Hujan Teluh

Hujan Teluh
Om Dan Ponakan


__ADS_3

Melin dapat melihat betapa berbinarnya netra Adrian, hingga perkataan Adrian seolah bisa diterima oleh akal sehat gadis manis itu.


"Kita tak akan kembali ke Desa Air Keruh lagi, aku sudah menghubungi ibumu untuk kembali ke Jakarta!


"Tapi kita harus mampir ke sebuah tempat, sebelum kembali ke Jakarta!" kata Adrian.


"Kemana Om?" tanya Melin penasaran.


"Pantai!" ujar Adrian.


"Di sekitar sini ada pantai?" tanya Melin pada Adrian.


"Kita harus mengendarai mobil lagi! Sekitar 12 jam lagi!" ujar Adrian.


Tak ada raut kesal atau lelah, tapi pria muda itu malah tampak bahagia. Entah kenapa Melin tak merasa jangal, meski dia ingin curiga pada adik ayah kandungnya itu.


"Apa kita harus ke pantai itu terlebih dahulu?!" tanya Melin.


"Kita harus minta perlindungan Dewi Laut, agar kau baik-baik saja!" ujar Adrian.


"Meminta perlindungan pada Dewi Laut?" Melin tampak bingung.


Tapi hal itu sih tak seberapa konyol, dibandingkan dengan apa yang telah dia alami selama ini.


"Om nggak akan ngebiarin  kamu terluka!" ujar Adrian.


Lelaki itu tersenyum pada Melin, senyum yang sedikit aneh bagi Melin. Seingat Melin lelaki di depannya ini amat tak suka tersenyum.


"Apa Om ke sambet?


"Dari tadi senyum melulu. Mana pake megang-megang tangan gue lagi?!" ujar Melin.


Pria itu melepas genggaman tangannya dari jemari Melin.


"Inget Om, gue tuuuu keponakan Om!" Melin mengingatkan Adrian.


"Tau, aku juga mengganggapmu keponakanku. Emang nggak boleh seorang Om tersenyum ke keponakannya?!" elak Adrian.


"Kok salting gitu Om?" tanya Melin.


Alhasil wajah tegas yang seksi Adrian memerah seketika. Apa dia ketahuan, apa rasa cintanya pada Melin sudah bisa ditebak oleh bocah ingusan itu.


"Gue emang manis Om, tapi sayang haram untuk dimiliki sama Om!" ujar Melin.


Gadis belia itu tampak sangat santai saat membicaran hal ini, sementara Adrian sudah kalang-kabut karena berusaha menenangkan gejolak yang naik turun di dalam dadanya.


"Siapa yang ingin memilikimu?" tanya Adrian.


"Apa Om nggak pernah pacaran?" tanya Melin.


Adrian tampak bingung, dia mengeser kursinya mepet ke dekat meja yang penuh dengan piring-piring yang hampir kosong semua.


"Udah selesai belum, kita harus cepat!" ujar Adrian.


"Om belum pernah pacaran? Astaga!!!" Melin menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Miris!" lanjut Melin.


Gadis belia itu tak memyangka jika Omnya yang penuh dengan karisma itu masih jomblo dan belum pernah pacaran.


Tak mau memperpanjang bahasan tak berfaedah, Adrian berdiri dan segera ke kasir. Melin hanya bisa mengikuti Omnya yang gagah itu. Dia menarik lengan kemeja Adrian yang dia lipat sebatas sikunya.


"Apa?" tanya Adrian.


"Keripik itu kayaknya enak!" ujar Melin.


Manik mata yang bening indah itu memandang ke arah rak di bagian depan restoran yang penuh dengan banyak cemilan. Adrian yang tak mungkin menolak permintaan keponakannya itu hanya bisa berjalan ke arah rak itu sebelum sempat membayar.


Dengan sigap dan cekatan, Melin mendahului langkah Adrian. Gadis belia itu dengan lincahnya segera mengambil beberapa bungkus cemilan yang dia inginkan.


"Om bilang akan mengemudi 12 jam lagi, kita harus punya cukup cemilan agar Om tidak mengantuk!" Melin mulai mencari alasan yang tak penting.


Seplastik putih besar sudah di tenteng Melin. Gadis itu tampak bahagia, padahal satu jam yang lalu dia turun dari mobil dengan penampilan bak mayat hidup. Kenapa sikap dan kepribadiannya bisa berubah secepat itu.


Mereka kembali ke dalam mobil dan mengemudi di tengah kota. Mobil SUV Adrian malah masuk ke dalam parkiran sebuah pusat perbelanjaan.


"Apa kita mau belanja?" tanya Melin.


"Kita harus membeli beberapa pakaian!" ujar Adrian.


