
Putri Kerajaan
"Jangan-jangan kau tidak tahu? Jika Adrian hanya memanfaatkanmu agar dia bisa menjadi Siluman?!" tanya Insagi.
Jendral semakin bingung, tapi raut kekesalan muncul di wajah manis Melin yang menjadi wajahnya kini.
"Saat dia pura-pura mencintaimu, dia hanya ingin bercinta denganmu.
"Agar dia bisa mendapatkan darahmu, dengan persetujuanmu!
"Karena hanya dengan cara itu makhluk seperti dia bisa menjadi sempurna!" jelas Insagi yang masih memeluk tubuh ramping Melin dengan begitu erat.
"Darah?" tanya Jendral.
Lelaki muda itu tidak habis pikir, jika Adrian ternyata hanya pura-pura menyukai Melin. Padahal dia sudah mengalah, karena merasa kedua orang itu saling mencintai.
Jendral jadi berpikir, kapan pertama kali Melin bercinta dengan Adrian. Apakah saat Adrian membawa Melin ke provinsi Bengkulu, atau sebelum ia menolong Melin di Gubuk Reot.
Bayangan Melin dan Adrian yang berciuman dengan penuh nafsu pagi tadi, kembali berputar di otak Jendral.
"Jika kau bisa merubah aku menjadi Siluman yang sempurna seperti dia!
"Aku janji, aku akan membunuh Adrian untukmu!" kata Insagi.
Jendral memejamkan matanya dan mencoba menelaah, apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Dia tahu alasan Melin diburu oleh semua Siluman. Mungkinkah Insagi hanya membodohinya, agar Melin mau memberikan darahnya untuk Insagi secara cuma-cuma.
"Lepaskan aku dulu!" ujar Jendral yang masih berwajah Melin.
Insagi menuruti permintaan Jendral, dengan cepat Jendral mundur tetapi matanya masih menatap ke arah Insagi.
Banyak hal yang ingin Jendral tanyakan pada Insagi, tapi apa iya dia bisa bertanya pada Siluman Burung Garuda itu sekarang.
Dia tak sedang di situasi yang pas, dia ingin memihak siapa. Dia pasti akan memihak Melin, apa pun yang terjadi Jendral tak akan meninggalkan Melin. Itu takdirnya.
Tiba-tiba ia kembali mengingat perkataan Yanuar.
'Jangan goyah seperti di masa lalu. Kau harus lebih kuat, kau harus menggenggam tangannya lebih erat. Meski dia ingin menghindarimu, kau harus bertahan. Karena hanya kau yang bisa mengembalikan semua ketempat asalnya.
'Hanya itu satu-satunya cara agar Melin bisa hidup!'
Jendral terdiam, dia merenung di dalam pikirannya. Apakah ini yang dimaksud oleh Yanuar? Dia sama sekali tak boleh goyah, benar-benar tak boleh goyah.
'Tepati Janji kalian, lindungi dia sampai akhir!'
Itu kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Yanuar kepada Jendral. Lalu Jendral segera ingat pesan Jacson padanya, "Serang dia, sekuat tenagamu. Insagi tidak mempunyai kekuatan fisik yang bagus! Dia hanya hebat dalam memanipulasi pikiran orang lain.
__ADS_1
"Sedangkan kau sudah menggunakan kalung mata kiri ini, kau tidak akan dapat dipengaruhi oleh Insagi!"
Untuk pertama kali dalam hidupnya Jendral mengeluarkan chakra merahnya. Ia memusatkan aliran chakra di tangannya, lalu menghempaskan semua chakra yang diserap ke arah Insagi, yang baru menyadari bahwa manusia di depannya bukanlah Jiwa Suci yang dia cari.
Bllllaaaaammmmmmmmmmm
Tak hanya dentuman tetapi seperti sebuah aliran energi yang amat kuat. Hanya sekali hentakan Jendral dapat meluluh lantahkan bagian belakang istana megah Insagi.
Siluman Burung Garuda itu terpental cukup jauh, sementara Jendral masih berdiri di tempatnya. Atap mewah kamar yang ia tempati sudah tak ada di atas kepalanya lagi. Kamar yang ia tempati pun berubah menjadi ruang terbuka dengan puing-puing bangunan yang berserakan di mana-mana.
Debu putih mengepul tinggi di udara, Jendral melihat tangannya telah berubah menjadi tangannya sendiri. Karena dia melepaskan chakra di tubuhnya, maka tubuhnya akan secara langsung berubah ke wujud aslinya.
.
.
.
.
