
Siluman Banaspati
Melin mengibaskan rambutnya yang masih basah. Hari ini dia mencuci rambutnya yang kemarin kehujanan. Kesegaran dia rasakan di kepala dan tubuhnya. Setelah sekian lama ia bisa mandi dengan sangat tenang.
Hidupnya ketika di dekat Adrian begitu menyenangkan, dia tak merasakan kegugupan akan diserang oleh Siluman. Meski Melin berada di Desa yang penuh dengan Siluman aneh.
Ia keluar dari kamar mandi setelah berganti baju. Langkah kakinya menyusuri dapur, karena ia ingin menuju kamarnya. Namun Melin terenyuh saat melihat Adrian yang masih saja terjaga.
Lelaki itu begitu siaga, karena Melin yakin semalam Adrian sama sekali tak tidur. Lalu hari ini lelaki itu, tetap duduk tegak di ruang tamu dengan kewaspadaan yang amat tinggi.
"Kamu nggak tidur?" tanya Melin.
Adrian hanya memandang ke arah Melin sekilas, lalu fokus dengan aktifitasnya kembali. Duduk bersila, dengan mata batin mengawasi seluruh penjuru Desa.
Melin yang merasa dicuekin segera berjalan ke kamarnya, dia mencari hair dryer--nya untuk mengeringkan rambutnya.
Melin melihat bayangannya di kaca meja rias sederhana di kamarnya. Ia melihat wajah manisnya yang terbingkai rambut basah.
Dia masih bingung dengan apa yang sedang Adrian lakukan untuknya. Apa ini tugas yang diberikan oleh junjungan Adrian. Atau bentuk ketulusan lelaki itu terhadap keponakan.
Tentu saja hal yang kedua, dirasa oleh Melin sebagai jawaban yang salah. Karena Adrian tampaknya tak pernah menganggap Melin sebagai keponakan.
Lelaki itu tak akan menyetubuhi Melin, jika memikirkan tentang ikatan darah.
Melin belum sempat mengunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Tapi dia segera berlari ke luar dari kamarnya, karena dia merasakan sesuatu.
Saat Melin keluar dari kamarnya, Adrian sudah berdiri dari bersilanya.
"Apa itu?" tanya Melin.
"Banaspati!" ujar Adrian.
.
.
Seorang wanita setengah tua, dengan perawakan pendek dan rambutnya yang sudah bercampur menjadi dua warna, hitam dan putih uban. Matanya menelisik curiga ke arah rumah Adrian.
Wanita itu berdiri di depan rumah Adrian secara sengaja, karena Nek Yah. Warga Desa Air Keruh memanggilnya begitu.
Merasakan sesuatu yang aneh dari rumah Adrian, rumah kosong yang ditinggalkan oleh penghuninya beberapa hari yang lalu tersebut. Tampak memiliki aura kehidupan di dalamnya.
Wajah tuanya, terlihat sangat aneh. Karena seluruh kulit di tubuhnya seperti mengalami, luka bakar yang serius di masa lalu.
__ADS_1
Guratan keriput yang harusnya menghiasi wajah tuanya, tak terlihat sama sekali. Karena tertutup oleh kulit kusam yang sering mengelupas.
Manik matanya terus menelisik ke arah rumah Adrian. Entah apa yang wanita tua itu rasakan dari dalam rumah Adrian. Dia tersenyum menyeringai, dia senang karena apa yang dia incar ternyata ada di tempat itu.
"Akan kubunuh kau!" gumam wanita tua itu dengan suara yang amat lirih, tapi menakutkan.
Kedua tangannya merengang dari tubuhnya, jemarinya ia keluarkan dan bibirnya mulai komat-kamit tak karuan.
Seluruh kulit tubuhnya yang melepuh, mengeluarkan semburat warna merah yang aneh. Wanita tua itu terus merapalkan mantra-mantra aneh, di selingi dengan suara geraman dan desisan yang membuat mulutnya semakin menghitam lalu memerah sempurna.
Kedua tangannya mulai memerah juga, dan api yang berkobar muncul secara perlahan dari dalam genggaman tangannya. Api itu makin besar, seiring berjalannya waktu.
Nenek itu sudah tak mirip manusia lagi. Tubuhnya sudah memerah membara dan api besar sudah berada di kedua genggaman tangannya.
"Ahkkkkkkkkkkk!" mahluk itu berteriak kencang.
Bola api di tangannya segera melayang ke arah rumah Adrian.
