
Suhu Perasaan
Ketika makhluk apa pun merasa lebih kuat, lebih pintar dan lebih bisa dari makhluk lain. Mereka akan sombong, mereka akan angkuh dan cenderung semena-mena pada makhluk yang dia nggap lebih rendah darinya.
Ketika mereka masih mempunyai amunisi untuk menyombongkan diri, mereka akan terus sombong. Menganggap diri mereka paling berkuasa dan tak terkalahkan, namun mereka lupa. Mereka hanyalah makhluk yang diciptakan oleh sesuatu zat yang lebih kuat dari mereka.
Lihatlah jari telunjuk di kaki kirimu, engkau hanya sebesar itu dimata makhluk yang lebih tinggi darimu. Kau punya dua pilihan, menampakkan diri atau menutup diri.
~◇~◇~◇~◇~◇~
Angin terus berhembus kencang, berputar di satu area. Di atas pusaran angin, langit masih terbelah semakin lama semakin membesar dan meluas.
Lembah Abadi, lembah perbatasan antara Alam Manusia dan juga Alam Buana yang tidak memiliki siang ataupun malam. Suhu udara yang selalu terjaga dan keadaan yang selalu seimbang, akhirnya goyah. Karena seseorang telah membuka pintu menuju Alam Siluman dari Lembah Abadi tersebut.
Langit yang cerah perlahan-lahan menggelap, pusaran angin mulai melemah. Menandakan bahwa pintu dunia Siluman benar-benar bisa terbuka.
Suara auman beberapa makhluk aneh terdengar jelas, menggema di seluruh area.
Jacson dan Jendral hanya bisa memandangi langit dan menunggu, apa yang akan keluar dari celah yang dibuat oleh Insagi tersebut. Wajah mereka penuh khawatiran, meski rasa khawatir mereka tidak menyurutkan semangat juang di hati mereka.
Ada satu hal yang membuat Jendral dan Jacson yakin, mereka melakukan ini bukan hanya demi keselamatan mereka sendiri. Tapi demi keselamatan seluruh manusia di dunia ini. Mereka harus menang dari apa pun yang nanti akan keluar dari celah menggangga itu.
Melin bisa merasakan detak jantung Adrian ketika wajahnya menyentuh dada bidang lelaki gagah itu, dia bisa merasakan betapa terpacunya jantung Adrian.
Lelaki itu mungkin masih kelelahan karena pertarungan-pertarungan yang baru saja dihadapi. Tetapi Adrian tetap menuruti apa yang diperintahkan oleh Melin kepadanya. Adrian membawa Melin berteleportasi ketempat dimana, Jendral dan Jacson berada.
Mereka lahir kembali tanpa menginggat kenangan di kehidupan lampau mereka. Namun mereka harus menghadapi sesuatu yang sama, seperti yang pernah mereka hadapi di kehidupan mereka sebelumnya.
Jendral yang merasakan akan ada sesuatu yang mengerikan, segera menghampiri Jacson yang masih berdiri bengong menghadap langit.
"Pak Kades! Saya harus pergi pada Melin!" ujar Jendral dengan tatapan yang sangat serius.
"Kamu gila apa?! Lalu siapa yang akan menghadapi makhluk-makhluk dari dunia Siluman itu?" tanya Jacson dengan raut muka yang sudah diliputi oleh ketakutan.
"Saya akan kembali ke sini, setelah memastikan Melin berada di tempat yang aman!" ujar Jendral.
Sebelum pembicaraan mereka berlanjut, ternyata Adrian dan Melin sudah sampai di tempat itu.
Buakkkkkkkkkkk
Jendral langsung meninju ke arah wajah Adrian begitu ia melihat wajah lelaki gagah itu. Dengan bogeman penuh tenaga, Jendral berhasil membuat memar salah satu sisi wajah pemuda tampan tersebut.
"Menjauhlah dari Melin!" kata Jendral.
Adrian yang masih di posisi terjungkalnya terdiam dan memandang ke arah Jendral dengan tatapan bingung. Sama halnya dengan Melin dan juga Jacson, kedua orang itu juga tampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh Jendral barusan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Melin.
"Jangan pernah percaya padanya! Ingat itu baik-baik!" ujar Jendral.
Semakin bingung dengan apa yang dimaksud oleh Jendral.
"Dia pasti ingin membunuhmu lagi! Dia akan melakukan segala cara, agar kau lenyap dari bumi ini! Seperti dulu," jelas Jendral. "Aku akan membawamu, ketempat yang aman!". Cowok SMU itu langsung mendekati tubuh Melin namun Melin segera menghindar.
"Apa maksutmu?" tanya Melin.
