Hujan Teluh

Hujan Teluh
Pembunuh Yosi


__ADS_3

Pembunuh Yosi


Rambut panjang yang ditata dengan sedikit acak-acakan, rambut yang hampir memutih seluruhnya. Perawakannya yang tak segagah dulu, dengan kulit keriput yang menyebar di setiap bagian tubuhnya.


Siluman Anjing Tua itu segera merubah wujudnya menjadi di Siluman Anjing Berkepala Tiga, karena dia harus menghadapi Adrian yang yang menantangnya adu tanding.


Kulitnya yang keriput memancarkan urat-urat yang teraliri oleh Cakra api, sedikit demi sedikit. Aliran Chakra yang mirip bara api itu meluas dan menyebabkan kulit Si Siluman Anjing Tua, berubah berbulu pendek dan melebar serta membesar.


Kepalanya yang awalnya baik-baik saja  tiba-tiba muncul kepala baru dari sisi kanan dan kiri leher Siluman Anjing Tua tersebut.


Meski pernah melihat pemandangan itu namun Melin masih saja bergidik ngeri. "Anjimmmmm, ngeri banget yang ini!". gumam Melin.


Sementara Adrian masih stay dengan tampang coolnya yang tak ada tandingannya. Dengan tatapan yang sangat siaga, siap untuk bertarung.


Tubuh tua Renta itu perlahan-lahan berubah menjadi Siluman Anjing Berkepala Tiga, yang terbang di udara.


Tiga kepalanya melolong ke arah Adrian dengan asap yang mengepul keluar dari mulut ketiga kepala Anjing itu. Tubuh Siluman Anjing Berkepala Tiga ini seolah-olah terbakar oleh api, karena dia tinggal di Lembah Neraka. Tentu saja Dia memiliki aliran Chakra Api Abadi. Di mana api yang dia keluarkan, tidak akan bisa dipadamkan oleh apa pun.


Wuarrrrrrrr


Ketiga mulut anjing dalam satu badan itu mengaum bersamaan, sambil berlari di udara mengarah kepada Adrian. Siluman Anjing Berkepala Tiga itu bisa menyemburkan api dari mulutnyanya dan menggigit lawannya dengan tiga moncong yang dia punya.


Tidak ada satu makhluk pun yang bisa selamat, setelah digigit oleh anjing berkepala tiga itu. Karena anjing berkepala tiga tidak mungkin membiarkan korbannya hidup, dia akan memakan mangsanya mentah-mentah.


Mengkoyak kulit tubuh mangsanya dengan gigi tajam di ketiga moncong besarnya.


Anjing sebesar banteng itu berlari di udara, menghampiri Adrian yang masih diam dengan tenang. Hanya sayap dari Ajian Tameng Sadewonya yang mengepak perlahan. Untuk menjaga dia tetap berada di udara.


Wusssssssss


Pergerakan Si Anjing Berkepala Tiga begitu cepat, ia terus berlari ke arah Adrian tanpa menoleh. Tiga kepalanya hanya fokus pada lelaki gagah yang dilindungi oleh chakra putih yang membentuk sosok harimau putih yang mengelilingi tubuh gagahnya.


Adrian segera mengeluarkan Pedang Subrono penghisap jiwanya, agar pertempuran ini tak begitu berlangsung lama. Sebab dia harus segera membantu Melin, untuk menutup segel Dunia Siluman yang masih terbuka.

__ADS_1


Tranggggggggg


Adrian segera mengayunkan Pedang Subrono kearah Siluman Anjing Berkepala Tiga yang sudah siap melahap dirinya. Sepertinya siluman itu belum ingin mati hari ini, jadi Si Anjing Berkepala Tiga itu menghindari sabetan pedang Adrian. Anjing itu refleks dan menjauh dari Adrian dengan cara melompati Adrian dan sabetan pedangnya.


"Pedang Subrono!" kata kepala tengah Siluman Anjing Berkepala Tiga, ia terkejut karena melihat pedang penghisap jiwa yang berada di tangan Adrian. "Bagaimana bisa Siluman rendahan sepertimu, bisa memegang pedang sakti milik Malaikat Putih?".


Adrian juga tampak kaget dengan perkataan yang baru saja dikatakan oleh Siluman didepannya. Dia tidak menyangka, bahwa Pedang Subrono awalnya adalah milik seorang Malaikat.


"Ternyata Malaikat Putih!" Ketiga kepala Siluman Anjing itu itu menoleh ke arah Melin. "Kau juga bisa melakukan kesalahan seperti ini!" pungkas Siluman Anjing Berkepala Tiga.


Orang yang dimaksud sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh moncong tengah Si Anjing.


"Aku akan membunuh pria ini! Agar kau tahu bagaimana rasanya, kehilangan orang yang sangat kau cintai!" ujar Si Siluman Anjing itu dengan nada penuh kemenangan.


