Hujan Teluh

Hujan Teluh
Kisah Siluman


__ADS_3

Betapa senangnya dia di luar gubuk aneh itu, Melin menemukan seseorang yang ia kenal. Dia adalah Jacson pira paruh baya, Kades Desa Air keruh.


Melin segera berlari dan berhambur ke arah pria paruh baya, yang berdiri sekitar 10 meter di depannya.


Tak ada kata apa pun yang terucap di bibir keduanya. Kades Desa Air Keruh itu tampak tercengang, dia begitu kaget dengan apa yang Melin lakukan padanya.


Pelukan hangat yang kini ia terima dari Melin, malah menguncang renung hatinya yang paling dalam. Lelaki paruh baya, namun masih terlihat muda dan tampan itu. Malah menginggat kenangannya dengan Arinda, sosok Arinda saat masih muda pernah memeluk Jacson dengan cara yang sama.


Alhasil, karena terbawa perasaan Jacson malah memeluk tubuh Melin semakin erat. Jacson bisa merasakan bahwa percikan cinta di hatinya mulai keluar. Dadanya bergetar hebat, bahkan getarannya lebih hebat dari perasaan cintanya pada Arinda.


Namun gerakan Melin yang ingin melepas pelukan itu, segera membuat Jacson sadar. Bahwa yang berada di pelukkannya saat ini bukanlah Arinda, namun Melin.


"Kok Pak Kades bisa ada di sini?" tanya Melin.


"Aku mengikuti mobil kalian!" ujar Jacson.


"Trimakasih, Pak! Untung bapak mengikuti kami!" Melin, mengatakannya dengan nada yang amat sopan.


Gadis itu tak ingat, jika Jacson pernah ingin melecehkannya. Meski kejadian itu bukan unsur kesengajaan, namun tetap saja. Hal yang dilakukan Jacson pada Melin di dalam mobilnya, beberapa hari yang lalu. Bukanlah hal yang pantas untuk dibenarkan.


"Bundamu yang minta bapak untuk mengikuti kalian!" ujar Jacson.


Padahal tanpa permintaan dari Lastri, Jacson akan mengikuti mereka karena khawatir pada Melin. Namun permintaan Lastri bisa dia jadikan modus PDKT dengan gadis belia ini.


"Apa Adrian di dalam sana?" tanya Jacson pada Melin.


"Dia pingsan. Entahlah, mungkin Om Adrian kerasukan sesuatu!" ujar Melin.


Jacson berjalan ke arah pintu gubuk yang terbuka itu, hanya melihat bagian dalamnya sekilas lalu kembali ke arah Melin berdiri.


"Kita pulang sekarang?" tanya Jacson pada Melin.


"Maaf, Pak! Ngerepotin!" ujar Melin.


Jacson dan Melin pun naik ke mobil Jacson. Mereka pulang ke Desa Air Keruh bersama.


.


.


"Jadi kamu bersama Adrian, sejak mau pergi dengan saya pagi itu?" tanya Jacson.


Manik mata Jacson memandang asal. Dia sangat berharap Melin tak menginggat kejadian tak senonoh, yang telah ia lakukan pada gadis belia itu.


"Iya, Pak!" jawab Melin lugas.


Melin dari tadi hanya menunduk dan pandangannya kosong. Ia masih memikirkan tentang Adrian yang amat sangat menyeramkan sekali semalam.


"Lalu Adrian membawa kamu kemana?" tanya Jacson pada Melin.


"Entahlah, Pak. Saya nggak tau.


"Pondok di tepi danau air payau dan dikelilingi oleh gunung!" akui Melin.

__ADS_1


"Apa dia memaksamu untuk menjalani ritual aneh?" tanya Jacson.


"Nggak sih, Pak!


"Selama aku bersamanya, Om Adrian sangat baik sama aku.


"Namun...," Melin tak bisa melanjutkan perkataannya.


Gadis itu tak mau menceritakan, bahwa Melin dapat melihat masa depan dan masa lalunya di dalam mimpi.


"Adrian memang pemuda yang aneh, namun aku tak menyangka jika dia berani membunuh orang di pesantren.


"Dia akan jadi buronan polisi mulai sekarang!" ujar Jacson.


"Apa ada yang meninggal?" tanya Melin kaget.


"Ustad Jefri dan seorang santri bernama Usrok meinggal malam tadi. Adrian memang terkenal sebagi dukun ilmu hitam yang sakti di sini.


"Namun dia tak pernah membunuh orang, terang-terangan seperti semalam!" ujar Pak Jacson.


"Om Adrian membunuh orang, dari dulu?" tanya Melin.


Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah Kades Air Keruh itu. Melin tampak tak percaya dengan perkataan Jacson.


"Banyak pejabat pemerintahan yang mencarinya, hanya untuk di bantu saat pilkada!


