Hujan Teluh

Hujan Teluh
Maung Bodas


__ADS_3

Ternyata kepergian Lastri bukan menuju ke kediaman orang tuanya. Namun wanita yang tengah hamil muda itu, itu menuju Desa Air Keruh.


Satu jam sebelum kepulangan Sarul, ternyata Yanuar berkunjung ke rumah petak yang di sewa oleh pasangan suami-istri itu.


Yanuar tidak basa-basi dia langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


"Apa kau tahu? Sarul mengorbankan nyawanya untukmu?!" tanya Yanuar.


Laki-laki itu  duduk bersila di atas tikar tipis, yang digelar oleh Lastri. Sebagai alas di ruangan paling depan rumah petaknya.


Lastri yang mengenali Yanuar sebagai pria yang jahat di dalam mimpinya. Karena itu ia tidak mungkin mengabaikan perkataan lelaki itu.


"Maksut kamu apa?" tanya Lastri.


Seperti ibu hamil lainnya Lastri akan mengelus perutnya ketika ia gelisah atau merasa dalam bahaya.


Yanuar yang melihat gelagat Lastri langsung tersenyum senang. Ternyata dia tidak perlu susah payah untuk membuat Lastri hamil duluan.


"Apa kau tahu? Alasan Sahrul mengajakmu pergi dari Desa Air Keruh?" tanya Yanuar.


Lastri memang tidak pernah menanyakan hal itu secara gamblang kepada Sarul. Namun secara garis besar, Lastri tahu bahwa Sarul mengajaknya pergi dari sana karena ingin hidup berdua dengannya saja.


"Dia mengajakmu pergi, karena dia tidak ingin kau menjadi tumbal!" ujar Yanuar.


Seketika Lastri mengingat tentang bahasan mereka, tentang mimpi yang pernah menghantuinya.


"Kau tahu?!


"Warga Desa Air Keruh, yang yang membelot pada Nyai Blorong, akan mati perlahan-lahan!" ujar Yanuar.


Lastri tidak bisa menjawab ungkapan Yanuar.


"Kuharap kau tidak berniat membunuh Sarul dengan cara itu!" ujar Yanuar.


"Kau pasti berbohong--kan?" tanya Lastri.


"Jadi kau benar-benar ingin melihat Sarul mati secara perlahan-lahan?


"Di depan matamu, kau ingin menikmatinya saat-saat terakhir Sarul menghembuskan nafasnya?" ujar Yanuar.


Lelaki itu berusaha provokasi hati Lastri. Karena hanya dengan cara itu, Yanuar bisa membuat Lastri pergi dari Sarul. Tanpa dicurigai oleh sahabat karibnya itu.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Agar Sarul tidak meninggal?!" tanya Lastri.


"Kalau harus mengorbankan dirimu, untuknya!" ujar Yanuar.


.


.


Dua minggu telah berlalu, Lastri tak kunjung muncul. Hanya ada sepucuk surat yang berhasil sampai di tangan Sarul.


Isinya hanya ada satu kata, yaitu "MAAF". Disertai dengan sebuah foto pernikahan Lastri dengan Yanuar.


Gelap tanpa cahaya, seketika daya hidup di diri Sarul meredup. Cinta yang tumbuh dihatinya melebur menjadi penyesalan. Tak ada yang ingin dia katakan untuk saat ini, jiwanya seolah terhempas ke dasar jurang.


Dadanya terhantam, menamcap di sebuah dahang pohon yang lapuk, tak sakit namun menyesakkan.


Gadis yang dia tolong malah menampik pertolongannya, dia seolah menjadi sebuah batu loncatan yang tak penting. Namun Sarul masih merasakan sebuah perasaan kekhawatiran terhadap Lastri dan bayinya.


Yaaaa bayi yang dikandung Lastri adalah bayi miliknya.


.


.

__ADS_1


Wajah kelamnya berhenti berekspresi, tampak dia diam. Mengarahkan pandangan kosongnya ke arah gubuk reot yang kini sudah berada di depannya.


ketika sebuah takdir berputar lagi di sekitarnya.


"Kau tak akan menggulangi takdir menjijikan ini lagi--kan?" tanya Lastri pada Yanuar.


Wanita hamil itu, saat ini berbaring di atas dipan yang sudah dipenuhi dengan banyak macam pernak-pernik ritual kejawen.


"Bayi yang kau kandung harus membayar, apa pun yang telah ia lakukan...


"Dengan lunas!" ujar Yanuar.


Lastri hanya diam, perkataan Yanuar. Sepertinya ibu muda itu faham dengan apa yang di maksut oleh Yanuar.


"Kau sudah berjanji, tak akan menyakitinya!" kata Lastri tanpa keraguan.


"Seberapa sering jiwa suci ini lahir! Aku akan menemukannya!" ujar Yanuar, sambil memandang ke arah perut Lastri yang sedikit membuncit.


Lelaki itu segera menghampiri Lastri . Perlahan-lahan Yanuar melangkah, tangannya mengeluarkan belati yang amat indah. Belati yang sama, belati yang muncul tiba-tiba di hadapan Melin.


