
َللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ
Ashadulailahaillallah, Ashadulailahaillallah
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Ashaduannamuhammadarosulullah, Ashaduannamuhammadarosulullah
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
Hayya ‘alassolah, Hayya ‘alassolah
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Hayya ‘alafalah, Hayya ‘alalfalah
ااَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ، اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
Assolatuhoiruminannaum, Assolatuhoiruminannaum
للهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر لاَ إِلَهَ إِلاَّالله
Allahuakbar, Allahukabar la ilahaillallah
Terdengar suara Adzan subuh sudah berkumandang, lantunan panggilan Sholat yang sangat merdu itu menggema di seluruh penjuru.
Rintihan hujan sudah berhenti dan angin berhembus ala kadarnya, petir sudah tidak terdengar menyambar bergemuruh. Suasana sudah kembali ke asalnya, ajian SIREP NDALU sudah berakhir.
Di kediamannya, Arinda membuka matanya dan manik matanya itu sudah kembali menghitam seperti biasanya. Senyum menyeringai penuh kepuasan masih terlukis di wajah cantiknya.
.
.
.
.
"Akhhhhhhhh!" Jacson menggeliat pelan.
Pria paruh baya itu meregangkan tubuhnya yang terasa hampir remuk, karena posisi tidurnya yang tidak nyaman.
"Kenapa aku bisa tertidur di sini?" tanyanya bingung.
Kepalanya terasa berat, hingga tangan kirinya menyentuh tengkuknya dan memijat bagian itu berkali-kali. Wajah Jacson mengeryit menahan rasa sakit di kepalanya, dia berdiri dan melihat betapa kacaunya meja yang berada di depannya.
Jacson tak pernah melakukan hal ceroboh semacam ini, dia tidak pernah tertidur saat membaca apapun. Kenapa dia tertidur saat membaca kasus yang sangat penting. Bagaimana jika ada yang datang ke ruang kerjanya dan mengambil dokumen penting ini. Pasti pihak kepolisian akan mendapatkan masalah.
Jacson segera memilah kertas-kertas di atas meja yang lumayan berantakan.
Tokkkk
Tokkkk
Tokkkk
Suara ketukan pintu rumahnya itu mengalihkan perhatiannya. Jackson segera keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju ruang depan rumahnya.
__ADS_1
Tokkkkk
Tokkkkk
Tokkkkk
Ketukan itu semakin lama semakin cepat dan terdengar tergesa. Jackson bisa merasakan bahwa siapapun yang mengetuk pintu rumahnya pagi ini, pasti mempunyai urusan yang sangat penting dengannya.
"Pak! Pak! Pak Kades!!!
"Pakkkkkk!" panggil suara pria diluar rumah Jacson.
Jegrekkkkkkkk
Pak kades pun membuka pintu rumahnya, di depannya sudah ada dua orang pria dengan wajah yang sangat khawatir.
"Ada apa Tejo, Suprat?" tanya Jacson pada kedua warganya itu.
"Mbak Karyo, Pak! Mbah Karyo!" kata Tejo, cucu Mbah Karyo itu sudah gelagepan saja.
"Pelan-pelan Tejo! Ada apa sebenarnya?" tanya Jacson.
"Mbah Karyo dibunuh, Pak!" kata Suprat.
Suaranya yang biasanya menggelegar dan sangat macho itu, kini hanya ada suara lirih diiringi isak tangis yang amat sedih.
"Dibunuh?" tanya Jacson, kekagetan di diri Kades Desa Air Keruh itu bertambah.
Siapa yang membunuh orang yang sudah tua renta itu, kenapa orang itu tak sabaran sekali?
Bukankah Jika dilihat dari usia Mbah Karyo, pria tua renta itu tidak akan punya waktu yang cukup lama hidup di dunia ini.
Namun Jacson segera bergegas untuk pergi ke TKP pembunuhan Mbah Karyo. Yang tak lain adalah rumah yang dihuni oleh orang tua itu, dengan salah satu keluarga anaknya.
Tak lama rombongan polisi yang dipimpin oleh Pak Jernih sendiri datang, karena Jacson sudah menghubungi polisi sebelum ia datang ke TKP.
Tubuh Mbah Karyo segera di evakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk otopsi. Namun sebelum jenazah Mbah Karyo dibawa oleh Polisi, seorang putranya berteriak dan menangis sangat keras di hadapan Pak Jernih.
"Pak...Biarkan jenazah bapak saya langsung dikebumikan!" kata pria bernama Herman itu.
"Tidak bisa Herman!
"Ini adalah kasus pembunuhan dan kami harus melakukan otopsi kepada jenazah bapakmu, demi kepentingan penyelidikan!" jelas kepala polisi kecamatan Tugu Ireng itu.
