Hujan Teluh

Hujan Teluh
Di Gubuk Reot


__ADS_3

Air mata, darah dan juga keringat di sekujur tubuh Malin sudah mengering. Ia hanya memandang lurus kedepan, dengan tatapan kosong. Meski dia sudah mendapatkan penglihatan ini sebelumnya, namun hati dan pikirannya masih sangat syok.


Untuk pertama kalinya Melin mempercayai perkataan seseorang, yaitu perkataan Adrian yang berjanji melindunginya, bahkan jika harus mengorbankan nyawa lelaki itu sendiri.


Gadis belia itu merasa tertipu meski pun dia sudah tahu. Dia hanya punya satu harapan untuk hidupnya kali ini, dia ingin terbebas dari ritual Hujan Teluh yang menjijikan ini.


Namun kenapa Tuhan tak mendengar doanya, padahal selama ini dia jarang mengeluh dan meminta sesuatu kepada Sang Penciptanya.


Sebuah hentakan yang cukup kasar lagi-lagi dilayangkan ke arah punggung Melin, oleh tangan kekar Adrian.


"Cepat jalannya! Kapan kita akan sampai, jika kau berjalan selambat ini!" bentak Omya itu.


Telinga Melin bisa mendengar bentakan, orang yang ia cintai itu. Namun dia pura-pura tak mendengarnya, hatinya yang sudah terluka seperti disiram sejumput garam. Saat mendengar Adrian mengatakan kata kasar kepadanya.


Kaki Melin sudah mati rasa, sudah banyak luka goresan di atas kulit telapak kakinya. Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan rasa sakit atas penghianatan yang telah Adrian lakukan terhadapnya.


Kata-kata yang semanis madu itu, hanyalah sebuah umpan agar Melin menuruti setiap perkataan Adrian. Agar berada di dekat lelaki setengah siluman macam putih itu.


"Berhenti dulu!" suruh Adrian kepada Melin dengan nada yang sangat kasar.


Seperti sudah kehilangan indera pendengarannya, Melin terus berjalan tanpa memperdulikan apa yang dikatakan oleh Adrian lagi.


"Kubilang berhenti!" Adrian meraih kedua bahu Melin.


Lelaki gagah itu mempertahankan posisinya, lalu membaca mantra di dalam hatinya.


Secara ajaib di depan kedua insan, dengan pandangan yang sama-sama kosong itu. Muncul sebuah gubuk kecil, yang mirip gubuk untuk istirahat para petani di ladang mereka.


Dinding kayu yang renggang, serta atap daun rumbia yang terlihat sudah cukup usang. Bangunan yang sama sekali tidak layak untuk ditinggali manusia itu, sudah berdiri kokoh di depan Melin dan Adrian.


"Jika kau berusaha kabur dari sini, aku akan menyiksamu dengan siksaan yang lebih kejam lagi!" bisik Adrian ditelinga Melin.


Adrian memindahkan cengkramannya dari bahu Melin, ke pergelangan kecil lengan tangan gadis belia itu. Seperti tanpa daya, Melin menuruti semua kemauan Adrian. Gadis itu sama sekali tidak punya tenaga lagi, untuk memberontak kepada Omnya itu sekarang.


Lagi pula Jika dia memberontak sekarang, dia tidak akan bisa mengalahkan Adrian. Melin memang belum menyerah, untuk bisa keluar dari jerat ritual menjijikan ini.

__ADS_1


Di dalam diamnya gadis belia itu merencanakan sesuatu, meski pun dia tidak tahu apakah rencananya akan berhasil atau tidak. Namun Melin masih ingin berusaha untuk kabur dari cengkraman Adrian.


Kriettttttttt


Pintu kayu yang hampir roboh itu terbuka, hanya ada sebuah ruangan di dalam gubuk reot itu. Sebuah tikar dari mendong yang sudah tampak mau hancur, tergelar di atas tanah.


Dengan kasarnya Adrian melempar tubuh gadis yang baru saja ia setubuhi itu, ke dalam gubuk reot. Karena hentakan yang cukup keras, membuat tubuh Melin tersungkur di atas tanah yang beralaskan tikar mendong.


Tak ada kata mengeluh dari bibir Melin, gadis itu sama sekali tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun di depan orang yang telah menghianatinya.


"Ingat baik-baik pesanku! Jangan membuatku repot lagi, atau kau akan mati lebih cepat!" Adrian kembali mengancam Melin dengan kata-kata kasarnya.


