Hujan Teluh

Hujan Teluh
Saling berkorban


__ADS_3

Mereka itu adalah sepasang puzzle, yang dipisahkan oleh takdir. Api cinta mereka tidak pernah padam, meskipun zaman memisahkan.


Ketulusan cinta mereka yang abadi, memberikan sebuah bingkai yang rumit.


Pihak utama dia yang menyayangi setiap makhluk yang dia temui. Membuat prasangka buruk di hati pihak ketiga, pihak kedua yang tidak tahu apa-apa hanya bisa tertunduk akan takdir dan cinta.


.


.


Musim semi selalu datang setiap tahun, entah itu pendek ataupun panjang. Tapi tahun ini sepertinya musim semi yang menghampiri Lastri dan juga Sarul berlangsung cukup singkat.


"Kita harus melakukan Ritual Hujan Teluh! Sebelum seluruh penduduk Desa Air Keruh meninggal semua!" ujar Yanuar.


Yanuar, Jacson dan juga Sarul sudah duduk di ruang tamu rumah Yanuar. Pondok pinggir tebing.


Gubrakkkkk


Sarul berdiri, wajah kalemnya sudah berubah bengis.


"Kalian udah gila apa?


"Kenapa kita harus bertanggung jawab tentang mengadakan ritual, menjijikan itu?!" bentak Sarul dengan nada yang cukup tinggi.


"Memang siapa lagi?! Ayahku sudah meninggal.


"Hanya aku satu-satunya orang yang paham, tentang ritual itu itu!" ujar Yanuar nada bicaranya juga tak kalah kasar dari Sarul.


"Kita harus mengadakan ritual itu, apapun caranya!


"Kita tidak bisa membiarkan seluruh warga Desa Air Keruh, meninggal konyol. Seperti warga desa Pilip, 40 tahun yang lalu!" sahut Jacson, dia menengahi perdebatan kedua sahabatnya.


"Jacson!!! Kau itu orang yang paling terpelajar di desa ini!


"Kenapa kau mendukung hal yang yang menjijikkan seperti itu?" bentak Sarul.


"Kita semua tahu, bahwa kutukan Hujan Teruh itu nyata!" ujar Jacson.


"Apa kau tidak kasihan?! Jika ada perempuan lain yang bernasib sama dengan Arinda?!" ujar Sarul.


Ketiganya diam, suasana berubah hening.


"Karena aku merasa bersalah kepada Arinda. Kita harus menyelesaikan ini secepatnya.


"Jangan sampai ada lebih banyak gadis lain yang bernasib sama dengan Arinda!" ujar Jacson.


Jacson menahan emosi di hatinya. Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa Arinda menjadi salah satu tumbal untuk Hujan Teruh.


"Aku harus menebus kesalahanku, karena telah meninggalkannya!


"Aku harus membuatnya kembali dan membahagiakannya!" tekat Jacson.


"Dengan mengorbankan wanita lain?" tanya Sarul.

__ADS_1


Pemuda pekerja keras itu juga sedang menahan emosi di hatinya. Dia tahu benar siapa tumbal yang harus berkorban untuk ambisi Jacson tersebut.


"Aku bahkan bisa mengorbankan nyawaku sendiri untuk Arinda.


"Aku tidak keberatan menjadi pembunuh, dan membunuh semua orang untuk Arinda!" ujar Jacson.


"Jangan bodoh Jacson! Arinda sudah pergi.


"Dia tidak akan bisa kembali lagi, apa pun yang akan kau lakukan. Itu hanya akan sia-sia!" ujar Sarul.


"Arinda belum meninggal! Nyawanya hanya dikurung oleh Nyai Blorong di Alam Buana!" ujar Yanuar.


"Aku harus mengeluarkan Arinda dari sana!" tekat Jacson.


Lastri gadis yang ia cintai atau Arinda sahabat karibnya, siapa yang akan ditolong oleh Sarul. Sarul harus mengorbankan salah satu dari keduanya.


Pilihan yang tidak dapat dipilih oleh Sarul. Kebimbangan di hatinya membuatnya diam, di depan kedua sahabatnya yang sedang menyusun rencana untuk mengelabuhi para mahasiswa KKN. Agar mereka mendapatkan Lastri untuk menjadi perantara Kutukan Hujan Teluh.


Malam itu juga Sarul memutuskan untuk mengajak Lastri pergi dari Desa.


Sarul yang begitu hafal dengan seluk-beluk rumah, yang ditempati oleh mahasiswa yang sedang KKN itu. Segera memanggil Lastri dari luar rumah, saat itu jam 11 malam. Tapi Lastri keluar juga, bukannya merasa tertanggu. Gadis itu suka dibangunkan oleh Sarul malam itu.


"Kamu harus pergi, Mbak Lastri!" ujar Sarul langsung tanpa basa-basi.


"Kamu kenapa sih, Rul?" tanya Lastri.


Datang-datang Sarul langsung memasang wajah cemas, tentu saja Lastri langsung bisa menebak bahwa ada yang nggak beres.