"Berapa kali Bapak melakukan otopsi pada jenazah yang meninggal di desa ini?
"Bapak bilang itu adalah pembunuhan, tapi apakah bapak bisa menangkap pelakunya.
"Tidak--kan Pak jernih!" kata anak pertama Mbah Karyo itu.
Tampak raut kebingungan juga menguasai wajah tegas Pak Jernih. Apa yang dikatakan pria awam di depannya, memang sebuah kebenaran yang tidak dapat dibantah.
"Jadi anda tidak ingin, jika jasat ayah anda diotopsi?" tanya Pak Jernih pada Herman.
"Biarkan ayah kami bersemayam dengan tenang dikuburnya!
"Dia sudah dibunuh dengan sangat keji, biarkan dia tenang di dalam kematiannya!" kata Herman.
Terlihat jelas seluruh anak Mbah Karyo, yang berkumpul di rumah itu pun juga mengangguk menyetujuinya.
Alhasil jenazah Mbah Karyo dikebumikan pada hari itu juga tanpa melalui proses autopsi.
__ADS_1
.
.
Hari sudah melewati pertengahan siang, Jacson baru saja pulang dari pemakaman Mbah Karyo. Dia langsung pergi ke kamarnya dan membersihkan diri di kamar mandi pribadinya. Setelah dirasa tubuhnya sudah bersih dari semua kotoran yang menempel, Jacson menyudahi acara mandinya.
"Astaga, Melin!!! Bikin bapak kaget saja!" teriak Jacson.
Gadis muda itu sudah berdiri di depan pintu kamar Jacson yang tertutup. Bukannya meminta maaf, Melin malah mengacungkan jari telunjuknya di atas bibirnya yang memonyong. Tanpa sopan santun, gadis itu menyuruh Jacson diam.
"Ada apa?" tanya Jacson pada Melin, ini nada suaranya lebih pelan.
"Kudengar ada yang dibunuh lagi, ya Pak?
"Gimana kalau kita pergi ke tempat Om Adrian, kurasa dia tahu apa yang terjadi di Desa ini!" kata Melin.
"Rencananya nanti saya akan mencarinya!" kata Jacson.
Kades Desa Air Keruh itu baru sadar, bahwa saat ini dia masih dalam kondisi telanjang. Tubuhnya hanya ditutupi oleh seuntai handuk putih yang menggelayut kuat di pinggangnya.
"Boleh aku ikut?" tanya Melin.
"Kenapa? Bukannya kamu takut sama Om--mu?" ledek Jacson.
"Siapa yang gak takut. Saat dia marah waktu di pesantren?" tanya Melin.
"Ya...udah. Kamu keluar dulu saya harus ganti baju!" kata Jacson.
Manik mata Melin malah memandang ke arah tubuh Jacson, yang berada di depannya. Berkali-kali pandangan gadis itu naik turun, meneliti setiap jengkal tubuh lelaki paruh baya di depannya. Hal itu tentu saja membuat Jacson salah tingkah.
Pria paruh baya itu merasakan getaran yang aneh lagi, ternyata apa yang dirasakan oleh Jacson kepada Melin adalah perasaan cinta.
"Apa Pak Kades sering olahraga?" tanya Melin.
"Kadang-kadang, kenapa?" kata Jacson.
Pria paruh baya itu semakin salah tingkah.
"Bukankah usia bapak sudah cukup tua? Tapi badan bapak masih bagus.
"Perut bapak nggak buncit, masih ada ototnya!" ujar Melin santai.
Gadis itu mengacungkan dua jempolnya ke arah Jackson, lalu dia membuka pintu kamar di belakangnya untuk keluar.
Seketika Jacson melihat kearah perut datarnya, lalu ia berjalan ke arah lemari pakaiannya dan mengaca di cermin panjang yang membingkai pintu lemari bajunya.
Kades Desa Air Keruh itu tampak tersenyum ketika melihat ketampanannya sendiri. Sudah lama ia tidak berkaca dan memperhatikan bentuk tubuhnya. Namun bunyi perut keroncongan dan juga rasa melilit di dalamnya, mengganggu aktivitas narsis Pak Kades.
Semenjak kemarin sore pria itu tidak memakan makanan apapun, tentu saja dia merasa kelaparan.
.
.
Perasaan cinta itu sulit dijelaskan dan saat kau jatuh cinta maka kau akan menjadi orang yang paling gila di dunia ini.
Kau bisa menjadi seseorang yang berbeda dari biasanya jika sedang jatuh cinta.
Kau bisa berkorban lebih banyak dari yang pernah kau korbankan.
Buatlah bidakmu jatuh cinta padamu dan buatlah mereka menuruti apa yang kau mau.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