
Pertemuan Yanuar dan Kinan
~◇~◇~◇~
Sesulit apa pun hal yang akan kuhadapi, aku tetap akan bertahan.
Karena ujung-ujungnya, keinginanku tetap sama.
Yaitu kebahagiaanmu.
Adrian
~◇~◇~◇~
Pedang Subrono telah menancap di ujung ekor Siluman Ular Putih yang diameter tubuhnya sebesar drum air warna biru, yang biasa digunakan untuk menyimpan air di rumah-rumah warga negara Indonesia.
Tubuh Siluman Ular Putih itu mencoba mengeliat untuk kabur, tetapi Pedang Subrono yang mempunyai kekuatan menghisap jiwa siapapun yang ditikamnya tak mungkin dapat ia hindari.
Benar saja belum sempat Siluman Ular Putih itu merangkak jauh dari tempat Adrian berdiri, jiwanya sudah terhisap habis oleh Pedang Subrono.
Adrian tak mendapatkan luka sedikitpun setelah menghadapi kedua Siluman tersebut.
Setelah mencabut dan menyimpan lagi Pedang Subrono, di tempat yang lebih aman. Adrian segera menghampiri Melin yang masih berwujud Jacson.
Melin tidak bisa mengatakan apa pun kepada Adrian, karena dia masih terkejut dengan apa yang baru saja dia saksikan. Sepertinya dia tidak bisa terbiasa dengan hal semacam ini, padahal dia sudah acap kali melihat hal beginian.
"Apa kau terluka?" tanya Adrian kepada Melin yang masih ih mempunyai visual Kades Air Keruh.
Ternyata kegundahan di hati Melin berhasil dibaca oleh Adrian.
"Enggak!" ujar Melin dengan nada yang cukup menyedihkan.
Adrian tak berani banyak bertanya lagi, dia tahu apa yang membuat Melin seperti itu.
.
.
__ADS_1
.
.
"Bawa tubuh pemilik Jiwa Suci itu ruang ritual!" perintah Insagi kepada Warok.
"Sendiko dawuh Kanjeng!" ucap Warok patuh.
Lelaki berperawakan sangat kekar itu segera membawa tubuh pingsan Melin yang masih dia bopong, keruangan yang dimaksud oleh junjungannya.
Ruangan ritual yang dimaksut oleh Insagi berada di dalam dinding tebing yang amat curam tersebut, karena Siluman Warok berjalan ke arah celah pintu yang baru saja dilewati oleh Siluman Burung Garuda.
Sementara Jacson yang menyamar menjadi Aya, masih saja bersimpuh di depan Insagi dengan penuh hormat.
"Kau boleh pergi!" Insagi memerintahkan Aya untuk pergi dari tempat itu.
Pemilik istana dalam tebing tersebut berbalik dan ingin meninggalkan Aya di luar istananya.
Sedangkan tujuan Jacson menyamar menjadi Aya dan datang ke tempat ini adalah untuk memporak-porandakan Istana Insagi. Jika dia gagal masuk ke dalam Istana di dalam tebing milik Insagi. Tentu saja, usahanya akan menjadi sia-sia.
"Tuan, bolehkan saya bertemu dengan Nona Sarewa sebentar?!" tanya Aya.
Insagi berbalik ke arah Aya yang masih bersimpuh. "Untuk apa?" tanya Insagi dengan tatapan penuh curiga.
"Sebenarnya saya juga terluka cukup serius! apa Tuan Insagi mengijinkan saya untuk dirawat oleh Paduraksa?" tanya Aya.
Paduraksa adalah seorang Siluman Lintah yang mempunyai kemampuan penyembuhan yang luar biasa. Siluman itu mempunyai pertahanan diri yang lemah, jadi Insagi tidak pernah memgijinkan Paduraksa untuk keluar dari istana megahnya.
"Aku sampai lupa, tak menanyakan keadaanmu. Baiklah kalau begitu! Ikut aku!" ujar Insagi.
Siluman sekelas Aya ini, tak akan diperbolehkan masuk ke istana Insagi, biasanya begitu. Tapi karena Aya telah berhasil mendapatkan Jiwa Suci, tampaknya ini adalah sebuah pengecualian. Karena terlalu bahagia, Insagi jadi tak begitu teliti.
Kemampuan Jacson merubah diri menjadi seseorang, memang tak bisa dianggap remeh. Karena kemiripan yang dihasilkan dalam proses ini sangat luar biasa. Kemiripannya adalah 99%, hanya sidik jari dan garis tangan seseorang yang tak bisa diubah oleh Jacson.
Jacson yang masih mempunyai visual wanita cantik yang mempunyai tubuh yang molek dan indah itu, mengawasi dengan teliti setiap area yang dia masuki.
