
Luka di kedua telapak kaki Adrian sudah di plester oleh Melin. Tubuh kucel dan penuh keringat Adrian juga sudah bersih. Tampak lelaki gagah itu mengenakan kaus oblong hitam yang sangat cocok dengan warna kulitnya yang tak terlalu cerah. Celana jogger panjang, dengan warna senada dengan kausnya. Membuat kemaskulinan Adrian semakin terpancar.
Melin yang sudah duduk duluan di meja makan sederhana, yang hampir rubuh sebenarnya. Hanya bisa memandang ke arah Omnya dengan tatapan berbinar. Wajah polos yang dibingkai oleh rambut basah, karena Adrian baru selesai mandi. Membuat Melin seketika terkesima, sejak kapan sosok malaikat tampan itu turun dihadapannya.
"Kau yakin sudah kenyang? Sejak kemarin kamu cuma makan mie instan siang ini! Bagaimana kalau kita keluar, dan mencari makan!" usul Adrian.
Melin berdiri dan segera menghampiri Omnya yang sedang meletakkan handuk bekas mandinya, di sebuah paku didinding pondok kayu itu.
"Ok! Om juga belum makan apa pun!" ujar Melin.
Gadis manis itu sudah mengelayut manja di salah satu lengan Adrian. Begitu bahagianya kedua pasangan haram itu, mereka tak peduli lagi akan fakta atau pun opini publik. Mungkin karena keduanya saat ini hidup jauh dari masyarakat.
Mereka makan disebuah warung nasi yang cukup jauh dari pondokan mereka. Mengisi bengsin di pom dan berjalan-jalan sebentar di tepi pantai yang lebih indah dari pada danau air payau di dekat pondok mereka.
Saking senangnya Melin berlarian kesana-kemari di pantai yang amat indah itu. Gadis belia itu merasakan kebahagian untuk pertama kalinya, dihidupnya yang sesak. Senyum manisnya tak pernah pudar dari wajah cantiknya.
Adrian yang biasanya pelit tersenyum, kini wajah datarnya hanya terlukis kebahagian. Lelaki gagah itu juga tak bisa berhenti tersenyum saat melihat Melin yang terus tersenyum ke arahnya.
"Om sini, Om!!!" teriak Melin.
Gadis itu berjalan di tepian pantai yang ada airnya, sementara Adrian sedikit agak jauh. Tampaknya Adrian tak suka dengan air pantai, yang hangat itu.
Tak menyerah, karena teriakannya hanya dijawab gelengan pelan oleh Adrian. Melin segera berlari ke arah Omnya itu, dia menarik lengan kekar Adrian. Lelaki itu hanya menuruti kemauan wanita yang sangat ia cintai.
Kini keduanya berada di tepian pantai, Melin mencipratkan air pantai ke arah Adrian yang masih berdiri diam. Gadis belia itu menjulurkan lidahnya dengan imutnya, dan mengejek Omnya karena takut dengan air.
Adrian masih saja berdiri diam, dia hanya tersenyum ke arah Melin. Namun Melin terus mencipratkan air pantai ke arah Adrian, lama-lama Adrian gemas juga. Lelaki itu tak membalas kelakuan kekanakan Melin, dengan hal yang sama. Dia takut jika baju Melin basah, gadis manis itu akan demam.
Jadi Adrian malah menangkap tubuh ramping Melin, hanya itu satu-satunya cara agar Melin berhenti bergurau. Gadis itu malah merangkul leher Adrian, dia naik ke tubuh Omnya yang kekar itu.
Kini Melin sudah digendong oleh Adrian, tubuh kecil Melin bukanlah beban yang berat untuk Adrian yang mempunyai tubuh penuh dengan otot. Jemari Melin mulai nakal, mengelus lembut wajah Adrian yang sekarang posisinya sejajar dengan wajahnya.
"Apa kau suka pantai ini?" tanya Adrian pada Melin.
__ADS_1
"Suka sekali, aku suka pantai ini!" ujar Melin dengan senyum yang mengembang. Gadis itu tampaknya sudah mulai sopan pada Adrian, Melin tak mengunakan bahasa gaul untuk berkomunikasi dengan Omnya lagi.
"Gimana kalau kita buat rumah ditepi pantai!" ujar Adrian.
Saat ini kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu tengah di Provinsi Bengkulu, di mana banyak pantai yang indah di berbagai kota di Provinsi itu.
"Boleh, dimana pun asal selalu sama Om! Aku suka!" ujar Melin.
