
"Apa kau bisa keluar?" tanya Lastri pada Sarul.
"Tapi ini sudah malam, Mbak!" ujar lelaki dewasa yang masih begitu polos itu.
"Sebentar saja!" ujar Lastri.
Mereka memutuskan untuk berbincang di gubuk Pak Harsono. Karena hanya tempat itu yang cukup jauh dari desa, namun juga cukup dekat. Tak perlu kendaraan untuk sampai ke area itu, dan pembicaraan mereka tak akan didengar oleh orang lain.
Bangunan pondok itu dulunya tak tertutup seperti saat ini. Bisa dibilang lebih mirip gazebo sederhana dari pada sebuah pondok.
"Rul! Aku ngajak kamu kesini, karena aku mimpi hal aneh!" ujar Lastri.
Mahasiswi ilmu pertanian jurusan AGRIBISNIS itu mendekatkan tubuhnya, lebih dekat ke arah Sarul yang sama-sama duduk di gazebo sederhana bersamanya.
"Beberapa hari ini aku mimpi aneh, Rul!" kata Lastri.
"Mimpi apa?" tanya Sarul.
Tampa merasa curiga atau khawatir, karena dirinya sudah dikuasai oleh rasa cangung yang luar bisa. Belum pernah, Sarul didekati seorang wanita muda. Dengan jarak yang sedekat itu.
"Aku merasa dikurung di sebuah gubuk kumuh, dengan satu tanganku yang dirantai!
"Aku merasa sekujur tubuhku seolah hancur karena semua terasa sakit.
"Lalu ada tiga pria yang setiap malam datang padaku, untuk menyetubuhiku.
"Salah satu pria itu adalah kamu!" ujar Lastri.
Gadis dari kota itu memandang ke arah wajah Sarul, yang juga sedang memandang ke arah Lastri. Keduanya saling berpandangan dalam kebingungan.
"Mungkin kamu kelelahan saja, jadi mimpi hal yang aneh-aneh!" ujar Sarul.
Pembahasan yang mereka bahas saat ini, bukanlah hal yang bisa dibahas di tempat umum seperti ini.
"Ini udah lima kalinya aku mimpiin, mimpi ini!" ujar Lastri.
Sarul hanya bisa diam. Gubuk mistis, ritual bejat. Kenapa Lastri bisa memimpikan hal itu, kenapa orang dari luar Desa bisa mendapatkan penglihatan tentang seluk-beluk kutukan Hujan Teluh.
"Mbak Lastri pernah datang ke sini sebelum ini?" tanya Sarul.
"Enggak," jawab Lastri.
Aneh, cukup aneh. Tak ada yang pernah bercerita tentang mimpi yang bersangkutan dengan Gubuk Reot.
Sarul sangat paham dengan Gubuk Reot tempat ritual biadap itu, karena dia dan beberapa orang di kelompok pekerjanya sempat menyaksikan bagaimana Arinda dan Jatmiko bersetubuh di sana.
"Lalu apa kau pernah ke sebuah tempat yang aneh, seperti hutan di tengah perkebuanan kelapa sawit?" tanya Sarul.
"Iya!" ujar Lastri.
__ADS_1
Keyakinan Sarul akan sebuah kenyataan di depannya semakin tak bisa dibantah. Ketika Sarul melihat ke lengan Lestri, simbol atau tanda kutukan itu ada di lengan gadis didepannya itu.
"Kamu harus pergi dari desa ini, Mbak Lastri!" ujar Sarul.
Jelas sekali Sarul tak bisa menyembunyikan kekhawatiran dihatinya.
"Kenapa? Apa kau tau sesesuatu tentang hal itu?" tanya Lastri.
Usahanya tak sia-sia, mengunjungi Sarul di tengah malam ini.
"Pokoknya, Mbak harus pergi dari sini!" ujar Sarul lagi.
Kekhawatirannya sama sekali tak memudar, hal itu bisa dilihat oleh netra Lastri. Meski malam itu keduanya tak sedang berada di tempat yang terang, penuh dengan cahaya.
Sinar rembulan separuh yang mengintip dari celah-celah dedaunan kelapa sawit yang memanjang. Sudah lebih dari cukup untuk membuat Lastri tersenyum. Dia suka reaksi Sarul tentang hal yang baru saja ia utarakan.
"Apa kau tak akan kehilangan aku? Jika aku pergi dari sini, secepat ini ?" tanya Lastri pada Sarul.
Senyum mengejek masih bisa diselipkan oleh Lastri di sela-sela perkataannya. Siapa yang akan percaya mimpi yang didapatnya adalah sebuah kenyataan masa depannya.
"Nyawa Mbak Lastri, mungkin sedang dalam bahaya!" ujar Sarul.
"Nyawaku?
"Aku tak yakin dan kenal dengan dua pemuda lain. Tapi aku tau kau tak mungkin sejahat itu padaku!" ujar Lastri.
