Hujan Teluh

Hujan Teluh
Aku Paling Bodoh


__ADS_3

"Kinan akhirnya dinikahkan dengan seorang pemuda berasal dari Desa Pilip.


"Namun di malam pertamanya pemuda itu telah diserang oleh siluman harimau yang mencintai Kinan.


"Lalu Kinan setubuhi oleh siluman itu pada saat itu juga.


"Tujuh bulan kemudian Kinan melahirkan seorang anak perempuan bernama Yosi," ujar Jacson.


Perkataan Jacson kali ini bisa diterima oleh akal sehat Ellen. Sepanjang hidupnya, gadis ini tidak pernah bersentuhan dengan hal-hal magis seperti ini.


Yang ia tahu hanyalah logika, mencari penjahat dan menangkap mereka. Dengan insting dan fakta yang masuk akal.


"Sejak kejadian malam pertama, siluman harimau itu tidak pernah datang lagi kemari.


"Namun setelah delapan tahun berselang. Siluman itu datang lagi, dia membuat kekacauan di Desa Air Keruh dan juga di Desa Pilip!" ujar Jacson.


"Lalu kenapa, warga tidak pernah menyebutkan tentang siluman harimau. Saat aku bertanya tentang Kutukan Hujan Teluh?" tanya Ellen.


"Tidak banyak orang yang tahu tentang fakta ini, karena pemimpin desa ini menyembunyikan fakta tersebut!" jawab Jacson.


"Kenapa, mereka menyembunyikan fakta sebesar ini?" tanya Ellen.


"Pertama agar sesepuh Desa ini tidak disalahkan.


"Kedua, agar mereka percaya bahwa Kutukan Hujan Teluh itu nyata.


"Jadi ketika kami membutuhkan tumbal mereka akan bekerja sama dengan kita.


"Dan ketiga...,"


Buakkkkkkkkk


"Apa kau punya hobi membicarakan hal-hal yang tidak penting kepada semua orang?" tanya suara pria kepada Jacson.


Tubuh Ellen sudah tergeletak di atas lantai kayu, di rumah pondok samping tebing. Darah segar mulai membasahi kepala sebelah kanannya, hantaman sebilah kayu yang diayunkan oleh tangan Yanuar. Ternyata sangat keras, hingga dapat membuat Ellen pingsan seketika.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Jackson kepada Yanuar.


Terlihat jelas bahwa Kades Air Keruh itu sedang menanti Yanuar, untuk menolongnya dari Ellen.


"Aku harus mengurus Adrian sebentar!" jawab Yanuar.


Lelaki tinggi dan gagah itu melemparkan kayu bekas pemukulnya, ke sembarang arah. Lalu ia berjongkok dan mengamati wajah Ellen.


"Bukankah dia cantik?" tanya Jacson.


"Kenapa kau sekarang buas sekali? Dulu kau sangat setia pada Arinda?!" tanya Yanuar.


"Kenapa kau malah mengungkit masa lalu. Yang lalu tuh, udah. Nggak usah dibicarakan!" ujar Jacson dengan nada sedikit kesal.


"Tampaknya memang benar, kau tidak bisa melupakan Arinda!" kata Yanuar.


Jacson menghela nafasnya dengan kasar, memang hal itu tidak bisa dipungkiri. Hatinya serasa terpaut, tali begitu erat kepada cintanya terhadap Arinda.


"Tenang saja, dia akan kembali setelah ritual ini!" ujar Yanuar.


"Apa kau yakin? Kau bisa mengembalikan dia seperti semula?" tanya Jacson.

__ADS_1


"Aku tidak akan seyakin ini, jika aku tidak bisa!" kata Yanuar dengan nada mantap.


Yanuar kini menghampiri Jacson yang masih bersimpuh di atas lantai. Dia membuka ikatan yang melilit di tubuh Kades Air Keruh itu.


"Aku jamin Arinda pasti kembali, dan kau bisa menikmati masa-masa indah lagi dengannya!" ujar Yanuar dengan senyuman tipis.


Namun di wajah Jacson tidak terlukis apa pun, dia hanya diam.


"Pulanglah aku akan mengurus wanita ini!


"Aku titip putriku, jaga dia baik-baik. Sampai dihari penumbalan!" pinta Yanuar.


Jacson segera keluar dari pondok itu, membiarkan Yanuar dan juga Ellen berduaan saja di sana.


Entah apa yang dipikirkan oleh Jacson, namun mimik muka Kades Air Keruh itu tampak sangat kacau. Entah karena ingatannya tentang Arinda muncul kembali, atau karena dia kecewa karena tidak bisa menikmati tubuh Ellen yang indah.


Hanya Jacson yang tahu jalan pikirannya sendiri.


.


.


.


.


Angin berhembus lirih, namun rasa dinginnya menusuk ke dasar tulang. Jendral tidak bisa memejamkan matanya, dia hanya duduk berselonjor kaki. Di atas dipan, tepat di sebelah Melin yang tertidur pulas.


