
Masa Depan Melin
~¤~¤~¤~¤~
JIKA ADA GADIS PERAWAN YANG BERASAL DARI DESA AIR KERUH MENIKAH DENGAN PEJAKA DARI DESA INI JUGA, MAKA HUJAN TELUH ITU AKAN DATANG KEMBALI.
ANAK YANG MEREKA LAHIRKAN, AKAN MEMBUHUH SELURUH WARGA DI DESA INI.
Melinda putri dari Lastri dan juga Yanuar.
Lastri yang masih merupakan putri dari kerabat salah satu warga Air Keruh. Sementara Yanuar adalah warga asli Desa ini.
Kutukan itu diyakini kembali terjadi karena Lastri dan Yanuar memiliki seorang putri.
Semua warga menganggap kutukan dan ramalan itu benar adanya. Sehingga seluruh lapisan masyarakat, yang tinggal di Desa Air Keruh memutuskan bekerja sama untuk menumbalkan Melin nanti malam.
Nenek Yah yang tubuhnya sudah terbebas dari Siluman Banaspati, juga ikut membantu. Wanita tua itu bertugas untuk membawa Melin jauh dari kediaman Adrian.
Karena jika seorang Siluman mendekati Adrian, lelaki itu langsung bisa tahu. Adrian pasti akan menghajar seluruh Siluman, yang berusaha mengambil Melin darinya.
Karena Adrian hanya tunduk kepada Siluman Macan Kumbang, yang tak mau menumbalkan Melin lagi. Sedangkan para Siluman takut akan takdir Melin, yang tidak ditakdirkan untuk membunuh seluruh Siluman di Bumi ini.
Yanuar yang awalnya takut dengan takdir putrinya, kini sudah bisa pasrah dengan hal tersebut.
PUTRAMU AKAN MEMILIKI KETURUAN JIWA SUCI, YANG AKAN MEMBUNUH SELURUH SILUMAN YANG TINGGAL DI BUMI INI.
Ini--kutukan yang sebenarnya, kutukan yang didapat oleh Ibunda Yanuar. Karena wanita Siluman Macan Kumbang itu mengambil suami orang lain di dunia Siluman.
Sehingga Ibunda Yanuar di singkirkan dari Dunia Siluman dan kabur ke Dunia manusia untuk melahirkan putra yang telah ia kandung.
~¤~¤~¤~¤~
"Nenek tunggu di sini ya, saya akan mencari bantuan!" ucap Melin.
"Trimakasih, Nak! Jalanlah lurus ke arah sana. Maka kau akan menemukan pemukiman!" ujar Nenek itu.
__ADS_1
Nenek Yah menunjuk ke arah dalam perkebunan Kelapa Sawit. Melin melihat ke arah yang di tunjukkan Nenek Yah.
Melin ragu, namun dia tetap berdiri. Dia meyakinkan dirinya, untuk tetap berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Nenek Yah. Gadis itu berjalan dengan langkah yang sedikit gemetar. Sebab dia tau apa yang akan dia hampiri, jika ia berjalan ke arah itu.
Ternyata ada yang lebih penting dari kebahagiannya sendiri, yaitu kebahagiaan orang lain.
Ternyata ada yang lebih penting dari nyawanya sendiri, yaitu nyawa orang lain.
Ternyata ada yang lebih penting dari tujuannya sendiri, yaitu jiwa-jiwa manusia yang dikurung oleh para Siluman.
Melin sempat merasa bersalah karena dengan mudahnya dia memutuskan untuk kabur, dan menyelamatkan jiwanya sendiri. Tanpa memikirkan kosekuensi yang mungkin ditanggung oleh orang lain.
Dia lupa, dia manusia dia bukan Siluman. Dia punya hari nurani, yang tak dimiliki oleh para Siluman.
Nafasnya tersendat-sendat, gugup. Pasti.
Melin sedang berjalan menuju ke kematiannya. Dia hanyalah bocah remaja yang masih plin-paln dalam mengambil keputusan. Tetapi kali ini Melin sangat yakin, dia tidak akan merubah keputusannya lagi.
Karena saat menggenggam tangan Nenek Yah, Melin bisa melihat sejarah lampau Desa ini secara gamblang. Dia juga bisa melihat masa depan warga-warga di Desa ini, nantinya.
Nyawanya tidak sepenting, nyawa seluruh warga Desa. Dia hanya seorang gadis pemberontak, tak sepadan jika dia mengorbankan seluruh nyawa warga Desa Air Keruh untuk melindungi Jiwanya yang tak ada artinya.
