
Berubah Wujut
Adrian dan Jacson terus berjalan di atas rerumputan, langkah gagah kedua pendekar petarung itu tampak sama kokohnya.
Berbanding terbalik dengan warna dan pantulan cahaya matahari di Padang Tugu Mulia sangat mempesona, dua pasang insan yang berani mati demi cinta itu.
Warna coklat keemasan dari rumput yang mengering, desiran angin lembut yang berhembus dengan mesra. Suasana yang sebenarnya sangat mendukung keromantisan sepasang kekasih.
Namun Adrian malah berjalan dengan seorang pria di tempat yang begitu indah ini. Tetapi dia tidak menunjukkan ekspresi kesal sama sekali. Lelaki tampan itu malah tersenyum meski malu-malu.
Seolah-olah dia tengah berjalan dengan kekasih hatinya, untuk menikmati pemandangan yang hampir seperti Surga ini.
"Indah sekali tempat ini!" ujar Jacson dengan nada bicara yang tak seperti biasanya.
"Tapi tempat ini terkenal sebagai sarang hantu!" sahut Adrian.
Jacson yang tadinya berjalan didepan Adrian pun berbalik ke arah lelaki tampan itu.
"Apa Om, mencoba menakutiku?! Aku sering melihat hantu, kok! Aku nggak takut hantu!" ujar Jacson dengan gelagat bicara seperti perempuan yang sedang dimasa pubernya.
"Kau bahkan tak takut pada Siluman sepertiku, aku percaya kau tak takut pada apa pun!" kata Adrian.
Jacson yang gagah itu malah tersipu-sipu, hanya karena perkataan Adrian yang seperti itu.
"Ngomong-ngomong mereka akan berhasil tidak?" tanya Jacson pada Adrian.
"Aku tak yakin!" jawab Adrian dengan senyum yang tak bisa dia tahan lagi.
Karena melihat Adrian tersenyum, Jacson juga ikut tersenyum tetapi senyumnya Jacson lebih mirip cewek yang malu-malu tapi n.a.f.s.u.
Tetapi Adrian tidak berkomentar apa pun saat melihat Kades Desa Air Keruh itu berlagak aneh tak seperti biasanya.
"Idemu ini, sangat gila!" ujar Adrian.
"Aku tau! Tapi apa benar Jendral adalah Siluman yang cukup hebat.
"Aku takut dia terluka saat menghadapi anak buah Insagi!" kata Jacson.
"Kau takut bocah itu terluka?!" tanya Adrian dengan nada cemburu. "Kau lihat sendiri, kan?! Dia baik-baik saja mesti jatuh di atas tumpukan pelepah sawit untuk melindungimu! Dia cukup kuat tenang saja,".
"Tapi tetap saja dia masih terlalu muda untuk menanggung beban seberat ini!" ujar Jacson.
Adrian yang berjalan di belakang Jacson pun mempercepat langkahnya, lelaki berbadan kekar itu meraih bahu Jacson dengan kedua tangannya. Jacson yang menerima perlakuan tersebut dari Adrian, tidak merasa keberatan sama sekali. Padahal keduanya adalah pria normal yang sehat meskipun mereka sama-sama Siluman.
"Bukankah kau juga masih muda?! Usiamu bahkan lebih muda daripada Jendral,
__ADS_1
"Tapi kau bisa memikirkan rencana yang seperti ini! Aku bangga padamu! Keponakanku!" kata Adrian.
Lelaki itu tidak menunjukkan raut jijik, saat mengatakan hal itu kepada Jacson. Keduanya bahkan terus tersenyum saat berhadapan dan saling pandang, padahal posisi itu cukup membuat orang lain salah paham jika melihatnya.
.
.
.
.
Melin terus mencekik leher Aya, sampai Siluman Kucing Hitam itu tidak bergerak sama sekali. Jendral benar-benar sangat heran dengan tingkah dan cara bicara Melin. Tetapi dia juga tidak bisa melarang Melin untuk membunuh Siluman yang licik itu.
"Mati, kau mahluk berbulu tak sehat!" ujar Melin yang sekarang separuh tubuhnya berubah menjadi Siluman Kelelawar.
"Siapa kamu?" tanya Jendral pada Melin.
"Aku Melin!" ujar Melin dengan nada yang cukup aneh.
"Kau bukan Melin!" kata Jendral.
Cowok SMU itu meraih kerah leher baju yang dikenakan oleh Melin, tinjunya sudah mengarah ke arah wajah Melin. Tetapi Jendral tidak mungkin tega memukul orang di depannya itu. Meskipun orang itu hanya mirip dengan Melin.
Jendral sangat yakin, wanita yang di depannya ini bukanlah Melin gadis yang sangat dia cintai. Tidak mungkin Melin bisa berubah menjadi Siluman Kelelawar.