Hal ini adalah hadiah baginya. Rasanya dia sudah berada di puncak kesenangannya. Hatinya mengharu-biru, gegap-gempita,berbunga-bunga. Meski dalam gelap.


Senyumnya terus mengembang tanpa surut. Harapan satu-satunya di dalam hidupnya, telah terjadi. Menjadi sosok pahlawan di mata Melin.


Meski dia nantinya akan menjadi pecundang, ketika berhadapan dengan musuh yang sebenarnya. Namun jenderal tetap bahagia. Paling tidak, dia pernah melakukan sesuatu untuk Melin.


Hari cepat menjelang pagi. Suhu dingin yang menyelimuti gubuk Pak Harsono pun, mulai menghangat. Jendral membaca makan matanya sejenak, lebih tepatnya dia tidak sengaja tertidur.


"Jendral, bangun Jendral!" panggil Melin.


Dengan perlahan-lahan Melin memukul salah satu pipi Jendral.


"Ada apa, Mel!" Matanya masih perih namun dia tetap membukanya.


"Lepas semua baju kamu!" ujar Melin.


"Apa?! Melepas semuanya?" Jendral cukup terkejut dengan, perintah Melin.


"Cepat! Sebelum warga desa menemukan kita!" ujar Melin dengan sedikit membentak.


Karena Jendral tak kunjung merespon perintah Melin. Melin pun berinisiatif melepas satu-persatu kancing kemeja seragam SMU yang dikenakan oleh Jendral.


"Harus, ya?" tanya Jendral sedikit bingung.


"Elu malu?" tanya Melin.


"Ya iyalah, malu!" ujar Jendral.


"Lalu kenapa semalam, elu janji mau nolongin gue?" tanya Melin.

__ADS_1


Gadis itu tidak menghentikan aktivitasnya melucuti seragam Jendral.


Cekrekkkkkkk


Selot gesper yang dikenakan oleh Jendral sudah terlepas.


"Aku bisa sendiri!" ujar Jendral.


Melin pun palapas tantangannya dari tubuh Jendral. Jendral turun dari dipan berbahan bambu itu.


Gerakannya cukup lambat, namun Jenderal sudah melepaskan kemeja putihnya dan juga celana abu-abu--nya.


"Sekarang elu berbaring di sini!" ujar Melin.


Jendral hanya menurut dia berbaring di dekat Melin yang masih terduduk.


Tubuhnya tersentak saat Melin berbaring di sebelahnya. Gadis itu benar-benar tidak merasa canggung sama sekali.


"Ingat, jika nanti ada warga desa yang menemukan kita. Elu harus bilang udah tidur sama gua!" kata Melin.


"Aku memang udah tidur sama kamu, lah ini!" ujar Jendral.


Sebuah tinjuan ringan tangan Melin, menghantam dada Jendral.


"Bukan cuma tidur doang, tapi bercinta juga!


"Ingat baik-baik! Bercinta. Nggak cuma tidur doang!" nasehat Melin.


Mungkin Gadis itu menganggap Jendral sebagai anak TK, dan dia adalah gurunya.


"Siap!" kata Jendral.


"Elu pasti pernah kan melihat video p.o.r.n.o?" tanya Melin.


"Enggak," jawab Jendral.


"Masa nggak pernah? Kuno banget sih lu!" ujar Melin.


Gadis itu sudah kembali ceria seperti biasanya, hati dan pikirannya udah menyatu saat ini. Dia tidak punya kebimbangan lagi, dia sudah punya keputusan untuk hidupnya sendiri.


"Ketika seseorang anak-anak, remaja, atau dewasa, pada awalnya iseng membuka situs porno sebanyak satu dua kali, lama-lama akan ketagihan,


"Kebanyakan melihat situs porno cenderung menurunkan kreativitas pemikiran, menurunkan keinginan untuk aktivitas di luar ruangan serta berinteraksi dengan lingkungan sosialnya," kata Jendral.


Melin hanya tertegun melihat hafalan Jendral tentang edukasi pornografi


"Bila terjadi pada anak-anak dan remaja, akan meningkatkan pelecehan seksual pada anak usia dini,


"Selain itu, mereka bisa melakukan perbuatan tidak terpuji kepada teman sepermainannya atau malah menimbulkan pemerkosaan di kalangan pelajar atau malah melakukan hubungan **** pranikah. Ini sangat merugikan sekali," papar Jendral


"Dan bila terjadi pada orang dewasa, berdampak juga pada sistem saaraf otaknya dalam berpikir, meningkatkan rasa malas, cenderung tidak kreatif, dan tidak memiliki semangat hidup," lanjut Jendral.


"Kau pasti siswa paling pintar di sekolahmu!" ujar Melin.


"Aku paling bodoh kedua!" ujar Jendral.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2