Istana Insagi Memang tak asing bagi Kades Air Keruh tersebut. Dia bahkan hapal, tentang tata letak ruangan dan juga penjaga yang berjaga. Karena hampir setiap hari Jacson datang ke tempat ini untuk menemui Yanuar atau Insagi.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Adrian yang mungkin hanya beberapa kali masuk ke Istana dalam tanah tersebut. Meskipun Adrian adalah salah satu bawahan yang paling difavoritkan oleh Yanuar, tetapi Adrian tak suka bergaul dan dekat dengan Siluman-Siluman lain.
Adrian dan Yanuar bertemu sekitar 100 tahun yang lalu dihutan belantara Sumatra. Mereka sempat tinggal bersama dalam jangka waktu yang lumayan lama yaitu 20 tahun.
Tetapi Yanuar harus pergi meninggalkan Adrian karena Siluman Macan Kumbang itu mempunyai sebuah tugas yang harus di selesaikan.
Lelaki itu harus mencari seorang dukun sakti yang bertransmigrasi dari Jawa ke Sumatra. Untuk meminta sebuah jimat yang bisa menjauhkannya dari kutukan yang membelenggu Siluman Macan Kumbang itu. Dukun yang dimaksut adalah Mbah Sodik.
20 tahun sudah Yanuar mencari Mbah Sodik, akhirnya dia beristirahat di sebuah gubuk kecil yang berada di tenggah perkebunan kelapa sawit di dekat Desa Air Keruh.
Yanuar yang menghabiskan 20 tahun untuk berjalan dan terus berjalan untuk menemui Mbah Sodik, tentu saja ada kalanya Siluman Macan Kumbang itu kelelahan. Jadi Yanuar tertidur di gubuh reot, gubuk Mistis dimana gubuk itu menjadi tempat Ritual Hujan Teluh yang paling sempurna.
Pagi itu Yanuar bangun dari tidurnya, tapi Siluman Macan Kumbang itu tersentak karena. Seorang anak kecil tidur di sebelahnya, mengunakan telapak tangan besarnya sebagai bantal untuk kepala kecilnya.
Yanuar yang kelelahan dan kelaparan, sempat berpikir untuk menerkam dan menjadikan bocah kecil dihadapannya sebagai santapan paginya. Namun keimutan dan kepulasan tidur bocah kecil itu membuat Yanuar iba, Siluman Macan Kumbang itu tak jadi melukai bocah kecil itu.
Yanuar dengan setianya malah tetap diam, mencoba tak bergerak terlalu kentara. Dia takut bocah kecil di sampingnya terbangun, karena dia terlalu banyak bergerak.
Cahaya pagi yang hangat menembus celah-celah dinding kayu gubuk mistis itu. Silaunya menyejukkan kalbu, kehangatannya mengalihkan diri dari kebekuan.
Matanya berbinar saat melihat wajah imut, anak manusia yang sedang tertidur. Sang Siluman Pemangsa bahkan tersenyum kecil karena baru kali ini dia melihat pemandangan yang langka seperti ini.
Ketika semua manusia menjauhinya, ketika makhluk sejenisnya juga tak mau bergaul dengannnya. Anak manusia ini tiba-tiba muncul dan menemani Siluman Macan Kumbang melewati malam dalam kehangatan yang hakiki.
Di tengah kehaluan Yanuar, sayup-sayup telingganya yang sensitif. Menangkap teriakan orang-orang yang tampaknya sedang mencari keberadaan manusia kecil yang tengah tidur di atas telapak tangan besarnya.
"Kinan!!! Kinan...Kinan!"
Semua orang yang terdiri dari puluhan manusia itu meneriaki nama itu. Diselingi dengan suara perkakas dapur yang dipukul keras-keras.
Yanuar sebenarnya sangat bingung dengan kelakuan absurd manusia yang suka memukul-mukul alat dapur mereka. Memang para Siluman cukup sensitif dengan bunyi-bunyian, tetapi mereka tidak takut dengan bunyi bunyi semacam itu.
Tetapi dengan suara berisik yang dihasilkan oleh manusia, Yanuar bisa dengan cepat meninggalkan gubuk yang dia singgahi semalam.
Siluman Macan Kumbang itu bahkan dengan hati-hati sekali, pergi dari tempat itu. Agar bocah kecil yang menemani tidurnya semalam tidak terganggu oleh pergerakannya.
Sebenarnya Yanuar sedikit bingung, dia sudah memastikan memasang pagar Ghaib di sekitar gubuk yang dia singgahi. Agar tidak ada makhluk hidup yang masuk dan mengganggunya ketika dia beristirahat. Tapi kenapa ada bocah kecil yang dapat menemukannya, bahkan masuk ke dalam gubuk dan tidur disampingnya.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