Hujan Teluh

Hujan Teluh
Serangan Sarewa


__ADS_3

Serangan Sarewa


Adrian berusaha menahan, sengatan petir yang disalurkan oleh Sarewa dari tangannya.


Aliran listrik itu merayap cepat keseluruh tubuh Adrian, hingga gelombang listrik yang amat tinggi itu membuat tubuh kekar Adrian terpental cukup jauh.


Buakkkkkkkkkkk


Lelaki itu mendarat, dengan posisi yang sangat tak nyaman. Tubuhnya berguling ditanah yang tak rata, dia bahkan tak bisa langsung bangun karena untuk sementara Adrian tak bisa menggerakkan tubuhnya.


Sengatan petir itu hampir sama dengan listrik ribuan volt. Jadi wajar, jika tubuh Adrian untuk sementara waktu kehilangan fungsi motoriknya.


Hal itu, dijadikan Sarewa sebagai kesempatan untuk menyerang balik Adrian, dengan kekuatan yang lebih besar. Wanita Siluman Kera itu merubah wujudnya menjadi kera putih besar yang sangat melegenda.


Anoman, adalah nenek moyang Sarewa. Sarewa dianugerahi kekuatan petir karena Sarewa terlahir di atas langit di Istana Dewa.


Sarewa pernah menjadi putri kesayangan ayahnya, tetapi sebuah kesalahan membuatnya dibuang ke Dunia Manusia 100 tahun yang lalu. Sebagian kekuatannya diambil, tetapi Sarewa bisa memulihkan sebagian kekuatannya lagi dengan bantuan Insagi.


Sarewa mengincar Jiwa Melin untuk membunuhnya, karena Sarewa tidak bisa kembali lagi ke dunia Siluman. Jadi wanita yang kini berwujut kera putih itu, harus membunuh Melin. Jika ia ingin hidup tentram di alam manusia.


Dengan hampir semua chakra yang ia miliki, Sarewa mengumpulkan petir ditangannya. Dia sudah tak punya kesabaran lagi, dia harus membunuh semua Siluman yang mencoba melindungi Melin. Lalu membawa Melin ke hadapan Insagi, agar Melin bisa dieksekusi dengan cara yang benar. Agar Jiwa Melin tak bisa terlahir kembali.


Secepat kilat wanita berwujut manusia kera berbulu putih itu sudah berada di dekat tubuh Adrian yang masih belum bisa bergerak.


Tangan Sarewa yang bersinar karena tengah menggenggam bola petir. Tengah berayun ke arah Adrian, yang sama sekali tidak berdaya dengan apa yang akan menghampirinya.


Manik matanya hanya bisa memandang ke arah bola petir yang digenggam musuhnya. Sel di otaknya belum sepenuhnya berfungsi dengan benar.


Tetapi Adrian masih sempat berpikir hal lain, dia sempat memikirkan lagi waktu-waktu singkat dihidupnya. Beberapa hari yang amat indah yang ia lewati dengan jantung yang terus berdebar tak karuan. Hari-hari yang membuat dia punya tujuan yang nyata, dan hari-hari dimana dia tau. Bahwa masih ada cinta dan kebahagian didunia ini, yang tersisa untuknya.


Adrian yang dulu tidak menyangka, akan bisa hidup bahagia tanpa berubah menjadi manusia. Kini dia bisa faham konsep kebahagiaan yang sebenarnya. Kita bahagia saat kita mencintai seseorang, kita merasa hidup saat kita peduli pada orang lain. Bahkan kita merasa diri kita berarti, saat kita mengorbankan hidup kita untuk orang yang kita cintai.


Adrian bahagia, dia bangga pada dirinya sendiri yang dikata orang bodoh dan naif. Tetapi ini bukanlah saatnya dia mati, karena jika dia mati sekarang. Maka pengorbanan yang selama ini dia berikan untuk gadis yang ia cintai, hanya akan menjadi hal yang sia-sia.

__ADS_1


Dia harus bertahan sampai besok pagi, Adrian harus berusaha tetap hidup sampai Bulan Merah selesai bersinar. Agar apa yang ingin dia pertahankan, apa yang paling penting dalam hidupnya. Akan tetap ada dan nyata.


Cintanya kepada Melin, rasa kalut yang menghantuinya sepanjang hari. Kekhawatirannya yang tiada henti menggema di renung jiwanya. Serta rasa bahagia yang tiba-tiba datang, hanya karena melihat senyum gadis manis itu.


Semua itu membuat Adrian cukup berani mengambil resiko. Dia dengan cepat menahan tangan Sarewa yang sepanas 100 tungku pembakaran itu, dengan tangan kosongnya yang tak dialiri chakra.


