Hujan Teluh

Hujan Teluh
20 tahun yang lalu


__ADS_3

"Sang Penjaga Pohon Kehidupan?" tanya Ellen.


"Manusia serakah yang membunuh banyak manusia, hanya karena menuruti n.afsunya semata.


"Ketika mereka mati, mereka akan dikutuk menjadi kekal abadi.


"Namun dia harus hidup menjadi budak pohon kehidupan, mengumpulkan jiwa-jiwa serakah lainnya." jelas pria di depan Ellen.


Suaranya lirih, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga Ellen.


Tubuh kurus Sarul tampak seperti orang, yang tak makan dan merawat diri selama bertahun-tahun. Tubuh yang setengah telanjang itu benar-benar terlihat amat mengenaskan.


Cukup mengerikan dari sebuah penampakan seram di sebuah gedung tua peninggalan Belanda.


"Lalu kenapa anda di sini?" tanya Ellen.


"Tentu saja, karena aku tau segalanya. Lalu berusaha untuk melepaskan semua warga dari jerat keserakahan Yanuar!" ujar lelaki itu.


"Jadi, Adrian bukan satu-satunya penjahatnya di Desa itu?!" ujar Ellen.


"Adrian?" tanya Agus, "Siapa  itu?"


"Adik Yanuar, dia baru berusia 23 tahun!" jelas Ellen.


"Yanuar tak punya siapa pun lagi, semua keluarganya telah ia korbankan untuk tujuannya pribadinya!" jelas Sarul.


"Mbah Bagio, apa Yanuar yang membunuhnya?" tanya Ellen.


"Setiap kematian yang tak wajar di Desa Air Keruh, pastilah ulahnya!" jawab Sarul matap sekali.


Semua yang dikatakan oleh Sarul benar-benar tampak bisa dipercaya.


"Lalu kenapa anda, sangat bersikeras mengakui anak Lastri adalah putri anda?" tanya Ellen.


Lelaki itu sudah menengadahkan wajahnya kearah langit-langit. Wajah kotor dengan tulang-tulang yang menyembul keluar. Kulitnya kusam, seperti tak pernah terjamah oleh air selama bertahun-tahun.


Manik matanya yang putih tanpa kornea itu membuat Ellen bergidik. Polisi wanita itu jadi merasa tak yakin, jika pria yang bersimpuh di depannya itu adalah manusia.


"Semua berawal 20 tahun yang lalu!"


.


.


20 tahun yang lalu


Usia Sarul saat itu adalah 24 tahun, dia adalah pemuda biasa yang bekerja di perkebunan kelapa sawit.


Tubuhnya tinggi dan cukup kekar, karena setiap hari ia mengerjakan banyak pekerjaan yang berat. Kulitnya cukup gelap, karena dia selalu berada di bawah teriknya matahari.

__ADS_1


Namun ketampanannya tidak bisa luntur karena semua hal itu.


Hari itu, hari Minggu. Siang hari tepatnya, Sarul beserta kawan-kawannya istirahat dari pekerjaan mereka. Masing-masing mengeluarkan bekal yang mereka bawa dari rumah, begitu pula dengan Sarul.


Pria yang setengah telanjang itu duduk di atas rumput liar tanpa alas apapun lagi. Dari tas ransel hitamnya dia mengeluarkan sekotak nasi, yang dibungkus di dalam kotak bekal berwarna merah muda.


Tiada yang peduli dengan warna kotak bekal yang kau bawa di sirkel ini. Yang penting adalah isinya mengenyangkan dan juga bergizi.


"Kudengar, dari Pak Kades! Akan ada rombongan mahasiswa yang akan melakukan KKN di sini!" ujar salah satu warga Desa Air Keruh yang juga bekerja di kelompok yang sama dengan Sarul.


"KKN itu apa sih?" tanya warga kedua.


"Baru denger juga istilah itu!" ujar Sarul.


"Ya pokoknya mereka itu akan tinggal di sini ini cukup lama gitu!


"Lalu mereka memeriksa-meriksa gitu lah. Aku juga kurang paham kok!" kata warga pertama yang memulai membuka obrolan tadi.


"Kupikir apaan!" ujar yang lain.


"Eh ngomong-ngomong, hari ini Jatmiko enggak masuk lagi?" tanya Sarul.


Jatmiko adalah salah satu mandor yang mengetuai kelompok bekerja di perkebunan sawit. Jadi kehadirannya sangat penting, bagi para pekerja buruh seperti mereka.


Keuangan menjadi sebuah alasan pasti, bagi pekerja membutuhkan sosok Jatmiko hari ini.


"Arinda kayaknya melahirkan! Dia dibawa ke rumah sakit di kota!" jawab salah satu warga yang rumahnya berdekatan dengan Jatmiko.


