
Gadis manis itu sudah berada di posisi rebahan di atas kasur yang nyaman. Wajah imutnya memandang lurus ke arah wajah Omnya yang sudah merangkak di atas tubuhnya.
Pandangan yang amat tulus Melin itu, diabaikan oleh Adrian. Dengan cepat lelaki itu segera membenamkan wajahnya di sepasang gundukan kenyal milik Melin. Tubuh belia gadis itu menggeliat hebat, karena merasakan kenikmatan sentuhan Adrian yang tiada ujung.
Perlahan tapi pasti, kain merah tipis yang menutupi dua belahan dada Melin segera terlepas dan terlempar ke udara. Dua benda kenyal itu berujung menjadi bulan-bulanan kemaksiatan Adrian. Teriakan tertahan karena menahan kenikmatan, menyatu dengan desah nafas tersengal Melin.
Gadis itu belum tahu bagaimana caranya mengekspresikan, rasa nikmat yang membelenggunya. Dia hanya bisa menahan supaya suara yang keluar dari mulutnya tidak terlalu keras.
"Teriak saja sesuka hatimu! Tidak akan ada yang mendengarnya!" kata Adrian disela permainan kecupan dan hisapannya di atas gunung kembar Melin.
"Nggak papa, emangnya?" tanya Melin.
Gadis itu mengatur nafasnya, karena baru saja Adrian melepasnya untuk sementara.
Adrian hanya tersenyum sekilas, ia menurunkan pandangannya ke arah kain merah tipis yang tersisa di tubuh Melin. Segitiga kecil yang menutup gundukan pagar kenikmatan gadis itu, segera dielusnya.
"Akhhhhhhh!" desah Melin.
Gadis itu pernah disentuh seperti itu sebelumnya, namun kali ini sentuhan itu terasa sangat geli tapi menyenangkan.
Kedua wajah sepasang manusia itu, saling memandang dalam kerakusan akan kepuasan.
"Kau siap?" tanya Adrian.
Melin mengangguk pelan. Dia mengobarkan bendera hijau tanpa ia ketahui bahwa, apapun yang Adrian lakukan malam ini padanya hanyalah akting belaka.
Rasa cinta, kelembutan dan kepuasan serta perasaan hangat yang Adrian tunjukkan. Hanyalah sebagian dari triknya untuk membawa Melin ke pondok ini. Adrian hanya ingin Melin melakukan ritual bejat yang sudah puluhan tahun menjadi tradisi di Desa Air Keruh ini.
Ritual yang dipercaya dapat memakmurkan dan juga memberikan keamanan pada Desa.
.
.
Detik demi detik sepanjang malam itu dihiasi, oleh desah.an dan juga hembusan nafas kasar dari keduanya. Mereka saling memacu kehendak mereka, untuk memuaskan satu sama lain.
Bergiliran mereka tumpang-tindih, memaksa lawannya untuk menerima torehan kenikmatan. Suara deritan nyaring dipan kayu yang mereka tumpangi, seakan tak mereka hiraukan. Mereka telah asik dengan penyatuan, yang menghasilkan tetesan keringat dari tubuh mereka masing-masing.
.
.
__ADS_1
Kades Desa Air Keruh Jacson, baru saja memasuki halamannya rumahnya menggunakan motor Yamaha RX King--nya. Kedatangannya langsung di songsong oleh Lastri, yang berlari dari dalam rumah Kades Air Keruh itu.
"Mas Jacson, Melin hilang!" teriak Lastri dengan, raut wajah yang sangat khawatir.
"Mungkin dia ke rumah, Jendral!" ujar Jacson, dia pura-pura tak tahu dimana keberadaan Melin.
Padahal Jacson sendiri yang mengantarkan Melin kepada Adrian.
Namun perkataan Jackson, ter tangkis oleh keberadaan Jendral. Cowok SMA itu baru saja keluar dari dalam rumah Jacson, lelaki muda itu langsung menghampiri dimana Jacson dan Lastri berada.
"Kita sudah mencari Melin keliling Desa, Pak! Tetapi kami tidak dapat menemukan Melin!" ujar Jenderal, pria muda itu sama khawatirnya dengan Lastri.
"Mungkin Adrian menculiknya, Mas!" kata Lastri.
Memang hanya itu, kemungkinan yang bisa saja terjadi. Karena untuk curiga bahwa Jacson dan Adrian bekerja sama, adalah hal yang tidak mungkin dipikirkan oleh Lastri.
Jacson yang terlihat sangat peduli dengan siapa pun, mana bisa dicurigai oleh Dosen Hukum itu.
"Mas tahu--kan dimana Adrian berada?
"Tolong bawa aku ke sana, aku harus menyelamatkan Melin!" kata Lastri.
