Hujan Teluh

Hujan Teluh
Saudara Kembar


__ADS_3

Saudara Kembar


Tubuh dan sayapnya dialiri  chakra merah yang terlihat membara seperti terbakar api. Jendral terus meluncur lurus ke atas, sayap dibahunya mengepak cepat. Sejajar dengan Dursowatu yang juga tengah menukik dari atas langit menuju Bumi.


Sudah bisa ditebak, akan terjadi ledakan sekuat bom atom di Hiroshima yang diledakkan oleh Tentara Sekutu di tahun 1945.


Melin juga sudah bersiap dengan pedang putih ditangannya. Sayap putih keluar dari bahu belakangnya, ia memandang lurus ke atas. Mencari titik kelemahan Dursowatu yang meluncur lurus ke arahnya.


Adrian yang melihat penampilan Melin saat ini, hanya bisa tertegun dalam kesakitan. Dia tak tau kenapa hatinya sangat sakit, hanya karena melihat sosok Melin yang sudah kembali mendapatkan kekuatannya.


Tanpa terasa air matanya bahkan terjatuh, membasahi pipinya. Adrian tidak bisa mengartikan rasa yang berada di dalam dadanya.


Rindu, marah, kesal, sedih, khawatir, hancur. Semua rasa itu bergejolak di dadanya, menjadi satu dalam pusaran yang menggetarkan seluruh jiwanya.


Melin terbang ke arah Dursawatu tanpa melihat ke arah Adrian.


Entah kenapa hal itu menambah satu tekanan lagi di dada Adrian, sehingga lelaki gagah perkasa itu tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri.


Dia terduduk bersimpuh di tanah. Angin masih berhembus, meski tak sekencang di awal tadi. Hembusannya mengerayangi seluruh tubuh Adrian yang terpuruk, dia hanya bisa memandang ke bawah pijakannya.


Merasakan sisa-sisa rasa yang masih terus beegejolak di dalam hatinya.


"Kubilang juga apa, kau hanya akan merasakan sakit!" kata Jacson.


"Sebenarnya apa yang terjadi 1000 tahun yang lalu? Kenapa hanya aku, yang tidak bisa mengingatnya?" tanya Adrian dengan nada yang sangat putus asa.


Jacson melihat ke arah teman seperjuangannya itu, dia bisa melihat betapa putus asanya Adrian saat ini. Persis seperti dia yang sangat putus asa, ketika melihat Arinda meninggal di pangkuannya 20 tahun yang lalu.


Jacson tak bisa berkomentar apa pun, dia tahu betapa rasa sakit itu menghantamnya berkali-kali. Sehingga dia lebih memilih untuk mati saja, daripada menanggung semua beban bersalahnya.


Seandainya dia tidak datang malam itu dan menarik Arinda dari mobil untuk mengajaknya kabur, mungkin Arinda masih hidup sampai saat ini.


Jacson masih bisa melihat Arinda dari jauh, memantaunya, memastikan gadis yang ia cintai hidup dengan bahagia, meski tidak bisa memilikinya.


Namun karena egonya Jacson melakukan sebuah kesalahan yang amat fatal. Dia merasa dirinya adalah satu-satunya orang yang bisa membahagiakan Arinda. Tetapi ternyata dia adalah satu-satunya orang yang bisa membunuh Arinda. Dia membunuh orang yang dia sangat cintai, dengan cinta yang dia punya.


Benar cinta bisa membunuh seseorang, menyakitinya dan melukai.


Waktu tidak dapat menyembuhkan apa pun, dia hanya bisa membuatmu lupa.


Dia tidak sembuh, tapi dua hanya sedang lupa dengan kejahatan yang pernah kaulakukan padanya.


~◇~◇~◇~◇~◇~


Mungkin 1000 tahun telah berlalu, tetapi aku masih dendam padamu. Aku akan selalu merasakan dendam itu, aku akan menyakitimu.

__ADS_1


Dengan cara yang sama, seperti kau menyakitiku dulu.


Karena selama 7 kali kelahiranku, baru kali ini aku melupakan apa yang telah kau lakukan padaku.


Aku lupa sejenak, setelah aku ingat semua. Aku tak bisa lupa, atau melupakan penghianatanmu padaku.


Rasa sakit itu, harus kau tanggung juga.


Melinda


~◇~◇~◇~◇~◇~


Gemuruh mengelegar di langit, karena Jendral menyerap chakra di langit. Tubuh lelaki muda itu terus terbang cepat ke arah Dursowatu.


Blammmmmmmmmmmm


Dursowatu terlempar cukup jauh, tujuan Jendral terbang dan menyerang duluan ke arah Durso Watu adalah agar makhluk besar itu tak jatuh di Istana Rahasia Milik Insagi.


Karena jika sampai Dursawatu mendarat di sana, maka segel perbatasan antara Alam Manusia dan Alam Buana akan rusak.


