Hujan Teluh

Hujan Teluh
Darah Untuk Obat


__ADS_3

Darah Untuk Obat


~♡~♡~♡~


Cinta itu indah, tetapi juga bisa menjadi bencana.


Karena cinta, banyak hal terjadi.


Karena cinta, seseorang bisa berubah. Entah itu berubah dari baik menjadi jahat, atau dari jahat menjadi baik.


Namun siapa yang bisa menyangkal tentang cinta karena cinta, datang tak pernah permisi kepada sang punya hati.


Rasa itu menerobos tanpa diketahui, dan tinggal di sana dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.


Terkesan egois tetapi itulah emosi manusia, cikal bakal dari kemarahan dan kebinasaan serta kebahagiaan.


~♡~♡~♡~


Adrian terduduk dengan bersandar di sebuah pohon Sengon, pohon ini mempunyai nama latin (Albizia chinensis) adalah sejenis pohon anggota suku Fabaceae. Pohon peneduh dan penghasil kayu ini tersebar secara alami di India, Asia Tenggara, Tiongkok selatan, dan Indonesia.


Pohon jenis ini biasanya dimanfaatkan batang kayunya, untuk pembuatan furniture rumahan. Nilai jualnya yang cukup tinggi, membuat beberapa petani pohon sawit di daerah Sumatera Selatan menanamnya secara acak di perkebunan kelapa sawit dan pohon karet yang mereka miliki.


Melin dengan sangat setia berada di samping Adrian, untuk mengawasi perkembangan penyembuhan luka di tubuh laki-laki yang paling dia cintai itu.


Meski sudah dapat terlihat jelas perkembangan penyembuhan luka di tubuh Adrian semakin membaik. Tetapi Melin masih merasa sangat khawatir terhadap keadaan Siluman Harimau Putih di depannya.


Darah segar milik Adrian yang tercecer acak di sekitarnya, benar-benar membuat hati gadis manis itu porak-poranda.


Untuk beberapa kali Melin bergetar melihat darah, Gadis itu hanya merasa ketakutan ketika melihat darah yang keluar dari tubuh Adrian.


Melin tak pernah setakut ini sebelumnya ketika melihat darah, meskipun dia pernah melihat darah lebih banyak daripada hari ini.


Alasannya sangat jelas karena Adrian sangat spesial di hatinya. Melin tidak ingin Adrian mengalami hal semacam ini, apalagi lelaki itu berkorban sampai separah ini karena melindungi dirinya.


Dia ingin menyerah saja jika terus seperti ini, dia tidak papa jika harus mati hari ini dan tidak pernah terlahir lagi ke dunia. Apa bagusnya menjadi manusia dan hidup di bumi, tetapi hanya membahayakan orang-orang yang berdiri di sekitarnya.


Melin masih mengawasi raut wajah Adrian yang terlihat sangat tenang meskipun pucat-pasi. Seolah luka yang lelaki itu dapat tidak menimbulkan rasa sakit. Nafas yang dihembuskan oleh lelaki tampan itu, sangat lembut seperti bayi yang sedang tertidur di pelukan ibunya.


Kemeja putih yang dikenakan Adrian sudah berubah menjadi merah, karena darah yang saat ini sudah tidak mengalir lagi dari luka-luka di tubuhnya.


"Sudah kubilang dia tidak akan mati!" kata Jendral lelaki itu baru saja kembali dan membawa beberapa makanan serta kotak P3K.


Jendral  pergi tidak sampai satu menit, karena cowok SMA itu juga mempunyai kemampuan teleportasi seperti Adrian. Dengan hal itu pula Jendral dapat menyelamatkan Melin dari serangan bola petir Sarewa.

__ADS_1


Meskipun Jendral telah menyelamatkan hidup Melin, tetapi lelaki itu tidak puas dengan apa yang dia lakukan. Sebab ketika Jendral melihat keadaan Adrian yang benar-benar sangat parah, membuat bocah SMU itu sadar bawa pengorbanannya untuk Melin belumlah seberapa.


Jendral duduk didekat Melin, lalu menarik salah satu lengan gadis itu agar duduk menghadap ke arahnya.


Jendral bisa melihat betapa sedihnya Melin saat ini, dari bekas derai airmata Melin yang sudah mengering dipipi gadis manis itu. Juga pandangan kosong manik mata Melin, yang menuju kearah lain.


Jendral tidak ingin mengatakan apa pun kepada gadis yang tengah bersedih itu. Dia hanya menghela nafas dalam-dalam dan mulai merawat luka-luka kecil yang ada di dahi dan juga di tangan Melin.


