Hujan Teluh

Hujan Teluh
Menjauhlah Dariku


__ADS_3

Menjauhlah Dariku


~♡~♡~♡~♡~♡~


Kau harus pergi jauh dariku, hindarilah aku.


Aku tak ingin menyakitimu,


Tinggalah jauh dariku


Hari-hari ketika aku bahkan tak bisa bernapas dengan nyaman, karena begitu merindukanmu.


Sosok diriku yang rusak dan penuh dosa, tercerminkan di dalam angin yang berhembus setiap malam dengan suhu yang dingin.


Bahkan suara angin pun menangis sedih, karena melihat penyesalanku.


Berjalanlah ke mana saja, untuk menyembunyikan diri dariku.


Menjauhlah, tetap menjauh, dan jangan menoleh ke belakang.


Cahaya ada di mana pun, tapi hanya didalam mimpiku. Tapi saat aku membuka mata karena terbangun dari mimpi, aku hanya bisa melihat kegelapan.


Aku sangat berantakan, karena tubuhku tak bisa tinggal di manapun.


Hari demi hari aku hanya hidup disetiap hariku, meratapi penyesalan dan kerinduan.


Hanya saja aku takut untuk tinggal, karena aku tahu akulah kutukannya


Saat kedua mataku lelah dan air mata menetes, saat tanganku kesakitan menyentuhmu.


Saat itu aku beristirahat sejenak, dari keterpurukanku.


Hari-hari yang terasa begitu lama, hingga aku tak sabar menunggu semuanya berubah.


Aku di sini untuk bertemu denganmu. Sejenak.


~♡~♡~♡~♡~♡~


Melin terbang ke arah punggung Dursowatu yang berlari mengejar Jendral. Ia mengingat masa lalunya ketika menghadapi Siluman ini ribuan tahun yang lalu.


Nyawa dari Siluman ini adalah bunga berwarna merah muda, yang harusnya berada di punggung makhluk tersebut.

__ADS_1


Jadi Melin dari tadi meneliti setiap detail punggung Dursawatu, dia mencari bunga berwarna merah muda itu. Setelah cukup lama ia perhatikan, akhirnya dia menemukan bunga itu di sela-sela kulit Batu Siluman sebesar Gunung itu.


Melin berhasil terbang ke arah letak bunga, yang menjadi nyawa Dursawatu. Ia segera menancapkan pedang putihnya untuk mengambil bunga yang tertanam di punggung Siluman besar itu.


Namun mengambil bunga berwarna, merah muda itu tak semudah yang dipikirkan oleh Melin. Kekuatan Dewanya belum sepenuhnya ia dapatkan, dengan susah payah Melin berusaha mengambil bunga itu.


Ia berkali-kali menusuk kulit keras Dursowatu dengan pedangnya, sehingga Siluman besar itu berjingkrak karena kesakitan. Alhasil tubuh Melin yang belum menguasai teknik pertarungan, terpelanting cukup jauh.


Karena situasi berjalan amat cepat, tubuh rampingnya itu hampir terjatuh ke tanah. Tapi ia telah ditangkap oleh seseorang, dan Melin tau itu bukan Jendral. Karena saudara kembarnya itu sedang terbang ke arahnya.


Untuk mengalihkan perhatian Dursowatu yang akan membalas serangan Melin.


Melin terkesiap, karena wajah Adrian muncul di hadapannya. Lelaki gagah itu menangkap tubuh Melin diwaktu yang tepat, meski ia harus lari dari serangan Laksmana yang menjadi lawan tandingnya.


"Kau tak papa?" tanya Adrian.


Melin hanya memandangi wajah pria itu, dan gambaran-gambaran tentang kehidupan lampaunya terputar di otaknya.


Melin ingat, kenapa dia bisa jatuh cinta pada Adrian ribuan tahun yang lalu. Dia ingat kenapa dia mau berkorban demi Adrian, dia ingat semua dalam sekejap.


"Maaf," ujar Adrian lemas.


Melin yang masih berada di pelukan Adrian, hanya memandang nanar wajah pria yang amat dia cintai itu.


Melin segera melepas pelukan Adrian dan memeriksa kondisi Siluman Harimau Putih tersebut. Tak ada luka yang berhasil dilihat oleh Melin, di bagian depan tubuh Adrian.


"Ommmmm!" teriak Melin.


Adrian dampak menahan rasa sakit yang amat sangat di tubuhnya. Ternyata Laksmana melukai Adrian di bagian belakang tubuh Siluman Harimau Putih itu.


Tubuh Adrian semakin bergetar menahan kesakitan, karena Si Siluman Rubah Jantan itu menancapkan cakarnya untuk menembus kulit tubuh Adrian. Laksmana ingin mengambil jantung Adrian secepatnya, meski dia harus licik. Memanfaatkan situasi terjepit seperti ini.


