
Melin menarik pelatuk di senjata api yang dia pegang.
Duarrrrrrr
Gadis belia itu sangat yakin, telah mengenai makhluk aneh tersebut. Meski makhluk itu terus berjalan ke arahnya.
Duarrrrrrr
Duarrrrrrr
Duarrrrrrr
Melin terus membidik makhluk itu, lensa yang terpasang di senjata tersebut membantu penglihatan Melin. Meski jarak dan kabut menjadi penghalang, namun mata Melin masih bisa melihat sosok yang saat ini tengah berjalan ke arahnya.
Samar-samar Melin masih bisa melihat, seperti apa penampakan makhluk aneh tersebut.
"Makhluk apa lagi itu?" gumam Melin dengan rasa kebingungan yang amat tinggi.
Di penglihatan Melin, makhluk itu tidak tampak seperti seorang manusia. Tubuhnya memang tinggi menjulang, namun entah kenapa Melin malah melihat katak di sana.
"Katak?" tanya Melin keheranan.
Siluman Macan hitam, siluman macan putih, kuntilanak merah, juga siluman ular yang merasuki tubuh Ibu Jendral. Melin benar-benar tidak menyangka, akan bertemu siluman katak di tempat ini.
Harusnya Melin tidak kaget, karena jika memang seluruh penduduk Desa Air Keruh ini adalah siluman. Maka pasti akan ada banyak jenis siluman di area ini.
Tetapi Melin masih tidak habis pikir, ia bisa bertemu siluman katak di tempat ini. Siluman yang sama sekali tidak terkenal, di antara semua legenda urban di negara ini.
Apa boleh buat, Melin hanya bisa melawan apa pun yang menghalangi jalan kaburnya.
Jergrekkkkkkk
Krarkkkkkkkk
Dengan lihainya Melin mengganti slot peluru yang telah habis.
Jendral hanya bisa terkesima, melihat betapa gagahnya Melin. Ketika gadis itu menembak dan mengganti slot peluru pada senjata apinya.
Duarrrrrrrr
Duarrrrrrrr
Duarrrrrrrr
Duarrrrrrrr
Duarrrrrrrr
Melin masih menembaki siluman katak itu dengan membabi-buta. Meski Gadis itu tidak membenci katak, namun jika didekati oleh hewan yang bisa hidup di darat dan juga di air tersebut. Melin juga akan merasa sangat jijik.
Apa lagi ukuran katak yang saat ini menghampiri Melin, termasuk ukuran raksaksa.
Krokkkkkkk
Krokkkkkkk
Krokkkkkkk
__ADS_1
Di sela-sela tembakan Melin, dengar suara khas kata tersebut.
Melin kembali memusatkan pandangannya, melalui lensa pembesar di senjata apinya. Namun ia tidak bisa menemukan katak tersebut.
Katak itu telah pergi dari hadapan Melin, namun suaranya terdengar menggema di udara.
Melin menurunkan senjatanya, ia memutar badannya dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia harus menemukan katak itu, sebelum siluman katak itu menyerangnya dan membunuhnya.
Krokkkkkkkkk
Krokkkkkkkkk
Krokkkkkkkkk
Suara katak itu masih terdengar di telinga Melin.
Pandangan Melin mengarah ke arah Jendral, yang masih duduk di atas motor buntutnya.
"Kemana perginya siluman katak tadi?" tanya Melin kepada Jendral.
Seperti biasanya, Jendral hanya menggelengkan kepalanya pelan. Pertanda dia tidak tahu apa-apa.
Sebenarnya Melin ingin menggerutu kepada Jendral, namun suara katak yang menggema di udara benar-benar sangat mengganggu pikirannya.
Dari pada membuat keributan tidak jelas dengan Jendral, Melin lebih memilih mencari asal suara katak tersebut.
Jadi Melin melangkahkan kakinya ke arah dalam, perkebunan sawit di samping jalan.
"Mau ke mana kamu Mel?" tanya Jendral.
"Matikan motormu! Suaranya benar-benar berisik!" bentak Melin.
Malin ingin fokus mencari suara siluman katak, dengan mengikuti suara yang hasilkan oleh siluman itu.
Jendral benar-benar mematikan suara mesin motornya. Lalu ia turun dari motornya dan mengikuti langkah kaki Melin.
Tiba-tiba angin yang cukup kencang mulai berhembus ke arah mereka berdua. Angin dingin yang bercampur dengan tetesan air. Angin yang benar-benar aneh.
"Kelihatannya turun hujan! Sebaiknya kita mencari tempat untuk berteduh!" usul Jendral.
Tetapi Melin merasakan hawa angin yang tiba-tiba berhembus ke arah mereka, bukanlah angin biasa. Angin aneh ini pasti dibuat oleh siluman katak, untuk menakuti Melin.