Apa yang dialami oleh Lastri, hampir sama dengan apa yang pernah dialami oleh Arinda satu tahun yang lalu. Karena Arinda juga pernah bercerita tentang hal yang sama kepada Sarul.
Karena Sarul, Arinda dan juga Jacson tumbuh bersama dan sekolah di tempat yang sama. Mereka bertiga bersahabat meski Arinda dan Jacson mempunyai hubungan mesra sejak SMP.
"Mbak Lastri, saya nggak lagi bercanda!
"Mbak Lastri pernah--kan bertanya tentang sebuah kasus pemerkosaan yang menimpa Arinda?!" ujar Sarul.
Sarul tidak ingin menyembunyikan hal itu dari Lastri lagi. Bagaimanapun Sahrul harus menceritakan kisah itu kepada Lastri. Agar Lastri percaya kepadanya dan mau menurutinya, untuk pergi dari Desa ini secepatnya.
"Arinda tidak diperkosa, Mbak! Namun Arinda menjalani sebuah ritual, untuk menebus sebuah kutukan.
"Yaitu kutukan Hujan Teluh yang sudah mengikat Desa ini, selama puluhan tahun yang lalu!" jelas Sarul akhirnya.
Apa yang dikatakan oleh Sarul barusan membuat Lastri tertawa kecil.
"Harusnya kamu jadi penulis novel Thriller! Karangan cerita horor kamu benar-benar hebat!" ujar Lastri di tengah tawa yang ia tahan.
Sebenarnya Lastri ingin tertawa lebih keras, namun dia takut akan mengganggu orang lain. Meski dia dan Sarul berada di tengah perkebunan kelapa sawit, tak menampik jika ada orang lain yang berada di sekitar area ini.
"Saya nggak ngarang, Mbak. Bener!" Sarul masih mencoba meyakinkan hati Lastri.
"Sudahlah! Bilang aja, kalau kamu nggak suka aku berada disini!" ujar Lastri.
__ADS_1
Tawanya surut dan mukanya berubah masam. Dasar cewek bapernya nggak pernah bisa hilang.
"Saya suka Mbak Lastri dan teman-teman Mbak Lastri berada di sini!
"Kalian benar-benar membantu warga Desa ini, dalam urusan kontrak dengan PT!" ujar Sarul.
"Lalu kenapa kamu mengusirku? Hanya karena aku mimpi hal itu?!" Lastri mulai meninggikan nada suaranya.
"Mbak datang malam-malam seperti ini, untuk menemui saya!
"Karena Mbak Lastri terganggu--kan dengan mimpi aneh itu?" tanya Sarul.
"Memang benar. Tapi mengusirku dari Desa ini?!
"Bukankah itu cukup keterlaluan?" keluh Lastri.
"Semua itu demi nyawa Mbak!
"Karena siapapun yang yang mempunyai tanda ini!" Sarul menyentuh tanda lahir di lengan Lastri "Dan iya bermimpi aneh tentang gubuk reot mistis!"
"Dia pasti adalah tumbal yang diinginkan oleh Nyi Blorong!" Sahrul masih Berusaha menjelaskan pada Lastri.
"Aku nggak akan pergi dari sini sebelum KKN--ku selesai!
"Apa lagi aku punya misi lain sekarang!
"Aku harus mendapatkan hatimu sebelum aku pulang dari sini.
"Jadi persiapkan dirimu, dan bersabarlah. Karena aku akan mengejarmu sampai mendapatkanmu!" ujar Lastri.
Sarul tertegun diam, Pemuda Desa itu tidak pernah membayangkan akan mendapatkan pengakuan cinta yang cukup unik dari seorang wanita secantik Lastri.
"Mari kita pulang! sebelum aku dirasuki setan, lalu tak bisa mengendalikan diriku sendiri!" ujar Lastri.
Gadis terpelajar itu sama sekali tidak menunjukkan rasa malu sedikitpun. Malah Sarul yang kini merasakan rasa malu yang luar biasa. Sarul memang mempunyai rasa tertarik kepada Lastri.
Namun Sarul Tentu saja tidak mengatakannya, karena perbedaan kasta dan juga takut akan ditolak. Dipemikiran Sarul, Lastri pasti akan menolak pria Desa sepertinya.
Lastri mengangkat bokongnya dan berdiri dari Gazebo sederhana yang ia duduki.
"Kau akan mengantarku pulang, nggak?" ujar Lastri.
Mahasiswa pintar itu sebenarnya juga deg-degan. Karena ini adalah pengalaman pertamanya dia merasa tertarik pada seorang pria. Dia langsung mengutarakan perasaannya, karena Sarul bukanlah pria yang peka. Terhadap lampu hijau yang sering ditunjukkan kepada Sarul.
"Baiklah, saya akan mengantar Mbak!" nada bicara pemuda Desa itu sedikit bergetar, karena dia masih gugup.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1