Hujan Teluh

Hujan Teluh
Lawan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Tubuh kekar Adrian mulai bergerak, pandangannya masih kabur. Namun Adrian memaksakan matanya untuk terbuka. Perlahan tapi pasti, Adrian berusaha untuk duduk. Meski hanya rasa sakit yang dia rasakan, Adrian tetap mengerakkan tubuhnya.


Kepalanya terasa mau pecah, nyeri yang amat menyakitkan. Membuat Adrian meringis kesakitan, salah satu tangannya mencengkeram erat kepalanya. Lelaki itu sudah terduduk, pandangan matanya segera mengitari ruangan yang dia tempati.


"Kenapa aku bisa di sini!" kata Adrian.


Lelaki itu, mengenali bagian dalam bangunan yang ia tempati kini. Namun cara dia datang kesini, Adrian sama sekali tak mengingatnya. Bagaimana bisa dia berada di dalam pondokan yang eyangnya bangun. Padahal bangunan itu berada di Lubuk Linggau, sedangkan Adrian masih ingat betul jika ia berada di Bengkulu malam tadi.


Adrian mencoba berdiri tapi dia malah memutahkan darah segar dari mulutnya. Rasa sakit yang amat sangat kembali Andrian rasakan, di bagian perut dan dadanya. Hingga rencananya untuk berdiri, menjadi terhambat karena rasa sakit itu.


Peluhnya keluar membasahi keningnya, dengan susah payah Adrian tetap berusaha berdiri. Sedikit membungkuk, tangan kirinya menekan perutnya yang sakit. Tangan kanannya memegangi dinding di sebelahnya, dia buat untuk menopang tubuhnya yang sempoyongan.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah kursi kayu sederhana hasil karyanya sendiri. Adrian berusaha meraih kursi kayu itu, lalu dia duduk di atasnya. Ia masih merasakan rasa sakit yang amat sangat di area perutnya, Karena penasaran Adrian menyingkap kaosnya ke atas.


Benar saja ada luka lebam yang membiru di perut datarnya.


"Kenapa ini?" tanya Adrian pada dirinya sendiri.


Karena merasa sangat gerah, Adrian melepas jaket dan juga kaosnya meski dengan menahan sakit. Saat diam saja rasanya amat sakit, apa lagi untuk bergerak dan melepas seluruh pakaian bagian atasnya.


Pandangannya masih tertuju pada luka lebam di perutnya. Ia menerka dan mencoba mengingat, bagaimana Ia mendapatkan luka di perutnya.


Sekelebat ingatan muncul di dalam otaknya, ingatan tentang pertarungan. Wajah seksinya seketika mengernyit bingung, matanya memicing tajam namun pandangannya kosong.


Adrian tak pernah merasa pernah bertarung di pesantren, namun ingatannya tentang pertarungan semalam mulai muncul dan tampak jelas. Kepalanya kembali sakit, pijatan lembut ia daratkan di kedua keningnya. Tangan kiri Adrian terus memijat keningnya, hingga dia mengingat. Ia membawa Melin dari pesantren itu.


Segera pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, tapi manik mata Adrian tak dapat menemukan sosok keponakannya. Rasa sakit di perut Adrian belum berkurang, namun dia tetap berusaha berdiri.


Dengan langkah yang tertatih Adrian berjalan pelan kearah pintu pondok. Ia buka pintu itu lalu Memanggil nama keponakannya.


"Melllll, Melin!!!" teriak Adrian sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Wajah seksinya mulai memucat, namun Adrian tetap berjalan ke arah mobilnya. Adrian yakin sekali Melin pasti sudah pergi dari tempat ini, namun dia tidak bisa mencari Melin karena keadaannya. Satu-satunya cara yang dipikirkan Adrian adalah menghubungi Melin, atau siapa pun yang bisa dihubungi.


Adrian membuka pintu mobilnya dan mengambil ponselnya yang berada di atas dasbor mobil. Karena gerakan yang cukup memaksa, saat mengambil ponsel. Kini rasa sakit kembali menjalar di area perut Adrian.

__ADS_1


Matanya terpejam dan kepalanya mendongak, otot-otot di wajah dan lehernya mengejang karena menahan rasa sakit.


"Akhhhhhhhh! Akhhhhh!!!" Lungguh Adrian tertahan.


Setelah rasa sakitnya sedikit mereda, Adrian mulai melihat ke arah ponsel. Dia menghubungi Lastri ibunda Malin.


Tutttttttt


Tutttttttt


"Di mana Melin!!!" Lastri langsung berteriak saat mengangkat panggilan itu.


