
Bos dan Konsepnya
"Aku bosnya di sini! Jadi lawan dulu anak buahku, sebelum kau melukaiku!
"Bukankah begitu konsepnya, Insagi juga mengunakan konsep itu--kan?" ujar Melin. Gadis itu mencoba untuk berbicara seperti Jacson, meski kagok.
Kedua Siluman itu memandang ke arah Jacson dengan tatapan yang cukup mencurigakan. Sehingga Melin yang dilihati mulai membuang muka dan sok asik sendiri.
"Katanya wujudmu adalah Siluman Kelelawar?! Aku ingin lihat seberapa hebat Siluman Kelelawar itu!" ujar Wito.
"Biasa aja, kok! Lawan dulu anak buahku!" kata Melin gugup sambil menunjuk ke arah Adrian.
Adrian yang melihat keadaan sudah mulai tidak kondusif segera bertindak. Tangannya mulai berubah kembali bercakar dan chakra biru sudah mengelilingi kedua tangan cakarnya.
Tanpa aba-aba dan peringatan Adrian langsung maju untuk menyerang kedua Siluman yang masih bernegosiasi dengan Melin yang mempunyai wujud Jacson. Tentu saja kedua Siluman itu cukup kaget dengan apa yang dilakukan oleh Adrian kepada mereka.
Adrian menyerang mereka dengan beberapa Ajian kombinasi Pukulan yang berhasil mereka tangkis. Meski mereka cukup kewalahan untuk menghalau setiap Serangan yang dilakukan oleh Adrian.
Karena kali ini Adrian bergerak lebih cepat dan tenaganya lebih kuat. Setelah beberapa kali menghalau serangan pukulan dari Adrian mereka terdesak bersama-sama.
Sehingga kedua Siluman itu berubah ke wujud Silumannya, karena mereka tidak mau terluka.
Seekor ular putih yang cukup besar dan harimau loreng yang mempunyai ukuran tak normal, karena lebih besar daripada harimau loreng pada umumnya, sudah berdiri tegak di hadapan Adrian, namun lelaki gagah itu masih belum menampakan wujud Silumannya sampai saat ini.
Adrian berencana untuk menghadapi kedua Siluman itu dengan kondisi yang seperti ini. Selain untuk menghemat chakra yang dia punya, Adrian tidak ingin melihat Melin ketakutan karena dia berubah wujud menjadi harimau putih yang sangat perkasa.
Harimau loreng maju duluan, dia mengaung cukup keras. Lalu berlari ke arah Adrian untuk menerkam tubuh manusia tersebut. Dengan jurus teleportasinya Adrian berpindah tempat.
Saat Harimau Loreng sadar bahwa dia tidak berhasil menerkam Adrian, kepala besarnya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Siluman Harimau Putih tersebut.
Harimau Loreng tidak menyangka bahwa Adrian sudah berada di atas kepalanya, lelaki gagah yang masih di wujud manusianya itu, segera melancarkan sebuah serangan yang mungkin bisa melumpuhkan Harimau Loreng dalam sekali hentakan.
__ADS_1
"Tapak Langit!" teriak Adrian.
Lelaki gagah itu menggunakan ajiannya yang paling sederhana yang ia miliki, tetapi dengan level kekuatan yang sangat tinggi, untuk menghancurkan kepala Siluman Harimau Loreng.
Buakkkkkkkk
Duarrrrrrrr
Hasil dari suara pukulan tersebut terdengar sangat menggelegar. Bahkan Melin yang berada di dalam tubuh Jacson pun sangat terkejut, dengan efek serangan Adrian yang baru saja dia lihat.
Debu tipis mengepul di sekitar area berdirinya Harimau Loreng dan Adrian. Adrian masih berada di posisi duduk berjongkok tangannya juga masih menempel di atas kepala Si Harimau Loreng yang besar. Warna matanya masih putih pertanda Adrian sedang menggunakan chakra yang cukup besar di tubuhnya.
Sementara keadaan Harimau Loreng sangat mengenaskan lebih dari separuh kepala besarnya tenggelam di tanah yang sudah retak berhamburan.
Perlahan-lahan Adrian berdiri dan kornea matanya kembali menghitam. Melin hanya bisa melihat punggung lelaki yang amat ia cintai tersebut, dengan tatapan nanar yang penuh keterkejutan.
Tampaknya Adrian sudah tidak memiliki kesabaran lagi lelaki gagah itu langsung menghampiri Siluman Ular Putih yang masih tercengang karena kekuatan yang dimiliki oleh Adrian.
"Ternyata kau benar-benar sangat luar biasa kuat, ya Adrian?!
