
Matador-Matadoran
Siluman Babi yang menghadapi Jacson, hanya berlari kesana kemari. Untuk menghantam tubuh Kades Air Keruh yang kini berwujud kelelawar besar.
Siluman Kelelawar itu sedang bertengger di atas pohon sawit, dengan posisi kepala dibawah sambil memperhatikan lawannya. Yang masih saja mencoba menyeruduknya dari bawah sana.
"Kenapa aku selalu mendapatkan musuh yang berbulu?
"Meskipun bulu babi ini, cukup pendek. Tapi tetap saja membuatku merasa geli!" ujar Jacson tidak suka.
Karena melihat lawannya hanya dipermainkan oleh Jacson. Siluman banteng yang dari tadi memperhatikan pertarungan kedua temannya. Segera berubah menjadi wujud Silumannya yang berupa Banteng sebesar Gajah.
Sebagai Siluman Kelelawar yang mempunyai intuisi yang bagus. Jacson segera menyadari bahwa Siluman lain sudah mengincarnya.
Jacson segera merubah posisinya yang gelantungan dengan kepala di bawah. Menjadi berdiri di atas dahan pohon sawit yang tak kokoh. Tetapi Jacson mempunyai ajian meringankan tubuh yang sangat hebat. Sehingga dahan pohon sawit yang yang lemah itu, dapat menopang berat tubuhnya yang mungkin lebih dari 70 Kg.
"Wuarrrrrrrrrrr!"
"Astaga, apa itu?" teriak Jacson dengan nada yang melengking tinggi.
Dia segera mengepakan sayap kelelawarnya agar dia bisa terbang lebih tinggi. Karena apa yang menghampirinya pasti akan menemukan tubuhnya. Jika Jacson sampai terkena satu serangannya saja.
Dilihat dari ekspresi dan gelagat Siluman Banteng sebesar Gajah itu, tak punya belas kasihan atau hati nurani. Untuk melepaskan Jacson dari amukannya.
"Harusnya kau keluar pas Idul Adha!" nasehat Jacson kepada Siluman Banteng.
Jacson tidak menyangka jika Siluman Banteng yang tinggal di desa yang dia pimpin, mempunyai bobot yang cukup berat. Jika Kades Air Keruh itu tahu, Jacson pasti tidak akan berani bertingkah konyol tadi.
Mana mungkin Jacson secara terang-terangan mengibarkan bendera perang, dihadapan makhluk sebesar ini.
Perkataan Jacson tadi hanya di sahut oleh auman keras dari Sang Siluman Banteng, yang sudah berada di puncak emosinya.
"Sayang sekali aku nggak bawa kain merah!" ujar Jacson. Yang malah mempunyai ide untuk main Matador-Matadoran dengan Si Siluman Banteng Besar.
"Cepat bunuh, Siluman bodoh itu!" teriak Adrian dari tempatnya mengalahkan Siluman Kelabang.
Adrian tentu saja marah, dia telah membunuh tiga Siluman. Sementara Jacson malah hanya main-main saja dari tadi.
"Apa kau benar-benar ada di pihakku?" Adrian mencurigai Jacson lagi.
"Baperan banget sih, jadi Siluman!" keluh Jacson.
Jacson yang sudah didesak oleh Adrian, hanya bisa memandang nanar ke arah Siluman Banteng yang sudah siap menghajarnya.
"Sial sekali, hari-hari tuaku!" gumam Jacson, ia mulai terbang ke arah Siluman Banteng yang ternyata juga sedang mengejarnya.
__ADS_1
"Ok mahluk berbulu pendek, mari kita ukur. Berapa banyak darah yang kau miliki?!" ujar Jacson.
~¤~¤~¤~¤~¤~¤~
Di dalam mobil, Melin dan Jendral sama sekali tidak mengalihkan pandangan mereka dari pertempuran yang terjadi di luar.
"Aku merasa seperti sedang dibioskop, untuk menyaksikan The Twilight Saga!" ujar Melin.
Jendral mengernyitkan dahinya ke arah Melin, lelaki itu tidak tahu apa yang dimaksud oleh Melin.
"Kamu nggak tau, The Twilight Saga?" tanya Melin.
"Memang apa itu?" tanya Jendral masih bingung.
"The Twilight Saga adalah seri lima film fantasi romantis bertema vampir dari Summit Entertainment.
"Berdasarkan empat novel yang diterbitkan oleh penulis Stephenie Meyer.
"Film ini dibintangi oleh Kristen Stewart, Robert Pattinson dan Taylor Lautner.
"Serial ini telah meraup lebih dari $3,4 miliar di seluruh dunia!" jelas Melin panjang lebar kali tinggi.
