
Melin meraih gagang pintu rumah Adrian. perasaan takut, kalut dan khawatirnya ia tepis. Meski dia bisa berbohong, tanpa merubah ukuran pupil matanya. Ia masih manusia biasa, yang akan bergetar ketika dihadapkan dengan orang yang telah menyakitinya.
Dorongan ringannya, berhasil membuka pintu berdaun dua, hijau tua di depannya.
Terlalu mudah...
Pikirannya tak ingin macam-macam, meski ia tau jika didalam rumah itu pasti sesuatu telah menunggunya.
Langkah kaki Melin melesat tanpa berpikir, ia tak ingin peduli dengan hal lain lagi. Dia mungkin bisa menghindari beberapa adegan brutal yang tak ia suka dalam cerita kampret ini. Namun dia tak bisa menghindari bertatap muka lagi dengan Adrian, saat dia masih berada di Desa laknat ini.
Benar saja Melin mendapati pintu kamar, yang ia tempati beberapa hari kemarin terbuka. Di sana dia bisa melihat sosok pria, tampan dengan mata yang bersinar.
Adrian duduk di pinggiran kasur tidur Melin, lelaki itu menatap ke arah genggaman di tangannya. Rantai kecil berwarna perak terlihat menjutai di sela-sela jemari besarnya.
Melin langsung bisa mengenali benda apa yang sedang diamati oleh Adrian.
Maniknya bergetar, seketika tubuhnya bergerak refleks. Melin melangkah kedepan, dan hendak merebut kalung miliknya dari tangan Adrian.
"Kembalikan itu punya gue!" ujar Melin.
Tangan gadis itu hanya meraih udara kosong, gerakan menghindar Adrian lebih cepat dari padanya.
Sekali lagi, Melin tak mau menyerah. Barang yang berada digenggaman tangan Adrian adalah satu-satunya benda yang sangat penting baginya. Melin kembali berusaha merebut kalung liontin perak itu dari kuasa Adrian.
Perasaan gugup dan juga khawatir, membuat Melin tak terlalu memperhatikan gerakan tubuhnya dan efek lainnya. Usaha yang ia lakukan untuk merebut kalungnya dari tangan Adrian, memghasilkan hasil lain.
Tubuh gadis itu terpeleset dan tubuh rampingnya segera ditangkap oleh Adrian.
"Jangan buat aku melakukan hal yang lebih jauh lagi!" ujar Adrian.
Melin tertegun. Omnya pasti telah melihat foto keluarga angkatnya di dalam liontin itu.
Adrian dengan gampangnya merubah posisi tubuh Melin mejadi duduk di pangkuannya, bertumpu pada salah satu kakinya dan menghadapkan Melin ke arahnya.
Adrian melihat wajah Melin yang ketakutan. Dia tersenyum menyeringai penuh kepuasan, Adrian merasa sudah menggenggam Melin dalam lingkaran yang dia buat.
"Jika kau macam-macam! Kau tau, kan?!
"Aku bisa melakukan hal-hal yang cukup mengerikan?!" ujar Adrian di depan wajah Melin yang kini sejajar dengan wajahnya.
Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut gadis manis, di wajahnya hanya ada ekspresi menahan rasa takut. Ia memelankan napasnya, menenggelamkan pandangannya ke arah lain. Mana mungkin Melin berani melihat wajah Omnya di keadaan ini.
"Takdirmu memang mati untuk Desa ini. Kau dilahirkan hanya untuk hari ini.
"Terimalah, dan jangan berusaha kabur!
"Karena kau tak akan bisa!" Adrian masih saja mengancam Melin, dengan nada lembut yang mengoda tapi terdengar menyeramkan.
__ADS_1
Tangan kanan Adrian membelai rambut panjang Melin yang menutupi wajah manis gadis itu. Meski Melin mengikat rambut panjangnya, namun bagian depan rambutnya dipotong lebih pendek. Poni sedagu, yang tak akan bisa ikut menjadi satu ketika diikat.
Tangan lain Adrian yang dari tadi mencengkeram pingang ramping Melin pun ia naikkan. Adrian memasang kalung Melin di leher jenjang Melin.
"Orang yang menyamar jadi ibumu. Mungkin kau tak akan bisa melihatnya lagi!" ujar Adrian.
Pandangan kosong Melin ke arah lain, segera menyongsong tajam ke arah manik Adrian.
"Kau membunuhnya?" tanya Melin dengan nada tertahan.
Tengorokannya kering karena ia menahan napas dari hidungnya, dan bernapas dari mulutnya.
"Belum!" ujar Adrian santai sekali.
"Apa aku harus membunuh semua orang yang kau lihat?!" tanya Melin dengan gigi gemeratak, karena dia menahan emosi di dalam dadanya.
Kedua tangan Adrian berpindah kekedua pipi Melin, dia mengelus pelan pipi mengemaskan gadis belia itu.