"Belum lama ini, pejabat yang didukung oleh Adrian, tak terpilih di pilkada.


"Nggak tau--lahhh, Pak!" ujar Melin, tampaknya gadis belia itu juga merasa santai saat ngobrol dengan Jacson.


"Pejabat yang terpilih itu meninggal tanpa alasan. "Namun saat di autopsi, di dalam perutnya terdapat banyak pecahan kacanya!" jelas Jacson.


Matanya timbul tengelam, dan Jacson mengunakan mimik wajah yang amat meyakinkan. Hingga gadis belia itu malah jadi makin nggak percaya.


Melin hanya bisa menghela napasnya panjang-panjang, lalu kembali bersandar nyaman di jok samping Jacson.


"Kamu nggak percaya?" Jacson, memandang sekilas ke arah Melin yang tampak merasa di bodohi.


Melin melirik sedikit ke arah Kades Air Keruh yang masih fokus menyetir itu.


"Percaya! Percaya kok!


"Tapi itu nggak masuk akal!" ujar Melin.


Jacson yang tadinya antusias untuk bercerita, kini merasa malas. Karena apa pun yang akan ia ceritakan selanjutnya tak akan bisa diterima oleh Melin.


"Apa nggak ada yang lebih masuk akal, gitu?" tanya Melin


"Itu yang paling masuk akal!" ujar Jacson.


Dari raut wajah Melin saat ini, bisa terlihat. Sebenarnya Melin tak 100% memungkirinya, masalah gembok gubuk di tepi danau sampai semalam di pesantren. Mau tak mau Melin memang harus percaya jika Adrian bukan--lah manusia biasa.


"Apa Om Adrian adalah Siluman?" tanya Melin.

__ADS_1


Benar hal itu sangat mengganggu Melin saat ini. Bagaimana pun jika dia sampai hamil anak Adrian, maka hancurlah sudah masa mudanya yang indah. Menikah dengan seorang siluman, yang bisa berubah kasar sewaktu-waktu.


"Aku tak tau pasti, namun banyak warga Desa yang menyaksikan.


"Bahwa di rumah Adrian sering muncul penampakan sosok Macam Putih!" ujar Jacson


"Apa hubungan penampakan, dengan seseorang yang dianggap siluman?" tanya Melin.


"Siluman bisa membagi sukma dan raganya, mungkin penampakan Macan Putih itu adalah penampakan sukma Adrian.


"Dia pulang untuk melihat-lihat ke adaan rumahnya.


"Karena setau saya! Adrian banyak menghabiskan waktunya untuk bertapa dan mendalami ilmu hitam!" jelas Jacson.


Itu masuk akal, namun itu bukan bukti yang kuat. Melin jadi ingin kembali ke Adrian dan bertanya sendiri. Namun gadis itu masih merasa takut, Melin takut Adrian berubah kasar lagi. Dan mungkin akan melukainya nantinya.


"Namun ada mitos yang amat aneh, yang tersebar di Desa Air Keruh!" ujar Jacson.


Segera Melin menyahut. "Mitos apa, Pak Kades?" tanya Melin.


"Mbah Sodik dan Yanuar ayahmu!


"Mereka berdua sebenarnya masih hidup!" kata Jacson.


"Akhhhh bapak suka ngadi-ngadi!" ujar Melin.


"Banyak warga Air Keruh yang merasa pernah melihat Yanuar, atau Mbah Sodik di suatu tempat.


"Padahal mereka berdua sudah meninggal cukup lama--kan.


"Yanuar itu sangat mirip sekali dengan Mbah Sodik!


"Dulu kami hanya bisa memendakan mereka. Karena usia mereka!" ujar Pak Kades.


(Mbah Sodik adalah ayah Bagio, dan Bagio adalah ayah Yanuar dan Adrian)


"Saya nggak begitu tau dengan urusan keluarga ayahku.


"Dulu saat ayahku masih hidup, dia sepertinya tak pernah berbicara tentang keluarganya.


"Apa lagi tentang Desa Air keruh ini!" ujar Melin.


Hal itu bisa dimengerti oleh Jacson, Yanuar memang amat tak suka berada di Desa ini. Temannya itu tak suka dijuluki anak dukun, dan menjadi orang yang dibuli karena setatusnya itu.


Tak seperti masa kecil Bagio yang pemberani. Yanuar mempunyai nyali yang ciut dan tampak sangat ketakutan setiap saat.


Lelaki itu dulunya waktu kecil bisa melihat hantu, namun karena kondisi fisiknya lemah dan sering sakit-sakitan karena gangguan mahluk goib.


Akhirnya Bagio meminta Mbah Sodik untuk menutup indra ke enam milik Yanuar. Semenjak itu--lah Yanuar terlihat lebih normal dan bisa bergaul lebih bebas.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2