
"Mari kita mati bersama!" ujar Melin.
Keduanya hanya saling berpandangan, meratapi takdir buruk yang menimpa mereka berdua.
Tak ada satu katapun yang dapat terucap dari lisan keduanya, mereka yang saling mencintai, tapi terpisah oleh takdir. Pilihan mereka hanyalah kematian, entah siapa yang akan mati. Tetapi mereka harus mati, entah salah satu atau keduanya.
Adrian mengalihkan pandangannya ke arah pedang putih yang digenggam oleh Melin.
Dia merasa putus asa, sangat putus asa, dia tak punya jalan lain yang bisa dia tempuh.
Haruskah dia melakukan perintah Melin, haruskah mereka saling membunuh.
Tanpa Adrian sadari Melin maju, gadis manis itu menancapkan pedang putihnya tepat di jantung Adrian dengan mudahnya.
Adrian sama sekali tidak terkejut dengan tindakan Melin, dia memang pantas mendapatkan tusukan pedang dari gadis manis itu.
Jleppppppppp
"Giliranmu!" kata Melin.
Gadis itu mengangkat tangan Adrian yang menggenggam belati pengasih milik Melin. Tanpa rasa takut Melin mendorong belati yang masih digenggam oleh Adrian, ke jantungnya sendiri.
"Mari kita lupakan semua ini, dan jangan saling bersentuhan di kehidupan kita yang selanjutnya!" kata Melin.
Darah segar mengucur dari luka mereka, Melin roboh duluan. Karena tubuh manusianya yang lebih lemah, Adrian yang masih mempunyai sedikit kekuatan masih sempat menangkap tubuh Melin.
Pandangan mata Melin sudah kabur, hanya sayup-sayup dia memandang ke arah wajah Adrian yang sangat menyedihkan.
Lelaki itu kehilangan segalanya, dia kehilangan semua hal yang dia jaga selama ribuan tahun.
Rasa sakit karena tubuhnya yang kehabisan darah, sama sekali tak ada apa-apanya dibanding rasa kehilangannya.
Dia tak bisa memohon, karena tak berhak.
Dia tak bisa berusaha, karena dia membuang semua kesampatannya di masa lalunya.
Dia tidak bisa melakukan apa pun, meskipun dia ingin melakukan sesuatu.
Dia hanya bisa menangis dan menangis, terus menangis, sampai nyawanya hilang dari raganya.
.
.
__ADS_1
.
.
2022
Mentari bersinar begitu terik, musim kemarau tahun ini berlangsung cukup lama. Setetes air dari langit sudah tidak membasahi tanah Desa Air Keruh selama sebulan ini.
Para warga berlalu-lalang meramaikan pasar, mereka tampak sibuk dengan kegiyatan masing-masing.
Siang itu, saat matahari bersinar terik sekali. Gerimis turun tanpa peringatan, para pedagang sibuk dengan dagangan mereka masing-masing. Mereka harus menyelamatkan dagangan mereka dari derasnya curah hujan.
Seorang wanita muda, sedang mengambil pakaian yang ia jemur pagi tadi di depan rumahnya. Ia tampak terburu-buru sekali, karena harus berkejar-kejaran dengan hujan yang turun.
Wajah wanita itu basah oleh air hujan, namun parasnya masih se--ayu dulu. Dia adalah Arinda yang kembali tinggal di rumah keluarganya yang sudah mati semua.
Berbeda dengan rumah Arinda yang terlihat lebih Asri dengan tanaman hias yang tumbuh indah di setiap sudut depan rumahnya.
Rumah Jacson, Adrian dan juga Jendral, tampak suram seperti sudah lama sekali tidak dihuni oleh manusia. Ketiga rumah lelaki itu sepertinya juga hampir runtuh, mungkin pertempuran satu tahun yang lalu menghancurkan rumah dan jiwa mereka.
.
.
Gapura merah bertuliskan SELAMAT DATANG DI DESA AIR KERUH, masih menjadi penanda perbatasan Desa dengan dunia luar.
Kabut tebal yang biasa menghiasi setiap sudut perbatasan itu, kini tak terlihat lagi. Namun suasana mistis masih terasa sangat kental menyelimuti tempat ini.
Aldi masih fokus pada kemudinya, ia tak hafal jalan menuju desa tujuannya. Jadi dia harus menyesuaikan kecepatan agar tak tertinggal dari mobil polisi di depannya bertugas menunjukkan jalan ke Desa Air Keruh.
Di mobil sedan mewah dinas yang dikemudikan oleh Aldi ditumpangi oleh empat orang angota kepolisian, yang bertugas untuk memecahkan misteri hilangnya dua Batalyon pasukan khusus.