Bisa dipastikan, kulit manusianya yang tipis akan meleleh seketika. Jika mengenai sesuatu yang sepanas itu.


Tetapi Adrian tak punya cara lain, dia harus mengulur waktu. Sampai sel di otaknya kembali berfungsi secara sempurna.


"Dia akan baik-baik saja!" ujar Jendral. Dia menghentikan Melin, dengan mencengkeram erat salah satu lengan tangan Melin.


"Bagaimana dia bisa baik-baik saja? Aku harus menolongnya!" kata Melin dengan nada bicara yang amat khawatir.


Gadis manis itu hampir menangis, karena melihat keadaan yang dialami lelaki yang dia cintai.


"Mas Adrian tahu apa yang sedang dia lakukan! Dia tidak mungkin mati, hanya karena serangan seperti itu!" kata Jendral.


Jendral melepaskan pergelangan Melin, jika Melin meronta sekuat itu. Maka cengkraman tangan Jendral di pergelangan tangan Melin akan menyakiti gadis manis itu.


Tetapi ketika Melin sudah berhasil keluar dari dalam mobil, dia melihat sebuah hal yang membuatnya benar-benar tercengang.


Adrian sudah berdiri dengan ajian Tameng Sadewo, yang melindungi tubuhnya secara sempurna. Seperti perkataan Jendral, Adrian memang mempunyai banyak cara untuk mengalahkan musuhnya.


Lelaki gagah itu seolah tidak punya niat untuk menyerah, meski Siluman yang harus dihadapi oleh Adrian bertambah banyak dan juga bertambah kuat.


Melin bisa merasakan hal itu di dalam hatinya, namun Melin sama sekali tidak bisa menebak. Apa alasan Adrian sampai melakukan hal yang senekat ini.


Apa benar Adrian mempunyai niat untuk melindunginya dan membiarkan dia hidup, tanpa pamrih apa pun. Atau Siluman Harimau Putih itu, hanya pura-pura melindunginya agar nanti Melin dapat dimanfaatkan olehnya kembali.


Meskipun alasan Yang kedua adalah jawaban di akhir Adrian. Tetapi Melin tidak bisa, tidak berterima kasih kepada lelaki gagah itu.


Tanpa Adrian Melin tidak mungkin akan hidup sampai hari ini, pasti para Siluman-Siluman yang kejam itu akan membunuhnya tanpa ampun.

__ADS_1


"Kau lihatkan--kan, Om Adrian selamat! Dia itu bukanlah Siluman biasa!" ujar Jendral dengan nada lega penuh kebanggaan.


Padahal kemarin-kemarin Jendral sangat membenci Adrian, karena telah memanfaatkan Melin.


"Ngomong-ngomong! Kenapa kamu sekarang jadi berubah?!" Melin tentu saja tidak bisa mengabaikan Jendral yang sekarang.


Jendral yang biasanya sangat polos dan sangat bodoh, kenapa bisa mengetahui hal-hal tentang Adrian.


"Berubah gimana?" cowok SMU itu pura-pura bodoh lagi, sepertinya Jendral tidak ingin mengatakan apa yang dialaminya kemarin malam.


Hal yang membuat Jendral menjadi sosok lain.


"Kamu jadi sok tahu dan banyak bicara!" ucap Melin.


Melin tidak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan Jendral, karena Melin sudah mengira bahwa Jendral adalah Siluman seperti Adrian. Alasannya adalah Melin tidak bisa membaca ingatan cowok SMU itu.


Hal itu sudah mendukung tebakan Melin bahwa Jendral bukanlah manusia biasa seperti dirinya. Tetapi Melin tidak yakin Jendral itu mempunyai wujud Siluman apa, entah mirip seperti ibunya atau tidak.


"Apa kau sudah mulai, berubah jadi Siluman juga?" tanya Melin.


Jendral tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Melin. Karena Jendral tidak bisa menjelaskan jawabannya secara rinci kepada Melin. Takutnya nanti malah, Melin membencinya karena Jendral juga adalah seorang Siluman.


"Kau Siluman Murni, atau manusia setengah Siluman?" tanya Melin.


Meski Melin sudah yakin bahwa Jendral bukanlah manusia biasa. Tetapi gadis manis itu tampaknya sangat penasaran sekali, dengan wujud Siluman yang berada di tubuh Jendral.


"Aku tidak tau, apa wujut Siluman didiriku!" kata Jendral.


Karena memang Jendral belum pernah berubah menjadi Siluman. Tetapi kekuatan Siluman yang mendekam ditubuhnya, sudah bisa dia rasakan.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2