Akhirnya Melin mengerti apa yang dimaksud oleh siluman itu. Setelah mendengar penjelasan Siluman Anjing Berkepala Tiga, Melin jadi mengingat bagaimana dia dulu begitu sangat kejam saat menghukum siluman-siluman yang memperbudak manusia, ataupun manusia-manusia memperbudak siluman.


Hati seorang malaikat mungkin bisa baik, namun ketika bertemu dengan seseorang yang melanggar hukum, mereka tidak mempunyai toleransi sedikitpun.


"Lawanmu adalah aku! Anjing cacat!!!" teriak Melin.


Gadis belia itu tanpa rasa takut, menantang Siluman Penguasa Lembah Neraka. Melin ingat bahwa Pedang Putih yang berada di tangannya, memiliki kekuatan yang yang tidak kalah kuat daripada Pedang Subrono.


Meski Pedang Putih yang saat ini diayunkan untuk menebas salah satu kepala Siluman Anjing itu tidak mempunyai kekuatan menyegel jiwa-jiwa yang dilukainya, namun pedang putih yang yang sekarang menjadi senjata utamanya itu mempunyai keistimewaan.


Pedang putih itu sudah menyatu di diri Malaikat Putih. Pedang itu akan melindungi Malaikat Putih dari apa pun setelah dibangkitkan.


Wussssssss


Meski Melin dapat melukai salah satu kepala Siluman Anjing itu, tetapi kepala yang lainnya mencoba untuk menyerang Melin.


Adrian yang melihat gadis yang ia cintai sedang dalam bahaya, segera melancarkan sebuah serangan ke arah Anjing Berkepala Tiga itu.


Adrian hanya bisa memikirkan satu ajian, karena kondisi sangat genting dan mendesak. Laki-laki gagah perkasa itu, menggunakan Ajian Tapak Langit, agar Siluman Anjing Berkepala Tiga sempat tidak sempat melukai Melin.

__ADS_1


Namun ajian yang paling sederhana yang dimiliki oleh Adrian itu, membuat Siluman Anjing Berkepala Tiga terlempar jauh ke dasar dan membentur tanah.


Tanah yang menjadi tempat mendarat tubuh Siluman Anjing sebesar Banteng itu, sampai retak-retak dan berhamburan ke segala arah.


"Kamu nggak papa?" tanya Adrian pada Melin.


"Om sendiri?" Melin malah balik bertanya.


Adrian hanya tersenyum getir ke arah Melin, lalu Adrian turun ke bawah tanpa menjawab pertanyaan Melin padanya.


Hatinya mulai sesak lagi, Adrian benar-benar tak bisa melihat Melin terluka. Ia seolah lebih sakit, jika melihat gadis yang ia cintai itu sengsara atau menderita.


Jiwa Melin adalah jiwa yang sama dengan Yosi, jiwa anak kecil yang sempat bertemu dengan Adrian 60 tahun lalu.


Saat itu Yanuar mengajak Adrian pergi ke Desa Air Keruh untuk mengadakan ritual penghancuran Jiwa Suci, atau warga sekitar lebih mengenalnya dengan ritual Hujan Teluh.


Menghancurkan Jiwa Suci bukanlah sebuah perkara yang mudah. Mereka harus menumbalkan banyak jiwa, agar Jiwa Suci dapat hancur seutuhnya.


Adrian dan Yanuar tiba di Desa Air Keruh sekitar tiga hari sebelum Bulan Merah bersinar. Mereka berdua langsung menemui Mbah Sodik, dan seperti dugaan Yanuar. Kinan wanita yang pernah bersetubuh dengan Yanuar hamil dan melahirkan seorang gadis dengan tanda melingkar di tangannya.


Tanda hitam itu adalah catatan dosa yang dimiliki oleh Sang Jiwa Suci.


Singkat kata Yanuar dan Mbah Sodik harus menyiapkan berbagai keperluan untuk ritual. Sementara Adrian diberikan perintah oleh Yanuar untuk menjaga Yosi, lebih tepatnya mengawasi Yosi dan Kinan supaya kedua ibu dan anak itu tidak kabur dari Desa.


Tiga hari Adrian hanya mengawasi Yosi dari jauh, namun perasaan iba di hati Adrian muncul tiba-tiba. Tetapi Adrian tak melakukan apa pun sampai ritual Hujan Teluh dilakukan.


Sampai ketika hari ritual berlangsung, Adrian berada di dalam gubuk karena dia bertugas membawa Yosi. Di tangan kekarnya sudah terpegang sebuah belati, Belati Pengasih.


"Ayo tikam dia!" perintah Mbah Sodik yang baru saja masuk ke dalam gubuk itu.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2