Pasukan itu dikirim tahun lalu ke Desa Air Keruh, atas permintaan AKP Ellen yang juga dinyatakan menghilang setelah meminta bantuan dari pusat.
"Nggak banyak berita dan artikel tentang Desa Air Keruh di internet, Ndan!" kata Daniel yang dari tadi hanya mengotak-atik laptop yang dibawanya.
Orang yang diajak bicara oleh Daniel adalah Pak Tara, meski usianya masih tergolong muda yaitu 28 tahun. Tapi Tara sudah menjadi andalan di kepolisian Indonesia. Dia tergabung dalam sebuah Tim yang di rahasiakan oleh pemerintah, untuk menjalankan misi-misi berbahaya di luar negri.
Seorang putri angkat Jendral bintang empat angkatan darat, dan seorang angota kepolisian AKP Ellen telah menghilang selama enam bulan lamanya.
Kedua korban yang hilang itu terdeteksi berada di Desa Air Keruh sebelum menghilang tanpa kabar.
Apa lagi AKP Ellen sempat mengirim sinyal khusus yang hanya bisa dibaca oleh Tim Rahasia Negara, untuk memgirim pasukan Khusus. Karena Di Desa Air Keruh terdapat banyak makhluk aneh.
__ADS_1
Dua Batalyon pasukan khusus telah diberangkatkan, tapi tidak ada satupun angota pasukan itu yang berhasil pulang dari desa tersebut.
"Sekarang 2022. Apa kau tidak bisa menemukan akun jejaring sosial media milik warga yang tinggal di sana?" tanya Tara dengan nada yang sangat tegas.
Kelihatannya Komandan Tim Khusus yang ditugaskan untuk mencari orang hilang di Desa Air Keruh ini, tidak suka bergurau.
"Saya tidak bisa menemukan satupun!" ujar Daniel lagi.
"Tidak mungkin! Siapa yang bisa hidup, tanpa sosial media di zaman sekarang?" tanya Bella yang duduk sebelahan dengan Daniel.
Bella ini polisi wanita yang belum lama bekerja di kepolisian, dia mendapatkan kesempatan bergabung dengan tim khusus ini karena koneksi yang dia punya.
"Aku juga merasa aneh!" gumam Daniel.
Ia membuka kacamatanya dan mengucek matanya, yang sedikit perih karena terlalu lama menatap layar laptop di atas mobil yang sedang berjalan.
"Jika kasus ini sama dengan kahsus receh yang lain. Maka tim ini tidak akan dibentuk!" ujar Aldi.
"Kurasa kita sudah memasuki Desa air keruh, Ndan!" ujar Aldi lagi.
Mereka baru saja melewati gapura merah yang melingkar di atas jalanan. Suasananya tampak biasa saja, tidak seseram dahulu.
Tara sempat membaca kata-kata yang ditulis di gapura merah selamat datang. Wajah tegasnya terus menyapukan pandangan ke segala arah, seperti kucing liar yang mencari mangsa. Tara tidak ingin kehilangan satu hal pun dari desa misterius ini.
"Kemungkinan besar, warga tidak bisa diajak kerjasama, Ndan!" ujar Aldi lagi.
"Kau benar!" kata Tara.
Tara terlihat diam saja, tapi otaknya sedang memikirkan berbagai kemungkinan, yang bisa terjadi pada orang-orang yang hilang di desa ini.
"Aku tidak yakin mereka hilang di tempat ini!" ujar Tara lirih.
Matanya yang tegas masih memicing melihat ke arah luar jendela mobil. Ia menurunkan kaca mobil di sebelah tempat duduknya.
Seolah-olah udara dapat menuntunnya kepada orang-orang yang dia cari, Tara menghirup udara tanpa polusi dengan sangat lembut. Memang sudah lama lelaki gagah ini, tidak menghirup udara segar sekarang.
Tugasnya sebagai tim khusus yang menjalankan Misi Rahasia negara, menuntutnya untuk berada di tempat-tempat yang rawan akan perang.
Tara tidak bisa merasa senang ataupun sedih, karena telah ditunjuk menjadi komandan tim pencarian ini.
Dia seperti dipaksa untuk melakukan misi pencarian ini, karena dia melakukan kesalahan kecil di medan perang saat menjalankan misi rahasia negara.
Dibandingkan semua misi yang pernah dijalani oleh Tara di Tim Khusus. Misi pencarian ini adalah kasus yang paling remeh.
__ADS_1
Alhasil Tara merasa bahwa dirinya telah disingkirkan oleh negara secara tidak langsung.