Wanita itu tidak bisa memikirkan kemungkinan lain. Dia tidak peduli jika dirinya dalam bahaya, asalkan Melin putrinya tidak mengalami hal buruk apa pun.
"Baiklah, cepat naik! Aku akan membawamu ke sana!" ujar Jacson.
Semburat senyum terlukis beberapa detik di wajah khawatir Jacson. Rencana yang ia pikirkan pasti akan merugikan bagi Lastri. Sementara Dosen Hukum itu, tidak tahu hal buruk apa yang bisa terjadi padanya.
Secepat kilat dan tanpa prasangka apa pun, Lastri segara menaiki jok belakang motor Jacson yang tersisa. Jacson kembali memacu motornya untuk membawa Lastri ke tempat yang dia inginkan.
.
.
Di perjalanan menuju gubuk pingir tebing, Jacson mulai memikirkan banyak cara untuk menyiksa Lastri. Satu-satunya cara untuk menghilangkan jejak dua wanita ini dari Desa Air Keruh adalah membunuhnya.
Namun sepertinya Jacson mempunyai rencana lain sebelum membunuh Lastri. Lelaki itu tersenyum menyeringai di atas motornya. Iya asyik dengan pikiran yang ia miliki.
.
.
__ADS_1
Jackson dan Lastri sampai di gubuk pinggir tebing, namun hari sudah gelap sekali. Lastri langsung turun dari motor yang dikendarai oleh Jacson, tanpa peduli lagi dengan sopir ojek dadakan itu.
Wanita paruh baya yang masih sangat cantik karena rajin merawat diri itu, segera menggedor pintu Pondok di depannya.
Malam ini adalah malam bulan purnama, meski rembulan belum muncul. Namun cuaca yang cerah seharian ini, membuat langit masih tampak cerah meskipun hari sudah melewati waktu Adzan Maghrib. Pandangan mata pun, masih jelas saat melihat sekitar.
Dari motornya, Jacson memandang ke arah Lastri dengan senyuman yang menyeringai. Wajah Kades Air Keruh itu benar-benar terlihat sangat menyeramkan, dengan senyum yang seperti itu.
Jacson turun dari motornya, tatapannya terus mengarah ke arah Lastri yang kebingungan. Wanita paruh baya itu terus menggedor-gedor dinding kayu pondok, yang dulunya dibuat oleh Yanuar.
"Melin, Melin! Kamu di dalam, Nak?" teriak Lastri tanpa henti.
Sambil berjalan ke arah Lastri yang sangat kebingungan. Jacson melepas kancing di lengan kemeja panjangnya. Dengan santainya Kades Desa Air Keruh itu, melipat kain lengan kemejanya sampai ke sikunya.
Lastri menyalakan senter di ponselnya untuk menerangi pandangannya. Namun cahaya terang dari ponselnya, ia sorotkan ke dalam celah-celah dinding kayu pondok. Sehingga Lastri tidak tahu apa yang sedang Jacson lakukan di belakangnya.
Lelaki itu menyapukan pandangannya ke sekitar, dia berusaha mencari senjata tumpul untuk melumpuhkan Lastri. Namun tampaknya dia tidak menemukan apa pun.
Bukankah Lastri adalah Dosen Hukum, yang sepertinya tidak pernah berolahraga ataupun berkelahi. Jadi untuk melumpuhkan sosok Lastri, pasti akan sangat mudah. Meski pun menggunakan tangan kosong. Tanpa pikir panjang Jacson segera berjalan cepat kearah Lastri, yang masih menggedor-gedor salah satu sisi dinding pondok.
Dengan kekuatan yang sudah dikumpulkan di salah satu lengannya. Jacson mulai mengayunkan tangan kanannya ke arah tengkuk Lastri.
Gubrakkkkkkkk
Gedebukkkkkk
Yang terlempar ke atas tanah, bukanlah tubuh ramping Lastri. Namun tubuh yang kini terjerembab di tanah adalah tubuh Jacson. Pria itu tampak meringis kesakitan, dia memegangi perutnya.
"Siapa kamu?" tanya Jacson pada Lastri.
"Bukankah harusnya aku, yang tanya seperti itu ke kamu?" tanya Lastri.
"Aku tahu, kau bukan mahasiswa yang bernama Lastri.
"Yang kami paksa untuk melakukan ritual 19 tahun yang lalu!" kata Jacson.
"Kenapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau sudah lupa wajah kakakku?
"Akhhhhh...Bukankah kalian memperkosanya di sebuah pondok tanpa cahaya?" tanya Lastri yang kini telah memasang wajah garangnya.
"Jadi dia kakakmu, pantas saja kau terlihat mirip dengan Lastri! Tapi masih sangat muda!" kata Jacson.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