"Jangan percaya pada mereka, kau harus hidup adikku!"
Langkah Melin terhenti, dia mendengar suara yang sangat dia kenali.
"Jangan berkorban lagi!!!" teriak suara melengking Si Hantu Kuntilanak.
Melin menghela nafasnya amat dalam, dia mencoba menenangkan hatinya yang ketakutan. Sampai airmatanya menetes tanpa ia sadari. Dia masih 18 tahun, tapi kenapa dia harus memutuskan sebuah keputusan yang menyangkut banyak nyawa.
"Yosi, dengarkan kakak!" Kuntilanak itu terus bicara. "Semua ini bukan salahmu, kaburlah adikku! Aku akan menuntunmu!".
Melin semakin terisak, dia takut. Dia takut sekali, dia amat takut, dan dia tak pernah setakut ini. Hal yang membuatnya takut adalah gambaran mengerikan yang terselip di takdir Nenek Yah.
Melin melihat dirinya berdiri tegak dengan keangkuhannya. Ditangannya terjuntai pedang panjang yang terlihat amat kokoh, pedang itu basah oleh darah. Tak ubah dirinya yang mengenakan pakaian putih, dengan warna merah darah, menjadi penghias pakaianya yang berkibar tertiup angin. Karena angin berhembus cukup kencang ke arahnya di masa depan.
__ADS_1
Dia melihat senyuman jahat dari wajahnya sendiri. Lalu di sekitar tempatnya berdiri, Melin tak mengenali tempat itu. Tetapi Melin yakin jika padang rumput itu berada di dekat sini.
Padang rumput yang harusnya berwarna hijau keemasan, memerah penuh dengan darah, mayat dan orang-orang sekarat.
Teriakan kesakitan, meminta tolong, rintihan dan tangisan. Menggema dalam satu suara, masuk ketelinganya. Sangat memilukan, namun Melin masih tersenyum dengan senyum sombongnya.
Di masa depan Melin seolah merasa bahagia dengan keadaan yang amat menyeramkan itu. Dia tampak menikmati setiap alunan getaran adrenalin, yang menyentuh hatinya. Dia menyukai, Melin menyukai membunuh manusia di takdir masa depan Nenek Yah.
Melin begitu takut, sampai tubuhnya bergetar. Dia tak akan sanggup melihat itu. Dia tak akan sanggup menjadi satu-satunya yang tersisa. Dia tak akan sanggup memikul beban itu di pundaknya yang kecil.
"Kakak, maafkan aku. Aku lebih baik mati, dari pada menjalani sisa hidupku. Sebagai orang gila!" kata Melin.
Melin yakin dia akan gila, jika sampai dia tak mati di sini.
Bisa melihat masa depan itu bagus, kata orang. Tapi bagi Melin hal itu adalah sebuah siksaan. Karena dia bisa melihat apa yang akan terjadi dikemudian hari.
Dia bisa dengan jelas melihat setiap detailnya, dia seperti sedang menunggu paket yang isinya sudah pernah dia lihat dan sentuh sebelumnya.
Jika isi paketnya adalah hal bagus, dia mungkin bisa diam dan setia menunggu paket itu. Tapi bagaimana jika isi paket itu adalah bencana, apa Melin harus diam saja.
Jika kau manusia, apa kau akan tega menyakiti manusia lain. Manusia cenderung berfikir seperti itu sebelum melakukan sesuatu. Tapi terkadang mereka memang mengabaikannya, kadang mereka tak peduli.
Mereka bisa tak peduli, namun Melin tak bisa tak peduli. Meski dia tak kenal dengan orang-orang di sini. Namun Melin harus mencegah bencana itu.
Jika Melin menyerahkan dirinya pada para Siluman sekarang juga. Maka tak akan ada kegaduhan, tak akan ada keributan yang akan terjadi di Desa Air Keruh. Tak akan ada manusia yang mati, karena ke egoisannya.
"Biarkan mereka mati!" Kuntilanak masih saja mencoba menghalangi langkah Melin untuk pergi ke arah para Siluman. "Mereka pantas mati, Yosi! Karena merekalah yang menyebabkan semua ini!!!"
Melin tau, tau dengan pasti. Bagaimana Kutukan Hujan Teluh ini terjadi. Dia juga telah membaca ingatan Nenek Yah, tentang kejadian Arinda.
Gadis cantik yang pemalu itu, sejak awal telah ditargetkan untuk menjadi wadah. Wadah Jiwa Suci.
Arinda telah ditunjuk sejak kecil untuk mengandung bayi Jiwa Suci, oleh sesepuh Desa Air Keruh.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