Hujan Teluh

Hujan Teluh
Masa Lalu Arinda


__ADS_3

Jedarrrrrrrrrr


Gubrakkkkkkkkk


Gubrakkkkkkkkk


Jedarrrrrrrrr


"Bangsat!!!


"Apa yang kau lalukan pada ponakanku!!!" teriak Adrian.


Lelaki kekar itu terus memukul jendela samping tempat duduk Melin. Untungnya Jacson belum sempat melakukan lebih banyak lagi tindakan tak senonohnya pada tubuh Melin.


Betapa bingungnya Kades Air Keruh itu, bagaimana bisa n.afsu birahinya terpancing begitu saja. Pandangan manik matanya meneliti tubuh Melin yang berada di bawahnya, serta tubuhnya sendiri.


Beruntung sekali dia, belum ada satu pun helaian kain yang sempat tertanggal dari tubuh mereka berdua. Kini netranya terkejut karena melihat wajah Melin yang tanpa ekspresi apa pun. Gadis muda belia itu masih tertidur dengan pulasnya.


Gubrakkkkkkk


Gubrakkkkkkk


"Buka, tolol! Buka sekarang!" Adrian masih berteriak di depan mata Jacson.


Hanya kaca setengah gelap yang menghalangi pandangan, kedua lelaki itu. Jacson kembali ke tempat duduknya dan membuka kunci pintu mobilnya. Dengan setengah merasa bersalah Jacson keluar dari mobilnya.


Buakkkkkkkkk


Bogeman tinju Adrian yang amat kuat sudah menyambutnya. Tubuh tegap Kades Desa Air Keruh itu sudah terlentang di samping mobilnya. Hampir semua orang yang lewat di jalanan besar itu memandang ke arah perkelahian dua pria itu.


Adrian tak peduli pada pandangan nanar mereka semua, lelaki itu berjongkok di atas tubuh Jacson. Dia melayangkan tinjunya kembali ke arah wajah yang sekarang amat di benci oleh Adrian itu. Berani sekali pria yang dikenal suci dan alim itu melakukan tindakan yang tak senonoh pada keponakannya.


Satu tinjuan  Adrian itu berhasil ditangkis oleh Jacson. Dengan menggenggam di kepalan bogem Adrian, Jacson menyelamatkan wajah tampannya.


"Aku melihat Arinda, di diri keponakanmu!" ujar Jacson.

__ADS_1


"Aku tak bermaksut melakukan itu pada ponakanmu.


"Tapi saat keponakanmu terlihat seperti Arinda saat muda dulu, aku sama sekali tak berdaya!


"Maafkan aku!" Jacson mencoba menjelaskan situasinya.


Bagi Adrian pengakuan Jacson bisa dia mengerti, lelaki yang menggenggam kepalannya kini. Adrian tau bagaimana ceritanya kisah cinta Jacson dengan Arinda di masa lalu. Semua orang membicarakannya, dan lelaki itu bahkan sempat hampir berseteru dengan Jatmiko saat baru sampai di Desa. Karena siapa lagi kalau bukan karena Arinda yang dipasung suaminya.


Buakkkkkkkkkkk


Ternyata masih ada segumpal emosi yang tak ingin ditahan oleh Adrian. Meski dengan tangan kirinya, bogeman kedua Adrian sukses memberi bekas kebiruan di kening Jacson. Padahal bibir kirin Kades Desa Air keruh itu sudah mengeluarkan darah segar karena bogeman pertama Adrian.


Tanpa berkata apa pun, Adrian berdiri dari atas tubuh Jacson. Ada sedikit semburat harapan diwajah Adrian, ternyata dia sudah memutuskan sebuah jalan yang akan dia tempuh dengan keponakannya itu.


Adrian berjalan berputar ke arah Melin yang masih tertidur pulas di jok penumpang mobil Jacson. Pria kekar itu mengangkat tubuh keponakannya hanya dengan sekali hentakan.


Adrian memindahkan tubuh Melin kedalam mobilnya, Adrian menyetel kursi penumpangnya dan memakaikan seat beld pada Melin. Adrian segera memacu mobilnya, dan segera membawa Melin pergi dari sana.


Adrian menggenggam telapak tangan kiri Melin bahkan saat dia sibuk menyetir. Lelaki itu tak bisa membiarkan Melin yang sedang berjuang di mimpinya. Melin saat ini sedang bermimpi berperan sebagai Arinda, induk dari tumbal 20 tahun yang lalu.


Penyiksaan itu akan selesai malam itu, tapi siangnya gubuk itu berhasil dibuka oleh seorang manusia biasa.


"Jatmiko!" ujar Arinda bingung.


Sehelai kain merah yang lusuh, hanya kain itu yang boleh digunakan Arinda untuk menghangatkan tubuhnya ketika dingin. Tangan kanannya dipasangi rantai, wanita itu harus dirantai kembali setelah melayani pria yang datang padanya.


