
Manik mata Kades Air keruh itu masih memandang tajam ke arah Lastri. Lelaki itu dengan santainya, berdiri dari posisi tersungkurnya.
"Siapa namamu?" tanya Jacson pada perempuan di depannya.
Lastri tak menjawab pertanyaan Jacson, wanita itu dengan sigap meraih sesuatu yang selama ini dia simpan di pinggangnya, yaitu Senjata api.
Pistol yang melegenda buatan Amerika, produk Model Tahun 1911 dikenal sebagai M1911 dan M1911A1. Sudah ditodongkan oleh perempuan yang mengaku sebagai Lastri itu, kearah Jacson.
"Apa kau polisi?" tanya Jacson.
Tak ada raut ketakutan sedikit pun di wajah Kades Desa Air Keruh itu. Dengan santainya, pria itu malah sempat-sempatnya menenggadahkan wajahnya ke arah langit. Sambil menghembuskan nafsanya kasar, serta mendesis kesal.
Jacson pasti kesal karena, dia baru menyadari apa yang baru saja terjadi padanya. Mungkin Pak Jernih kepala polisi aneh itu, pasti sudah menjebaknya.
Namun rasa kesalnya segera berubah menjadi tawa licik ke arah Lastri.
"Kau pikir, kau bisa membunuhku dengan benda itu?" tanya Jacson.
Ia menyeka saliva di sela rengang giginya, dengan hisapan kuat dari dalam mulutnya. Nyaring suara menjijikan, sampai keluar terdengar di telinga Lastri.
"Tembak! Tembak saja, lihat siapa yang akan mati di antara kita!" tantang Jacson.
Wajah Lastri sudah tampak penuh emosi, namun wanita itu masih bertahan di posisinya. Dia masih ingat siapa dirinya, meski rasa dendam sudah menyelimuti dirinya. Dia tidak bisa sembarangan menembakkan pelurunya ke arah Jacson.
Lelaki paruh baya itu berjalan ke arah Lastri tanpa rasa takut.
"Tarik pemicunya, jika kau tak menariknya kau tak akan bisa menembakku!
"Apa yakin, di dalam pistol yang kau bawa itu ada pelurunya?" kata Jacson dengan nada mengejek.
Kades air keruh itu, sama sekali tak takut pada senjata api yang sudah ditodongkan Lastri kepadanya.
"Kau pikir, aku tidak akan menembakmu karena aku seorang polisi?" tanya Lastri pada Jacson.
"Ayoooo tembak!" tantang Jacson.
Lastri menarik pelatuk di pistolnya, peluru yang dilontarkan oleh senjatanya tepat mengenai bahu Jacson.
__ADS_1
Tubuh Kepala Desa Air Keruh itu terlihat tersentak ke belakang. Suara desis kesakitan pun, keluar dari mulut Jacson. Namun tubuh pria paruh baya yang cukup gagah ini, tidak sampai jatuh ke tanah.
Cahaya rembulan mulai naik, membantu penglihatan setiap insan yang berada di dalam hutan tanpa penerangan. Kini Lastri bisa dengan jelas melihat bahu kiri Jacson yang ia bidik.
Harusnya darah segar keluar dari area itu, namun setetes cairan merah kental itu tidak dapat dilihat oleh Lastri. Tak ada noda apa pun yang dapat dilihat oleh Lastri, di kemeja putih yang dikenakan oleh Jacson.
Rasa takut dan marah yang menguasai Lastri, ia coba tahan. Wanita yang nama aslinya adalah Ellen itu, masih menodongkan pistolnya ke arah Jacson.
Dia menguatkan dirinya dengan ingatannya akan Lastri kakak sepupunya. Yang menjadi gila setelah pulang dari KKN di Desa Air Keruh ini. Serta sepupunya itu pulang dalam keadaan hamil, meski beberapa tahun kemudian ada dua orang pria yang mencari Lastri.
Pria itu adalah Yanuar dan Sarul, mereka berdua mencari Lastri ke rumah keluarga besar Lastri. Karena Lastri di rumah sakit jiwa, mereka tak dapat menemukan Lastri saat itu.
Mereka bahkan tak bisa menemui Melin anak Lastri, Karena tepat setelah melahirkan. Bayi yang dilahirkan oleh Lastri disalurkan ke sebuah panti asuhan. Agar tidak mencemari nama keluarga besar Lastri
Setelah kejadian itu, keluarga besar Lastri mendapatkan banyak kemalangan. Hal itulah yang mendorong Ellen yang seorang polisi, ingin menguak misteri apa yang terjadi pada Lastri kakak sepupunya.