Melin yang masih berwujud Jacson mulai merasakan perubahan dalam dirinya sudah hampir tiga jam, dia berubah menjadi Jacson dan ini sudah waktunya dia berubah kembali menjadi Melin kembali
Adrian masih berdiri di tempatnya di mana dia diikat Cambuk Kecrek Kecubung oleh Laksmana. Lelaki gagah itu harus menetralkan aliran-aliran listrik yang masih tersisa di tubuhnya, dia tidak ingin melukai Melin, jadi Adrian hanya bisa melihat Melin dari jauh.
Adrian menyaksikan bagaimana tubuh Merin kembali berubah menjadi diri Melin sendiri. Tetapi anehnya Melin berubah dan pakaiannya juga berubah.
Dia masih ingat betul waktu dia berubah menjadi Jacson dia mengenakan hoodie dan juga celana jins biasa. Tapi kenapa sekarang dia malah mengenakan pakaian putri raja di jaman kerajaan, lengkap dengan hiasan rambut yang sangat detail.
"Kenapa bisa begini?" tanya Melin bingung.
Di tempatnya berdiri Adrian tertegun saat melihat sosok Melin dengan pakaian putri kerajaan, lelaki itu merasa sangat familiar dengan penampilan Melin yang seperti itu. Padahal Melin belum pernah mengenakan pakaian tradisional apa pun.
"Yuna!" gumam Adrian lirih.
Entah dari mana Adrian bisa mengatakan nama tersebut, dia juga baru sadar setelah mengatakannya.
Bahkan Adrian yang tadi berencana untuk tidak mendekati Melin, sampai aliran listrik di tubuhnya stabil. Malah berlari cepat ke arah gadis yang sekarang lebih mirip pemain sinetron kolosal daripada ABG generasi micin.
Kedua tangan Adrian langsung menggenggam kedua tangan Melin juga.
"Akkkkkkkkk!" pekik Melin.
Adrian baru sadar dia telah melakukan hal yang bodoh, lelaki itu langsung melepas genggaman tangannya dari tangan Melin.
"Ada apa?" tanya Adrian.
"Tangan Om nyetrum tahu!!!" ujar Melin kesal.
__ADS_1
Melin menggerak-gerakan 10 jarinya, karena kelu akibat sengatan listrik yang disalurkan oleh Adrian kepadanya.
"Maaf!" ujar Adrian. "Sudah tiga jam ya?". Padahal Adrian dari tadi melihat perubahan Melin, tapi dia baru sadar bawa Melin telah berubah menjadi dirinya sendiri.
"Iya, seharusnya sudah sore!" ujar Melin.
Matahari masih berada di atas kepala mereka, seharusnya hari ini sudah pukul lima sore.
"Kita berada di salah satu area Alam Buana! Di sini tidak ada siang ataupun malam!" sahut Adrian.
"Bukankah aku tampak aneh?"
"Tidak...Kau sangat cantik!"
Adrian tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap kecantikan Melin, yang tidak pernah dia saksikan sebelumnya. Biasanya gadis manis itu berpenampilan tomboy dan tidak pernah menggunakan riasan apa pun.
Ini adalah pertama kalinya Adrian memuji Melin, gadis belia itu tidak mungkin tidak tersipu saat lelaki yang dicintainya memujinya cantik.
"Trimakasih!" ucap Melin dengan nada bahagia tapi dia tahan.
"Jika kau ingin tersenyum, tersenyumlah! Aku ingin melihatnya!" ucap Adrian lagi.
Seketika manik mata Melin langsung mengarah ke arah mata Adrian.
"Enggak ada yang lucu! Kenapa aku harus tersenyum?"
Melin tidak peka dengan permintaan Adrian, lelaki itu ingin melihat senyum Melin sebanyak-banyaknya malam ini. Mungkin besok mereka sudah tidak berada di dunia yang sama lagi, entah Adrian yang mati atau Melin yang mati.
"Kau harus ingat. Bahwa kau tidak boleh ragu, nanti!" Adrian bicara sangat serius sekali.
"Aku akan membunuh mereka semua, setelah kekuatanku muncul!
"Tenang saja...Aku tahu masalah itu, aku akan langsung membantu Om. Jika aku merasakan kekuatan itu!" ucap Melin.
"Sebelum itu apa yang harus kulakukan?"
"Berlindung, jangan sampai ada Siluman yang melukaiku!"
"Salah...! Kau harus tetap ada di dekatku, agar aku bisa memandangmu!" Adrian benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya, namun lelaki itu tahu tugasnya hanyalah sebatas melindungi Melin sampai bulan merah selesai bersinar.
"Jika kau berada di jarak yang bisa kupandang, maka aku akan bisa dengan cepat melindungimu! Jadi kau harus tetap di dekatku!" ralat Adrian.
Pandangan keduanya saling bertautan, perasaan di hati mereka penuh dengan keharuan. Meleburkan rasa ragu yang tersemat di pikiran masing-masing.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1