Setelah mereka menghabiskan bekal mereka dan berbincang beberapa saat sambil merokok. Para warga Desa Air Keruh itu, melanjutkan pekerjaannya lagi. Untuk memanen buah sawit yang sudah siap panen.


Sore harinya mereka akan pulang, beristirahat di rumah. Terkadang ketika malam hari mereka juga berkumpul dan dan berbincang-bincang di pos kamling.


Begitulah suasana di Desa Air Keruh 20 tahun yang lalu. Ketika mata pencaharian warga di situ, hanyalah menjadi bekerja di perkebunan kelapa sawit. Belum banyak warga desa air keruh yang mendirikan usaha pribadi di tempat itu.


.


.


Satu minggu telah berlalu, Jatmiko dan juga Arinda sudah pulang dari rumah sakit. Berita tentang kematian anak pertama mereka, menjadi duka yang mendalam bagi seluruh warga desa.


Mereka sama-sama gotong-royong mengadakan upacara peringatan 7 harian kematian bayi Arinda.


Setelah maghrib, surat Yasin dan juga tahlil dibacakan secara bergantian. Untuk mengantar jiwa bayi Arinda yang telah mati.


Di pengajian peringatan 7 harian kematian anak Arinda itu, ada beberapa wajah pemuda baru yang cukup asing dimata Sarul.


"Ehhh siapa itu, Pak?" tanya Sarul pada salah satu pria yang duduk di sebelah kanannya.


"Itu rombongan mahasiswa yang KKN itu loh!

__ADS_1


"Ada ceweknya juga, mereka menempati rumah Januar yang ada di ujung desa!" jelas pria setengah baya yang rumahnya dekat dengan rumah Pak Kades. Yang saat itu masih dijabat oleh Ayah Jacson.


"Kok aku nggak pernah lihat?" tanya Sarul.


Harusnya Sarul mengetahui jika rumah Yanuar ditempati oleh seseorang. Karena rumah Januar yang tidak ditempati saat itu, adalah rumah Adrian yang sekarang ditempati oleh Melin.


"Mereka baru datang siang ini! Wajar kalau kamu nggak tahu, kamu--kan kerja tadi siang!"


Aku mengangguk mengerti, namun pandangannya tak mau lepas dari hari kelima mahasiswa yang tampak cukup berbeda dimata Sarul.


Dari cara berpakaian dan juga tersenyum serta berbicara. Pemuda-pemuda itu tampak lain, dengan pemuda yang lahir di Desa Air Keruh pada umumnya.


Sifat Sarul yang supel dan juga baik hati, membuat pemuda itu berani mendekati para mahasiswa itu ketika berjalan pulang.


"Kalian tinggal di rumah Yanuar ya?" tanya Sarul.


"Oh...Iya Mas kami tinggal di sana!" jawab salah satu mahasiswa dengan ramah.


"Perkenalkan nama saya Sarul! Saya tinggal di gang belum rumah yang kalian tempati!" ujar Sarul.


"Kebetulan Mas, kami juga bingung! Belum hafal jalan-jalan di sini, kita bareng aja ya!" mahasiswa lain menimpali.


"Ya udah ayo!" ujar Sarul.


Itu adalah awal perkenalan Sarul, dengan beberapa mahasiswa yang melakukan KKN di Desa Air Keruh 20 tahun yang.


Karena kebaikan hati Sarul, aku sering diundang oleh mahasiswa datang ke tempat mereka. Sekedar ngobrol-ngobrol ringan dan menceritakan berbagai pengalaman hidup mereka yang berada di kota. Ditemani kopi dan beberapa cemilan, seperti itulah kegiatan malam aku setelah mengenal para mahasiswa.


Karena kegiatan itu Sarul juga bertemu Lastri, Lastri mempunyai perawakan yang hampir sama dengan Melin. Manis cantik dan pintar, Lastri juga cukup cerewet. Dia adalah wanita yang ceria yang suka melakukan hal-hal absrut.


Sampai di mana Sarul ditemui oleh Lastri secara mendadak dikamarnya.


"Rulll bangun, Rul!"


Tok tok tok tok tok


Berkali-kali panggilan itu dilakukan oleh Lastri dari luar jendela kamar Sarul.


Suara bising Lastri akhirnya dapat membangunkan tidur Sahrul malam itu.


"Siapa sih malam-malam gedor-gedor jendela kamarku? kurang kerjaan banget!" ujar Sarul kesal.


Dengan sangat malas Sarul menyingkap selimutnya dan turun dari ranjangnya. Ia harus menggantikan siapapun yang membangunkannya malam-malam begini.


Namun saat Sarul membuka jendela kayu di kamarnya, matanya terbelalak karena dia mendapati Lastri berada di sana.


"Ada apa, Mbak Lastri malam-malam datang ke sini?" tanya Sarul dengan nada terkejut.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2