"Pak Jacson?!" tanya Jendral dengan tatapan bingung yang fokus ke arah Melin.
"Iya!" Kata Melin tanpa keraguan sedikitpun. "Aku harus menyamar menjadi Melin, dan kau harus menyamar menjadi Siluman Kucing Hitam itu!".
"Apa?!" teriak Jendral.
Jendral benar-benar sangat terkejut, dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Melin. Bagaimana bisa Melin mengatakan bahwa dirinya adalah Pak Jacson Kades Desa Air Keruh.
"Jangan bercanda, Mel!" ujar Jendral.
Memang hal ini sangat aneh, karena Melin bisa berubah menjadi Siluman Kelelawar. Dan gadis manis itu juga mengaku bahwa dirinya adalah Pak Jacson. Mungkinkah semua hal itu benar.
Melin mengeluarkan sebuah kendi kecil dari tangan kosongnya, lalu dia langsung memberikannya kepada Jendral.
"Minumlah!" kata Melin.
Apa ini racun?" tanya Jendral.
"Lebih baik kau yang jadi Melin dan aku yang jadi Aya. Karena aku lebih tahu seluk-beluk markas Insagi!" ujar Melin.
__ADS_1
"Jadi benar kamu ini, Pak Jacson?!" tanya Jendral sekali lagi, karena cowok SMU itu tidak bisa percaya begitu saja. Kepada orang di depannya, yang sangat aneh menurutnya.
"Cepat minum makanya, biar kamu tahu aku bohong apa tidak!" kata Melin sambil menyodorkan kendi yang dia pegang ke arah dada Jendral.
Tetapi Jendral tidak serta-merta langsung menerima kendi pemberian Melin. Lelaki muda itu masih waspada, dia takut ini hanyalah ilusi yang dibuat oleh Insagi.
Karena melihat reaksi Jendral yang mematung tak bergerak sama sekali, Melin merasa sangat kesal. Dia langsung menyumpal mulut Jendral, dengan mulut kendi kecil yang berada di tangannya.
"Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi!" ujar Melin.
Karena paksaan itu mau tak mau Jendral menenggak beberapa tetes air yang berasal dari kendi yang diberikan oleh Melin.
"Susah banget sih kamu, diajak kerja sama!" keluh Melin.
Nada bicara gadis manis itu memang mirip dengan Jacson, sehingga Jendral sudah mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh Melin palsu di depannya.
"Emang rencana kita apa Pak?!" tanya Jendral kepada Melin.
"Aya mempunyai tugas untuk membawa Melin ke markas persembunyian Insagi!
"Jadi kita berdua, akan menyamar sebagai Aya dan juga Melin, untuk memperok-porandakan markas Siluman Burung Garuda itu!" jelas Melin yang di dalam tubuhnya terdapat jiwa Jacson.
Melin kembali mengeluarkan sebuah kendi di tangannya, lalu memungut rambut dari kepala Aya yang sudah meninggal. Melin memasukkan rambut itu ke dalam kendi di tangannya, lalu dia kocok-kocok sebentar.
Tanpa merasa khawatir dan lainnya Melin langsung meminum air yang berada di kendi itu tanpa tersisa sedikitpun.
"Sebenarnya apa khasiat air tadi, Pak?" tanya Jendral.
"Air yang kuberikan padamu, akan merubahmu menjadi Melin untuk beberapa jam!
"Jadi kita harus bergerak cepat, jika ingin memporak-porandakan markas Insagi tanpa harus melawan para anak buahnya satu persatu!" jelas Melin.
Jendral melongo, karena dia melihat dengan jelas. Bagaimana Melin yang mengaku sebagai Pak Jacson kini berubah bentuk menjadi Aya Si Siluman Kucing Hitam yang sudah mati, bahkan mayatnya masih berada di samping mereka.
Jendral akhirnya mengangkat kedua tangannya dan melihat kesepuluh jemarinya.
"Astaga apa yang terjadi kepadaku?" tanya Jendral pada dirinya sendiri. "Suaraku!!!".
Jendral semakin kaget, karena suaranya sangat mirip dengan suara Melin.
"Apa yang terjadi, Pak Jacson!!!" Jendral yang sudah berubah menjadi Melin seutuhnya itu, berteriak histeris ke arah Jacson yang sudah berubah menjadi Aya.
"Tenang, kau harus tenang Jendral!" kata Jacson yang bertubuh Aya pada Melin yang di dalamnya adalah Jendral. "Kau masih mau menyelamatkan Melin, kan?! Ini adalah satu-satunya cara, supaya gadis itu tidak bertemu langsung dengan Insagi!". lanjut Jacson yang bervisual Aya.
"Tapi apa Bapak yakin, ini akan berhasil?" tanya Jendral yang tampaknya jauh lebih tenang.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