Ia mulai mencari keberadaan putri Lastri, setelah enam bulan pencarian. Ellen menemukan Melinda yang di adopsi oleh seorang Jendral angkatan darat. Tak mudah bagi Ellen mendapatkan Melin, karena keluarga yang mengadopsi Melin bukanlah keluarga yang sembarangan.
Karena tak pantang menyerah, akhirnya Melin bersedia melihat ibunya di rumah sakit jiwa. Hingga tanpa sengaja Melin dan Ellen bertemu Arinda di rumah sakit jiwa itu.
"Lihat! Aku tak akan mati dengan peluru sekecil itu!" kata Jacson.
Ellen menembakkan seluruh isi pelurunya ke arah Jacson.
Tentu saja tubuh gagah Kepala Desa Air Keruh itu, tidak kuat menahan hantaman lima peluru yang dilontarkan dari mesin buatan Amerika itu. Hingga tubuhnya tersungkur ke atas tanah dengan posisi tengkurap.
Sepanjang sejarah berkarir Ellen di kepolisian. Baru kali ini ia menambahkan seluruh peluru di pistolnya, untuk membidik seorang manusia.
Nafas gadis berusia 30 tahun itu masih terengah, karena dia takut telah membunuh Jacson. Tujuannya datang ke sini bukanlah untuk membunuh orang. Namun dia hanya ingin mengungkap apa yang terjadi kepada Lastri kakaknya.
Tanpa ia sadari dia malah mengorbankan keponakannya, yang masih belia.
.
.
Lenguhan kenikmatan masih keluar dari mulut Adrian, lelaki gagah itu masih menikmati setiap alunan irama bercintanya dengan keponakannya. Dia sedang pasrah dengan kenikmatan gerakan lincah Melin, yang saat ini berada di atas tubuhnya.
__ADS_1
Gadis belia ini tampaknya sudah sangat mahir melakukan gerakan bercinta. Saking hebatnya Adrian sampai tidak bisa curiga pada Melin. Karena Melin adalah wanita pertama yang melakukan hubungan semacam ini dengan Adrian. Lelaki gagah perkasa itu tidak punya pengalaman lain, jadi dia tidak bisa membandingkan.
Melin memang menginginkan Adrian menikmati semua gerakannya. Gadis belia itu ingin Omnya terbang ke angkasa. Karena disaat Adrian lupa akan kendali dirinya, maka Melin bisa menyerangnya.
Semalam Melin mendapatkan penglihatan tentang Adrian dan juga Jacson yang bekerja sama. Namun Melin tidak mengatakan apa pun kepada Ellen yang menyamar menjadi Lastri.
Tantenya itu hanya peduli tentang mengungkap apa yang terjadi kepada Lastri. Ellen sama sekali tidak peduli tentang ritual atau pun tentang selamatannya. Hingga memaksa Melin untuk melakukan sebuah tindakan yang tidak akan dibayangkan oleh siapa pun.
Didikan keluarga yang mengadopsinya sangatlah ketat. Meski Melin masih di usia yang sangat belia, dia sudah mengenal berbagai jenis beladiri.
Namun Melin tak yakin bisa mengalahkan Adrian saat lelaki itu dalam kondisi normal. Makanya Melin membuat Adrian terlena akan rasa indahnya bercinta dengannya. Hingga Melin bisa diam-diam membunuh lelaki itu.
Sebilah pisau berukuran sedang yang terlihat mengkilap sudah digenggam oleh Melin belakang punggungnya. Gadis itu masih mencari celah untuk menancapkan benda tajam itu, tepat di jantung lelaki yang mengaku Omnya itu.
<~○~>
Aku pikir kau akan menolongku.
Ternyata kau memang ingin membunuhku dari awal, demi keinginanmu sendiri.
Maafkan aku jika ini sedikit sakit.
Melinda
<~○~>
Melin mulai memantapkan tekadnya untuk membunuh Adrian. Gadis belia itu tidak peduli jika dia nantinya harus dipenjara. Karena pulang dengan selamat adalah keinginannya.
Melin tidak sempat meminta izin kepada ayah dan ibu angkatnya, karena Ellen membawanya kesini dengan sangat buru-buru.
Dengan cepat Melin mengangkat pisau yang ia pegang ke udara. Gadis itu mengambil ancang-ancang, untuk menancapkan benda tajam itu di atas jantung Adrian.
Karena Melin tahu epidermis kulit tubuh Adrian yang berotot pasti sulit untuk ditembus meski dengan pisau tajam.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1