"Kelihatannya Om cukup kaya juga.


"Tampan, kaya, meski agak bego. Aneh jika Om belum pernah pacaran?!" ujar Melin.


Adrian yang baru saja memarkirkan kendaraannya pun, hanya bisa memandang ke arah ponakannya dengan kesal.


"Emang Om pintar? Aku yakin Om nggak pernah kuliah!" ujar Melin.


"Lalu, Om home schooling?" tanya Melin.


"Mau belanja nggak?" tanya Adrian.


"Asal Om yang traktir!" ujar Melin.


Adrian tak menghiraukan perkatan Melin yang receh, lelaki itu segera turun dari mobilnya. Melin yang belum mandi sejak kemarin sore itu tampak melihat penampilannya di kaca sepion depan mobil Adrian.


"Penampilan gue udik banget yaaa," gumam Melin.


Melin keluar, tapi dia malah berdiri saja di samping mobil SUV Adrian. Karena merasa Melin tak mengikutinya Adrian segera berbalik dan melihat ke arah gadis manis yang masih berdiri di dekat mobilnya.


"Ayo!" Adrian mengajak Melin.


"Dengan pakaian seperti ini?" Melin mengeleng pelan.


Celana jins biru panjang dan hodie kuning yang dikenakan Melin hari ini. Gadis kota seperti Melin nggak akan PD mengunakan pakaian sesederhana itu untuk masuk ke Mol.


Adrian hanya bisa menarik paksa Melin keponakannya itu.


"Malu banget gue Om!" ujar Melin.


Dia menutupi wajahnya dengan tudung di hodienya, dia juga berjalan agak jauh dari Adrian. Melin tau Adrian yang sekeren foto model itu akan jatuh kastanya jika berjalan dengannya yang sedang udik-udiknya. Tanpa Make up, tanpa baju yang pantas apa lagi aksesoris yang mempermanis penampilan.

__ADS_1


Namun Adrian malah mengendeng tangan Melin, meski Melin tak mau.


"Bukankah ponakan harus nurut pada Omnya?" tanya Adrian pada Melin.


Mau tak mau Melin bersedia digandeng oleh pria sekeren Adrian. Bisa dipastikan dia akan lebih terlihat udik jika bersanding dengan Adrian.


Mereka masuk ke dalam sebuah toko pakaian wanita duluan.


"Pilihlah yang kamu suka!" ujar Adrian.


"Om yakin punya cukup uang, toko mahal ini!" ujar Melin.


"Om ada uang kok!" ujar Adrian.


"Bener nihhh, jangan malu-maluin di kasir nanti!" kata Melin.


Melin segera masuk dan langsung berjalan ke arah pakaian anak muda. Dia mengambil croptop tanpa lengan dan melihat harganya, lalu memperlihatkan ke arah Adrian. Lelaki gagah itu hanya menunduk.


Sepertinya pekerjaan Adrian sebagai dukun, menghasilkan banyak uang juga.


"Kenapa kau memilih pakaian yang pendek-pendek semua?" tanya Adrian pada Melin.


"Bukankah Om bilang mau ke pantai?" Melin memastikan lagi.


"Memang benar, tapi apa kau akan memakai pakaian setipis dan pendek itu di siang hari.


"Kau tak malu dilihat banyak orang?!" tanya Adrian.


"Om kuno, apa Om pernah ke bali?


"Di sana semua orang dipantai hanya memakai bikini!" ujar Melin.


"Bikini itu apa?" tanya Adrian.


Melin segera berbalik ke arah Adrian yang berada di belakangnya. Pria dengan wajah polosnya sambil menenteng beberapa pakaian yang sudah dipilih oleh Melin. ******* napas panjang akhirnya dihembuskan oleh Melin.


"Om ngak tau bikini itu apa?" tanya Melin.


"Emang apa?" tanya Adrian.


Tak jauh dari sana, Melin melihat area pakaian dalam wanita. Melin menarik lengan Adrian, dan menuntun lelaki itu ke area manis dan penuh warna itu.


"Yang dinamakan bikini itu adalah ini!" ujar Melin.


Sambil menunjuk patung yang memakai bikini merah yang amat indah.


Adrian menelan saliva di dalam mulutnya. Wajahnya yang tegas itu segera berbalik dan dia pergi dari area itu.


"Berapa usainya, sok polos banget!" ujar Melin.


Tapi gadis ingusan itu jadi punya ide.


"Mbakk! Gue mau yang ini, tolong carikan ukuran saya yaaa!" pinta Melin pada salah satu pegawai di sana.


Senyum licik tampak tersungging di bibir manis Melin, tampaknya gadis belia itu punya sebuah rencana yang mungkin dia akan sesali nantinya.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2