"Jadilah anak baik, mulai sekarang!" kata Adrian.
Senyum psychopathnya masih dia gunakan untuk menakuti korban tanpa kesalahan, yang masih duduk di pangkuannya.
"Aku akan melepaskannya setelah ritual selesai!" ujar Adrian.
"Tapi aku tak menjamin, saat dia kembali. Dia akan sehat, atau tidak!" ujar Adrian.
Melin masih memandang wajah Adrian yang tersenyum indah tapi menyeramkan, dengan penuh kebencian yang tak bisa dia ungkapkan.
"Siapa anda? Kenapa anda mengaku sebagai ayah Melinda?" tanya Ellen.
Mungkin karena Melin lahir dari pemerkosaan, bisa jadi orang di depan Ellen adalah salah satu pemerkosa Lastri kakak sepupunya. Hanya itu srpekulasinya.
"Dia dimana, anak itu dimana?" suara pria itu meninggi.
"Dia berada di Desa Air Keruh!" jawab Ellen.
Situasi sudah terlanjur berantakan, semua rencana yang sudah dia rancang matang-matang dengan Melin keponakannya telah hancur lebur. Ellen harus membuat rencana lain, dan tak ada alasan untuk tak percaya pada pria aneh di depannya.
"Anakku, maafkan ayah!" suara isakan sedih terdengar di sela kata-katanya.
"Kenapa anda menangis? Anda kenal dengan Lastri kakak saya?" tanya Ellen.
"Apa kau yang membawa putriku ke Desa biadap itu?" tanya pria yang kini mulai merangkak perlahan ke arah Ellen.
Ellen seketika mundur, apa yang ia lihat sekarang memaksanya menjauh. Pria itu merangkak dengan tangan dan kakinya sebagai tumpuan.
Apa yang dilihat oleh polisi wanita itu, bukanlah sesuatu yang wajar. Penampilan pemilik suara maskulin yang tampak sangat tegas itu cukup mengerikan bagi Ellen.
__ADS_1
Tangannya yang dibuat tumpuan merangkak oleh lelaki itu, terlihat sangat kurus sekali. Dengan urat-urat yang menyembul, bahkan tulang-tulang utama di tangannya tampak terlihat saking kurusnya.
Lelaki itu terus merangkak, dan cahaya dari atap genteng bangunan itu semakin terang karena hari sudah mulai siang. Tubuh kurus kerontang, hanya tersisa tulang dan kulit serta nyawanya saja itu merangkak perlahan ke arah Ellen.
Gerakannya lambat, sama sekali tak bertenaga. Namun Ellen sudah memasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga.
Siapa yang tau jika mahluk di depannya itu benar-benar manusia biasa seperti dia.
Wajahnya pria itu mulai mendongak, dengan rambut hitam panjangnya yang mulai tersibak karena gerakannya itu.
"Kenapa kau membawa dia kesana?" suara itu kembali terdengar. Nadanya lantang, meski pemilik suara itu tetlihat tak punya banyak tenaga.
"Kenapa anda terus mengatakan bahwa anda adalah Ayah Melin?
"Apa anda benar-benar ayah kandung keponakan saya?
"Atau anda hanya salah satu lelaki yang memperkosa kakak sepupu saya, Lastri?" tanya Ellen.
Ditengah ketakutannya, ia tetap harus memikirkan logika.
"Tak semua takdir berjalan seperti sebelumnya,
"Aku dan Lastri bertemu lebih dulu. Dan kami saling jatuh cinta!" ujar pria itu.
Ellen memgeryitkan dahinya, dia menjadi semakin bingung.
"Sarul Santoso, aku adalah salah satu warga Desa Air Keruh.
"Orang mengenalku sebagai suami Suci Suyamah, wanita yang melahirkan seorang anak lelaki yang diberi--nama Jendral Santoso!" akhirnya lelaki itu memperkenalkan diri.
"Anda adalah ayah kandung Jendral?" tanya Ellen.
"Bukan, Jendral adalah putra Yanuar atau Mbah Sodik!" kata Sarul.
"Maksutmu, Yanuar orang yang selama ini mengaku sebagai ayah kandung Melin adalah Mbah Sodik?" tanya Ellen.
Polisi wanita itu langsung bisa menangkap kenyataan, yang baru saja terpapar.
Jadi Yanuar atau Mbah Sodik telah merencanakan semua, jauh sebelum kelahiran Melin ke dunia ini.
"Mbah Sodik tak pernah menua karena dia rajin menumbalkan gadis-gadis!
"Tapi setiap 20 tahun, dia akan mengalami penurunan kekuatan kanuragan.
"Jadi dia harus menumbalkan roh suci, yang berhianat kepada Sang Penjaga Pohon Kehidupan. Untuk memperbaharui perjanjiannya!" jelas lelaki kurus, dan mengerikan itu.
___________BERSAMBUNG_____________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