Setelah merawat luka-luka kecil di tubuh Melin, Jendral memberikan beberapa potong roti yang masih berada di kresek hitam kepada Melin.


"Makanlah, masih banyak yang harus kita lewati! Kau harus punya tenaga agar tidak menyusahkan kami!" ujar Jendral sedikit ketus, namun dia sangat perhatian pada keadaan Melin.


Bukannya menerima tas kresek pemberian Jendral, Melin malah menggenggam erat tangan Jendral yang terulur ke arahnya.


Melin ingin sekali membaca ingatan Jendral, dia benar-benar ingin tahu apa yang membuat Jendral berubah menjadi seperti ini. Melin sangat khawatir jika Jendral berubah dan akan menghianati orang-orang yang telah berkorban banyak untuk Melin.


Tetapi Melin tidak bisa membaca ingatan Jendral seperti sebelumnya. Hal itu membuat Melin sangat kesal sekali.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jendral. Ia sangat kaget karena tiba-tiba Melin malah menggenggam tangannya.


Jendral semakin terkejut karena Jackson kembali kepada mereka dengan dibuntuti oleh seorang gadis cantik yang menggunakan gaun hitam aneh.


Melin dan Jendral tentu saja ingin bertanya tentang maksut Jacson yang malah membawa musuh kepada mereka. Padahal keadaan mereka sedang di kondisi yang sangat buruk.


"Apa kita sedang membuat tim Avengers? Kenapa paman malah merekrut musuh segala?" ujar Melin kesal.


"Jika jumlah kita bertambah banyak! Maka... kita akan menangan melawan mereka!" ujar Jacson.


Melin dan Jendral mengawasi setiap gerak-gerik Siluman Kucing Hitam di depannya dengan tatapan yang penuh curiga.


"Aku merasa dia akan menghianati kita!" ujar Melin.


"Aku juga merasa begitu!" Jendral tentu saja mendukung keputusan Melin.


"Ayolah, dia hanya ingin menjadi manusia ketika ini selesai!" Jacson memaksa semua orang agar percaya pada pendapatnya tentang Aya.


"Dan aku tidak ingin bertemu kalian lagi, jika ini selesai!" ujar Melin.


"Ternyata kau orang yang sangat kejam!" komentar Jacson.


"Memangnya siapa yang ingin melihat Siluman setiap hari?!" kata Melin.


"Kau benar, bahkan aku jijik saat melihat diriku sendiri!" keluh Jecson.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apa pun..." perkataan Siluman Kucing Hitam itu langsung dibabat habis oleh Melin.


"Bagaimana jika nanti kau mati?" tanya Melin.


Wajah cantik Siluman Kucing Hitam itu berubah menjadi sendu, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Tetapi memang benar jika dia bisa mati dalam pertempuran melawan Insagi. Karena dia sendiri tahu seberapa besar pasukan yang dimiliki oleh Insagi.


"Pergilah dari tempat ini! Atau paling tidak jangan ikut campur lagi dengan hal ini.


"Itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup!" jelas Melin.


Semua orang disana terdiam dan membayangkan pertempuran yang akan mereka lewati nanti.


"Uhukkkkk...uhukkkk...uhukkk!" Adrian terbatuk.


Lelaki itu sudah sadar sepenuhnya dari pingsannya, luka di punggungnya memang belum tertutup sepenuhnya tetapi keadaan Adrian sudah lumayan membaik.


"Apa Om butuh sesuatu?" tanya Melin dengan sopan.


Wajah lelaki gagah itu masih pucat, Adrian menjawab pertanyaan Melin dengan gelengan kepala yang lemah.


Sebenarnya ada hal yang sangat dibutuhkan oleh Adrian, tetapi dia tidak mungkin mengatakannya di depan Melin.


Karena jika Adrian mengatakannya dihadapan Melin, mungkin gadis manis itu akan langsung merasa jijik terhadapnya.


"Dia butuh darahku, agar cepat sembuh!" ujar Aya.


"Darahmu?" tanya Melin kaget.


Dia tahu Adrian adalah seorang Siluman tetapi meminum darah seseorang, bukankah itu kelakuan vampir.


Aya mendekat ke arah Adrian dan menjulurkan tangannya ke arah wajah tampan yang pucat itu.


"Pergi dari sini!" kata Adrian dengan nada yang lemah.


"Jika kau menolaknya, mungkin kau baru bisa sembuh besok!" ujar Aya.


Adrian tahu apa yang dikatakan oleh Aya memang benar, tetapi dia tidak mungkin menghisap darah seseorang yang di depan mata Melin.


Melin tidak bisa menyembunyikan wajah kagetnya. Sehingga dia berpaling dari Adrian dan melihat ke arah lain.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2