
Kuk kuk kuk kuk
suara burung hantu berkicau memecah kesunyian, kabut tipis mengudara setinggi tubuh manusia. Bulan masih setia bersinar menerangi malam. Bintang yang terus berkedip, menyaksikan singsingan setiap detik peristiwa.
Malam ini, adalah penentuan. Apakah ini akhir atau hanya permulaan.
.
.
Nafasku masih berhembus, tersengal dan pelan. Pandanganku hanya tertuju pada bayangan di otak kecilku.
Bagaimana dia tersenyum padaku, bagaimana dia bicara padaku, bagaimana dia menatapku. Aku tak ingin percaya jika semua itu hanyalah sebuah kebohongan.
Aku terus meyakinkan pikiranku, untuk tetap berdiri tegak. Namun penghianatan Om Adrian begitu memukulku, aku tak mungkin bisa bangkit secepat ini.
Aku ingin bertahan, tapi tak ada yang bisa kupertahankan. Aku ingin berlari namun tak ada yang bisa kukejar. Aku ingin berdiri, aku ingin melaju, namun aku tak punya bahan bakar untuk hidupku.
Aku tak ingin menyerah, namun aku juga tak punya pijakan. Aku seorang diri, aku ingin putus asa dan tak ingin mengharapkan apa pun. Tapi keyakinaan di hatiku berkata lain.
Kata hatiku. Bunuh dia, bunuh semua, bunuh mereka yang telah menyakitimu. Jangan biarkan mereka hidup di atas penderitaan yang kau derita.
Apa itu salah, apa itu benar. Aku tak tau, aku benar-benar tak tau.
Aku masih mengambang pada sebuah kemungkinan, aku seperti berjalan di atas seutas tali. Aku akan terjatuh, namun aku juga bisa bertahan jika aku melakukan cara lain untuk menyebrang.
Apa aku harus memenuhi keinginan hatiku?
Apa aku harus membunuh semuanya, apa aku bisa, apa aku sanggup.
Kalau aku tak membunuh mereka, maka aku yang akan terbunuh.
Jadi ini keputusanku...
Aku ingin bertahan.
Aku ingin hidup.
Aku ingin menjalani kehidupan yang panjang meski menyakitkan.
MELINDA
.
.
Melin melepas ciumannya dari Jendral, gadis itu mendorong dada cowok SMU itu menjauh darinya.
"Kenapa?" seperti anak TK yang kehilangan permen, Jendral tampak kebingungan dengan penolakan Melin yang tiba-tiba.
"Om Adrian ada di sini!" kata Melin.
.
.
Memang pada kenyataannya pria gagah perkasa itu berada tak jauh dari gubuk itu. Lelaki itu memperhatikan ke arah gubuk yang mereka masuki dari kejauhan. Namun tak lama lelaki itu segera pergi dari sana.
.
.
__ADS_1
"Dimana dia?" tanya Jendral dengan ekspresi ketakutan.
"Pasti di suatu tempat, dia tak mungkin membiarkanku pergi dari desa ini!" kata Melin.
Jendral kembali memfokuskan pandangannya ke arah wajah Melin, yang hampir tak bisa dia lihat. Keadaan dalam gubuk yang amat gelap, menjadi kendala netra keduanya untuk melihat.
"Kenapa...Tadiii...Kamu ngajak aku...," Jendral terbata. Tak mungkin dia, secara gamblang mengatakan kata 'bercinta' di depan Melin.
"Itu syarat kedua, aku harus bercinta denganmu!" ujar Melin, tanpa rasa malu sedikit pun.
Jendral tercengang, bagaimana bisa dia ikut dijadikan syarat ritual busuk itu.
"Aku...?" cowok SMU itu tak percaya.
"Iya!" Melin meyakinkannya.
Namun Jendral masih tercengang, dia tak bisa memikirkan. Satu kemungkinan saja, sebagai alasan.
"Apa kau tau dimana Pak Jacson berada?" tanya Melin pada Jendral.
"Dia pergi dengan ibumu, mereka mencarimu bersama.
"Tapi mereka tampaknya belum kembali, sejak sebelum magrib!" jelas Jendral.
Melin sama sekali tak merasa khawatir dengan keadaan tantenya itu. Dia malah berharap kedua orang itu mati, karena saling membunuh. Jadi beban hidupnya sedikit lebih ringan. Jacson dan Ellen benar-benar hanya tau bagaimana cara merepotkannya saja.
Apa lagi Ellen yang hanya peduli pada kasus pemerkosaan kakaknya yang terjadi 19 tahun yang lalu. Sampai-sampai Ellen membawanya ke desa sarang penyamun ini.