"Film?" tanya Jendral.
"Pernah di Youtube!" katanya.
"Untunglah, ada Youtube.
"Jika tidak anak desa seperti dirimu, pasti hanya tahu cara bermain kelereng!" ujar Melin.
"Biasa saja,
"Aku lebih suka bermain kelereng ,daripada bermain perang-perangan di ponsel!" kata Jendral.
Melin tidak mau membahas hal ini lebih lanjut dengan Jendral, karena suasana yang terjadi di tempat ini. Sama sekali tidak mendukung untuk membicarakan omong kosong yang tidak berguna.
Melin bisa melihat beberapa kobaran api dan cukup banyak pohon-pohon yang rubuh di sekitar tempatnya kini.
Lalu dia juga bisa melihat banteng yang besarnya bagaikan seekor gajah yang sedang hamil.
Dia juga bisa melihat Adrian yang yang menggunakan Ajian Tameng Sadewo yang lebih mirip seperti roh halus yang sedang berperang. Karena tubuh Adrian dikelilingi oleh asap putih yang bentuk seperti harimau, serta kornea matanya yang tak terlihat karena berwarna putih seluruhnya. Membuat Adrian mempunyai penampilan yang cukup menyeramkan bagi Melin.
Terlebih lagi penampilan Jacson yang membuat Melin merinding. Kades Desa Air Keruh itu, benar-benar berwujud seperti kelelawar sungguhan namun besarnya seperti manusia pada umumnya.
Melin memikirkan, jika dia nanti selamat dari tempat ini. Apa yang akan dia katakan kepada orang-orang.
__ADS_1
Pasti tidak akan ada yang percaya, dengan semua celotehannya tentang makhluk-makhluk yang kini tunggang-langgang di depannya.
Haruskah dia pura-pura lupa ingatan dan menjadi gila dalam beberapa hari. Ketika dia selamat nanti.
Tetapi apa yang ditinggalkan oleh makhluk-makhluk ini pasti bisa menjadi bukti. Tidak mungkin pohon-pohon sawit yang rubuh itu bisa berdiri kembali.
Pemukiman rumah warga di sekitar rumah Adrian, juga tidak mungkin bisa dibangun dalam jangka waktu semalam.
Semoga saja kerusakan yang terjadi di Desa ini tidak berlanjut.
Namun Melin kembali mengingat tentang takdir Nenek Yah yang ia lihat pagi tadi.
Apakah benar hanya Melin yang akan selamat dari bencana ini. Atau ada beberapa orang selamat, yang tidak bisa Melin melihat di ingatan itu.
Melin menundukkan kepalanya, saat mengingat hal itu dia benar-benar sangat sedih.
"Kau kenapa?" tanya Jendral.
Cowok SMP itu sangat peka terhadap Melin. Tetapi Melin tidak suka dengan perhatian berlebihan yang diberikan oleh Jendral kepadanya.
Sebab Melin tahu dirinya tidak mungkin bisa berpaling dari Adrian untuk selama-lamanya. Sedangkan Jendral pasti berharap untuk meluluhkan hati Melin, suatu saat nanti.
"Apa aku benar-benar harus hidup?" tanya Melin kepada Jendral.
"Jangan sedih begitu!" kata Jendral.
"Bagaimana jika semua orang harus mati untukku, nantinya?" tanya Melin.
Jendral tidak bisa menjawab pertanyaan Melin, karena dia sendiri juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia juga tidak yakin, apakah dirinya akan bertahan hidup atau tidak.
Tetapi seperti kata Jacson kepada Jendral, kemarin sore. Mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk Melin. Agar kutukan Hujan Teluh di Desa ini, selesai dan hilang untuk selama-lamanya.
Agar warga Desa di sini, tidak terbelenggu lagi oleh kekuatan Siluman yang mengejar Jiwa Suci untuk ambisi mereka.
Jendral hanya percaya bahwa hal itu mungkin saja bisa terjadi. Jika Melin bisa bertahan hidup sampai besok pagi. Karena setelah bulan merah malam ini muncul, maka butuh waktu 20 tahun lagi untuk menunggu bulan merah itu kembali.
"Kau harus hidup! Apa pun yang terjadi!
"Kami akan melindungimu dari apa pun!" kata Jendral dengan kata-kata yang sangat meyakinkan Melin.
Lelaki yang masih berusia 18 tahun itu mempunyai tujuan yang begitu mulia. Selain melindungi nyawa wanita yang paling dia cintai, dia juga berusaha untuk menyelamatkan para warga Desa Air Keruh, dari jerat perjanjian hitam yang sudah berlangsung selama 60 tahun.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1