
"Mel, kamu bisa denger aku?" tanya Jendral.
Cowok yang masih mengenakan seragam SMU yang ia lapisi hoodie di luarnya itu. Mendekatkan wajahnya ke arah dinding pondok terbuat dari kayu, Jendral berusaha untuk melihat dari sela-sela rongga di dinding itu.
"Jendral, apa kau diluar?" tanya Melin.
Nada bicara Melin amat sangat bersemangat, gadis manis itu sepertinya mempunyai harapan lagi. Keberadaan Jendral disampingnya saat ini, amat sangat berati bagi Melin.
Keputusasaan yang sudah mengerogoti dirinya kini mulai tumbuh lagi.
"Mel, aku akan mencoba merusak rantai gembok ini! Dan membebaskanmu segera!" kata Jendral.
Lelaki SMU itu tak peduli lagi dengan hal lain. Perasaan takutnya, atau pun kekhawatirannya akan gempuran bogem Adrian yang diselimuti ajian mistis. Telah hilang seketika, setelah ia berhasil mendengar suara Melin.
Jendral melihat sekeliling tempatnya, dia menemukan dua batu yang berukuran berbeda. Jika dia mengetukkan dua batu itu, di antara rantai berukuran 10 mm yang membelenggu pintu Gubuk Reot di mana Melin disekap. Jendral berharap rantai itu bisa dihancurkan.
Namun tak sesuai harapannya rantai besi itu terlalu kuat untuk dihancurkan dengan batu. Jenderal mulai kebingungan, otaknya kembali mengingat tentang belati di sampingnya.
Bagaimana jika Adrian datang kesini sebelum dia berhasil membebaskan Melinda.
Jenderal mulai berpikir dengan otaknya, matanya menyusuri setiap senti bagian pintu itu.
Gagang tempat dimana rantai itu diselipkan, terbuat dari kayu dan benda itu lebih mudah dihancurkan dengan batu dari pada rantai.
"Bodohnya aku!" gerutu Jendral dengan nada gugup.
Tanpa memikirkan hal lain lagi, Jendral segera memukul gagang pintu itu dengan sekuat tenaganya. Dia harus mengeluarkan Melin dari tempat itu, sebelum Adrian datang kembali ke ke Gubuk Reot.
Berkali-kali tanpa henti, Jenderal memukulkan batu di tangannya ke arah yang sama. Jendral terus berusaha memisahkan gagang pintu itu dari pintunya.
Krakkkkkkkkkk
Setelah beberapa menit akhirnya Jendral bisa menghancurkan gagang itu, meski pun tangannya juga terluka.
Segera Jendral memasuki ruangan gubuk reot itu, Dia segera menghampiri Melin yang masih terduduk lemas di atas tikar mendong yang tipis.
"Kamu nggak papa, Mel?" tanya Jendral pada gadis yang ia cintai itu.
Jendral hanya bisa memandang wajah Melinda dengan bantuan sinar rembulan yang memasuki celah-celah dinding kayu gubuk reot itu. Cahaya itu sudah lebih dari cukup untuk Jendral. Hati dan pikirannya sedikit lega, karena melihat Melinda masih bernyawa. Meski pun keadaan gadis itu, bisa dibilang jauh dari kata baik.
"Kita harus pergi dari sini. Secepatnya!" kata Jendral.
Jendral segera berjongkok di depan tubuh Malin. "Naiklah, aku akan mengendongmu sampai ke motorku!" suruh Jendral.
__ADS_1
Tidak ada satu patah kata pun yang terucap di bibirmu Melin. Gadis belia itu terlalu terharu dengan apa yang Jendral lakukan padanya.
Dengan sekuat tenaganya Jendral berusaha berlari menuju tempat di mana motornya diparkirnya. Dia menurunkan tubuh Melinda dengan hati-hati.
"Kamu beneran nggak papa, Mel?" tanya Jendral.
Melin terisak, namun dia mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Jendral yang berkali-kali ditanyakan oleh pemuda itu kepada Melin. Dia tidak mungkin mengatakan semua pengalaman buruknya kepada Jendral.
Jendral melepas hoodienya dan memberikannya kepada Melin.
"Pakailah! Kau pasti kedinginan--kan?" tanya Jendral pada Melin.
Jendral juga membantu Melin mengenakan hoodie itu, tubuh Melin hanya ditutupi oleh selai Kain Merah tipis. Jika Jendral mengajaknya menaiki motornya di tengah malam seperti ini. Melin pasti akan jatuh sakit paginya.
"Makasih Jendral!" kata Melin.
Mereka berdua pun naik ke atas motor Jendral dan lelaki itu, mulai memacu kuda besinya untuk pergi dari tempat mengerikan itu.