"Kini sudah berada di markas rahasia Tuan--ku, Insagi!" kata Siluman Ular Putih itu dengan gelak tawa mengejek disela-sela perkataanya.
Perkataan Siluman Ular Putih itu tentu saja tidak menggoyahkan hati Adrian, karena lelaki itu sangat tahu bahwa yang dijebak oleh Insagi, bukanlah Melin gadis yang ia cintai, tetapi adalah Jacson dan Jendral.
"Aku akan ke sana setelah membuatmu menjadi pupuk kompos!
"Padang rumput ini sepertinya perlu sedikit nutrisi, agar bisa menghijau di musim hujan selanjutnya!" ujar Adrian.
"Meskipun padang rumput ini menghijau tahun depan! Memangnya kau bisa melihatnya?!" Siluman Ular Putih yang sudah mempersiapkan diri untuk menerima setiap serangan Adrian yang penuh dengan chakra, berkata dengan nada mengejek.
Karena Si Wito tahu benar jika junjungannya Ndoro Ageng Insagi, tak akan membiarkan satu makhluk pun hidup di area ini. Jika Siluman Burung Garuda itu tidak bisa mendapatkan Jiwa Suci yang sangat diinginkannya.
__ADS_1
Sebaliknya jika Tuan--nya Insagi bisa mendapatkan Jiwa Suci, maka Siluman-Siluman yang berhasil menjadi Abadi atau Manusia Setengah Siluman yang yang berhasil menjadi Siluman Murni pasti akan membuat kekacauan di bumi. Adrian pasti tidak akan bisa menghentikan semua itu seorang diri.
Dunia akan kacau, meski Melin berhasil ditumbalkan ataupun tidak. Malam ini adalah malam penentuan nasib dunia ini.
"Meski aku tidak bisa melihat Padang Rumput ini tahun depan!
"Tapi aku akan memastikan Padang Rumput ini, akan selalu hijau selamanya!" ucap Adrian dengan penuh keyakinan.
Melin yang masih mempunyai wujud Jacson mendengar apa yang dikatakan oleh Adrian. Wajahnya berubah menjadi sedih karena kata-kata yang diucapkan oleh Adrian, seolah-olah lelaki itu ingin meninggalkan bumi. Meski mereka berhasil mengalahkan seluruh pasukan Insagi.
Adrian mengeluarkan pedang Jiwa Subrono tanpa menggunakan ajian Tameng Sadewo. Pedang besar yang memiliki kekuatan magis itu juga dilumuri oleh chakra Adrian. Agar pedang yang dia pegang, tidak melukai dirinya sendiri dan malah menghisap jiwanya masuk ke neraka.
Siluman Ular Putih segera menyongsong Adrian dengan moncong ularnya yang bergerak cepat ke arah tubuh manusia tersebut. Wito ingin menggunakan racun bisa yang dia punya untuk membunuh Adrian. Tetapi Adrian dapat menghindari semburan racun dari mulut ular besar berwarna putih itu.
Adrian bergerak cepat dan mencoba menebas bagian tubuh ular yang masih melata dengan lincahnya. Tetapi tidaklah mudah untuk melukai Siluman Ular Putih, yang meski tak mempunyai chakra untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi gerakan Siluman Ular Putih yang dilawan Adrian sangatlah lincah dan juga gesit.
Adrian harus berusaha sedikit lebih keras, agar bisa mengalahkan Siluman
Ular Putih itu dengan cepat. Sifat serangan ular berbisa adalah menjerat mangsanya dengan lilitan atau dengan semburan racun mematikan.
Adrian mencari celah agar Siluman Ular Putih itu melilitnya. Agar dia bisa menggunakan kesaktian Pedang Subrono, yang bisa menyerap Jiwa-Jiwa Siluman yang berhasil ditikamnya.
Tebakan Adrian tidak sepenuhnya salah, ketika Adrian menurunkan tensi serangannya. Siluman Ular Putih itu menangkap sinyal bahwa Adrian sudah mengalami penurunan tenaga, sehingga Wito tanpa banyak berpikir lagi. Segera menggunakan serangan mematikan untuk membunuh Adrian, yaitu melilit tubuh pria kekar itu dengan ekor Ularnya yang cukup besar amat kuat.
"Mati kau, penghianat!" teriak Wito dengan senyuman penuh kemenangan.
"Aku pasti akan mati, tapi kujamin kau mati lebih dulu daripada aku!" ujar Adrian yang sudah berhasil melukai tubuh licin Siluman Ular Putih bernama Wito itu dengan Pedang Subrono.
"Apa?!" tanya Siluman Ular Putih itu binggung.
Karena Siluman Ular Putih itu merasakan rasa sakit di ekornya dan tubuhnya juga mulai melemah secara tiba-tiba.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