Jlepppppppppp


Belati itu telah menancap tepat di jantung Lastri. Dia tak melawan, ataupun menyerang balik. Karena Lastri tau, kematiannya adalah sebuah keharusan.


"Kuharap, putrimu bisa membunuhku jika dia sudah besar nanti!" ujar Yanuar.


"Jiwamu akan lenyap! Dan tubuhmu akan menjadi sarang mahluk lain, bayi ini harus lahir dengan selamat!" ujar Yanuar.


"Anakku, pasti akan membunuhmu!" kata Lastri.


"Kuharap dia, benar-benar bisa membunuhku!" ujar Yanuar.


Darah menghitam kental Lastri muntahkan, dia menahan rasa sakit yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Tak butuh waktu lama, dia kehilangan detak jantungnya. Seketika tanda melingkar hitam di lengannya menghilang.


Kutukannya telah beralih, ke anak Sarul. Anak manusia biasa yang lahir, dari rahim manusia biasa. Hanya manusia murni yang bisa membinasakan kekuatan Siluman yang penuh dendam.


"Jaga bayi itu baik-baik!" ujar Yanuar.


Lastri dengan pandangannya yang kosong hanya menggangguk lemah.


.


.


Buakkkkkk


Buakkkkkk


Buakkkkkk


Buakkkkkk


Buakkkkkk


Ketukan membabi-buta dilayangkan oleh tangan kekar Sarul, dia terus mengedor pintu kayu yang terpasang di depan rumah Jacson.


Tengah malam yang diguyur hujan deras, tubuh yang basah kuyup. Namun tubuhnya tak menggigil, panas hatinya mengalahkan udara dingin di luar tubuhnya.


"Keluar kau, Jacson!!!" teriak Sarul.


Amarah yang membara menguasai jiwa dan raganya. Dia tak bisa membiarkan siapa pun menyakiti wanita yang ia cintai dan bayinya.


"Keparat!!! Buka, lawanmu adalah aku!!!


"Jangan jadi pengecut, jangan hanya berani menyakiti wanita saja!" Sarul masih berteriak.

__ADS_1


Ia ingin menyalurkan segala amarah yang menguasai dirinya. Kenapa harus Lastri dan bayinya, kenapa dia harus menjadi sebuah pelantara.


"Aku yakin kau akan kemari, setelah menerima surat itu!" suara yang sangat femiliar didengar oleh telinga Sarul.


Matanya masih memerah, tubuh kekarnya menggigil karena menahan amarah.


"Kau!" pandangannya bertemu dengan Yanuar.


"Apa yang kau lakukan pada Lastri dan bayiku?!" Sarul segera berhambur ke arah Yanuar.


Dia mencengkeram kerah kemeja biru yang dikenakan oleh Yanuar.


"Kuharap kau, jangan mengganggu proses takdir ini!" ujar Yanuar.


"Berhenti bicara omong kosong!!!" Sarul berteriak tepat di depan wajah Yanuar.


Matanya memerah, urat di sekujur kepala dan lehernya menegang. Amarahnya sudah tak bisa dikendalikan oleh akal sehatnya.


"Maafkan aku, aku akan mengurung jiwamu untuk sementara!" kata Yanuar.


.


.


Sekarang


"Kalian tak perlu bersusah payah!"


Suara langkah kaki sepatu pantofel menggema di penjara yang entah terletak di alam mana itu.


"Ini adalah urusanku, dengan Jiwa suci itu!" ujar pemilik suara yang tak lain dan tak bukan adalah Yanuar.


"Akhirnya kau muncul juga!" sahut Sarul.


Ellen segera melihat ke semua arah, namun ia tak melihat apa pun meski telinganya dapat mendengar semua ucapan Yanuar.


"Apa yang akan kau lakukan terhadap Melin?" teriak Ellen.


"Kami hanya akan mati bersama, hanya dengan cara itu.


"Semua kutukan, juga takdir yang terus berulang ini akan berhenti!" ujar Yanuar.


Sebuah ruangan gua yang hanya diterangi satu lampu obor kecil. Di situ Yanuar berdiri, di sela-sela dua tubuh manusia yang berbaring di dipan masing-masing. Tubuh Sarul dan Ellen diikat dengan tali merah yang aneh.


"Kalian akan bebas, jika aku mati. Jadi berdoa--lah, semoga Melin bisa membunuhku!" ujar Yanuar.


.


.


.


.


Suasana di dalam kamar dimana Melin dan Adrian berada. Masih dihinggapi kesunyian yang mendalam, kedua insan yang saling berpandangan itu. Mengekspresikan isi hati mereka masing-masing.


"Siapa kamu? Sebenarnya siapa kamu?!" tanya Melin.


Gadis belia itu memberanikan dirinya untuk bertanya pada lelaki yang mencengkeram hidupnya.


Posisi mereka masih sama, Adrian masih menopang tubuh ramping Melin dipangkuannya. Manik matanya yang mulai memerah menatap tajam ke arah mata Melinda.


"Aku...


"Maung Bodas, siluman harimau putih yang akan membunuhmu untuk Tuanku. Penjaga Pohon kehidupan di Alam Buana!" ujar Adrian.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2