
Angin masih sedingin 12 tahun yang lalu, dan pandangan mesra Morgan kepada Ellen masih sehangat 12 tahun yang lalu juga.
Hal itu membuat Ellen menitikan air matanya. Meski air asin yang hangat itu, akan membeku seketika keluar dari pelupuk matanya.
"Apa kau pusing?" tanya Morgan kepada Ellen.
Ellen segera menggelengkan kepalanya, dia hanya merasakan rasa bahagia sekarang. Rasa sakit yang yang menumpuk di hatinya selama 12 tahun terakhir, seolah telah mencair musnah dan tak berbekas.
Karena rasa sakit yang menyiksa hati Ellen selama ini, berasal dari hari ini. Hari dimana semua orang yang dia cintai, dibantai oleh seseorang yang bukan manusia.
"Bisakah kita menyerah dan tak mengejar orang itu? Kita kembali saja ke Indonesia!" kata Ellen.
Ketika wajah pria yang bersamanya seketika terkesiap. Mereka tidak menyangka bahwa Ellen akan mengatakan hal itu. Karena Ellen dan ayahnya telah menyelidiki kasus orang yang mereka buru, sejak lama sekali.
Melepaskan orang yang mereka buru saat ini, adalah hal yang yang tidak mungkin dilakukan oleh Ellen dan ayahnya.
"Kurasa kau benar-benar sakit Ellen!" kata ayahnya.
Air mata masih menetes deras dari pelupuk matanya, dengan pandangan sedih yang mengiba, Ellen menatap ayahnya.
"Kita semua akan mati! Karena apa pun yang kita buru , bukanlah manusia biasa!
"Sebaiknya kita pulang dan melupakan hal ini untuk selamanya!" jelas Ellen dengan air mata yang berderai-derai.
"Apa orang bisa tiba-tiba gila, karena kedinginan?" tanya agen kedua dengan nada mengejek ke arah Ellen.
"Kita tidak bisa berhenti di sini!
"Tinggal selangkah lagi, kita pasti akan bisa menangkapnya. Meskipun orang itu bukanlah Manusia Biasa!" kata Ayah Ellen.
Lelaki paruh baya itu terlihat sangat percaya diri. Meskipun dia juga tidak tahu apa yang akan dihadapi kedepannya. Demi negara dia sanggup berkorban apa saja. Termasuk mengorbankan nyawanya, yang hanya ada satu di dunia.
"Jangan bergerak! Jika kalian bergerak sedikit saja, aku akan menembak kalian!" kata Ellen
Gadis itu sudah menodongkan pistol kaliber yang dia bawa, ke arah ayahnya.
Rasa sakit yang harus ditanggung selama 12 tahun ini, membuat Ellen tidak bisa kehilangan ayahnya. Dia selalu ingin merubah takdir mereka, meskipun hal itu tidak mungkin terjadi.
Namun tersesat di alam entah-berantah ini, membuat Ellen mendapatkan ilusi semacam ini. Ilusi yang ingin dia buat, menjadi kenyataan.
Wajah Ellen masih terlihat sangat sedih dan tangannya masih tegak, menodongkan pistol yang dia bawa ke arah ayahnya.
Tetapi ekspresi wajahnya seketika berubah, karena ketika orang yang bersamanya menghilang entah kemana.
__ADS_1
"Ellennn...Ellll...Ellennnn!"
Sayup-sayup ada suara yang memanggilnya.
Polisi wanita itu seketika memutar tubuhnya dan sadar bahwa apa yang baru saja dia lihat hanyalah ilusi semata.
Lalu Ellen terbangun dan terkesiap di tubuh aslinya.
Matanya perlahan-lahan terbuka dan ia bisa melihat wajah pria muda yang sangat khawatir. Tengah memanggil-manggil namanya dengan putus asa.
"Ellen! Apa kau bisa mendengarku?" tanya Sarul dengan nada yang sangat khawatir.
Ellen sadar, masa lalu tidak bisa kembali lagi dan dia harus melakukan banyak hal, untuk menebus kesalahannya kali ini.
Karena dia yang telah menyeret Melin ke Desa Air Keruh dan membuat gadis belia itu dalam bahaya.
Sarul yang berjongkok di dekat tubuh Ellen, yang sedang terbaring di tanah. Bisa melihat mata polisi wanita itu, terbuka secara perlahan.
"Ellen?!" katanya lagi.
"Apa?" polisi itu menjawab, perkataan Sarul dengan nada lemah.
Akhirnya pria muda itu bisa bernafas lega, karena teman barunya tidak dimakan oleh ilusi yang diciptakan oleh gunung ini.