Namun Gadis itu sama sekali tak bergeming sedikit pun. Dia telah menumpuk semua kebencianya terhadap Adrian di dalam hatinya. Kebencian yang teramat sangat gadis SMA itu kepada Adrian, sampai ia ingin membalas dendam kepada manusia setengah siluman macan putih itu.


Pembalasan dendam yang tidak mungkin Adrian bayangkan.


Kriettttt


Duarrrrrrrr


Grekkkkkkkk


Setelah dirasa cukup aman Adrian kembali membaca mantra, untuk menyamarkan gubuk itu dari penglihatan manusia biasa. Setelahnya pria bertubuh kekar itu, segera meninggalkan ladang mistis itu.


.


.


Semua kejadian yang menimpa Melin barusan, disaksikan langsung oleh Jendral dari balik tempat persembunyiannya. Dengan datailnya Jendral memperhatikan setiap gerak-gerik Adrian dan juga Melin.


Jendral memang tidak muncul di depan Adrian, bukan karena dia tidak gentle. Alasannya Jendral tidak bodoh. Jika dia keluar tadi, maka Adrian akan membunuhnya saat itu juga.


Tujuannya jauh-jauh datang ke mari adalah menyelamatkan Melin. Namun sekarang Jendral bingung bagaimana dia bisa melihat pondok yang tadi dia lihat. Pondok itu sudah musnah entah kemana.


Setelah dirasa Adrian sudah pergi cukup jauh, Jendral menghampiri lokasi dimana ada yang meninggalkan Melin.

__ADS_1


Tak ada apa pun selain semak belukar di tempat itu, namun Jendral tidak berkecil hati. Mungkin Melin tidak terlihat saat ini, namun bisa saja Melin bisa mendengarnya.


"Mellll! Melin!" panggil Jendral.


Adrian memanggil Melin dengan suara yang tidak cukup keras, karena dia yakin Adrian masih belum jauh dari tempat itu.


"Melin, aku Jendral Mel!" Jendral tidak patah semangat dia terus memanggil Melin di tempat itu.


Meski Jika ada yang melihatnya dia  pasti akan disangka orang gila.  Jendral tidak peduli lagi dengan persepsi orang lain saat ini. Yang dia pedulikan adalah bagaimana caranya dia bisa menyelamatkan Melin.


Rasa takut yang tadinya menguasainya telah hilang, berganti dengan rasa cemas yang memupuk tinggi di atas kepalanya. Melin pasti sangat menderita, sehelai kain merah yang dikenakan gadis itu tadi. Tidak akan melindungi tubuh Melin, dari hembusan angin malam yang dingin ini.


Kakinya pasti amat sangat perih karena terluka, berjalan tanpa alas kaki di hutan belantara bukanlah sebuah perkara yang mudah. Karena banyak bebatuan kecil serta ranting-ranting patah, yang bisa melukai kulit manusia yang menginjaknya.


"Melin, tolong jawab aku Mel!" teriak Jendral.


Lelaki itu terus berputar-putar di area tempat Adrian berhenti bersama Melin tadi. Sampai tiba-tiba Jendral terhenyak karena dia menginjak sesuatu.


Diarahkannya sinar senter yang dibawa ke benda yang dia injak tadi.


"Bukankah itu belati?" tanya Jendral bingung.


Bener itu cukup indah, sarung belati itu terlihat mempunyai hiasan batu-batu permata yang menyilaukan matanya. Jenderal sebelum memungut benda yang belum pernah dilihat sebelumnya itu.


"Indah sekali, apa ini punya Mas Adrian?" tanya Jendral.


Jendral menjatuhkan belati itu lagi, Jendral hendak pergi dari sana dan kembali bersembunyi. Jika Adrian sadar, benda pusakanya terjatuh. Dia pasti akan secepatnya kembali ke sini dan mengambil belati itu.


Namun belum sempat Jenderal berbalik, ia menangkap sebuah visual yang selama ini dia cari. Gubuk Reot itu berhasil dilihat oleh Jendral, saat ini cowok SMA itu. Berada tepat di depan pintu Gubuk Reot yang dijadikan Adrian untuk menahan Melin.


"Mellll! Melin, kau bisa mendengarku?" Jendral kembali berteriak, memanggil nama pujaan hatinya itu.


"Jendral!" Teriakan Jendral disaut oleh suara dari dalam gubuk.


Suara itu lemah tanpa daya, serak karena menahan 1000 perasaan berbeda didalam hatinya. Namun ada nada bahagia di suara Melin saat menyebut nama Jendral.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2