Jika nanti Dursawatu yang mempunyai kekuatan menghancurkan yang sangat hebat itu bertarung dengan Jendral di perbatasan, maka Alam Manusia juga akan mengalami kerusakan yang cukup parah.


Jendral tidak ingin merusak segel perbatasan yang mulai menipis. Apalagi Melin kelihatannya belum sepenuhnya mempunyai ingatannya tentang kehidupan lampaunya sebagai seorang Malaikat Penjaga.


Wusssssss


Grarrrrrrrrrrr


Dursawatu bangkit dari jatuhnya, meski tubuhnya sangat besar. Kelihatannya hewan berkulit batu itu cukup lincah juga.


Melin mendarat di dekat Jendral dengan pedang putihnya.


"Sejak kapan kau mengingatnya?" tanya Melin.


"Kau sendiri?" Jendral malah balik bertanya.


"Ternyata kau masih sama menyebalkannya," kata Melin sambil tersenyum mengejek ke arah Jendral. "Tapi aku tidak menyangka, kau akan datang!" lanjut Melin.


"Bagaimanapun kau adalah saudaraku! Aku harus melindungimu sampai kapanpun!" ucap Jendral.


Bocah SMU itu mengepakkan sayap merahnya untuk kembali terbang, di susul oleh Melin yang dulunya terlahir sebagai saudara kembarnya.


Mereka kompak seperti kala itu, kedua saudara yang ditugaskan untuk menjadi Malaikat Penjaga untuk dunia.


Melin terbang lebih dulu, dia senjata ditangannya berubah menjadi busur panah. Ia menarik busur panah itu dan anak panah berchakra putih muncul disana.

__ADS_1


Busur panah dengan kekuatan chakra surga itu melesat dan menancap di leher Dursowatu.


"Akhhh meleset!" pekik Melin kesal.


"Kelihatannya kau juga masih sana seperti dulu! Sangat ceroboh!" Jendral balik mengejek Melin.


"Aku hanya belum terbiasa menggunakan senjata-senjata ini lagi!


"Sudah lama sekali aku tidak melakukannya, wajar jika tembakan pertamaku meleset!" Melin mencoba membela diri.


Namun Jendral sepertinya tidak mau mendengarkan pembelaan dari Melin, cowok SMA itu mengarahkan tongkat saktinya untuk menyerang Dursawatu.


"Rasakan kau makhluk biadab!" teriak Jendral.


Dursawatu awalnya adalah seorang Siluman yang mengacau dunia Siluman ribuan tahun yang lalu. Tetapi Siluman itu dikutuk menjadi sebuah gunung, entah karena apa dia bisa bangun dan membantu Insagi.


Sementara Jendral dan Melin berusaha untuk mengalahkan Dursawatu. Bekas reruntuhan Istana Rahasia Insagi, Manusia Setengah Siluman itu sudah siap untuk menyerang Adrian dan juga Jacson yang berada di tempat itu.


"Kalian pikir, aku hanyalah Manusia Setengah Siluman rendahan! Yang tidak mempunyai kekuatan apa pun--kan?" tanya Insagi yang sudah bangun dari semedinya memanggil Dursawatu.


"Di mana Yanuar? Apa yang kau lakukan kepadanya?" tanya Jacson.


"Karena aku terlalu fokus kepada kalian, aku jadi lupa dengan Siluman itu!


"Entahlah...Mngkin dia sudah mati, sekarang!" kata Insagi.


Jacson tentu saja marah besar, karena dia telah menganggap Yanuar sebagai sahabat karibnya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Insagi, mempunyai kekuatan untuk mengalahkan Yanuar. Jadi Jacson masih tidak percaya jika Insagi sudah membunuh Yanuar.


"Kalau begitu tunjukkan dimana mayatnya!" tantang Jacson.


"Apa itu penting sekarang? Lagi pula kau akan segera menyusul sahabatmu itu ke alam baka!" jawab Insagi.


Jacson yang sudah berada di puncak emosinya, tidak tahan lagi. Dia yang sangat takut bertarung, kini tak merasakan ketakutan apa pun lagi untuk menghadapi Insagi.


Dengan wujud Siluman Kelelawar Jacson maju untuk menghadapi Insagi.


Namun Jacson kalah cepat dengan Adrian, yang sudah maju duluan. Kelihatannya lelaki bertubuh gagah itu sudah siap untuk bertempur sampai mati.


Adrian menggunakan ajian Tameng Sadewo andalannya, di tangan kanannya sudah ia genggam Pedang Subrono dan di tangan kirinya Cermin Yodra.


Tranggggggggg


Pedang keduanya beradu, Insagi menyembunyikan sayap ditubuhnya karena Ia tak membutuhkan sayap itu untuk melawan Adrian yang tidak bisa terbang.


Adrian menggunakan beberapa teknik serangan kepada Insagi, dan Insagi berhasil menagkis setiap serangan yang dilancarkan oleh Adrian.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2