"Apa yang terjadi padamu Arinda?" Jatmiko segera berjongkok di dekat tubuh polos Arinda.


"Pergilah Jatmiko, aku sedang menjalani rutual. "Melahirkan Tumbal untuk menghentikan Hujan Teluh!" ujar Arinda.


Mata yang awalnya sedih itu langsung berbinar terang saat melihat betapa moleknya tubuh Arinda. Jemari kasar Jatmiko mengelus pipi lembut Arinda, sementara gadis itu sibuk menutupi area dadanya yang ramun dan bulat.


Elusan lembut yang menjijikan bagi Arinda itu segera di tangkisnya. Karena tangannya ia gunakan untuk menangkis jemari Jatmiko yang nakal. Alhasil kain merah itu melorot dan memperlihatkan dada indah Arinda yang membusung.


Tangan Jatmiko dengan cekatan meraih dua gundukan itu, meremasnya pelan dan membenamkan wajah mesumnya ke area itu. Arinda mencoba untuk melepaskan Jatmiko dari tubuhnya, tapi dia tak kuasa. Selain dirantai tangan kananya, Arinda juga merasa tubuhnya makin melemas.

__ADS_1


Pertahanan sekuat apa pun akan kebobolan juga, jika penyerangnya sedang dikuasai hawa n.afsu. Jatmiko berhasil mengeksekusi hasratnya dengan sangat mulus.


Malamnya Arinda membicarakan hal itu pada Aruna, ayah Jacson. Lelaki tua itu segera menemui Mbah Sodik dan mengatakan hal itu. Arinda akhirnya dibawa keluar dari gubuk itu dan dibawa ketempat Mbah Sodik. Dia di terawang, semua orang harus memastikan apakah bayi yang ada dikandungan Arinda adalah bayi tumbal itu.


Hasil trawangan itu menunjukkan bahwa Arinda telah mengandung bayi iblis itu. Setelah itu Arinda dibiarkan menikah dengan Jatmiko. Jatmiko pria yang lembut pada perempuan yang ia cintai, meski dia tau anak yang dikandung Arinda adalah anak iblis. Jatmiko tak peduli, toh saat lahir anak itu akan ditumbalkan.


Arinda banyak merenung dan berteriak-teriak sendiri semenjak itu. Tapi Jatmiko tak pernah lelah merawat istrinya itu, Jatmiko tau alasan Arinda jadi gila.


Kandungan iblis hanyalah tujuh bulan, malam itu tengah hujan deras dan perut buncit Melinda terasa sakit. Wanita yang sedang kesakitan itu membangunkan suaminya yang tidur di sampingnya.


"Mas, kayaknya saya mau melahirkan!" ujar Arinda, air ketuban yang berwarna kehijauan sudah mengenang di ranjang Arinda.


Saat itu Mbah Sodik sudah siap untuk membantu Arinda untuk melahirkan, wanita itu tanpa peduli siapa yang membantunya. Dia hanya berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayinya dari dalam rahimnya.


Setelah berjuang selama dua jam, tangisan bayi itu menggema diruangan. Diiringi hujan petir yang amat dasyat, setelah melahirkan Arinda dibawa ke sebuah mobil. Arinda harus mendapatkan perawatan medis karena habis melahirkan.


Tapi ditengah jalan, seseorang menghadang mobil yang dikemudikan oleh Yanuar ayah Melin. Sementara di jok belakang hanya ada Arinda dan Jatmiko.


Jiwa Melin yang berada di tubuh Arinda tampak menahan rasa sakit yang di alami Arinda. Tentu saja gadis itu bisa merasakan rasa sakit Arinda. Tatapan lemah dan berkunang-kunang Arinda masih bisa melihat siluet seorang pria yang keluar dari dalam mobil yang menghadang mereka itu.


Dekapan hangat Jatmiko menenangkan diri Arinda, tapi lelaki itu malah melepas pelukannya.


"Bangsat!!! Cari mati tu orang!" ujar Jatmiko dengan nada marah.


Arinda menarik tangan suaminya, gadis muda itu hanya mengeleng pelan. Dia tak ingin suaminya meninggalkan dirinya sendiri.


"Tenang Arinda, Aku akan cepat kembali!" ujar Jatmiko dengan senyum tulusnya.


Yanuar selaku supir juga ikut keluar, karena tak hanya satu orang yang keluar dari mobil dihadapannya. Arinda bisa melihat perkelahian mulai terjadi di sana, tapi dia lebih kaget karena seseorang membuka pintu mobil di sampingnya.


Wajah itu tak asing, senyum yang menawan dengan penuh ketulusan.


"Mas Jacson!" ujar Arinda lirih.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2