Sementara Adrian dan Melin yang masih di dalam rumah. Mereka berdiri di ruang tamu, saling menatap dengan penuh kecemasan.
"Kau harus hati-hati, akan ada banyak api!" ucap Adrian.
"Api?" Melin tentu saja kaget dan kebingungan.
Bola api yang di lempar oleh Nek Yah melayang di atas rumah Adrian. Siluman banaspati berjenis kelamin perempuan itu tampaknya ingin membakar rumah Adrian.
Namun Adrian tak mungkin diam saja. Lelaki itu menghalau laju bola api dengan ajian Tebeng Angin. Ajian yang berelemen angin sebagai inti kekuatan, berfungsi untuk menghalau serangan lawan. Namun juga bisa digunakan untuk menyerang, dengan sifat serangan jarak jauh yang ampuh.
Bola api itu mental, dan melayang ke arah lain.
"Keparat!" Adrian sudah amat murka.
Lalaki gagah itu segera keluar, tetapi langkahnya terhenti karena Melin mengenggam tangan Adrian.
Hal yang begitu mengejutkan yang dilakukan oleh Melin itu, membuat Adrian menoleh ke arah Melin.
Tangan gadis manis itu bergetar, dan dingin. Adrian bisa merasakan kecemasan yang meliputi diri Melin.
"Hati-hati!" kata Melin.
Seolah tau bahwa ada mahluk mengerikan di luar sana, yang menantang adu tanding dengan Adrian.
"Seharusnya kau yang hati-hati!" kata Adrian dengan nada ketus. "Sebab kau tak kebal pada api!".
__ADS_1
Lelaki itu menghentakkan tangannya dengan kasar, agar genggaman Melin di tangannya terlepas. Lelaki itu tak ingin Melin terlalu mempedulikannya.
Sebab jika Melin sangat peduli kepada Adrian, Adrian takut Melin tidak dapat memenuhi tugasnya. Untuk membunuh seluruh siluman di bumi ini, termasuk dirinya.
Jika sampai Melin gagal membunuh seluruh siluman di bumi ini. Maka hidup gadis itu, selamanya tidak akan bisa tenang.
Para siluman pasti akan mengincar jiwa Melin, termasuk dirinya. Karena semakin lama siluman hidup di dunia, maka jiwa manusia mereka akan hilang secara perlahan-lahan.
Adrian takut jika Melin tidak membunuhnya kali ini, Adrian akan berubah menjadi siluman seutuhnya. Tanpa perasaan manusia yang tersisa di dalam dirinya, Adrian pasti dengan mudahnya akan membahayakan nyawa Melin.
Sepertinya perasaan cinta Melin terhadap Adrian sangat besar. Meski Adrian telah kasar padanya, namun Melin masih saja merasa khawatir dengan Adrian.
"Memangnya kamu kebal dengan api? tanya Melin kepada angin.
Karena Adrian sudah tidak ada di hadapannya lagi, pria gagah nan perkasa itu sudah keluar dari rumah. Untuk menghadapi siluman banaspati yang mencoba membunuh Melin.
.
.
.
.
Api terus berkobar dari dalam tubuh Nek Yah, yang dirasuki oleh Siluman Banaspati. Matanya menyala, karena api berkobar juga dari pupil mata wanita setengah tua tersebut.
"Wuarrrrrrrrr!" Siluman Banaspati itu mengaung.
Tak berhenti di situ, Siluman Banaspati juga mulai melancarkan serangan pada Adrian. Siluman berjenis kelamin perempuan itu, mengumpulkan bara api di genggaman tangannya.
Lalu melemparkannya ke arah Adrian secara membagi-buta. Namun Adrian bisa menangkis setiap bola api itu, dengan mudahnya. Siluman Harimau Putih itu, juga tidak membiarkan bola api yang dilempar oleh siluman banaspati sampai mengenai rumahnya.
Karena jika sampai ada satu saja bola api yang mengenai rumah Adrian, maka Melin yang berada di dalam rumah pasti ikut terbakar.
Adrian terus berjalan ke arah Siluman Banaspati, yang masih melemparkan ratusan bola api ke arahnya. Tak ada raut ketakutan di wajah Adrian, saat menghadapi siluman yang berelemen api itu.
Bola api yang ditangkis oleh Adrian, menyebar ke seluruh area. Sehingga Desa Air Keruh yang terkenal dengan suasana dingin yang asri menjadi panas membara.
Beberapa rumah warga terbakar karena terkena bola api. Perkebunan karet yang berada di sekitar rumah Adrian pun ikut terbakar.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1