Melin memeluk tubuh Jendral dengan eratnya, gadis itu serasa tidak mau berpisah dari lelaki yang tengah dipeluknya. Melin memang tidak pernah mendapatkan penglihatan tentang masa depannya dengan Jendral. Namun Melin yakin hanya Jendral yang yang tulus menolongnya.
Hati gadis manis itu kembali remuk, saat ia mengingat bagaimana Adrian menghianatinya. Ia merasa menyesal karena telah jatuh cinta kepada Om--ya itu.
Perasaan cintanya kepada Adrian sudah berubah menjadi rasa benci yang membabi-buta. Melin sudah tidak peduli lagi dengan, apakah dia akan hidup atau tidak.
Dan satu-satunya cara untuk membalas rasa sakit Melin kepada Adrian, dengan nilai yang hampir sama. Hanyalah menggagalkan penumbalannya pada Nyai Blorong.
Jika Adrian tidak dapat melakukan ritual itu tepat pada waktunya. Maka lelaki itu pasti mengalami penurunan ilmu kanuragannya. Pada saat itu--lah Melin punya kesempatan, untuk membalaskan dendamnya kepada ada orang yang paling ia benci di dunia ini.
Cara satu-satunya untuk mengelabui Adrian adalah menipunya kembali. Jika dia tetap berada di gubuk reot itu, Adrian pasti tahu tentang proses ritual.
Namun Jika dia pergi dari tempat itu dan pura-pura sudah bercinta dengan Jendral. Melin yakin Adrian pasti percaya dengan sandiwaranya kali.
Tugas Melin saat ini hanyalah, membuat Jendral bekerja sama dengannya untuk menipu Adrian. Melin harus berhasil meyakinkan Jendral, untuk bekerjasama dengannya.
.
.
.
.
Ellen menyiramkan segelas air putih ke wajah Kades Air Keruh, yang sudah dia belenggu dengan tali di kedua tangan dan kaki lelaki kuat itu.
__ADS_1
Ellen ingin Kades Desa Air keruh itu sadar dari pingsannya, lalu mengatakan semua yang ia tahu tentang Kutukan Hujan Teluh.
Polisi wanita itu masih saja bingung dengan apa yang terjadi di sekitarnya, karena semua tampak tak masuk akal baginya.
"Bangun--lah. Jangan seperti anak kecil yang manja,
"Sekarang katakan semua, apa yang kamu tahu tentang kutukan Hujan Teluh!" paksa Ellen.
Polisi wanita itu sudah duduk di depan kursi Jacson, tubuh Kepala Desa Air Keruh itu terikat kuat ke kursi kayu yang ia duduki sendiri.
"Ternyata kau benar-benar *.*****, yang tidak tahu tahu rasa Terima kasih ya?" tanya Kades Air Keruh itu dengan nada santai.
Menjulurkan tangannya ke arah bahu Jacson yang terdapat luka tembak. Dengan wajah penuh kemenangan Ellen membalas tatapan mata Jacson yang santai.
Wanita itu menekan keras bahu Jacson yang sudah koyak karena peluru emasnya. Darah segar kembali keluar dari luka yang masih menganga itu.
"Akkkkkkkkkk!" teriak Jacson kesakitan.
"Akan kau jelaskan atau tidak?" tanya Ellen kepada Jacson.
Wanita yang bekerja di devisi kejahatan kriminal itu, sama sekali tidak bergeming dengan dan teriakan kesakitan Jacson. Pasti sudah banyak manusia yang ia siksa saat bertugas di kepolisian. Jadi apa yang ia lakukan kepada Jacson saat ini, bagi Ellen adalah hal yang normal. Mendapatkan informasi dari penjahat dengan cara apapun, adalah tugas yang sehari-hari ia lakoni.
"Baik akan aku jelaskan! Tapi lepaskan dulu!" pekik Jacson dengan suara mendesis karena menahan rasa sakit di bahunya.
"Jelaskan dari awal dan jangan menyisakan satu fakta pun.
"Karena jika kau tidak melakukan aku bisa membunuhmu!" ancam Ellen.
Wanita itu sudah bermain dengan pistolnya. Dia juga membuka selongsong peluru di pistolnya dan memberi lihat kepada Jacson.
Pistol yang Ellen bawa saat ini, berisi enam butir peluru emas yang siap menghancurkan jantung Jacson.
"Ternyata kau cukup persiapan juga!" kata Jacson.
"Aku bisa mengatakan,
"Aku membunuhmu karena kau menyerangku.
"Aku hanya akan mendapatkan skor selama beberapa bulan jika aku mengatakan hal itu!
"Kita tidak punya saksi di sini!" ancam Ellen.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