lelaki itu tampaknya tak akan melepaskan Melin dengan mudah.


Namun tiba-tiba tubuh kekar itu jatuh lunglai ke atas tubuh Melin. Melin sampai ikut terjatuh, karena gadis belia bertubuh kurus itu tak mungkin mampu menopang berat tubuh Adrian.


"Om!!! Om! Om," teriakan Melin Mengecil.


Gadis yang wajahnya sudah dibasahi oleh air mata dan keringat dingin itu, kini bisa sedikit bernafas lega. Meski tubuhnya tertimpa beban 70 kg, namun Melin bisa sedikit tenang. Paling tidak jiwa aneh yang masuk ke dalam tubuh Adrian sudah pergi.


Yaaaa Meski akan muncul lagi, tapi setidaknya Melin masih bisa menyusun rencana jika iblis gila itu menguasai tubuh kekasihnya lagi.


Melin perlahan-lahan mengeser tubuhnya dari bawah tubuh kekar Adrian. Cukup kasar, tampaknya rasa cinta Melin terhadap Adrian berkurang cukup banyak. Kejadian yang ia alami membuat Melin tak bisa lupa akan tatapan mata Iblis Adrian padanya.


Semua kekuatan dan usaha yang dilakukan Melin, akhirnya dapat melepaskan tubuh gadis itu. Dari beratnya beban tubuh kekar Adrian, Melin segera berdiri setelah lepas dari jeratan Omnya itu.


Melin berlari ke arah pintu, dia pun membuka pintu itu. Ternyata pintu kayu itu tak terkunci, dengan mudah Melin keluar tanpa hambatan apa pun.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2