"Aku harus mencari siluman katak itu!" kata Melin dengan yakinnya.
Gadis belia itu benar-benar tidak mau menyerah, ketika sudah bertekad.
Di tengah angin yang sedang kibang-kibut, Melin dan Jendral terus berjalan mengikuti suara katak yang masih saja menggema meski pun semakin lirih saja.
Dahang pohon kelapa sawit yang panjang, berkelebat mengerikan saking kerasnya angin berhembus di area itu. Namun anehnya kabut yang menyelimuti pintu masuk Desa Air Keruh itu, tidak kunjung menghilang.
Hal itu sama sekali tidak menyurutkan keinginan Melin untuk menemukan siluman katak raksasa, yang tadi menghadangnya.
Suasana tak seperti dugaannya, hujan deras mulai mengguyur membasahi diri. Dan suara katak yang Melin cari. telah menghilang musnah.
Namun mata mereka melihat ada sebuah gubuk dari kejauhan.
"Sebaiknya kita berteduh di sana saja!" kata Jendral lelaki muda itu menunjuk gubuk yang sama, dengan yang dilihat oleh Melin.
__ADS_1
Wajah manis Melin, cemberut Kecewa. Karena apa yang dia cari tidak dapat ia temukan.
"Ayo cepat!" kata Jendral.
Lelaki muda itu menarik tangan Melin dan mengajak Gadis itu untuk berlari dengannya. Karena hujan yang turun ke bumi saat ini, semakin deras saja.
Mereka berteduh di gubuk itu, meskipun tubuh mereka sudah hampir basah semua.
"Kurasa siluman katak tadi, hanya mencegah kita Untuk pergi dari Desa ini!" kata Melin.
Jika memang siluman katak tadi menginginkan jiwa Melin, pasti siluman itu akan menyerang Melin. Tetapi makhluk aneh itu, malah pergi dan sampai sekarang Melin tidak dapat menemukan keberadaan makhluk tersebut.
"Menyebalkan sekali!
"Harusnya kita melanjutkan perjalanan saja. Daripada mengejar katak bego itu!
"Kita jadi terjebak disini, semalaman!" Melin mulai menggerutu padahal ini adalah kemauannya sendiri.
"Motor tadi pasti, mogok! Karena terkena air hujan!" kata Jendral.
Perkataan yang menambah penderitaan Melin.
Melin menghela nafasnya, sambil menahan hawa dingin di tubuhnya. Tubuh gadis belia itu menggigil kedinginan.
"Sebaiknya kita masuk saja ke dalam, kelihatannya kau kedinginan!" usul Jendral.
Tanpa menjawab apa pun Melin mengikuti Jendral yang tengah membuka pintu gubuk tersebut.
Namun mata Merin yang sangat tajam itu, melihat beberapa tetesan darah di atas tanah pelataran gubuk yang sempit itu.
Tetesan Darah itu menuju ke dalam gubuk yang pintunya akan segera dibuka oleh Jendral.
Melin segera menggantikan Jendral dengan menggenggam pergelangan tangan lelaki muda itu.
Tentu saja Jendral merasa sangat kebingungan. Kenapa Melin menghentikan usahanya untuk membuka pintu pondok di depannya.
Melin memberi kode dengan melihat ke bawah, agar Jendral juga mengikuti arah pandangannya. Melin tidak mungkin, secara terang-terangan mengatakan bahwa siluman itu ada di dalam gubuk kepada Jendral.
Jendral mengerti apa yang dimaksud oleh Malin, jadi lelaki itu mengurungkan niatnya. Untuk membobol paksa pintu yang ternyata terkunci dari dalam itu.
"Kayaknya. Pintu ini dikunci, Mel! Jadi kita enggak bisa masuk!" kata Jendral.
Jendral mencoba membuat siluman yang berada di dalam gubuk itu, tidak merasa terancam keberadaannya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum matahari terbenam!
"Karena jika kita tetap berada di sini, setelah gelap. Pasti akan sangat berbahaya!" Melin menambahkan kata-kata. Agar siluman itu berpikir, bahwa Melin dan Jendral memutuskan untuk pergi dari tempat ini.
Tipu daya semacam ini, memang sangat dibutuhkan untuk mengecoh lawan. Melin sering melakukan hal semacam ini untuk bertahan hidup, atau sekedar bersenang-senang saja.
Melin dan Jendral memang pergi dari gubuk itu, namun mereka sembunyi di balik pohon sawit. Untuk mengintai siluman katak yang mungkin sudah terluka karena tembakan Melin.
Setelah mengecoh lawan, kau harus menunggunya sampai dia memakan umpan yang kau tebar. Lalu pastikan kau menangkapnya di waktu yang tepat.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1