"Dia pura-pura mencintaimu. Lalu menyuruhmu untuk mengambil jiwanya, agar kau menjadi manusia dan dia yang menjadi Malaikat Penjaga.
"Tetapi setelah dia menjadi Malaikat Penjaga dia malah membunuh semua orang yang berada di sampingmu! Termasuk aku!" lanjut Jendral.
Semua orang di sana tentu saja tertegun dengan apa yang baru saja Jendral katakan. Terlebih lagi Adrian yang benar-benar merasa terpukul, karena mendengar betapa buruknya dia di kehidupan masa lampaunya.
"Karena kau sudah mengambil jiwamu kembali! Maka kau harus mati sekarang!" ujar Jendral.
Sangat cepat, tiba-tiba sebuah pedang sudah digenggam oleh Jendral. Pedang itu mengarah langsung ke Adrian, yang sepertinya susah untuk bangun dari ke tersungkuranya.
Trangggggggggg
Pedang itu ditangkis oleh sebuah pedang lain, yang ternyata adalah milik Melin.
"Kau tak boleh menyentuhnya!" ujar Melin.
Pedang milik Melin berwarna putih dengan kain putih yang melilit asal di gangang pegangannya. Kain putih itu sedikit menjuntai, karena terlalu panjang.
Jendral yang merasakan hawa aneh dari Melin, segera menatap tajam ke arah gadis belia yang mengenakan pakaian putri raja itu.
"Kau?!" Jendral tidak dapat melanjutkan kata-kata dalam pertanyaannya.
Melin juga menatap Jendral, dengan tajam, namun gadis itu tidak mengatakan sepatah kata pun.
Jenderal mundur dari hadapan Melin, ia mengambil pedang emasnya menggunakan kekuatan yang dia punya. Pedang itu melayang di udara dan langsung dia tangkap.
"Terserah padamu, itu urusanmu dengan dia!" ujar Jendral.
Melin mendekati Adrian dan membantu lelaki gagah itu berdiri dari jatuhnya.
"Om nggak papa?" tanya Melin.
Adrian berdiri, tetapi dia tak mau mengatakan apa pun pada Melin. Dia merasa terlalu hina, setelah mendengar penjelasan Jendral tadi.
"Mel, kekuatanmu sudah kembali?" tanya Jecson.
__ADS_1
Melin hanya menggangguk mengiyakan, tanpa menjelaskan apa pun.
Langit sudah sepenuhnya terbelah, dari celah itu keluarlah mahluk besar yang sangat luar biasa. Mahluk itu mempunyai kulit tubuh sekeras batu, dan besarnya mungkin sebesar Tyrannosaurus Rex di film Jurassic Park.
"Astaga apa itu?" tanya Jacson yang pasti belum pernah melihat mahluk hidup sebesar itu.
"Dia adalah Dursowatu!" ujar Jendral.
Sepertinya Jendral sangat kenal dengan makhluk yang baru saja keluar dari dunia Siluman tersebut, seolah-olah cowok SMU itu pernah tinggal di sana.
"Sok tau kamu, Jend!" kelakar Jacson yang sudah mulai berubah wujut ke Siluman Kelelawarnya.
"Sebaiknya kalian minggir, jika tidak ingin diinjak oleh Dursowatu!" kata Jendral lagi.
Wushhhhhhhhhhhhh
Tak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Jendral mengeluarkan sayap dari bahunya. Jendral langsung terbang ke arah Dursowatu yang belum sempat memijak tanah Alam Buana.
Tangan bocah SMU itu menggenggam tongkat emasnya dengan satu tangannya, sambil meluncur ke atas. Jendral siap membunuh mahluk dari Alam Siluman tersebut.
~♡~♡~♡~♡~♡~
Kalian Mungkin tidak tahu bahwa suhu air di dalam sumur relatif sama sepanjang tahun yaitu 18 derajat Celcius. Angkanya relatif sama tidak peduli Siapa yang mengukurnya.
Namun ketika musim kemarau suhu air di dalam sumur terasa lebih sejuk.
Sebaliknya ketika musim hujan air sumur terasa lebih hangat dari air hujan.
Apakah suhu air sumur itu adalah ilusi???
Suhu air di dalam sumur itu seperti perasaan seseorang yang jatuh cinta.
Tetap sama sampai kapan pun.
Jika ada alasan cinta itu hilang, itu namanya bukan cinta. Dia hanya salah mengartikan tentang obsesi yang ada dalam dirinya.
Lalu apa perasaanku padamu, yang kurasakan saat ini adalah ilusi.
Apa dulu aku tak mencintaimu...
Apa suhu ini berubah? Karena apa? Apakah karena waktu? Atau karena aku manusia bukan sumur.
Adrian
~♡~♡~♡~♡~♡~
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