Melin tak mungkin tinggal diam, melihat lelaki yang dicintainya mendapat serangan mematikan seperti itu. Pedangnya yang masih menancap di punggung Dursawatu sudah berada di tangannya, saat ini.


Wusssssssssss


Secepat kilat pedang putih Melin, sudah menebas lengan Laksmana yang menancap di punggung Adrian.


Laksmana mundur dia memegangi tangannya yang berhasil ditebas oleh Melin.


"Keparat kau bocah ingusan!!!" Laksmana mengumpat kepada Melin.

__ADS_1


Darah segar memgalir deras dari lengan Laksmana yang ditebas oleh Melin hingga putus.


Melin sekilas melihat kearah Adrian yang masih bisa bernafas, meskipun Melin tidak begitu lega melihat keadaan Adrian yang sudah sekarat. Namun Melin harus membunuh Siluman Rubah Jantan itu sebelum Siluman itu menyakiti Adrian kembali.


Melin yang sudah dikuasai oleh emosi, tidak akan memberi ampun kepada Laksmana. Gadis belia itu langsung menusukkan pedang putihnya ke arah jantung Laksmana, yang masih menahan sakit akibat lengannya terputus.


Jlebbbbbbbbbbb


Dengan tanpa ekspresi apa pun Melin begitu tega membunuh Laksmana.


Karena melihat teman seperjuangannya dibunuh oleh musuh, Siluman yang bersama Laksamana tadi maju untuk menyerang Melin.


Entah karena bodoh atau memang tidak mempunyai senjata apa pun. Siluman yang sudah berubah menjadi seekor buaya itu, melawan Melin tanpa sepotong senjata sebagai pelengkap.


Lagi-lagi ukuran siluman ini tidak memiliki kewajaran, buaya muara dengan panjang 12 meteran. Meski tubuh buaya itu cukup besar, namun kelincahan bertarungnya tak bisa diremehkan.


Meski hanya ekor dan moncongnya yang menjadi senjata andalan, buaya itu. Namun Melin juga tak mudah untuk melukai Siluman Buaya besar tersebut.


Sabetan ekor buaya itu hampir mengenai Melin yang baru saja berpindah ke posisi belakang buaya itu. Karena Melin tak sanggup untuk melihat jajaran gigi tajam buaya tersebut, dia membayangkan dirinya dikunyah hidup-hidup, setiap kali melihat gigi makhluk mengerikan itu.


Melin mundur dengan ajian meringankan tubuh agar dirinya tidak tersabet oleh ekor buaya yang mengamuk di depannya.


Wussssss


Sabetan ekor buaya itu menyisakan angin yang berhembus ke wajah Melin. Melin mendaratkan salah satu kakinya dibatang pohon, untuk sebagai pacuan. Karena gadis belia itu akan melancarkan sebuah serangan dadakan, kepada buaya yang sedang tidak menghadap ke arahnya.


Namun ekor buaya itu kembali menyerang Melin, seolah Buaya itu juga memiliki mata di ekornya. Melin dengan sigap menghindari sabetan ekor buaya itu dengan cara, memutar tubuhnya di udara sambil mengarahkan pedang putihnya ke arah tubuh buaya yang dia lompati.


Melin berhasil melukai tubuh buaya itu namun buaya yang dia lawan ternyata bukanlah Siluman Buaya biasa. Meski punggungnya telah terluka parah, Siluman Buaya itu masih bergerak dengan sangat lincah.


Buaya itu berbalik ke arah Melin dengan cepat, moncongnya mulai maju untuk melahap tubuh Melin.


Melin hanya bisa mundur untuk menghindari gigi-gigi tajam yang dimiliki oleh buaya itu. Melin sampai harus memanjat pohon dengan ilmu meringankan tubuh, agar Buaya itu tak menyakitinya.


Kratakkkkkkkkkk


Pohon yang dipanjat Melin ternyata digigit oleh buaya itu sampai roboh. Mau tak mau Melin kembali mengeluarkan sayapnya, agar dia tak jatuh ke bawah. Karena tidak ada pijakan yang bisa dia pijak.


Perhatian Melin sejenak tercuri oleh keadaan Adrian yang ternyata sudah tergeletak di atas tanah. Meskipun Melin masih bisa merasakan hawa kehidupan di diri lelaki itu. Namun Melin sangat khawatir dengan keadaan Adrian, yang tampaknya mengalami luka yang cukup serius.


Melin segera mengarahkan pandangannya arah buaya yang menjadi lawannya, dia harus berhasil mengalahkan Buaya itu secepatnya dan melihat keadaan Adrian secara lebih dekat.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2