Gadis 17 tahun itu lagi-lagi mengecup mesra bibir Omnya,kali ini tak hanya sekilas. Kecupan itu berkali-kali ditorehkan oleh Melin ke bibir Adrian, yang juga membalas kecupan-kecupan hangat dari keponakannya. Dengan posisi masih digendongan Adrian, Melin terus menciummi bibir seksi Omnya.
Dengan pemandangan latar, langit senja yang keemasan. Serta deru ombak pantai yang menambah keromantisan pasangan terlarang itu.
Saat kau jatuh cinta maka hormon testosteron, estrogen, dopamin, serotonin, oksitosin akan meningkat secara siknifikan. Semua hormon itu membuatmu hanya memikirkan hal-lah yang positif.
Bagi Melin atau pun Adrian saat ini, semua hal apa pun tak penting lagi. Karena mereka telah saling jatuh cinta dan saling ingin hidup bersama.
"Malam ini Om akan melakukan sebuah ritual, apa pun yang terjadi saat proses itu.
"Jangan pernah keluar dari pondok!" ujar Adrian.
"Ritual apa Om?" tanya Melin.
"Bukan apa-apa, Om hanya mau memanggil Dewi Laut. Om akan minta padanya untuk melindungimu!" ujar Adrian.
"Apa ritualnya akan berat?" tanya Melin.
Gadis itu tampaknya sangat cemas sekali, matanya yang tadinya sangat berbinar. Kini berubah sembab saat memandang ke arah pria yang dia cintai itu.
"Nggak kok, kamu nggak perlu khawatir!" ujar Adrian.
Dengan penuh kasih sayang, Adrian mengelus lembut puncak kepala keponakannya. Adrian tak harus menceritakan semua hal pada Melin, karena setelah bisa melepaskan jiwa Melin dari jeratan Nyai Blorong. Adrian memutuskan untuk meninggalkan profesinya sebagai dukun ilmu hitam.
Mereka turun dan masuk kedalam pondok, waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 malam. Jadi Adrian mengemas beberapa peralatan ritualnya yang berada di dalam almari di dalam pondok.
__ADS_1
"Om mau berangkat sekarang?" tanya Melin.
"Iya, ingat pesen Om!
"Jangan keluar dari pondok, apa pun yang terjadi!" Adrian mengulangi nasehatnya beberapa kali.
"Nggak perlu diulang-ulang Om, aku bukan anak TK lagi!" ujar Melin dengan nada manja.
Karena tingkah manja Melin, Adrian langsung memeluk pujaan hatinya itu. Melin berdiri di dekat Adrian yang sedang tengah bersiap, jadi hanya dengan memutar sedikit tubuhnya. Adrian dapat dengan mudah meraih pinggang kecil keponakannya itu.
"Om akan pulang saat subuh, sebelum itu jangan membuka pintu ini untuk siapa pun.
"Meski pun, Om yang datang!" ujar Adrian.
Melin mengerutkan dahinya, dan mendongak menelisik ke arah wajah tampan Omnya.
"Kenapa?" tanya Melin.
"Karena itu pasti iblis yang menjelma dan menyerupai Om!
"Jadi kau harus bisa melewati malam ini sendirian tanpa Om!
"Om sudah memasang pagar goib, jadi tak akan ada satu mahluk pun yang bisa mendekatimu selama kau di dalam pondok!" jelas Adrian.
Manik mata Adrian memandang wajah Melin dengan khawatir, Adrian tau malam ini Melin tak akan bisa tidur nyenyak. Selain hutan ini berhantu, Melin juga sedang diburu oleh Mbah Sodik dan Nyai Blorong. Pasti akan banyak mahluk yang mengunjungi pondok ini nanti malam.
"Om janji, harus pulang saat subuh!" Melin makin mempertajam pandangannya ke arah Adrian.
"Om janji!" Adrian yakin, ritualnya malam nanti pasti berhasil.
Ini bukan pertama kalinya Adrian memanggil Dewi Laut alias Nyai Loro Kidul dari tempat ini. Adrian adalah titisan Manusia Harimau, dia punya kontak langsung dengan dunia goib. Tanpa harus bersemedi lama, lelaki gagah itu bisa berkeliaran di alam fana dengan bebas. Adrian adalah pria yang istimewa, darah suku asli Sumatra dan Jawa Timur mengalir di tubuhnya membuat lelaki itu mempunyai dua aliran goib yang mumpuni.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