"Kita harus cepat, sebelum Horange bangun dan membuat ilusi, yang menakutkan lagi!" ujar Sarul.
Tubuh Ellen yang masih lemah dibantu oleh Sarul untuk sekedar duduk.
"Tubuhmu dingin sekali?" tanya Sarul.
Suhu tubuh Ellen benar-benar dingin, wanita itu baru saja pergi ke sebuah gunung salju di Kanada. Tentu saja ia merasa kedinginan.
"Apa kau bisa berdiri?" tanya Sarul.
Ellen mengangguk dan mencoba menggerakkan tubuhnya untuk berdiri. Dia memang bisa menggerakkan tubuhnya, namun Sarul harus membantu wanita yang tubuhnya tiba-tiba melemah itu.
Meski sebenarnya tubuh Sarul, juga tidak dalam kondisi yang prima. Tapi lelaki itu masih kuat menopang berat tubuh Ellen. Karena Ellen memang mempunyai tubuh yang proposional.
"Kita harus terus berjalan, agar Horange tidak bisa menemukan kita!" kata Sarul sambil memapah Ellen perlahan-lahan.
Ellen baru sadar, ternyata Sarul mendapatkan banyak luka. Saat berkelahi dengan manusia setengah siluman ular putih, bernama Horange tadi.
"Kelihatannya kondisimu lebih parah daripada aku!" kata Ellen, ketika melihat hampir sekujur tubuh Sarul terdapat noda darah.
__ADS_1
"Aku tidak papa, aku masih kuat kok! Kita harus cepat pergi dari sini!" ujar Sarul.
Ellen terkesima dengan tekad Sarul yang begitu kuat. Lelaki tampan yang sangat gagah dengan tekad yang tidak bisa goyah.
Wanita mana yang bisa berpaling dari lelaki seperti Sarul ini. Sifat dan perawakannya benar-benar mirip dengan Morgan. Pacarnya yang meninggal 12 tahun lalu di Kanada.
Pria yang telah membuat Ellen tidak bisa melupakan, cinta tulus yang diberikan oleh Morgan. Pria yang tidak mungkin bisa digantikan oleh siapapun.
Morgan akan menjadi satu-satunya pria yang dicintai oleh Ellen.
Tetapi sepertinya hatinya mulai terpaut oleh sosok Sarul yang hampir mirip dengan Morgan.
Karena Ellen bisa merasakan, jantungnya berdetak lebih cepat. Ketika dia berdekatan dengan lelaki, yang baru saja dia temui belum lama ini.
Lelaki yang sudah mempunyai istri dan istrinya adalah Lastri, Kakak sepupunya sendiri.
"Aku bisa jalan sendiri!" ujar Ellen, wanita itu memaksa untuk melepas dari bantuan Sarul.
Ellen tidak ingin tenggelam pada perasaannya terhadap Sarul. Selain Sarul adalah kakak iparnya, Ellen merasa bahwa perasaannya terhadap Sarul. Hanyalah karena lelaki itu mirip dengan Morgan. Tak lebih dan tak kurang.
"Kau yakin bisa jalan sendiri? Tubuhmu sepertinya hampir beku!" kata Sarul.
Lelaki gagah itu memang melepas tubuh Ellen, namun dia masih khawatir. Jadi Sarul tetap siaga, di dekat polisi wanita yang keras kepala itu.
Memang benar, Ellen hampir rubuh, ketika Sarul melepaskan pegangannya terhadap Ellen. Namun dengan cepat Sarul menangkap tubuh Ellen.
"Aku bilang juga apa? tubuhmu masih lemah--kan!" kata Sarul.
Namun posisi mereka seolah mendukung sebuah adegan romantis.
Lengan kuat Sarul menopang tubuh Ellen, yang hampir terjatuh ke belakang. Wajah mereka berdua saling bertatapan sangat dekat.
Sarul yang mirip dengan Morgan dan Ellen yang mirip dengan Lastri. Jantung keduanya sama-sama berdegup dengan kencang.
Ellen yang sudah 12 tahun tidak bertemu dengan pacarnya dan Sarul yang sudah 18 tahun tidak bertemu dengan istrinya.
Perasaan rindu yang amat mendalam itu, membuat mereka tidak bisa melepas pandangan mereka. Meski mereka tahu, bahwa orang yang mereka rindukan. Bukanlah orang yang ada di depan mereka saat ini.
Namun harapan mereka, membuat mereka tidak bisa mengendalikan diri. Hasrat lama yang begitu mendalam, membuat mereka ingin melakukan sebuah kesalahan.
Pandangan mereka semakin dalam dan keduanya sama-sama berharap. Bahwa orang yang berada di depan mereka, adalah orang yang mereka rindukan selama ini.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