"Aku--kan udah bilang. Aku nggak akan pergi dari sini!" kata Lastri.


"Kita pergi berdua!" ujar Sarul.


Bagaikan disambar petir di siang bolong. Lastri tak menyangka Sarul akan seberani itu.


"Kita pergi dari sini!


"Mbak Lastri mau--kan hidup berdua dengan saya. Meski harus jauh dari keluarga?" tanya Sarul.


Lastri tertegun, otaknya seakan beku. Tawaran Sarul untuknya, sangatlah mengiurkan. Hidup berdua dengan pria yang ia cintai, pasti akan sangat indah.


Namun harga yang harus dibayarnya juga cukup mahal. Meninggalkan pendidikan dan juga keluarganya yang kaya raya.


"Kamu nggak akan menyesal, mengajakku pergi?


"Aku pemalas! Aku nggak bisa melakukan banyak hal?!" ucap Lastri.


"Mbak yakin, semua akan baik-baik saja. Jika kita saling percaya!" Sarul meyakinkan wanita di depannya.


Semua pasti sedang cemburu menyaksikan, betapa yakinnya Sarul.


Singkat kata, Lastri mau diajak Sarul pergi dari Desa Air Keruh. Mereka tak langsung ke Jakarta, mereka hidup berdua di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.


Mereka menikah meski hanya ijab kobul saja, tanpa mendaftarkan ke absahanya ke Kantor Urusan Agama.

__ADS_1


Enam bulan sudah Sarul dan Lastri pergi dari Desa Air Keruh. Mereka menyewa sebuah rumah petak kecil di pinggir kota. Sarul yang masih muda hanya bisa mencari pekerjaan serabutan untuk menghidupi Lastri yang tengah hamil muda.


Sore itu hujan amat lebat. Sarul menaiki angkot berwarna merah, lima menit lagi dia akan melihat wajah istrinya yang cantik. Senyuman manis Lastri selalu terngiang di benak Sarul. Lelaki muda itu amat sangat mencintai istrinya, dia melupakan banyak hal.


Tepatnya semua hal, yang dia pikirkan saat ini hanyalah membahagiakan Lastri yang sedang mulai mengandung buah cinta mereka.


Meski Lastri terlihat lelah, karena tak biasa mengerjakan pekerjaan rumah. Apa lagi gadis malang itu telah mengandung seorang janin yang amat ia inginkan. Namun Lastri tetap tersenyum cerah ketika suaminya pulang dari bekerja.


Tok-tok-tok-tok-tok


Jegrekkkkkk


Hari itu Sarul tak melihat senyum di wajah cantik istrinya. Gadis itu terlihat murung.


"Langsung mandi aja, Mas! Biar nggak masuk angin!" ujar Lastri.


Sarul menuruti perkataan istri tercintanya. Dengan perasaan gamang dan langkah yang berat, Sarul pergi ke kamar mandi yang terletak di ujung belakang rumah petak itu.


Dia mandi, sambil memikirkan banyak hal. Hatinya sangat kalut, dengan berbagai prasangka.


"Kamu kenapa, Las?" tanya Sarul pada istrinya yang sedang menyiapkan makan malam mereka berdua.


"Nggak papa, hanya sedikit capek aja!" ujar Lastri.


"Yakin nggak papa?" tanya Sarul.


"Nggak!"


Jawaban-jawaban yang Lastri lontarkan untuk menjawab pertanyaannya, membuat Sarul semakin khawatir. Istrinya yang biasanya sangat cerewet, menceritakan banyak hal tentang pengalaman sehari-harinya, ketika dia pulang kerja. Kini hanya menjawab pertanyaan dengan kata-kata singkat.


"Kalau kamu capek! Kamu tidur aja.


"Nggak usah bersih-bersih, biar aku yang membersihkan rumah setelah pulang kerja!" ujar Sarul.


Perkataan Sarul hanya dijawab oleh Lastri dengan tatapan nanar penuh kesedihan.


"Aku ingin pulang, Mas!" kata Lastri.


Selalu mencoba tidak kaget, hampir tujuh bulan Lastri terpisah dari keluarganya. Tentu saja gadis itu merindukan orang-orang terdekatnya.


"Tapi kamu lagi hamil muda, Las! Kamu yakin akan pulang sekarang?" tanya Sarul.


"Nanti kalau perutku semakin besar. Aku makin nggak berani pulang!


"Lagian juga cuma sebentar, mungkin aku hanya akan di sana selama dua minggu!" ujar Lastri.


Tanpa merasa curiga tentang hal lain, Sarul mengiyakan permintaan Lastri untuk pergi menemui keluarganya yang berada di Jakarta. Bagaimanapun Sarul tidak mempunyai hak untuk melarang Lastri berkunjung ke tempat orang tuanya.


Keesokan harinya Sarul Mengantar Lastri ke terminal. Meski perasaannya mengatakan untuk tak merelakannya, namun Sarul tak bisa mencegah istrinya itu.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2