Semua warga desa ingin membunuhnya, sebutan apa yang pantas untuk disematkan pada warga Desa Air Keruh ini. Sarang penyamun sudah termasuk kata-kata biasa.
"Kau tau kemana mereka pergi?" tanya Melin.
Ketika buah kepala sawit sudah siap untuk di panen, tapi jalanan sedang jelek maka panen ditunda. Pengurus harus memastikan, tak ada yang mencuri satu tandan pun buah kelapa sawit dari kebun ini.
"Aku nggak tau!" kata Jendral.
"Apa kau benar-benar nggak tau tentang ritual busuk ini?" tanya Melin pada Jendral.
Mereka duduk bersebelahan dalam gelap.
"Sedikit!" ujar Jendral.
"Sedikit gimana?" tanya Melin.
"Awalnya aku nggak tau apa-apa soal ritual Hujan Teluh.
"Aku hanya tau, sebuah kutukan Hujan Teluh yang menjadi kepercayaan orang-orang desa ini saja.
"Namun secara detailnya, aku sama sekali tak faham!" jelas Jendral.
Jadi para tetua desa ini, tak pernah menceritakan asal-muasal kutukan Hujan Teluh secara gamblang pada setiap keturunannya.
"Aku merasa ada yang aneh dengan proses ritual pertamanya!" ujar Melin.
Gadis manis, yang sudah mendapatkan dua penglihatan Yosi dan juga Adinda saat melakukan ritual itu pun berani menyimpulkan.
"Kinan atau Yosi, mereka tak menjalani ritual menjijikan itu sebelum ditumbalkan!" kata Melin.
"Kinan dan Yosi?" Jendral pasti kaget saat mendengar kedua nama itu disebut oleh Melin. Pasalnya nama itu juga pernah disebut oleh Mbah Sadino dalam cerita pengalaman mistisnya.
"Apa kau pernah mendengar nama itu?" tanya Melin.
__ADS_1
"Pernah.
"Kau inggat aku punya teman bernama Sandi, kami muncul bersama setelah kamu di serang Tante Arinda. Di depan rumah Mas Adrian!" kata Jendral.
"Yaaa dia!"
"Kakeknya menceritakan pengalaman menakutkannya pada kami.
"Waktu dia masih muda dia mendapati dua orang itu yang bernama Kinan serta Yosi.
"Dikorbankan sebagai tumbal, di gubuk reot tadi.
"Itulah alasannya aku juga datang kesana, untuk mencarimu!" jelas Jendral.
Setelah mendengar cerita Jendral, gadis manis itu merasa harus bertemu dengan orang yang menceritakan pengalaman mistisnya itu pada Jendral.
Tampaknya tak semua warga Desa Air Keruh jahat.
"Trimakasih karena kau mau mencariku!" kata Melin.
"Kau tak perlu bertrimakasih!" ujar Jendral.
"Apa kau benar-benar mau membantuku, untuk kabur dari situasi ini?" tanya Melin kepada Jendral.
Melin tidak mengharapkan banyak hal, namun dia sangat berharap Jendral mau membantunya dengan tulus.
"Katakan apa yang bisa kubantu, aku akan membantumu!" ujar Jendral.
"Apa kau bisa berpura-pura setelah bercinta denganku?" tanya Melin.
Angin sepoi-sepoi yang berhembus melalui celah-celah dinding kayu pondok itu menerpa wajah keduanya. Aliran hawa dingin itu mengertak diri mereka.
Namun permintaan Melin barusan lebih, membagongkan. Bagaimana Jendral bisa berpura-pura telah bercinta dengan seorang wanita. Sedangkan dia tidak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya.
"Aku harus bohong masalah itu dengan pada siapa?" tanya Jendral bingung.
Hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya dan permintaan Melin yang cukup horor membuatnya merinding.
"Semua orang!
"Kau harus berpura-pura telah bercinta denganku pada semua orang yang berada di desa ini!" ujar Melin.
"Apa apa kita harus menikah?" tanya Jendral.
"Mereka akan segera menumbalkanku!
"Mana mungkin kita diperbolehkan menikah?! Meskipun kau sudah bercinta denganku.
"Tenang saja!" ujar Melin santai.
Ditumbalkan, kehilangan harga diri, dan juga kehilangan kesuciannya. Tampaknya semua hal itu itu tidak membuat Melin berkecil hati.
Jenderal tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Melin saat ini. Namun jika dia melakukan itu untuk membantu Melin. Jendral akan melakukannya dengan senang hati.
Dia tidak keberatan, jika dia mengakui telah bercinta dengan Melin. Lalu dipaksa menikah dengan gadis itu.
Jendral malah bahagia, dan berencana menjadi suami yang baik untuk Melin.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1