Adrian yang masih bersandar di samping  mobilnya, sambil menahan rasa sakit. Ia mengatakan pada Lastri, "Melin tidak bersamaku, Mbak. Kurasa dia kabur ke dalam hutan!".


"Apa kau yakin putriku masih hidup?" tanya Lastri dengan nada yang sangat khawatir.


Adrian memejamkan bola matanya perlahan dan mencoba mengingat, apakah dia sempat melukai Melin.


"Kurasa aku belum sempat melukainya!" ujar Adrian dengan nada yang amat lemah.


Suara yang ia dengar dari balik panggilan, membuat Adrian bernapas lega. Adrian yakin teriakan itu adalah suara Melin, gadis manis yang sangat ia cintai.


TuT ...TuT...TuT


Panggilannya ditutup oleh Lastri, padahal Adrian masih ingin mendengarkan suara Melin. Adrian sangat merindukan kekasihnya, namun dia tidak dapat menemuinya atau--pun mengatakannya. Dia hanya bisa menahan dan menyimpan perasaan yang amat besar itu.


Rasa sakit yang yang berada di perutnya bahkan belum hilang, tapi rasa sakit yang lain muncul hingga membuat Adrian bersimpuh di atas tanah. Ia sama sekali tak berdaya, dengan keadaannya saat ini. Isakan lirih terdengar dari mulut Adrian, meski dia kuat. Namun cobaan ini tampaknya mampu membuat Adrian melemah.


"Kau harus membawanya sebelum bulan merah itu muncul!" kata seorang lelaki, yang keluar dari sebuah celah di tebing depan pondok yang ditempati Adrian.


Adrian tampak tak kaget, ketika mendengar suara lelaki itu. Dia masih bersimpuh dan tak ingin bergerak, meski pria pemilik suara itu mendekatinya.


"Kenapa bukan kau saja, yang mengambil putrimu sendiri?" kata Adrian lirih.


"Apa kau lupa? 10 tahun yang lalu kau berjanji akan membawa tumbal suci untuk kebebasan Desa?!" kata pria yang baru saja keluar dari dalam celah bebatuan tebing di samping pondok Adrian.

__ADS_1


"Jadi Melin adalah tumbal suci itu?" tanya Adrian.


Wajahnya mendongak dan memandang tajam ke arah Wajah pria yang sudah berdiri di depannya.


"Apa kakak mengambil perantara itu, untuk melahirkan Melin?" tanya Adrian.


Wajahnya memerah, raut mukanya menegang dan suaranya Mulai serak. Adrian marah pada ada pria di depannya.


Dengan susah payah Adrian berusaha berdiri, dia memegangi pakaian pria di depannya agar dia dapat berdiri. Setelah dia dapat berdiri tegak, kedua tangannya meremas kerah kemeja yang dikenakan pria itu.


"Kenapa Kakak nggak bilang jika Melin adalah tumbal suci itu???


"Kenapa  kakak nggak bilang dari dulu?


"Kenapa baru sekarang!!!" tanya Adrian kepada pria didepannya dan pria di depannya adalah kakaknya sendiri yaitu itu Yanuar.


"Memangnya kau pernah bertanya?


"Kau juga tidak peduli. Meski aku mengatakannya," ujar Yanuar.


Adrian seketika terdiam, dia melonggarkan cengkrama kedua tangannya di kerah baju kakaknya. Tubuhnya yang terluka kembali terhuyung ke belakang, bersandar di samping mobilnya. Ingin rasanya ia mengutuk dirinya sendiri karena kecerobohannya.


Kini Adrian baru sadar bahwa hanya dia yang akan membahayakan hidup Melin, dan hanya dia yang sanggup membunuh Melin. Sebab dia telah melakukan perjanjian dengan Nyai Blorong 10 tahun silam.


Adrian telah menerima syarat menjadi pengikut setia Nyai Blorong. Dengan perjanjian, bahwa Adrian akan membawa tumbal suci sebagai bayaran HUJAN TELUH yang akan dihapuskan. Iya menyanggupinya saat itu, namun ia tidak sadar jika kesanggupannya waktu itu akan membuatnya merana seperti ini.


"Pulihkan dirimu terlebih dahulu! Jangan memikirkan hal lain.


"fokuslah pada perjanjianmu dengan Nyi Blorong!" ujar Yanuar.


Manik mata Adrian bergetar, tubuh serta jemarinya pun ikut bergetar. Dia merasa sekujur tubuhnya kini melemah tak berdaya. Dulu dia berpikir, ia adalah pria yang paling kuat. Namun saat ini Adrian merasa tidak bisa melakukan apapun.


Meski dia ingin melawan, Adrian tidak akan bisa melawan. Karena musuh yang harus dihadapi adalah dirinya sendiri.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2